<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191</id><updated>2012-02-09T09:20:49.013-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='reflection of time'/><category term='Renungan peristiwa'/><category term='Renungan waktu'/><title type='text'>Perjalanan waktu</title><subtitle type='html'>Ungkapan peristiwa sepanjang perjalanan waktu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>156</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3046230011888097245</id><published>2011-10-18T13:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T13:18:20.539-07:00</updated><title type='text'>Pesta duduk atau prasmanan ?</title><content type='html'>Tiba tiba seseorang berteriak lantang dari barisan belakang. “Kene kurang loro  raaa”. Suasana hiruk pikuk sedikit  meredam gema teriakan  itu di antara para hadirin yang sedang menghadiri acara resepsi perkawinan. Tetapi saya yang  berdiri didekatnya tersentak kaget. Saat itu sedang menghadiri resepsi perkawinan seorang ponakan di tahun 1981.  Acara  berlangsung siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta  resepsi perkawinan di kota itu masih  klasik. Resepsi duduk, mendengar beberapa pidato, kemudian acara makan dan hiburan. Rentetan hidangan biasanya dimulai dengan minuman teh panas dengan makanan kecil. Sesudah beberapa pidato,  urutan hidangan makan mulai dari nasi dengan lauk sambal goreng ati atau krecek, telor separoh, bestik daging bersama  kerupuk udang. Kemudian sup ayam, makaroni dan wortel. Ditutup  dengan  es pudding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu menikmati resepsi duduk seperti itu.  Porsi makan tak terlalu berat. Hanya bagi yang suka makan banyak, kadang memang tak tepuaskan.  Tamu yang berteriak tadi mungkin habis mencangkul di sawah, belum sarapan, terus datang ke resepsi. Harapannya bisa makan habis habisan. Tahunya  porsi terlalu kecil untuk menutup panggilan perut yang belum kenyang.  Dalam keadaan lapar orang bisa tampil dalam watak aslinya walau dalam resepsi dengan jas dan dasi rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikan. Kebisaan jamuan perkawinan juga berbeda di lain tempat. Juga bisa berubah dari waktu ke waktu. Ada tempat tempat yang masih mempertahankan cara resepsi duduk dengan hidangan yang dibagikan secara urut. Kelemahan resepsi duduk karena tamu seolah harus mengikuti seluruh acara yang mungkin berlangsung dua jam atau lebih. Banyak orang semakin sibuk dan waktu terbatas. Dibuatlah resepsi berdiri. Tamu tinggal datang, mengisi daftar hadir dan meninggalkan kado, memberikan selamat ke pengantin dan tuan rumah, langsung menikmati hidangan. Boleh pilih mana yang disenangi. Bisa ngobrol jika ketemu teman atau saudara. Bisa menikmati hidangan apa saja  atau langsung pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatan lebih praktis, tetapi juga harus lebih hati hati menyiapkannya. Banyaknya hidangan harus benar2 diperhitungkan jangan sampai kurang. Kebiasaan di masyarakat, kadang datang berbondong sama anak, cucu dan keponakan. Yang diundang sekalian (berarti dua orang), yang datang bisa sebelas  orang, sekalian bal balan.  Masih sering kita lihat kebiasaan yang tidak layak dalam menghadiri resepsi. Ada saja orang yang rakus. Setiap jenis makanan dijelajah, mulai dari Mongolian beef, kambing guling, sapi guling, bakso, soto, dimsum dan sebut apa lagi. Ambilnya juga kadang tak tanggung tanggung, sepiring penuh. Jika rasa makanan tak cocok cicipi sedikit lalu ditinggal begitu saja. Lalu  menjelajah lagi. Bah tak elok atau saru dalam bahasa Jawa.  Jika alur tamu tak diatur dalam antre makan, bisa rebutan seperti pasar malam.  Jangan terlalu bernapsu mengundang tamu berlebihan, jika tak siap dengan kuota yang diperlukan. Kadang ada kecederungan untuk mengundang tamu sebanyak mungkin, sampai kenalan dari liang semut.  Bukan tak boleh, tetapi harus siap logistiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih mau resepsi duduk atay berdiri dengan prasmanan juga harus lihat kebiasaan setempat. Jika memang biasanya kebiasaan resepsi duduk di tempat itu,  hati hati untuk menyelenggarakan pesta prasmanan. Apa yang saya ungkapkan di atas bisa terjadi.  Semua bisa kacau.  Awal tahun 90an, sayamenyelenggarakan  acara seminar di suatu kota. Diakhiri dengan makan siang. Peserta  300 orang sesuai rencana. Katering  pesan 400 paket. Seminar berjalan lancar. Pas acara makan siang baru masalah datang. Entah karena saking enaknya, sebelum semua peserta dapat giliran makan, ayam goreng habis.  Serep oleh katering juga ludes.  Ternyata  yang giliran duluan ambil porsi berlebihan. Sebagian  dibungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah bisa menikmati makan prasmanan. Paling banter makan sup sama minum es. Tak tahu sebabnya. Saya selalu membayangkan masa kecil dulu, saat ikut resepsi. Duduk tenang, menunggu hidangan makan keluar. Biarkan yang pidato di depan,  mau ngomong apa jangan ambil pusing, tenang saja menunggu.  Kadang menebak supnya dulu atau nasi dan lauknya keluar duluan. Bisa ditebak, pasti nasi spucuk, sambel goreng ati atau  krecek, bistik daging sapi atau potongan ayam dan kerupuk udang. Sup bening ayam dengan sosis dan macaroni. Tak ada yang teriak teriak, tak ada yang rebutan antre makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir pesta perkawinan dengan resepsi duduk ketika seorang tetangga mantu kira kira  tiga belas tahun lalu.  Almarhum pak Mardi, pensiunan polisi, mantu putri bungsu. Kenal sejak tahun 95 ketika saya pindah ke sebelah rumahnya. Selalu manggil saya Dan. Semula nggak mudeng apa maksudnya. Ternyata singkatan Komandan.   Siapa yang nggak seneng dipanggil Komandan?. Saya khusus datang bersama Nyi. Saya benar benar menikmati acara resepsi duduk di halaman dengan tenda. Acara sederhana, tak bertele tele. Lancar dan efisien. Hidangan persis yang saya bayangkan di tahun tahun lima puluhan.  Singkat tak sampai satu setengah jam.  Masih ingat sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai mohon jangan rakus kalau prasmanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila, 13 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3046230011888097245?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150354549273467' title='Pesta duduk atau prasmanan ?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3046230011888097245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3046230011888097245' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3046230011888097245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3046230011888097245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/10/pesta-duduk-atau-prasmanan.html' title='Pesta duduk atau prasmanan ?'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5775745684768248160</id><published>2011-09-24T19:59:00.000-07:00</published><updated>2011-09-24T20:02:11.774-07:00</updated><title type='text'>Minyak rambut</title><content type='html'>Tak pernah dalam kurun waktu puluhan tahun memelihara rambut terjadi krisis seperti saat ini. Kelaangkaan  krim rambut Brylcreem. Sejak masih di bangku kuliah di tahun tujuh puluhan, saya selalu  setia memakai krim rambut Brylcreem yang lembut. Tak terlalu berminyak dan tak terlalu kaku di rambut.  Paling tidak sudah memakainya selama empat puluh tahun.  Bentuk kemasan krim ini juga sudah berubah ubah selama kurun waktu ini. Tetapi tetap saja saya memakainya karena konsistensinya yang lembut. Dulu di tahun tujuh puluhan, dikemas dalam botol gelas pendek yang menggembung di tengahnya. Di tahun2 terakhir dikemas dalam plastik berbentuk silindris. Ada yang wadahnya berwarna merah dan ada yang hijau. Tak tahu bedanya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persediaan hampir habis tetapi sudah beberapa minggu tak menjumpainya di toko maupun di mall di Manila.   Yang banyak tersedia adalah gel yang kaku. Pernah di ruang mandi golf saya menggunakannya, rambut jadi kaku berdiri. Gel mungkin khusus diperuntukkan untuk anak anak muda dengan model rambut jabrik, tegak berdiri. Di jaman tahun enam puluhan seperti rambut mas Klombrot, di karikatur Penyebar Semangat itu.  Minggu kemarin sewaktu liburan di Yogya, saya menelusuri jalan Solo, dapat Brylcreem di salah satu toko kecil. Hanya dapat tiga kemasan botol kecil.  Saat mengunjungi kakak di Semarang saya diberi tiga botol kemasan besar. Lumayan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Terhindar  memakai gel yang kaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan minyak rambut  buatan pabrik mulai di tahun 1963. Sebelumnya saat duduk di Sekolah Rakyat hanya memakai minyak cem=ceman, yakni minyak kelapa dicampur dengan berbagai akar dan daun tumbuhan. Baunya sedap  walaupun tidak wangi. Tetapi jika wanita memakai pinyak ini dan tidak keramas berhari hari bau bisa berubah jadi apek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula pertama menggunakan minyak rambut buatan pabrik atau pomade,  merk Erasmic. Baunya lembut dan tidak terlalu kaku. Tetapi kadang kadang siang hari jika berkeringat, minyaknya turun ikut membasahi dahi.  Jika tak salah  Erasmic dikemas dengan botol gelas dengan bagian tengahnya  menggembung  waktu itu. Belum banyak diproduksi plastik.  Selain merk Erasmic, kadang kadang saya menggunakan pomade Lavender. Dikemas dalam wadah metal berbentuk oval warna keemasan. Mungkin saya lebih jarang memakainya. Ingatan saya akan pomade Lavender begitu samar. Adik saya lebih banyak memakaianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa sekolah menengah atas di St.Josef Solo, saya mengenal pomade dengan merk Yaparco. Lupa kemasannya. Kalau tak salah dalam botol silindris. Ingatan saya juga tidak terlalu kuat akan merk ini. Kadang kala memakai pomade merk Yardley. Ini merk untuk kelas atas. Saya sering nimbrung kakak ipar .  Biasanya yang memakai adalah kelompok saudagar atau pebisnis atau pejabat kelas atas.  Lembut dan tidak meninggalkan minyak yang membasahi dahi di kala berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman mahasiswa di kompleks Ngasem Yogyakarta, saya mulai mengenal krim dengan merk Brylcreeem. Ini bukan pomade yang lengket. Tetapi krim lembut. Tidak berminyak sekali. Dan tetap lembut sepanjang hari. Banyak anak muda waktu itu memakai pomade merk Tancho Mandom yang diiklankan besar besaran. Pilihan saya tetap ke Brylcreem  yang lembut itu. Dan berlangsung lebih empat puluh tahun sampai sekarang. Hanya ketika budaya pop culture masa kini menciptakan model rambut kaku menjulang tinggi seperti rambut landak, kelangkaan menimpa minyak rambut berbentuk krim seperti Brylcreem.   Mungkin ada baiknya ingat kembali iklan iklan Brylcreem di masa lalu. Lambang pria percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada kenangan mengenai minyak rambut silahkan ungkap di sini.  Pria tak akan pernah bisa berpisah dengan minyak rambut. Tinggal pilih mau minyak rambut atau mau botak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5775745684768248160?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5775745684768248160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5775745684768248160' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5775745684768248160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5775745684768248160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/09/minyak-rambut.html' title='Minyak rambut'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4071206454594562277</id><published>2011-08-27T06:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-27T06:52:32.087-07:00</updated><title type='text'>Pengin punya anak tanpa suami</title><content type='html'>Agak terkejut   mendengar  ceritanya. Begitu lugas tanpa tedeng aling aling. Kami sedang berbincang   selesai  pertemuan beberapa minggu lalu.   Minum di coffee shop  di  lobby hotel.  Sejak dulu dia selalu bicara blak blakan dan lugas. Gaya bicaranya selalu penuh irama dan menarik lawan bicara.  Dia datang mewakili organisasinya.  Namanya Emine. Seorang wanita profesional dengan  posisi  yang mantap  di salah satu lembaga internasional.  Umur sekitar  empat puluh, naik turun sedikit.  Masih lajang. Berpenampilan menarik. Cantik, jika tidak bisa dibilang jelita. Khas penampilan wanita wanita perbatasan Asia dan Eropa.  Sangat ramah dan enak jadi lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercerita dengan lancar, di sela derai tawanya yang riang. Ingin punya anak. Tetapi tak ingin bersuami. Buat apa bersuami ?. Bikin susah, harus meladeni di rumah. Saya kan juga punya banyak kerjaan. Perlu istirahat di rumah.  Dia cerita pengalaman tidak enak hidup bersama (ko habitasi) dengan kawan hidupnya selama 7 tahun. Masak saya dihardik di rumah saya sendiri, jika ada sesuatu yang kurang? Saya mendengar ceritanya dengan sabar. Sesekali bertanya. Tentang perjalanannya selama ini. Kami memang pernah bertemu beberapa kali di berbagai negara. Di Asia dan di Eropa. Komunikasi juga tidak intens. Bukan teman yang karib. Beda generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Emine  pertama kali enam belas tahun lalu sewaktu ikut misi di Bishkek, Kirghyztan. Dia baru saja lulus dari universitas di Budapest.  Dia saat itu bekerja sebagai associate professional officer untuk sebuah lembaga donor yang dibeyai pemerintah Turki.  Masih ingat ketika malam malam saya ditilpon. Ternyata rombongan tamu dari Uzbekistan  mengundang  makan  malam.  Ternyata mereka menyiapkan kambing panggang. Acara makan selesai lewat tengah malam. Ada kesempatan bicara lebih leluasa dengan dia.Dia cerita kalau pacarnya kerja di Departemen Luar Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya kami harus meninggalkan Bishkek menuju Almaty, jalan darat. Ternyata rombongan kami akan dilepas di batas kota oleh salah satu pejabat tinggi pemerintah. Saya mencoba menjelaskan jika tidak perlu asal diberi satu rombongan pengawal sampai perbatasan. Tetapi Emine mengatakan, itu kebiasaan mereka. Kami akhirnya menerima. Ternyata tidak hanya dilepas begitu saja. Ada pesta perpisahan di perbatasan. Lagi lagi kambing panggang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir sembilan puluhan saya kembali bertemu dengan Emine di Jepang. Penampilannya tak berubah. Selalu anggun. Waktu itu dia cerita jika berpacaran dengan seorang diplomat  Malaysia. Kenapa nggak kawin ? Tak bisa karena sang diplomat sudah berkeluarga. Dia tak mungkin mau dimadu. Tetapi menikmati hubungannya. Berbunga bunga.  Ki, you are a family man with a sweet wife. Tak akan bisa mengerti gaya hidup bohemian saya, katanya. Tak tahu apa maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2004 kembali lagi bertemu dalam suatu pertemuan internasional di Geneva. Dia mewakili  negaranya dalam negosiasi.  Kedudukannya tidak main main.  Direktur Jendral di pemerintahan. Saya tak membayangkannya seperti petinggi petinggi kita yang suka pelesiran dengan alasan tugas negara. Dia benar benar  seorang though negotiator yang handal untuk kepentingan negaranya. Sempat bertemu dan makan siang bersama. How is life? Pertanyaannya selalu datang dengan ramah.  Dia cerita punya pasangan hidup bersama. Seorang tokoh lingkungan di negaranya.  Dia cerita merencanakan akan kawin jka tidak ada aral melintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, itulah pertemuan kami yang terakhir setelah tujuh tahun.  Ketika dia cerita pengin punya anak, tetapi tak menghendaki suami.  Dia masih menjalin hubungan dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan di negaranya. Sudah berkeluarga. Tak mungkin kawin.  Kecuali jika teman prianya mau pisah dengan isterinya sekarang. Tak mungkin dilakukan. Bisa membunuh karier politiknya.  Dia bingung karena susah pisah dengan teman prianya sekarang.  Tetapi tak mungkin  kawin.  Dia mengharap dapat anak dari sang pejabat ini. Tanpa minta pertanggungan jawab apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak banyak bereaksi. Hanya omong sekenanya. Please do not spoil your life. Time to start a happy family life.  Jika ada pria yang  mau mendampingi dan menemanimu mengapa tidak kawin saja?  Dia akan memikirkannya. Omongannya serius. Jika ada pria mapan yang masih lajang di atas 35 tahun, good looking, yang ingin cari teman hidup,  I am serious Ki, as my   husband  and  the father of my  kid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini masuk pesannya  di inboks saya, any info Ki? Katanya ada seorang pelatih sepak bola dari Meksiko yang ingin kenalan. Saya bercanda, pemain bola itu hanya tembakan kakinya yang keras. Tembakan burungnya  suka meleset, tidak indah sama sekali, apa lagi kalau sudah berkeluarga. Do not spoil again your life sweety, time is running out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai untuk pria lajang mapan  dan good looking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila 27 Agustus 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4071206454594562277?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4071206454594562277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4071206454594562277' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4071206454594562277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4071206454594562277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/pengin-punya-anak-tanpa-suami.html' title='Pengin punya anak tanpa suami'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-165884430350133744</id><published>2011-08-26T20:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T20:40:39.021-07:00</updated><title type='text'>Kereta terakhir ke Solo</title><content type='html'>Musim kering tahun 72. Kami bergegas masuk peron. Terdengar peluit keras berbunyi. Kereta akan segera diberangkatkan. Saya bersama Emi bergandengan tangan berlari sambil menjinjing tas ke arah  kereta. Kereta Kuda Putih,  Yogya Solo. Seperti dalam film film roman Indonesia atau India. Selalu ada saja adegan lari lari sambil berpegangan tangan.   Untung tak ada krew televisi waktu itu. Tak ada paparazzi. . Yang ada hanyalah para makelar dan penjual makanan. Tak perlu GR. Siapa mau mengabadikan, kami hanya anak2 pondokan yang sedang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kereta terakhir ke Solo. Sudah lewat jam lima. Baru saja siangnya kami selesai ujian semester. Tingkat 4. Emi terus pulang ke Solo. Dari Mangkubumen tadi saya menemani pulang ke pondokannya di jalan Suryotomo, Ngampilan. Jam empat ke stasiun Tugu.  Sudah setahun lebih kami berhubungan dekat. Belum bisa dikatakan  pasangan tetap, tetapi sudah serius. Sudah ada pernyataan verbal. Sudah berciuman bibir. Tetapi belum punya rencana pasti. Siang itu tak banyak yang kami bicarakan. Lebih banyak diam. Beberapa hari memang tidak begitu hangat pembicaraan di antara kami berdua. Tak tahu sebabnya. Emi segera  naik ke gerbong. Duduk menghadap jendela. "Wis ya, ati ati. Sampai ketemu". Hanya itu yang dikatakan. Saya menjabat tangannya "Selamat liburan".  Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun. Tak sempat saya memperhatikan ketika kereta menghilang. Saya juga cepat cepat ingin pulang ke Ambarawa. Naik becak ke jalan Magelang. Naik bis jurusan Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghabiskan hari hari libur di Ambarawa. Sepi di desa. Setiap siang menatap gunung di depan sana. Gunung Telomoyo dan Gadjah Mungkur. Sejak kecil dua gunung itu selaalu di sana tak pernah pindah, tak pernah berubah. Mesra bersanding. Kadang kadang angan angan melayang ke balik gunung, ke balik awan. Sedang apa Emi di Solo ? Apa yang dia pikirkan tentang kami berdua. Tentang masa depan. Tak tahulah. Masa depan urusan kemudian. Yang penting saya sudah lulus semua ujian semester. Walau harus mengulang satu. Kedokteran Kehakiman. Dikasih nilai dua. Saya mengerjakan pakai tinta warna hijau. Sang dosen yang berwibawa itu tak mau membacanya.  Tak bisa tidur beberapa hari. Tetapi ujian ulangan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira kira empat minggu saya liburan di Ambarawa. Sengaja tak ke mana mana. Pengin istirahat benar. Satu tahun terakhir ngurusi majalah mahasiswa. Begitu menguras tenaga daan waktu. Belajar tak konsentrasi. Hampir saja tak naik kelas. Acara pacaran sering terbengkelai. Pengin istirahat sepenuhnya. Saya sempatkan menulis surat ke Emi. Dua kali. Tak ada balasan. Mungkin juga sibuk. Di akhir minggu ke empat saya kembali ke Yogya. Sampai di pondokan di Patangpuluhan sudah lewat jam tujuh malam. Ada keinginan ke tempat Emi malam itu. Niat itu saya batalkan. Sudah kelewat malam. Besok pagi pagi kan ketemu di ruang kuliah. Esoknya pagi pagi saya sudah berangkat. Langsung ke tempat kuliah di Mangkubumen. Tak mampir ke tempat Emi, walau rumah kostnya terlewati.. Pengin cari tempat duduk yang enak di hari pertama kuliah. Saya ingat pakai baju putih dan celana kuning kesayangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sepi ketika tiba di ruang kuliah. Saya ambil dua tempat duduk di baris kedua. Emi belum datang juga. Menjelang jam tujuh dia muncul. Langsung ambil tempat duduk di seberang. Mungkin tidak tahu jika saya sudah datang duluan. Saya dekati. Saya ulurkan tangan menyalami. ”Gimana liburannya?” Jawabannya singkat ”So so”. Tangannya dingin. Sikapnya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan matanya aneh, menusuk nanar.  Saya beritahu jika ada tempat duduk kosong di barisan depan. Dia pindah duduk disamping saya selama kuliah. Lupa kuliah apa waktu itu. Jika tak salah ingat Kesehatan Anak. Emi terkesan gelisah. Tak seperti biasanya rajin mencatat. Kali ini hanya main main pena coret coret kertas kosong. Sebelum kuliah berakhir dia menulis sesuatu di kertas kecil. Kertas itu dilipat dan dikasihkan saya. ” I want to tell you something baby”. Dua jam kuliah berakhir. Dia pamit ingin pulang. Tak enak badan katanya. ”Nanti malam datanglah ke rumah”. Pesannya singkat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tenang saya  mengikuti kuliah hari itu. Ada apa dengan Emi?. Tak sabar menunggu hari malam rasanya. Habis kuliah jam satu. Saya terus ke Bulak Sumur, naik sepeda. Jaga praktikum Farmakologi. Sudah setahun lebih asisteren di sana. Jaga pratikum juga nggak tenang. Mahasiswa tingkat tiga. Ramainya nggak karuan. Mereka dua tahun  di bawah saya. Sebagian juga sudah kenal dengan baik. Pikir saya, mau gaduh silahkan, mau gagal silahkan. Pikiran saya baru tidak tenang. Praktikum selesai jam lima sore. Saya langsung pulang ke selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah enam lewat rumah kost Emi di Ngampilan. Rencana  malam nanti mau datang ke sana. Tetapi tiba tiba saja pikiran saya berubah. Saya langsung mampir. Emi juga nggak terkejut ketika saya datang. Hanya sikapnya tetap saja diam tak banyak ngobrol seperti biasanya. Kami bicara formalitas saja. Dia kelihatannya menghundar jika ditanya tentang liburannya. Ketika akhirnya saya katakan ”Katanya mau cerita, kok diam saja?”. Dia terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengaan pelan dia bilang ” Maaf Ki, saya dengan mas Hepi sudah resmi kawin liburan kemarin”. Haaa, kaget luar biasa saya. Tak ada petir, tak ada kilat. Mas Hepi adalah mantan pacarnya dulu. Dua tingkat di atas kami. Kuliah di Hukum. ”Kok gitu?” pertanyaan saya tertahan di kerongkongan. ” Saya tidak bisa menolak ketika ditanya sama ibu. Habis kau nggak kasih kepastian. Malah kenalan sama anak Pekalongan itu”. Kenalan sama gadis lain kan bukan pengkhianatan tingkat pertama. Walau hati saya berdesir jika ingat gadis Pekalongan itu, tetapi hanya berdesir thok. Belum ada tindakan apa apa. Kok langsung di vonis, edan enggak? Saya hanya mengucapkan moga moga dia selalu bahagia. Tak berlama lama saya di sana. Duduk rasanya seperti di atas paku. Tak lebih sepuluh menit saya pamit. Terus pulang ke pondokan di Patangpuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman teman kost baru duduk duduk di depan kamar ketika saya datang. ” Gila nggak, Emi liburan kemarin sudah kawin. Saya baru saja tadi diberi tahu”. Khavid, adik kelas saya dua tahun langsung menukas ” Tenang Ki. Saya tadi juga dengar di kampus. Mau bilang situ kok sudah langsung ke Bulak sumur”.  Batin saya menggerutu. Ada berita tak enak kok padha diam. Sore itu kami ramai ramai keluar. Makan bakmi Panut di Gerjen. Saya tetap saja galau. Tetapi Anton bilang. ”Laki laki pantang patah hati. Patah tumbuh hilang berganti”. Habis makan bakmi jalan jalan. Pas ada sekaten. Beli galundeng sekalian. Masih ada juga yang komentar ” Kalau ada yang patah hati tiap minggu dari kita, lumayanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu berlalu. Saya memberanikan diri berkunjung ke tempat kost Lina, mahasiswi AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Bukan pelarian. Bukan pengungsian. Ternyata jatuh hati benar benar. Wantek sampai sekarang setelah lewat hampir empat puluh tahun. Setelah kereta terakhir sore itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;Manila, 27 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-165884430350133744?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/165884430350133744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=165884430350133744' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/165884430350133744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/165884430350133744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/kereta-terakhir-ke-solo.html' title='Kereta terakhir ke Solo'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2893967438586035495</id><published>2011-08-20T10:23:00.000-07:00</published><updated>2011-08-20T10:26:42.794-07:00</updated><title type='text'>Kau kejam</title><content type='html'>Minggu malam di musim panas tahun 1980. Saya tiduran di kamar di Summerhill House, NewCastle Upon Tyne (UK). Setiap Minggu malam selalu kesulitan tidur. Sengaja jam sembilan masuk kamar setelah lihat TV ramai ramai di ruang bawah.  Pak Tarto dan  Lisa masih berdua di bawah meneruskan nonton TV. Lisa sedang ambil program master di bidang pertambangan. Dia tinggal di asrama putri, di seberang kota, kira2 15 km jauhnya. Akhir pekan dia menginap mengunjungi pak Tarto. Tak tahu hubungan mereka. Sama sama sudah dewasa. Sudah berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa saat tiduran ketika pintu diketuk keras. Kaget setengah mati saya. Tetapi memang kebiasaan di sana kalau mengetuk pintu selalu keras. Lisa nampak emosional di muka pintu. "Ki tolong antar saya pulang".. Dia nampak gelisah dan marah. "Bukankah pak Tarto yang mau ngantar?". "Nggak mau. Dia sudah masuk kamar. Pintunya juga dikunci?". Saya berlagak pilon, tahu kalau mereka pasti bertengkar hebat. Saya pura pura bertanya "Ada apa sih kok aneh?". Jawabannya setengah teriak. "Tak ada apa apa. Masak saya dibilang gatel. Emangnya saya siapa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu dia mengeluh, jika kulitnya kering  dan gatal. Waktu itu saya anjurkan periksa ke poli di klinik universitas. Kebetulan dokternya saya juga kenal baik.  Saya balik bertanya "Lo belum jadi periksa dokter rupanya?". Jawabnya semakin galak " Bloon kau. Yang dibilang gatel bukan kulit saya tahu". Baru paham saya, ternyata mereka baru saja tengkar. Lisa tak terima dibilang gatel walaupun dia sedang sakit kulit gatal dan kering. Lisa lulus undergraduate dari Praha. Sedangkan pak Tarto baru ambil program doktor di  bidang Biologi. Saya juga baru memulai program doktor waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba mengetuk kamar pak Tarto, tetapi terkunci rapat. Tak ada reaksi. Saya intip dari lobang pintu, Nampak dia sudah berselimut sarung rapat rapat. Akhirnya saya antar Lisa, naik bis kemudian ganti kereta cepat Metro. Tak banyak cerita dalam perjalanan. Saya memang tak akrab sekali. Orangnya manja tetapi suka uring uringan. Pernah beli jas hangat kepanjangan. Pas dicoba di rumah saya bilang apa nggak kepanjangan, dia marah sekali. Berhari hari saya didiamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam saya baru sampai rumah. Tak aman malam malam gini keluar sebenarnya. Banyak punk dijalan yang sering bertindak brutal. Kapan itu ada seorang Pakistan, seorang ahli hukum, baru nunggu bis dikeroyok sampai luka berat.  Ketika masuk kamar, di bawah pintu saya temukan kertas kartu pustakan bertuliskan, "Kau kejam". Ternyata dari pak Tarto. Tak saya perhatikan, langsung saya tidur. Keesokan harinya kami bertemu di dapur waktu sarapan. Pak Tarto diam seribu bahasa. Saya juga diam, dari pada salah bicara. Dia sepuluh tahun di atas saya. Putri satu satunya sudah mau lulus ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru bertemu pak Tarto malam harinya. Waktu makan malam. Kami bertiga, dengan seorang lagi teman dari Indonesia, Huta, selalu masak bersama. Dia lagi ambil program Master di bidang biologi laut, dosen salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah. Pak Tarto masih diam saja dengan wajah cemberut. Saya sindir, kok diam saja?. Eh malah si Huta ini yang  menyahut "Ki kau kejam". Baru tahu rupanya dia cerita sama si Huta peristiwa semalam. Kejam gimana ? Nggak dhong saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pak Tarto bicara kalau dia tak enak hati, kenapa saya mengantar Lisa pulang ke asrama. Saya bilang, dia nggedor kamar saya, nangis2 minta diantar pulang. Pak Tarto sudah mengunci pintu  Pak Tarto bilang, jika ada pasangan tetangga yang sedang bertengkar, jangan coba coba ikut campur, malah dikira cari kesempatan. Tak baik itu. Pikir saya, mau cari kesempatan ngapain, dikasih pun belum tentu mau. Sori mek, bukan selera saya. Pak Tarto juga bilang jika beberapa minggu lagi Lisa akan nggabung tinggal di Summerhill bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal satu bulan depannya Lisa betul jadi pindah di apartemen kami. Cuma beda unit, beda pintu keluar masuk. Semua berjalan normal. Tak ada yang istimewa. Hanya suatu sore pak Tarto bilang jika Lisa akan gabung masak sama sama untuk makan malam. Kami tak keberatan. Setiap petang kami makan malam  bersama. Ongkos belanja biasanya  diperhitungkan tiap akhir minggu. Lisa memang sering belanja, kemudian  kami semua mengganti beayanya. Tetapi rupanya dia tak bisa masak. Setiap kali masakan siap pak Tarto selalu mengetok pintunya untuk makan malam. Kadang kadang Huta yang memberi tahu Lisa, jika masakan telah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berjalan biasa saja, kami selalu masak bersama dan makan malam bersama, sambil ngobrol. Beberapa bulan kemudian, dalam rangka penyelesaian disertasinya, pak Tarto harus pergi ke London beberapa hari. Saya, Huta dan Lisa makan malam bertiga. Saya dan Huta yang masak. Lisa paling nyiapkan minuman. Kebetulan akhir pekan itu saya  bersama pembimbing saya  menghadiri pertemuan reguler di Sheffield. Naik mobil ramai ramai, berangkat pagi, pulang sore hari.  Sampai Newcastle sudah menjelang petang. Tiba tiba saja, pembimbing saya ngajak makn malam semua peserta program doktor yang dibimbingnya. Ada empat orang. Kami makan sambil ngobrol sampai jam sembilan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai rumah di Summerhill sudah lewat jam sepuluh langsung masuk kamar. Mau tidur. Jam sebelas malam pintu diketok dari luar. Ternyata pak Tarto, masih berpakaian lengkap dengan jas berdiri di muka pintu. Rupanya dia baru datang dari London. Aturan dia datang sore tadi. Langsung mengeluh, "Gimana sih kamu ini?. Lisa terlantar, nggak ada yang masak". Ternyata pak Tarto datang terlambat dari London, tak tahu apa sebabnya.. Huta ada acara akhir pekan sama  teman temannya. Hura hura, dia masih sorangan. "Kasihan Lisa, nggak terurus. Sampai hati kau menelantarkan dia Ki. Kejam kau".  Tak saya layani keluhannya. Ngapain, jika memang mau makan malam di ujung jalan ada rumah makan. Di dapur juga banyak persediaan mie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu sudah 30 tahun berlalu. Ketika kami pulang ke Indonesia sempat bertemu pak Tarto sepuluh tahun kemudian, saat resepsi pernikahan Huta di Semarang. Saya bersama Nyi dan pak Tarto bersama isteri. Dia cerita kalau Lisa sudah kawin lagi dan punya anak. Dia memperkenalkan saya ke isterinya "Ini Ki, pacar Lisa di NewCastle" Edan batin saya kok bisa ya? Untung Nyi tahu persis cerita tentang peristiwa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dengan pak Tarto terakhir di satu pertemuan ilmiah di Bandung, di awal tahun sembilan puluhan.  Saya menerima penghargaan penelitian dari suatu Yayasan. Pak Tarto diundang mewakilki salah satu lembaga yang sangat terpandang di Indonesia untuk menyerahkan penghargaan itu. Kaget dia bertemu saya. Saat memberikan penghargaan itu, dia berbisik "Kau to Ki. Kau memang kejam. Lama saya tak ketemu Lisa". Saya tak bisa menahan tawa. "Gatel saya pak". Nyi kemudian bertanya, kok didepan cengengesan ada apa tadi ? Saya hanya menjawab ringan, Kau memang kejam. Jangan gatel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huta sekarang menjadi guru besar di bidangnya. Masih aktif, menjadi dosen teladan beberapa kali. Lisa, saya tak pernah bertemu lagi. . Moga moga dia bahagia. Baru saja saya tanya adik saya, ternyata Pak Tarto sudah lama berpulang.  Beliau tokoh besar ilmu pengetahuan di Indonesia. Tak meninggalkan aib apa apa. Ini hanya peristiwa kecil dalam perjalanan hidupnya yang  panjang dan penuh warna. Selamat jalan pak Tarto. Beristirahatlah dalam damai.  Saya tidak kejam loooo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki AgengSimilikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila, 20 Agustus 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2893967438586035495?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2893967438586035495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2893967438586035495' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2893967438586035495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2893967438586035495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/kau-kejam.html' title='Kau kejam'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-8222102789575701570</id><published>2011-08-07T02:22:00.000-07:00</published><updated>2011-08-07T02:23:40.288-07:00</updated><title type='text'>Jambalaya &amp; Cintaku di kampus biru</title><content type='html'>Sabtu sore  di Philippines Navy Golf. Saya bersama seorang teman,  Dr Iwan,  sedang menikmati makan sore sesudah main delapan belas holes. Sebenarnya tak ada rencana main ok paginya baru tiba  dri Yogya. Jam 0530 tiba setelah  penerbangan selama 3. 5 jam dri Jakarta.  Rasanya masih ngantuk dan capek. Tetapi bosan sendirian di rumah. Akhirnya kami main jam 13 30, bersama dengan dua pemain asal Norwegia dan  Australia. Tak sempat banyak ngobrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sabtu sore selalu ada live music di sini. Beberapa  kelompok musik dari militer  sering main.  Yang  paling saya sukai adalah dari  kelompok marinir. Kali ini hanya ada seorang pianis dan seorang penyanyi wanita dengan suara sangat merdu.  Seorang diplomat Australia, panggilannya John, ikut  menyumbangkan lagu, When I Fall in Love.  Saya lupa nama lengkapnya. Dia kelihatan kenal baik dengan si penyanyi.  Di ujung ruangan nampak seorang senator yang sering masuk TV,  lagi asyik ngobrol dengan  teman2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian lagu Jambalaya mengayun merdu menghentak dengan irama mengasyikkan. Gaya penyanyi ini pas benar dengan irama Jambalaya. Ingatan saya melayang ke masa tiga puluh empat tahun silam, tepatnya di tahun 1973.  Di suatu petang di kampus  Bulaksumur, ada pergelaran musik oleh mahasiswa UGM. Kelompok musik dan penyanyinya semua berasal dri UGM. Saya menonton bersama dengan seorang teman, yang juga ketua senat mahasiswa FK, Achdiat Agoes.  Kami berdua  masih belum punya pacar, masih dalam tahap pencarian dan PDKT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penyanyi cantik, saya tidak tahu mahasiswi mana, dengan elegan sekali menyanyi lagu Jambalaya. Irama nyanyian dan gerak tubuhnya demikian menghanyutkan dan mengundang  para penonton untuk ikut bergoyang. Namun setiap kali teman saya  ini selalu mengingatkan. Hi duduk tenang !    Saya ingat,  si penyanyi memakai celana jean keputih putihan dan kaos merah jingga. Serasi dan mempesona.   Penonton kebanyakan mahasiswa semua duduk di rumput dengan tertib menikmati irama musik satu per satu.  Tak ada kegemparan, tak ada keributan. Semua berjalan tertib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba cari tahu dari mana penyanyi itu. Teman saya hanya menjawab, “jangan tanya, she is far away from us”. Saya tak tahu apa maksudnya. Biasanya teman  ini selalu proaktif, karena kami memang masih dalam taraf pencarian. Aneh kok kali itu dia menyerah duluan,  mungkin sudah ditolak sebelumnya.  Dua tahun lagi akan lulus, sebagian besar  harus tugas di daerah terpencil. Pengin secepat mungkin punya pacar tetap.  Sampai detik ini saya tak  tahu  siapa mahasiswi yang nyanyi  itu, dan tak punya nyali cukup waktu itu untuk mencari tahu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus Bulak Sumur dengan Cemara Tujuh-nya, terpopulerkan lewat novel Ashadi Siregar ‘ Cintaku di Kampus Biru’ . Novel  popular ini pernah tampil dalam cerita bersambung Kompas di awal tahun tujuh puluhan. Ada banyak novel Ashadi Siregar, yang berputar hampir semuanya tentang cinta di sekitar kampus. Ada semacam pengaruh menyejukkan dari musim novel2 cinta ini  dalam kehidupan anak2 muda dan  mahasiswa. Paling tidak di Yogyakarta. Ketertiban dan keasyikan tanpa keributan dalam pergelaran musik tadi mungkin juga terimbas dri pengaruh hipnotis dari novel novel Ashadi. Kampus UGM, kampus biru yang romantis, kampus perdamaian. Tak hanya dikumandangkan lewat musik, juga berbagai kegiatan lain seperti baca puisi, drama, dan kelompok2 sni yang lain. Setiap mahaiswa ingin menjaga kesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tahun sembilan puluhan sesudah saya jadi dosen di UGM, dalam salah satu acara pertemuan internasional, saya mengundang peserta ke kampus dan menikmati acara musik di petang hari. Salah satu peserta yang baru saja datang dri Amerika Latin, mengatakan mengapa Indonesia begitu damai ? Orang bisa menikmati acara musik di alam terbuka sore hari ? Di negara di mana dia bertugas, petang hari orang harus tinggal di dalam rumah oleh karena selalu ada kontak senjata antara militer dengan pemberontak atau antara gang2 narkotika. Saya tak membayangkan waktu itu.  Tetapi di akhir sembilan puluhan suasana malam yang mencekam juga menghinggapi banyak tempat di Indonesia. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman senior waktu itu menolak novel2 Ashadi sebagai karya sastra. Dianggap terlalu murahan hanya mengungkap kisah roman picisan  semata. Dan jawaban Ashadi lugas. ‘’ Saya tak kecil hati karya saya tak diakui sebagai karya sastra, juga tak akan merasa tambah  bangga jika diakui sebagai karya sastra ‘’. Nggak tahulah, faktanya para mahasiswa sering mempersonifikasi dirinya seperti tokoh2 dalam novel2 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari  dan terutama saat ini, kita juga banyak melihat kenyataan bahwa   yang namanya pergelaran musik dan pergelaran akbar selalu sarat dengan keributan. Bahkan sering  sering memakan korban jiwa. Saya yakin bahwa mereka yang datang, termasuk yang menjadi korban, sebenarnya hanya ingin menikmati hiburan musik, menikmati musik sesuai dengan irama hatinya. Memilukan jika  pergelaran pergelaran seperti ini sering berakhir ricuh dan makan korban.  Di Pekalongan tahun lalu, korban jiwa berjatuhan dalam konser musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita banyak kehilangan nuansa  cinta dan damai dalam pergelaran2 akbar.  Lihatlah rapat2 akbar yang selalu mengobarkan hujatan dan pesan pesan kebencian. Entah itu oleh organisasi massa atau oleh kelompok agama. Berangkat pergelaran akbar bawa pentungan sama batu. Kalau ada toko, ada polisi, ada penjual makanan di tepi jalan, rasanya mereka pengin nglempar batu, pengin menjarah, dan  pengin mengeroyok. Kenyataanya sering terjadi kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa karya2 yang mengungkapkan cinta dan kedamaian tak bisa masuk sebagai karya sastra ? Mengapa malu mengangkat dan mengumandangkan cinta kasih dan damai dalam pergelaran dan rapat akbar ? Berdosakah jika anak2 muda mempunyai bayangan tentang cinta  sewaktu menonton pergelaran atau rapat akbar. Saya masih ingat pergelaran musik di tahun 1973 dengan kenangan yang indah, bukan karena hangar bingar kekacauan.  Hanya mengingat penyanyi dengan kaos merah jingga yang begitu anggun. Hanya ingat peristiwanya, tak tahu siapa dia sebenarnya. Tak pernah sempat sampai tergila gila jatuh cinta padanya. Saya sering cerita mengenai peristiwa ini ke isteri saya kemudian. Pertanyaannya, mengapa saya tidak mengajak dia melihat pergelaran itu ? Jawaban saya juga sama. Pertama kami  belum resmi pacaran, baru kenalan tahap awal. Kedua saya hanya punya kendaraan sepeda usang tanpa boncengan. Taksi belum ada, naik becak ke Bulaksumur terlalu jauh. Kalau ada taksi pun tak  mungkin mampu naik taksi. Uang bulanan selalu defisit.  Defisit ini saya tutup dengan menulis di koran dan media massa. Mentraktir pacar harus benar2 masuk dalam rencana bulanan, terutama cash flow yang selalu nyaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari tulisan saya mengapa pergelaran2 akbar saat ini selalu gemuruh dan bergelora dalam suasana panas ? Mengapa tidak mengemasnya dalam kemasan yang menyejukkan dan romantisme anak anak  muda. Mungkin keributan dan kekerasan bisa dikurangi dicegah dan dikurangi.  Tidak tentang roman picisan, bukan tentang karya sastra atau bukan,  tetapi tentang kasih dan perdamaian. Inilah hakekat hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi\&lt;br /&gt;Pernah dimuat dalam Kolom Kita Kompas Cyber Media, 20 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-8222102789575701570?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/8222102789575701570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=8222102789575701570' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8222102789575701570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8222102789575701570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/jambalaya-cintaku-di-kampus-biru.html' title='Jambalaya &amp; Cintaku di kampus biru'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-7904351921987181185</id><published>2011-08-06T23:15:00.001-07:00</published><updated>2011-08-06T23:15:41.379-07:00</updated><title type='text'>Untuk teman para malaikat</title><content type='html'>Kau  nyanyikan dendang  ilahi&lt;br /&gt;Yang melanglang langit sepi&lt;br /&gt;Gegap gempita menantang matahari&lt;br /&gt;Kau panjatkan doa khusuk setiap hari&lt;br /&gt;Yang  menyentuh hati&lt;br /&gt;Merasuk  sanubari&lt;br /&gt;Kau sapa para malaikat dan bidadari&lt;br /&gt;Yang  bersorak sorai  menghentak bumi&lt;br /&gt;Kau tebarkan pesan   moral&lt;br /&gt;Bagi anak anak manusia yang berlimbah dosa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam benakmu pekak terpateri&lt;br /&gt;Bagai duri menghunjam nurani&lt;br /&gt;Kau adalah teman para malaikat&lt;br /&gt;Kekasih para bidadari&lt;br /&gt;Orang orang  suci&lt;br /&gt;Yang mengawal moral&lt;br /&gt;Membersihkan dosa anak anak manusia&lt;br /&gt;Yang terhimpit kegelapan dunia&lt;br /&gt;Kau penentu kebenaran&lt;br /&gt;Penunjuk jalan kesucian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan pesanmu selalu penuh   kebencian&lt;br /&gt;Kata katamu bertabur kedengkian&lt;br /&gt;Tindak tandukmu berlimbah  kekerasan&lt;br /&gt;Hatimu tak kenal  kedamaian&lt;br /&gt;Karena kau  terpisah jauh dari kemanusiaan dan peradaban&lt;br /&gt;Tak perlu kau lagukan sorak sorai tentang aklak dan moral&lt;br /&gt;Carilah  bisik kemanusiaan dari nurani yang paling dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Manila, 30 Juli 2011&lt;br /&gt;Teriring salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150270897693467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-7904351921987181185?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150270897693467' title='Untuk teman para malaikat'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/7904351921987181185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=7904351921987181185' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/7904351921987181185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/7904351921987181185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/untuk-teman-para-malaikat.html' title='Untuk teman para malaikat'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4426899014490243885</id><published>2011-08-06T23:11:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T23:12:15.783-07:00</updated><title type='text'>Ratu Kidul tak berkenan</title><content type='html'>“Ketiwasan Gus, gawat gawat gawat. Nyai Loro Kidul marah luar biasa. Calon mantu Kanjeng Ratu diambil,  sudah tiga  hari tidak kembali”.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal tahun tujuh puluhan. Sore hari yang panas. Pak Djo, pembantu tua di pondokan  Gerjen Yogya, tiba tiba datang menemui saya. Saya baru saja pulang dari praktikum anatomi di Mangkubumen. Capai dan pusing bau mayat campur formalin.  Saya belum jelas apa maksudnya, dia masih nyerocos  terus, bahkan isterinya ikut  nimbrung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nyai Loro Kidul tidak berkenan karena tidak diaturi sesaji. Ditinggalkan dalam persiapan acara perkawinan agung minggu depan”.  &lt;br /&gt;Saya masih belum dhong dan menjawab sambil lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya tak kenal Nyai Loro Kidul. Apa hubungannya dengan perkawinan agung putri Kanjeng Ratu ?.&lt;br /&gt;“ Gus jangan berlagak pilon. Calon mantu kanjeng Ratu hilang sudah tiga hari. Pamitnya hari Minggu kemarin ke Parangtritis. Sampai sekarang beritanya ramai di koran. Nyai Loro Kidul tersinggung berat”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya memang tidak mengikuti rutin berita  koran. Anak kos tak mampu lengganan koran. Kemudian  pinjam koran tetangga sebelah. Memang ramai diberitakan, baik oleh koran lokal maupun nasional,  jika calon mantu Kanjeng Ratu, hilang tak berbekas sudah beberapa hari ini. Mestinya sudah harus mulai masuk karantina, dipingit. Dia seorang insinyur lulusan perguruan tinggi terkenal di Semarang. Berpenampilan nggantheng dengan brengos gagah seperti intel. Sudah bekerja dengan karier gemilang di salah satu perusahaan umum milik pemerintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak spekulasi berkembang di masyarakat tradisional Yogya tentang periistiwa mengejutkan itu. Ada yang katanya melihatnya  waktu di Parangtritis, sang calon menantu, kencing dilaut.  Nyai Loro Kidul yang menjadi pacar gelap raja raja Jawa, demikian terbuai melihat sang burung emas, lalu menariknya ke istananya di laut selatan. Kebanyakan percaya, seperti pak Djo, kalau telah ada kekilafan memberi sesaji, sehingga sang  Ratu Kidul, tersinggung dan ngadat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lupa wartawan mana yang kemudian membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia melakukan penelitian secara mendalam dan mewawancarai banyak saksi yang layak dipercaya. Ternyata sang calon menantu, menghilang pergi bersama kenalan barunya, seorang peragawati yang rumah tinggalnya juga dekat kampung  Gerjen.  Tak bisa disalahkan. Seminggu lagi akan kawin  dengan putri Kanjeng Ratu, seumur hidup harus setia tanpa reserve. Kapan lagi mau bersenang senang sama seorang peragawati selebriti?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebiasaan yang umum di dunia kotemporer dengan istilah bachelor party (http://en.wikipedia.org/wiki/Bachelor_party), untuk memperingati  kebebasan  di malam malam terakhir bagi sang burung.  Seminggu kemudian dia memang kembali, tak banyak berita yang menyebutkan pengakuan sebenarnya.   Cerita wartawan itu yang melaporkan kalau sang calon menantu rupanya bersembunyi di Tasikmalaya. Bukan Nyai loro Kidul yang tinggal di sana. Tetapi sang peragawatilah yang ada di sana. Maaf tak bermaksud menyinggung siapa siapa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai,&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;Manila, 25 Juli 2011&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150266732138467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4426899014490243885?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150266732138467' title='Ratu Kidul tak berkenan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4426899014490243885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4426899014490243885' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4426899014490243885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4426899014490243885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/ratu-kidul-tak-berkenan.html' title='Ratu Kidul tak berkenan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5558340510481278618</id><published>2011-08-06T23:08:00.001-07:00</published><updated>2011-08-06T23:08:53.943-07:00</updated><title type='text'>Nama saya DP - konsultasi spiritual</title><content type='html'>Duduknya tak tenang. Dibalik sikap yang menjurus genit dan wajah menggoda itu tersembunyi  kegelisahan jiwa yang dalam.  Sebagai penasehat spiritual senior jauh jauh saya  telah bisa  membacanya. Wanita muda itu duduk bersilang kaki di depanku. Belum tahu siapa dia sebenarnya.  Konsultasi spiritual begini sudah berjalan rutin puluhan tahun. Setiap malam Anggoro Kasih. Sejak dari Solo dulu di tahun enampuluhan.  Kungkum di Bengawan Solo tengah malam menjadi sarana pengasah ketajaman indera  ke enam. Harus tengah malam.  Menjelang pagi sudah banyak orang buang air besar di bengawan. Bukan berkah yang didapat jika kesiangan. Tetapi kotoran manusia.  Jelek jelek pernah menjadi murid  Ki Ageng Gentallogeddy, tokoh spiritual kondang dari Solo yang konon  punya wanita simpanan dari laut selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Panjenengan siapa nimas. Silahkan duduk yang baik dan menghadap ke arah mata hari terbit. Wahyu selalu datang dari  Timur”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mempersilahkannya dengan nada suara dalam. Dia sedikit terkejut. Membetulkan posisi duduk. Satu kaki diangkat naik  ke atas kursi. Saya terkesiap. Rok nya  tersingkap jelas.  Tak bergetar saya.  Sudah biasa menghadapi segala godaan atas bawah, luar dalam.  Dia memakai celana kolor hitam. Model  tahun lima puluhan. Heran saya, luar supra modern, dalam kolor. Jaman memang berubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Nama saya DP Ki. Saya seorang selebriti terkenal. Pengin konsultasi tentang masalah yang agak intim ya Ki. Tapi mohon jangan disiarkan TV. Untuk di TV tentang hal hal yang intim, saya telah punya penasehat khusus. Ki Ageng hanya saya minta nasehat  masalah substansial saja”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perasaan saya  tak enak. Ada kesan mendikte ini wanita muda. Mentang mentang montok dan cantik. Tak bisa itu diterima.  Saya bukan psikiater, tetapi biasa saya mulai analisa dalam. Analisis spiritual. Hening sejenak.  Ada kegelisahan jiwa yang berkobar dalam wanita ini. Bisa meledak sewaktu waktu. Moga moga jangan di sini. Bisa masuk koran beritanya. Analisis fisik luar tak butuh waktu lama.  Bertubuh bahenol berisi. Bahasa spiritualnya sintal. Gerakan fisiknya selalu penuh goda dan pesona.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Nimas saya tak pernah membedakan para klien saya apakah selebriti, bidadari atau isteri kedua. Semua sama di hadapan saya. Ini prinsip kesetaraaan gender. Apa yang menjadi masalah? Katakan sejujurnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan gerakan gerakan menggoda wanita muda itu menjawab secara lancar. Kadang2 kakinya naik ke atas kursi.  Kadang2 dia menurunkan kerah bajunya. Ingin memamerkan isi dibalik baju. Nampak menerawang. Transparansi dan keterbukaan. Tanpa beha. Bergerak naik turun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Saya ingin tubuh saya  bertambah bersinar dengan aura pesona yang dalam Ki. Terutama bagian dada saya. Rasanya kok kurang imaginer bagi para pria. Buah dadaku kurang inovatif”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Dada panjenengan sudah sangat indah menawan nimas.  Memberi inspirasi lelaki untuk berimaginasi. Siapa yang bisa menaklukan sampeyan, bakal punya wahyu jadi pejabat, anggota DPR, minimal pengurus  partai. Tetapi memang  auranya terasa kurang terarah. Kurang terpancar. Makanya sering saja makan papaya. Atau kombinasi papaya mangga, pisang sama jambu. Banyak dijual di Pasar Minggu.  Terserah bentuknya yang anda senangi. Modelnya lain lain. Jika kurang besar, seringlah  makan   buah nangka mentah atau gori. Ini tanggung dada jadi besar berwibawa seperti buah nangka”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Lho kok pakai papaya dan buah nangka segala Ki?. Di luar negeri orang pakai silikon buat membentuk buah dada supaya indah. Apakah teknologi silikon belum dikenal ?. Ki, saya juga barusan operasi vaginoplasty di Arab, juga reparasi keperawanan. Bahkan saya disuruh milih selaput dara, yang kenyal atau yang mendut. Dokter2 kita mestinya belajar teknik ini”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Jangan kagetan. Jangan gumunan nimas. Para dokter di sini juga sudah terbiasa segala macam operasi, suntik silikon, vaginoplasty, sampai permak segala macam onderdil seksual tubuh. Baik untuk kuda, sapi dan para selebriti.  Hanya ada kearifan lokal, untuk operasi buah dada, mereka sesaji dengan buah papaya atau nangka. Biar  hasil operasinya bagus. Seperti buah nangka atau papaya. Mana tahu dokter Arab akan kearifan lokal kita. Untuk opersi vaginoplasty biasanya ditambah subal pakai jenang dodol atau jadah”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika mendengar jenang dodol, jadah sama tempe,  wanita muda ini semakin bersemangat. Menggali teknologi dan kearifaan tradisional untuk budaya kotemporer, tambal sulam  alat tubuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;‘ Jangan khawatir. Seminggu sekali bisa disubal pakai jenang. Jenang Kudus paling ampuh. Bisa mencekat kencang. Atau jadah sama tempe. Ini bisa sampai memabukkan nanti kalau sang kekasih datang”.&lt;br /&gt;“Ki gimana advisnya  untuk menambah aura dan pesona buat para pemuja pria ya?  Aura saya akhir akhir ini sedikit terganggu karena TV. Tolong ya terutama para pemuja pria, juga untuk pasangan saya”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaannya kok semakin aneh saya pikir. Tak apalah, dukun tersohor seperti saya tak akan kurang akal. Apa saja klien pasti percaya. Walaupun sadar  kalau mereka tertipu, tetapi mereka malah merasa bangga tertipu dukun seperti saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jangan khawatir nimas.  Sering dibilas pakai sambel petis rujak cingur. Auranya meningkat, aromanya menggigit betul. Buat pemuja pria gampang saja, suruh mereka banyak makan pisang raja. Jangan kasih pisang kluthuk, bikin  Impoten. Untuk pasangan tetap, tambah dengan lombok rawit, madu sama jahe. Semoga anda aura dan aromanya tambah nges ngesss nimas. Andum slamet ya, ngati ati, ah ah ah”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiba tiba dia beranjak berdiri. Bergerak meliuk liuk.  Tari perut dengan gerakan gerakan ritmis. Buah dadanya berputar putar seperti gangsingan. Baru sekali ini dalam perjalanan profesi sebagai penasehat spiritual saya merasa nanar. Kenapa berputar seperti gangsingan? Mungkin tadi minum es teller putar di Bulaksumur.  Mungkin saja. Segalanya bisa terjadi di dunia spiritual. Saya semakin larut dalam tarian ritmis itu ketika pintu kamar dibanting keras sekali. Tiba tiba Nyi berdiri bercekak pinggang “Dukun porno. Konsultasi gombal”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah saya sadar dari mimpi  dimuka teve. Jatuh terduduk dari kursi. Koran tentang DP masih belum selesai say baca. Isinya tentang DP (http://entertainment.kompas.com/read/2011/07/11/18490554/Pamer.Payudara.Lagi.DP.Tolak.Berkomentar) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Edan secuil berita kok bisa mengguncang impian manula. Kebebasan pers.&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150265142113467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5558340510481278618?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150265142113467' title='Nama saya DP - konsultasi spiritual'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5558340510481278618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5558340510481278618' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5558340510481278618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5558340510481278618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/nama-saya-dp-konsultasi-spiritual.html' title='Nama saya DP - konsultasi spiritual'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-9165162157177978180</id><published>2011-08-06T23:04:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T23:05:40.652-07:00</updated><title type='text'>Hati tak pernah bisa sedingin salju</title><content type='html'>Malam  hari di tahun 1972. Saya sudah beranjak mau pergi .  Ketika tiba tiba   gadis itu muncul dari balik pintu. Diantara  tirai warna biru.  Lampu temaram kamar tamu  tak memungkinkan mengamati wajahnya dengan jelas.  Saya tergagap ketika MUS, kakaknya  memperkenalkannya singkat.  “ Kenalkan adikku  LIN”. Saya menyambut uluran tangannya dengan ringan.  Jabatan tangan biasa. Tak menggenggam  erat, juga tak longgar sekali. Wajar wajar saja. Sedang sedang saja.  Hati tak tergetar, pikiran tak tergoyahkan. Aku selalu ingin sekokoh batu karang. Dihadapan gadis yang baru kenal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya ketika dia tersenyum lembut, saya sedikit terpana. Ada getaran ringan. Namun tak  jelas juga wajahnya. Ah biarlah kesan itu berlalu.   Walau  seribu bidadari datang menemuiku, hati ini ingin tetap sedingin salju. Jangan  hiraukan senyum  itu. Ini prinsip. Aku ini bukan lelaki malang  yang terbuang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan langkah ringan saya keluar   dari kamar tamu. Sang kakak berucap “ Terima kasih, mau ngantar ya”. Di pintu pagar, LIN berucap “ Main ke sini Mas kalau ada waktu ”.  Saya hanya menggumam ringan. Maunya tahan diri, tahan harga. Bergegas saya naik becak dari jalan Gadjah Mada 25 ke Patangpuluhan, tempat pondokan saya. Dua puluh lima rupiah tanpa tawar menawar.  Pantang pemuda masa kini tawar menawar dengan sopir becak dihadapan gadis yang baru dikenal.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sore itu saya dalam perjalanan dari Ambarawa kembali ke Yogya. Sudah hampir gelap ketika di alun alun Magelang, kondektur mengumumkan kalau bis batal menuju Yogya. Hanya sampai Magelang. Saya dan penumpang lain, dipindah ke bis yang sedang menunggu di barat alun alun. Bis Mustika.  Hanya ada satu kursi kosong. Saya  duduk di situ. Bersebelahan dengan seorang gadis. Berpenampilan tinggi kokoh. Kuat seperti karateka. Kami berkenalan dan bicara ringkas. Dia kuliah di fakultas hukum UGM.  Sampai Yogya sudah gelap. Dia  turun di Bausasran. Saya ikut turun. Tak terpikir panjang, saya mengantarkannya ke tempat pondokan di jalan Gadjah Mada.   Dia mondok bersama adiknya LIN, katanya kuliah di AKUB.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam harinya  saya teringat  kembali senyum itu. Teringat  kata kata itu.  Wajah LIN   terkesan lembut dalam keremangan malam. Ingin melihat wajahnya secara jelas. Ingin menatapnya tegas. Ingin menyapanya dengan hangat.  Beberapa hari berlalu. Saya tak mampu melupakan semua itu. Senyum  itu. Tak bisa melupakan sapaannya.  Hari Jum’at malam  saya bersama teman akrab, AJI, kembali ke sana. Tak juga bisa membuat tenang. Hari berikutnya, Sabtu siang, bersama teman sekuliah At,  datang ke sana. Semakin galau. Bah, persetan dengan prinsip prinsip itu.  Walau yang kutemui bukan bidadari, hatiku tak bisa sedingin salju. Dia gadis yang lembut sederhana, mahasiswa AKUB. Bukan  bidadari yang beramai ramai menemui dalam khayalku.  Lagi pula mana ada sih bidadari ramai ramai mau datang menemuiku.  Hari hari selanjutnya saya ke tempat pondokan itu, di jalan Gadjah Mada. Dekat bioskop Permata,  Yogya.  Hati selalu berbunga bunga. Memang hati tak akan pernah bisa sedingin salju.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir empat puluh tahun  berlalu. Gadis yang saya kenal waktu itu, sudah tertidur pulas. Dini hari, saya masih terjaga, tenggelam dalam lamunan, tak bisa tidur. Edaaan enggak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai,&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;Manila, 23 Juli 2011.&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150264496108467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-9165162157177978180?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150264496108467' title='Hati tak pernah bisa sedingin salju'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/9165162157177978180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=9165162157177978180' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/9165162157177978180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/9165162157177978180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/hati-tak-pernah-bisa-sedingin-salju.html' title='Hati tak pernah bisa sedingin salju'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-10706779156837530</id><published>2011-08-06T22:45:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T22:46:43.575-07:00</updated><title type='text'>Dalam kegelapan selalu ada keindahan</title><content type='html'>Manusia Homo sapiens secara alamiah  tak suka kegelapan. Dalam temuan temuan purba kala selalu ditemukan  perapian yang  dulunya digunakan untuk  penerangan, penghangatan dan masak memasak. Para pujangga  sejak dahulu kala, menggambarkan kegelapan sebagai  lambang kesedihan dan kekacauan.  Hanya suasana remang remang yang sering dikaitkan dengan suasana romantis dan cinta sepasang anak manusia. Tak sampai gelap. Dalam dunia  asmara, gelap hanya dikaitkan dengan  perselingkuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya terbiasa dengan kegelapan. Karena dibesarkan di suatu desa di Ambarawa di tahun lima puluhan dan enampuluhan. Belum ada listrik waktu itu, penerangan hanya dengan lampu petromaks. Jika waktu tidur tiba, penerangan diganti dengan lampu teplok. Sering tanpa penerangan demi keamanan. Kalau ada maling masuk, dia tak akan melihat apa apa. Tetapi ada penyair yang pernah merangkai puisi. Hanya dalam gelap orang dapat melihat bintang bintang dilangit. Ada keindahan dalam kegelapan.  Keindahan yang hening dan dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal tahun sembilan puluhan di Amsterdam. Saya menghadiri kongres sedunia farmakologi. Penyelenggaranya kebetulan teman satu klik. Sama sama generasi farmakolog klinik yang dibimbing oleh Folke Sjoqvist  (Karolinska) dan Sir Michael Rawlins (UK), tokoh2 generasi pertama dan kedua  di Eropa Barat.  Hubungan kami cukup erat selama bertahun tahun. Saya mendapat berbagai keringanan untuk menghadiri konggres tersebut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kantor saya memesan suatu hotel, relatif murah dan memadai. Hanya agak kaget ketika masuk (check in) ternyata hotel tersebut  satu kamar bisa ditempati oleh beberapa tamu.  Fasilitas kamar lumayan, ada dua bed, satu single dan satunya double. Hari pertama, aman aman saja. Saya sendirian dan menggunakan tempat tidur tunggal. Hari kedua, jam sembilan malam, masuk pasangan dari Polandia. Agak kikuk, tetapi kami saling ngobrol sampai tengah malam. Sang pria, seorang pilot maskapai penerbangan dari Eropa Timur, adalah teman ngobrol yang sopan, hangat dan bersahabat. Sang pacar kelihatan pendiam, dengan penampilan cantik dan seksi. Kami sepakat mematikan lampu biar bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari kedua, seusai menghadiri acara konggres, saya kembali ke hotel.  Habis makan malam sengaja tidak ke kamar, tetapi melihat TV pertandingan bola World Cup, antara Cameroon yang dibintangi oleh Makanaky lawan Netherland.  Masuk kamar lewat tengah malam. Hati hati sekali jangan sampai berisik mengganggu pasangan pilot sama pacarnya, sang pramugari. Saya langsung tertidur lelap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belum lama terlelap ketika saya dikejutkan oleh suara gaduh seperti orang berkelahi. Reaksi saya langsung bangun secepatnya dan melacak arah suara. Ternyata suara hiruk pikuk itu datang dari tempat tidur seberang. Kadang diselingi dengan jeritan jeritan tak karuan. Atau desah napas yang memburu. Tak terlihat apa apa, oleh karena gelap. Ada sinar remang remang menerobos masuk, tetapi tak membantu penglihatan saya sama sekali. Hanya kadang kadang saja saya merasa ada gerakan kaki yang  menyeberang dan menggetarkan tempat tidur saya. Entah kaki sang pilot atau si pramugari. Tak relevan untuk diverifikasi. Saya kembali berbaring dalam kegelapan yang temaram. Mendengar dan menikmati suara suara dua anak manusia yang bercinta. Dalam gelap ternyata bisa mendengar mereka asyik bercinta.  Bukan kegelapan yang hening tetapi penuh suara berdesah bersahutan. Batin saya mengeluh tanpa daya. Ngono ya ngono ning mbok aja ngono.  Paginya bangun agak siang. Sudah lewat jam tujuh pagi. Kami bertemu di kantin di lantai dasar. Sang pria bilang kalau mereka sudah dapat hotel yang  murah dan nyaman. We will not disturb you anymore with our physical exercise. Saya hanya bilang, enjoy your vacation.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua puluh tahun lewat, awal dua ribu sepuluh. Nyi didiagnosis menderita tekanan bola mata meninggi (glaucoma). Tidak boleh tidur dalam gelap. Harus pasang lampu sepanjang malam, supaya tekanan  bola mata tak meninggi. Sejak lama memang dia tak bisa tidur dalam gelap. Kami selalu berselisih prekara lampu tidur. Ketika masih muda dia pernah mengeluh, katanya saya bosan  melihat wajahnya saat tidur. Terpaksa harus pakai lampu, walaupun hanya samar samar.  Sekarang kami sudah sepakat, mulai tidur pakai lampu. Jika salah satu sudah tidur, kami boleh pindah kamar. Saya meneruskan tidur dengan lampu mati atau NYI meneruskan tidur dengan lampu menyala terang.  Hak azasi pasangan manula. Tak ada desah memburu. Sudah terlalu tua untuk bergelut dalam kegelapan. Demi transparansi harus pasang lampu.  Good governance and transparency in bed. Edan, prinsip transparansi dan keterbukaan di bidang politik kok sampai ranjang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;Manila, 18 Juli 2011.&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150260810303467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-10706779156837530?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150260810303467' title='Dalam kegelapan selalu ada keindahan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/10706779156837530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=10706779156837530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/10706779156837530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/10706779156837530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/dalam-kegelapan-selalu-ada-keindahan.html' title='Dalam kegelapan selalu ada keindahan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6730621758769306479</id><published>2011-08-06T22:40:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T22:42:00.530-07:00</updated><title type='text'>Psikiater</title><content type='html'>“Horas bah. Lamo nggak basuo boss”. Saya menyapa dan menyalaminya dengan hangat.  Kami bertemu untuk  rapat di salah satu RS Jiwa di Jawa tengah di tahun 1998. Dr. Sus, seorang psikiater menjabat direktur disana, semenjak  dua tahun sebelumnya.   Dia memandang saya dengan tatapan aneh waktu itu. Mungkin pangling dan kaget. Karena selama hampir delapan tahun tidak bertemu.  Tetapi menjawab. “Horas bung. Ketemu di sini, silahkan duduk”.  Saya merasa agak aneh. Reaksinya  terasa agak dingin dan asing. Dia senior saya waktu menjalani pendidikan dokter.  Kami sempat akrab ketika sama sama ko skap di bagian Psikiatri. Orangnya tampan dan kalem. Seorang pemain band,  tokoh mahasiswa populer di kampus.  Isterinya  dokter seorang ahli anak yang cantik. Selama beberapa tahun sebelum menduduki jabatannya sekarang Dr. Sus bertugas sebagai direktur rumah sakit jiwa di luar Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pagi itu rencana akan menanda tangani kerja sama penelitian dengan rumah sakit yang dipimpinnya.  Saya berangkat dengan tim lengkap   dari Yogya. Saya lihat tim  sponsor dari Jakarta juga sudah hadir lengkap di ruangan. Jam menunjukkan sudah lewat jam 1100. Rencana rapat mulai jam 11. Dr. Sus nampak gelisah, bolak balik melihat ke arah pintu depan. Seperti ada seseorang yang dinanti nanti. Kadangkala dia menatap saya. Tatapannya  aneh. Kadang2 menggelengkan kepala, mungkin ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tanya ke salah satu staf, mengapa acara belum juga mulai.  Jam satu kebetulan ada janji mau ketemu  dengan teman lama di lapangan Tidar. Staf saya berbicara sebentar dengan  staf Dr. Sus. Kemudian datang ke saya, memberitahu kalau Dr. Sus masih menunggu seorang teman dokter dari Yogya, Dr. Santoso. Saya terhenyak. “ Ya saya ini orangnya”. Staf tersebut nampak terkejut. Lalu kembali memberitahu Dr. Sus, jika yang ditunggu sudah hadir.  Saya memang sudah tilpon dia beberapa hari sebelumnya, mengatakan jika saya akan datang sendiri, saat penanda tanganan kerja sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah diberitahu oleh stafnya, Dr. Sus memandang saya dengan tajam dari seberang ruang. Dia menggeleng gelengkan kepala dan langsung mendekati saya.  “Dancuk, tak enteni wiwit mau sampeyan”. Saya ketawa dan menyalaminya. “Saya sudah di sini hampir setengah jam”.  “Lha sampeyan ndadak bilang horas bah, pangling saya. Saya kira pasien saya”. Batin saya menggerutu, teman lama kok dikira pasien. “Sori ya pak, ada pasien saya  mirip sampeyan, selalu bilang horas bah setiap kali datang periksa”.  Kami ketawa bebas. Seperti jaman waktu ko skap di bagian jiwa dulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Acara penanda tanganan berlangsung singkat dan lancar. Hanya pas  pidato menyebut nama saya, dia nampaknya tak dapat menahan geli.  Berhenti sejenak, menahan tawa dan menggelengkaan kepalanya. Mungkin geli karena peristiwa pertemuan barusan. Dalam acara makan siang kami sempat ngobrol.“Anda psikiater hebat bung. Masih main musik aktif”.  Dia mengingatkan saya saat tentamen waktu akhir ko skap, gurubesar almarhum yang kami hormati bercanda mendamprat  saya. “Mas kalau ada dua orang saja seperti sampeyan jadi psikiater di Yogya, separoh penduduk Yogya bisa malah jadi gila semua”. Saya ingat Dr Sus saat tentamen di tahun 1974, bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar dan meyakinkan.  Sehabis makan siang saya pamitan. Tim saya dan timnya Dr. Sus masih bertemu membicarakan masalah teknis dan koordinasi  penelitian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski ada insiden konyol tersebut, hubungan kami tetap baik.  Saya memang mengaguminya sejak mahasiswa  dulu. Dia aktifis mahasiswa penuh kharisma dan gemar main musik. Peristiwa konyol itu mengingatkan saya sewaktu ko skap psikiatri di tahun 1974 dulu. Kami berempat tugas di rumah sakit Pugeran Yogyakarta. Dia suka cerita yang aneh aneh. Suatu siang sebelum pulang Dr. Sus bercerita. Dia masih ko as waktu itu. Belum jadi dokter. Belum jadi psikiater. “Ki membedakan perilaku psikiater dengan pasiennya kadang kadang sulit. Inilah ceritanya”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang psikiater senior  secara rutin melakukan konsultasi dengan pasien pasiennya tiap hari di kamar dokter di rumah sakit. Di depan ruang dokter tadi ada sebuah ruangan kosong yang belum terisi. Rencana akan dipakai untuk ruang periksa juga. Suatu hari dia melakukan konsultasi psikiatriknya. Secara urut pasien datang ke kamarnya beraturan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasien pertama, seorang pria, setelah selesai konsultasi,  keluar dari ruangan. Sebelum pergi pasien itu menengok kamar kosong didepan kamar periksa dan menggeleng-gelengkan  kepalanya. Seolah ada sesuatu yang aneh di sana. Sang psikiater heran, ada apa kok pasien sepertinya  melihat sesuatu di kamar sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasien kedua, seorang wanita, begitu keluar  ruangan selesai konsultasi, pasien juga menengok kamar kosong, lalu menggeleng gelengkan kepala dengan jelas. Seolah ada sesuatu yang membuatnya kaget dan heran. Sang psikiater mengamati dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasien ketiga, seorang wanita begitu keluar ruang periksa, juga menengok kamar kosong di seberang, dan menggeleng gelengkan kepalanya, seolah penuh dengan tanda tanya dan rasa kaget.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sang psikiater, tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ada apa kok pasien pasien ini selalu menggelengkan kepala keheranan melihat ruang di depannya. Dia berdiri dan keluar mengecek ada apa di kamar seberang. Ternyata dia tidak menemukan sesuatu. Hanya ruang kosong. Dia berpikir. “Dasar orang gila, tak ada apa apa kok geleng geleng kepala”. Dia menggerutu sambil menggeleng gelengkan kepalanya sebelum kembali ke kamar periksa. Tiba tiba saja semua pasien yang sedang menunggu untuk konsultasi dengan sang psikiater, ramai ramai berdiri, berebut menengok kamar kosong itu. Lalu serentak menggeleng gelengkan kepalanya.\&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya ingat kami tertawa tergelak gelak mendengar cerita Dr. Sus waktu itu. Namun insiden konyol  di tahun 1998 itu tak pernah mengurangi rasa hormat dan kagum saya pada teman teman saya  yang berkarier di bidang psikiatri. Saya selalu mengagumi mereka. Merekalah ujung tombak kesehatan jiwa di Indonesia.  Hanya jika ingat cerita Dr. Sus dan kisah konyol di rumah sakit jiwa itu, saya tak bisa menahan geli dan seara tak sadar menggelengkan kepala saya.  Edan ketularan psikiater aku. Moga moga teman teman psikiater saya tidak marah membaca cerita ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai, Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt; Manila 10 Juli 2011.&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150252962418467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6730621758769306479?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150252962418467' title='Psikiater'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6730621758769306479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6730621758769306479' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6730621758769306479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6730621758769306479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/psikiater.html' title='Psikiater'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6298604281731479116</id><published>2011-08-06T22:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T22:36:03.042-07:00</updated><title type='text'>Bercinta dengan bidadari</title><content type='html'>Terpana saya mendengar ceritanya.  Eyang Hargana, seorang  dukun renta di kampung Serengan Solo.   Malam Anggoro kasih,  tahun 1967. Baru saja dia sembuh dari sakit, tak sadarkan diri beberapa hari. Sakit lever.   Dalam pengembaraan mimpinya, dia bermadu asmara  dengan seorang bidadari jelita. Dewi Supraba, yang konon tak pernah pakai beha atau celana dalam. Kenikmatan tiada tara. Namun  dia ingin kembali ke mayapada. Demi tugas mulia membimbing para murid yang setia. Puluhan  murid terlolong mendengar kisahnya. Mas Tarno, yang  suka main perempuan, mendesah.  “Enak enak karo widadari kok ndadak bali nang ngalam donya mikir murid gemblung  ora nggenah”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun 1961, saya main sepak bola di alun alun Van de Paal, Ngampin.  Saya tendang bola dari tengah lapangan. Slamet, si penjaga gawang  melolong bingung. Tak mampu menangkap nya.  Suara gemuruh bergema memenuhi lapangan. Seorang wanita cantik gemulai putih bersih menggapai tanganku. Dengan lembut   menggamit ku ke luar lapangan. Bersamanya saya  melayang bersembunyi ke balik awan. Kenikmatan luar biasa.  Belum pernah rasa surge saya rasakan  sebelumnya. Ah ternyata hanya mimpi. Eyakulasi pertama kali dan mimpi bersama bida dari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Impian dan imajinasi klasik para pria Jawa. Bercinta dengan bidadari. Sang Raja pun berpacaran dengan Nyai Loro Kidul.  Jumadi, teman saya di sekolah rakyat lebih realistis. Kalau bisa mimpi bercinta dengan Sisu, teman sekelas kami, akan berbahagia sekali.  Impian itu tak pernah datang. Terlalu realistis untuk sebuah mimpi. Kalau mimpi bercinta, mimpilah dengan bidadari surga. Jangan  mimpi bercinta dengan seorang tetangga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Manila, 8 Juli 2011&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150250226018467&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6298604281731479116?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&amp;sk=notes#!/note.php?note_id=10150250226018467' title='Bercinta dengan bidadari'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6298604281731479116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6298604281731479116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6298604281731479116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6298604281731479116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/08/bercinta-dengan-bidadari.html' title='Bercinta dengan bidadari'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-1604221968908104042</id><published>2011-06-30T22:29:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T22:28:04.383-07:00</updated><title type='text'>Vaginoplasty</title><content type='html'>“ Lampu” teriak Dr. Pram memecah kesunyian di kamar operasi.  Pagi itu di awal tahun 1974, beliau sedang melakukan operasi vaginoplasty di rumah sakit Kandungan dan Kebidanan Mangkubumen,  Yogya.  Terhenyak saya mendengar teriakannya. Saya  masih ko-asisten mendapat tugas  mengarahkan lampu ke daerah operasi.  Cepat cepat saya benarkan arah sinar lampu. Perhatian saya terganggu karena permintaan mas Pur, fotografer yang bertugas mengabadikan jalannya operasi. Kami tidak begitu terkejut akan teriakan Dr. Pram, kebiasaannya memang begitu.  Mas Pur, fotografer itu kadang2 terlalu aktif di hadapan ko as, melebihi para dokter asisten ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Siapa yang menyiapkan pasien ini?”. Ganti pertanyaan ditujukan ke asisten operasi. Almahum Dr. Suro, sedikit terkejut. “Kok kurang  bersih gimana sih ?”. Dokter Suro coba menjelaskan. “Tadi saya cek, rambutnya sudah bersih dicukur Dok”. “Mas, saya tidak tanya cukur pubes. Tetapi itu organ yang mau digarap kok masih kotor dan bau”. Tim asisten operasi semua terdiam. Tak ada gunanya mencari dalih. Dr. Suro dengan sabar membersihkan vagina dan daerah sekitar vagina.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Pram kemudian mulai operasi trans vaginal. Hati hati sekali memotong dan menyambung jaringan jaringan yang telah kendor. Pasien mengalami prolapsus vagina. Organ vagina melorot oleh karena otot2 dan jaringan penyangga sudah  kendor. Pasien berumur sekitar lima puluh tahun. Isteri seorang pejabat di  propinsi.  Alasan operasi memang pertimbangan medis semata mata. Sambil operasi, Dr. Pras cerita, jika pasien ini adalah  kasus ketiga yang dioperasi dengan teknik ini. Temannya di Denpasar telah melakukan operasi sebanyak tujuh kali. Mereka janji akan mempresentasikan hasilnya di konggres nasional tahun depan. Ada semacam pacuan di antara kedua sahabat itu. Operasi berjalan lancar, selesai dalam waktu dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaginoplasty adalah operasi yang bertujuan untuk merekonstruksi kelainan di  organ vagina, penunjang vagina dan jaringan mulut vagina karena berbagai sebab (http://en.wikipedia.org/wiki/Vaginoplasty ).   Yang paling sering adalah kelainan karena mengendornya jaringan otot vagina dan penunjang vagina, sehingga kantung vagina melorot turun. Jelas ini membawa dampak terhadap fungsi seksual, terhadap bentuk estetika vagina dan juga menyebabkan keluhan tidak enak untuk pasien.  Sebagian besar alasan vaginoplasty adalah karena pertimbangan medis dan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  dengan berjalannya waktu dan  membanjirnya  budaya komersial, disertai meningkatnya tuntutan dan selera kaum wanita, semakin banyak operasi vagionaplasty yang tujuannya bukan semata mata untuk rekonstruksi medis, tetapi  untuk tujuan estetika semata mata. Untuk memperbaiki  penampilan vagina dan alat alat sekitar vagina, misalnya bibir vagina, jaringan klitoris. Yah mungkin biar penampilannya lebih cantik menawan dan memikat pasangan. Bahkan juga untuk menutup kembali selaput dara yang telah robek karena perkawinan.  Ini semata mata hanya indikasi social, bukan medis. Karena ada permintaan pasar, tak ayal lagi pelayanan vaginoplasty estetika semakin populer, semakin mahal dan jadi simbol gengsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaginoplasty estetika populer dikalangan kaum wanita kelas atas yang berduit dan kalangan selebriti. Mungkin demi gengsi, atau demi meningkatkan popularitas di kalangan penggemar. Walau sudah kawin, hymen atau selaput dara yang sudah robek atau hilang, bisa ditautkan kembali atau ditambal dengan jaringan lain. Perawan kembali walau hanya secara artifisial.  Dalam konteks non rekonstruksi, vaginoplasty juga bisa untuk meremajakan kembali jaringan vagina, mengembalikan kekencangan otot otot dan meningkatkan penampilan estetika dan kepuasan sang pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dimungkiri, kini vaginoplasty seolah menjadi bagian  budaya popular kelas atas, kalangan orang berduit dan selebriti. Bukan lagi hanya sekedar untuk memperbaiki disfungsi vagina karena sebab sebab medis seperti yang digambarkan dalam operasi di atas. Orang bisa minta dioperasi agar Ms. V bisa tersenyum manis menarik sang pasangan. Bisa untuk memperbaiki penampilan bibir vagina. Ada bibir yang mungkin terlalu besar, bergelantungan tak beraturan, bisa diperbaiki supaya bisa mungil dan menawan. Mungkin  juga beralasan. Jika penampilan Ms. V tidak menawan, serong  ke kiri, serong  kekanan, dengan bibir  bergantungan tak beraturan, bisa bisa sang burung  tidak mau berkokok, mampir, apalagi masuk. Manusiawi lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi berlebihan karena kemudian  ini dipromosikan sebagai salah satu simbul budaya pop kelas atas. Budaya kekinian yang mahal. Bayangkan bagaimana bangganya sang selebriti kita DP sesudah menjalani vaginoplasty selaput dara (http://kayosakti.blogdetik.com/2011/06/04/dewi-persik-perawan-lagi-biarpun-janda/). Mungkin bagi yang bersangkutan ini sebagai aktualisasi diri sebagai artis papan atas. Bahkan tripnya digabung dengan umroh,  biar semakin afdol. Bagi sang produser, meningkatnya  popularitas bisa  untuk menggaet  penggemar, menggaet pasar.  Bayangkan bila image sang selebriti  tersebar luas, wah Ms. V nya sudah melorot, sudah kendor, sudah miring sembilan puluh derajad.  Jelas para penggemar lari. Sori mek sori sori. Ini harus dicegah secara proaktif, vaginoplasty, walau harus bayar milyaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya omong omong dengan beberapa teman ahli kandungan dan kebidanan, menghadapi komersialisasi dan penyebarluasan image vagionaplasty ini di kalangan orang berduit dan selebriti papan atas, ada ada saja inovasi yang  mungkin bisa dilakukan.  Perlu langkah  langkah untuk  menyelaraskan  (alignment) dengan merebaknya   budaya korupsi, penyimpangan, politik uang di tanah air. Saya sarankan dokter dokter tersebut membuat inovasi teknologi dan kemitraaan (alliance) dengan   pengusaha melalui mekanisme pasar.  Sokur kalau  bisa dipasarkan untuk ekspor.  Salah satu inovasinya, bagaimana kalau dokter dokter itu bekerja sama dengan produsen jenang atau wajik. Entah jenang Kudus atau dodol Bandung, untuk menyubal  Ms. V saat vaginoplasty biar tambah lekat. Atau kemitraan dengan pedagang rujak cingur, biar aromanya semakin aduhai dan menggoda.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah  wah wah edan kabeh.  Maaf malah ngelantur.   Terlalu vulgar mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila, 30 Juni 2011&lt;br /&gt;(http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939#!/note.php?note_id=10150244848488467)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-1604221968908104042?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/1604221968908104042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=1604221968908104042' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/1604221968908104042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/1604221968908104042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/06/vaginoplasty.html' title='Vaginoplasty'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6500398538611138345</id><published>2011-06-30T22:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T22:29:21.149-07:00</updated><title type='text'>Ciuman bibir</title><content type='html'>Terhenyak saya membaca tulisan di Kompas yang mengatakan bahwa banyak wanita Indonesia yang tidak tahu dan tidak merasakan puncak kenikmatan hubungan seksual (orgasmus) dengan pasangannya (http://health.kompas.com/index.php/read/2011/06/26/22443255/Banyak.Perempuan.Tak.Tahu.Orgasme).  Tulisan semacam ini memang sudah banyak di terbitkan di kepustakaan. Tetapi kali ini berdasarkan pengalaman yang diungkapkan oleh seseorang yang  sangat banyak mengamati dan mendalami permasalahan hubungan pria dan wanita di dunia nyata, Liany Hendranata.  Pandangannya bukan semata mencerminkan pandangan teori  dunia akademis, tetapi  mencerminkan apa yang banyak dialami wanita di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan ahli dalam seksologi. Juga bukan marital counselor. Tetapi sejak tulisan ringan tiga tahun lalu tentang ciuman pipi (http://www.facebook.com/notes/ki-ageng-similikithi/tulisan-lama-3-tahun-lalu-cipika-cipiki-di-kolom-kta-kompas/10150243731363467)  banyak komentar dan masukan yang berkaitan dengan ciuman bibir dan masalah kepuasan puncak hubungan seksual.  Karena saya bukan ahlinya, dan saya juga tidak mengkhususkan  tulisan saya dalam hubungan seksual , maka komentar dan masukan  tersebut tak menjadi bahan  ulasan lebih lanjut.  Tetapi membaca pendapat Liany Hendranata dalam rubrik kesehatan Kompas tadi, saya  ingin ungkap beberapa kasus, mungkin bermanfaat sebagai masukan, renungan dan bahan diskusi. Terutama untuk kalangan wanita mengenai masalah ciuman bibir dan puncak kepuasan seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita simak kasus kasus dibawah ini. Silahkan komentar dan bagi bagi pengalaman, analisis dan pandangan. Bukan dari sisi ahli, tetapi dari sisi pelaku yang mengalami sendiri. Kasus kasus ini datang lewat dunia maya   mengomentari tulisan tulisan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus  pertama.&lt;br /&gt;Seorang wanita karier, pendidikan tinggi dari kelompok menengah, umur  sekitar empat puluh tahun. Berkeluarga dengan suami seprofesi, selisih umur kira kira sepuluh tahun.  Suami pilihan sendiri dan ada masa pacaran beberapa tahun sebelum kawin. Putra tiga, yang nomer satu sudah hampir masuk universitas. Karier profesi berjalan bagus   dengan jejaring luas.  Mengatakan bahwa selama lebih lima belas  tahun terakhir semenjak kelahiran putri pertama tidak pernah merasakan puncak kenikmatan dalam hubungan seksual.  Juga tidak pernah lagi melakukan ciuman bibir bersama sang suami seperti saat pacaran dan saat  awal perkawinan.  Bahkan mengatakan sudah lupa cara dan rasa berciuman bibir. Hubungan seksual dilakukan hanya sekedar menjalani tugas sebagai isteri. Hubungan dengan suami dingin karena sebab yang tak diungkapkan. Tak pernah mengungkapkan masalah ciuman dan hubungan seksualnya dengan sang suami. Tak pernah melakukan hubungan dengan orang lain, meski punya kawan dan jejaring luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kedua&lt;br /&gt;Seorang wanita muda dengan pendidikan tinggi, umur awal tiga puluhan, baru merangkak membina karier profesi. Juga mempunyai  usaha swasta. Berputra tiga dan bersuamikan seorang pengusaha muda. Belum mapan benar. Suami sangat sibuk dalam berusaha sehingga nampaknya waktu dan perhatian untuk isteri dan keluarga tidak optimal. Dia mengatakan sudah 7 tahun  lebih tidak pernah melakukan ciuman bibir.  Masih berhubungan badan tetapi kurang optimal karena kesibukan suami. Paling banter sebulan sekali dua kali. Masih bisa menikmati puncak kenikmatan seksual, tetapi sudah menurun. Tidak seperti waktu awal perkawinan. Hubungan seksual hanya cepat cepatan asal puas. Asal cepat selesai.  Ingin sekali merasakan kembali berciuman bibir, tetapi tak sampai hati mengatakan keinginanya ke sang suami.  Walaupun berkomitmen sangat kuat untuk tetap mendampingi suami, dia merasa rasa cinta dan simpati ke suaminya mulai menyurut. Bertransformasi menjadi  rasa kasihan.  Berkeingian kuat untuk menikmati kenikmatan berciuman bibir, ingin menikmati kembali cumbu rayu, dan ingin lebih menikmati puncak kepuasan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ketiga&lt;br /&gt;Seorang ibu rumah tangga, umur  lewat pertengahan lima puluhan, pendidikan menengah. Suami selang umur 3 tahun lebih tua.  Pernah punya usaha, ditinggalkan karena mengikuti kesibukan suami. Berkecukupan dengan status sosial bagus. Tak banyak kawan dan jejaring social. Putra 5 sudah berkeluarga semua.  Suami dikenal sejak mahasiswa dan pacaran beberapa tahun sebelum kawin. Ciuman bibir masih dilakukan dengan hangat walaupun tak membara seperti di jaman pacaran dan waktu masih muda. Masih menikmati hubungan seksual dan puncak kenikmatan seksual, walau tidak sesering sewaktu masih muda. Puncak kenikmatan seksual dalam berhubungan dinikmati semenjak pacaran dengan sang suami. Sekarang hanya seminggu sekali atau lebih jarang.   Sejak awal perkawinan selalu berhubungan badan dengan suami  setiap hari, atau paling istirahat sehari dalam seminggu.  Komunikasi dengan suami  cukup tebuka mengenai masalah seksual walau tidak sampai vulgar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang bisa dipetik dari ketiga kasus di atas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kepuasan seksual dan status hubungan pasangan suami steri sangat kompleks dan multi dimensi. Tak bisa disangkal jika hubungan emosional dan keharmonisan hubungan antara masing masing anggota pasangan sangat menentukan.  Ada hubungan dekat antara kebiasaan berciuman bibir, ber mesraan dan bercumbu rayu antara kedua anggota pasangan dengan kemampuan untuk mencapai puncak kenikmatan seksual.  Ketidak mampuan melakukan ciuman bibir mungkin bisa menjadi tanda awal munculnya masalah hubungan seksual dan masalah keharmonis hubungan ke dua pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada hubungan dekat antara kegagalan berkomunikasi antara kedua anggota pasangan dengan meningkatnya masalah hubungan seksual yang mulai dengan masalah ciuman bibir.  Saya merasa kaget di alam keterbukaan komunikasi saat ini, masih banyak pasangan yang tak mampu mengembangkan budaya keterbukaan dalam kebiasaan berciuman dan berhubungan badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada gunanya buka buka jika tidak disertai  dengan cumbuan cumbuan mesra. Jangan membiasakan diri untuk buka buka, asal cepat terpuaskan. Rebat cekap nimas. Itu tak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya bukan ahlinya. Ini pandangan awam saja. Pandangan anda berdasarkan pengalaman masing masing akan sangat berharga demi pembaca yang lain. Masihkan anda berciuman bibir ? Masihkah anda menikmati puncak kenikmatan seksual ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatulah para wanita, untuk menikmati cumbu rayu, untuk menikmati ciuman bibir, untuk menikmati puncak kepuasan seksual, dengan orang yang anda cintai.  Hidup adalah pilihan. Bukan takdir dan suratan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila, 29  Juni 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6500398538611138345?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6500398538611138345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6500398538611138345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6500398538611138345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6500398538611138345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/06/ciuman-bibir.html' title='Ciuman bibir'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4309856267327579502</id><published>2011-06-30T22:21:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T22:26:09.375-07:00</updated><title type='text'>Kisah perjalanan anak manusia - cerita dari seberang lautan</title><content type='html'>Sudah beberapa hari  hujan angin  mendera  tanpa ampun. Hari Jumat kemarin  transportasi  Manila lumpuh karena banjir.  Terpaksa akhir pekan  hanya tinggal di rumah.  Kadang  menghabiskan waktu, melanglang jagad maya lewat internet.  Jam sepuluh malam tadi ada titik merah di kotak chatting face book. “Selamat malam Ki. Happy week end”.  Pesan dari Yulia yang tinggal di HongKong. Saya mengenalnya  sejak beberapa minggu lalu. Dia bekerja di Hong Kong sudah enam tahun.  Saya menjawab singkat  “Terima kasih, tak ada happy week end. Typhoon dan banjir”.   “Typhoon dari Filipina sudah sampai di HongKong  siang tadi Ki. Hanya lewat sebentar. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  kami terlibat dalam percakapan maya yang asyik.. Dunia maya memberi kesempatan banyak orang untuk saling menyapa dan memberi salam, di manapun mereka berada.  Semua serba cepat. Kadang bisa lihat foto kawan diseberang. Edan, kemajuan teknologi tak terbayangkan. “Jika punya waktu banyak, saya ingin cerita agak panjang ya Ki. Tentang pengalaman hidup ” “Silahkan, terima kasih kepercayaanya. Saya menjadi pendengar setia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf demi paragraf pesannya datang mengalir.  Kadang tergangggu  hubungan internet. “Keluar masuk secara teratur Ki”. Ceritanya deras dan teratur. Saya menyimak kalimat demi kalimat. Tak menyela sedikitpun.  Di akhir cerita, saya bertanya apakah kisahnya  dapat dirangkum  dan dinaikkan ke internet.  Mungkin bisa jadi bahan pemikiran pembaca.  Yulia sepakat. Nama dan tempat disamarkan.   Kami sempat bertukar pikiraan. Konsultasi lah istilah gagahnya. Edaaan ah,   jadi konsultan  hubungan asmara dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini  saya buka rekaman catatannya. Agak kesulitan merekonstruksi jalan cerita.. Biasanya dalam  format wawancara, ada pertanyaan dan ada jawaban. Tetapi ini menampung cerita lewat pesan maya.  Saya susun kembali dengan hati hati,  inilah ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus  SMA,  Yulia diajak  paman ke Jakarta. Paman waktu itu lagi sukses sebagai penata artistik film hingga bisa meraih piala Citra.  Jangan disela ya Ki, biar saya selesaikan dulu ceritanya. Sambil les komputer Yulia melamar pekerjaan dan diterima di satu perusahaan yang waktu itu lagi buka banyak restoran.  Yulia bekerja di salah satu restoran milik perusahaan  tersebut, di Jakarta. Saat kerja di sana Yulia bertemu dengan seorang pejabat yang menjadi salah satu wakil pimpinan instansi penting di bidang perhubungan.  Namanya pak Rasid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rasid sudah punya isteri dan lima anak sebenarnya. Tetapi singkat cerita Yulia nikah sama dia di tahun 1992. Pak Rasid  cinta setengah mati sama Yulia. Dia seorang anggota militer yang waktu itu diperbantukan ke instansi sipil di mana dia bertugas.  Keluarganya semua tahu, juga anak anaknya, kalau pak Rasid menikahi Yulia. Isteri pertamanya menderita sakit kanker leher rahim, sehingga tak bisa lagi melayani suami. Bisa dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan datang bertubi semenjak perkawinan kami. Sebulan setelah nikah dengan Yulia, pak Rasid  di promosikan menjadi kepala kantor cabang di Jakarta. Jabatan barunya bisa dikatakan lebih basah saat itu. Baru setahun di sana,  dipindah ke Kepala Bagian Perijinan di  kantor  propinsi. Promosi yang luar biasa.  Semula Yulia tinggal bersama pak Rasid di Jakarta. Tetapi kemudian pindah ke Tangerang,  dekat dengan rumah orang tua Yulia..  Orang tua Yulia punya toko di  Tangerang.  Kami tidak dikaruniai anak. Sesudah dua tahun perkawinan, ternyata baru saya tahu kalau suami gak bisa lagi punya anak karena sudah di vasektomi, setelah kelahiran anaknya yang ke lima. Isteri sama anak anaknya tinggal di Bandung waktu itu. Yulia menjalani rumah tangga dengan pak Rasid selama empat belas tahun. Pisah di tahun 2006. Banyak ceritanya. Ada pertanyaan Ki, kok diam saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rasid datang dari keluarga terpandang di Bandung. Saudaranya banyak yang menjadi pejabat tinggi, termasuk di militer. Keluarganya juga banyak yang jadi pengusaha.  Hubungan Yulia dengan keluarga pak Rasid baik baik saja. Keluarga besarnya menerima kehadiran Yulia.  Selama jadi isterinya, Yulia yang selalu di ajak kemana mana. Isteri pertamanya  sudah nggak mau diajak.  Pak Rasid tinggal sama saya di Tangerang, kalau anak anaknya ada perlu, mereka akan tilpon, baru pak Rasid pulang ke Bandung. Anak anaknya semua sudah sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rasid  terbiasa hidup di dunia keras sebelum menduduki jabatannya saat itu.  Sebelum nikah sama Yulia dia suka mabuk, judi dan main perempuan. Tenang Ki, saya masih cerita ini. Setelah nikah dia berobah total. Tentu dengan perjuangan dan pengorbanan berat yang mesti Yulia lalui. Pak Rasid sangat temperamental, bertahun tahun Yulia bersabar menerima pukulan, hajaran dan siksaan hanya karena masalah masalah yang sangat sepele. Bahkan terakhir dia mau bunuh Yulia dengan gunting yang sudah siap dia tancapkan ke perut Yulia. Saya mempertahankan nyawa saya walau sampai harus berdarah darah. Yulia sebenanrya sangat berharap dia dapat berubah dan tidak menyakitinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rasid selalu bilang, kalau dia memanggil atau membutuhkan Yulia, nggak peduli  apapun harus cepat datang dan melayani. Jika tidak dia akan cepat emosi dan turun tangan,  Jika tilpon ke rumah  yang angkat tilpon bukan Yulia, dia akan marah besar. Dan saya harus selalu siap menerima kemarahannya dan kekerasannya. Suatu saat Yulia diajak ayah  untuk nyekar ke makam kakek, saat pak Rasid sedang  ke Bandung. Kebetulan dia tilpon ke rumah, saya nggak ada, waktu pulang dia ngamuk dan marah besar. Semua barang dilemparkan ke saya. Saya dipukuli habis habisan. “Kamu melanggar aturan suami. Ijin nengok orang tua kok malah nglayap ke mana mana”. Saya tak pernah menceritakan kekasarannya ke orang tua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam setelah mengalami siksaan, ketika dia lengah saat shalat subuh Yulia  kabur dari rumah lari ke rumah orang tua. Saya sujud sama orang tua dan menceritakan semua masalah yang Yulia alami selama empat belas tahun. Saya tidak pernah mengadu ke orang tua sebelumnya. Singkat cerita Yulia mengajukan gugat cerai  ke pengadilan agama. Gugat cerai dikabulkan pengadilan setelah satu tahun. Paman Yulia ada yang bekerja di KUA, beliau yang membimbing saya di pengadilan agama.  Yulia  kemudian  lari jauh ke HongKong sampai sekarang karena  mantan suami mengancam kalau ketemu dimanapun akan dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah sering bilang sama dia tolong jangan sering sakiti saya. Kalau habis kesabaran Yulia tak ada celah sedikitpun untuk dia. Selama ini Yulia selalu memaafkan dia. Terakhir saat Yulia memutuskan cerai, dia sujud di kaki dan menangis sejadi jadinya. Tetapi saya sudah tutup semua celah untuk dia keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pas nggak marah dia cinta setengah mati  sama saya. Semua permintaan selalu diberikan. Kami sering pelesiran, banyak kali ke  Bali.  Dia sangat menyayangi Yulia. Saya hanya minta jangan disakiti. Secara ekonomi, dia tidak ngerem, apa saja selalu diberikan untuk  memanjakan Yulia. Jika lagi baik, apapun yang saya ucapkan akan segera dia turuti. Beli harta apapun pasti atas nama Yulia. Pada saat cerai di tahun 2006, dia meninggalkan dua rumah dan tanah untuk Yulia. Ki habis ceritaku. Ki saya lega bisa cerita tentang kisah saya.  Masih membaca?&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang diceritakan Yulia suatu semalam lewat chatting.  Semua jelas dan gamblang walau hanya dari satu sisi.  Beberapa saat saya kemudian bertukar pesan dengannya. Tak ada pretensi untuk menggurui.  Tidak sok bijak menasehati. Yulia  telah menjalani kisahnya selama empat belas tahun. Banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. Dia pasti bisa  memutuskan yang terbaik untuk perjalanan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak wanita mempunyai kebahagiaan semu, berkeinginan memperbaiki tabiat dan kelakuan hitam sang pasangan melalui perkawinan. Berkeinginan berkorban dan menderita fisik ataupun emosi, demi kebahagiaan pasangan. Itu hanya  masokisme. Hidup bukanlah hanya untuk berkorban, untuk menderita demi pasangan. Hidup adalah perjalanan bersama. Bahagia bersama. Berjuang dan berkorban bersama, demi masa depan bersama  dengan orang yang dicintai dan mencintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Yulia cerita akan kembali ke Indonesia tahun depan. Ingin memulai lagi hidup baru, bersama  pasangan yang dikenalnya di dunia maya.  Dia baik sekali , pesan pesannya selalu lembut di dunia maya. Dunia maya  sering mempertemukan  pasangan dan kawan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan adalah pilihan dalam perjalanan hidup yang panjang. Jika salah langkah  suatu saat orang harus berani memutuskan kembali ke jalan semula. Dan meneruskan perjalanan selanjutnya. Hidup bukan sekedar berkorban sia sia, bukan sekedar menderita. Banyak dari kita yang tak berani mengambil keputusan untuk kembali ke jalan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai, hidup adalah karunia yang harus di dinikmati dan dijalani bersama seseorang yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila 26 juni 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4309856267327579502?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4309856267327579502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4309856267327579502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4309856267327579502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4309856267327579502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/06/kisah-perjalanan-anak-manusia-cerita.html' title='Kisah perjalanan anak manusia - cerita dari seberang lautan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2572986354938781421</id><published>2011-03-25T04:50:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T05:17:08.690-07:00</updated><title type='text'>Bulan Pakai Payung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-VFU9ZGgLP0w/TYyGxEvTHWI/AAAAAAAAAJw/t54g16mVpx4/s1600/DSC02306.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-VFU9ZGgLP0w/TYyGxEvTHWI/AAAAAAAAAJw/t54g16mVpx4/s200/DSC02306.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587989415303781730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siang itu terasa gerah dan  panas. Baru saja selesai tugas di poliklinik. Akhir musim hujan di tahun 1974. Saya sedang tugas di rumah sakit Tegalyoso Klaten waktu itu. Perasaan selalu gelisah  semenjak kematian pasien emboli paru beberapa hari lalu. Ceritanya pernah saya ungkapkan di Koki (27 September 2007).  Mengingatkan saya akan tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Tertinggi di antara negara2 tetangga dan termasuk urutan tinggi di Asia . Sebagian karena penyakit kehamilan dan gangguan  melahirkan. Tragis menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya melayang ke gadis MUR yang saya kenal beberapa waktu lalu. Perkenalannya  begitu  tak terduga. Tiba tiba saja dia muncul dari balik pintu ketika saya mengantar kakaknya ke rumah pondokan. Saya begitu terpana dan selalu mengenangnya. Pernah saya ceritakan di kolom ini juga. Sejak itu saya rajin menulis surat dan menemuinya. Belum ada ikatan apa apa. Baru tahap pendekatan (PDKT) atau lebihnya ya pacar belum tetap. Baru sampai tahap pegang pegang jari tangan. Namun hati sudah selalu bergetar. Kontak fisik belum merambah ke atas maupun ke bawah. Demarkasi jelas. Hanya hati yang  berdesir dengan perasaan melayang layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kematian pasien karena emboli paru beberapa hari lalu, ingatan saya tak pernah lepas dari gadis itu. Ingin menemuinya. Seolah takut sesuatu terjadi padanya. Seolah  takut kehilangan dia. Ingin rasanya menepis pikiran saya. GR toh  belum ada hubungan  apa apa. Belum terucap kata kata cinta. Status hubungan belum tetap. Seperti pegawai negeri, selalu harus mulai dengan status tidak tetap atau honorer. Kalau perlu ber tahun tahun, dengan keharusan kesetiaan melebihi pegawai yang sudah tetap. Getaran getaran hati ini layaknya ungkapan kesetiaan. Tetapi lain dengan kesetiaan pegawai tidak tetap. Pacaran belum resmi, jalan ke sana masih remang remang. Baru pegangan jari. Pegang pegang jari dan tangan bukan jaminan pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tugas lagi sesudah poliklinik tutup. Ada ko as lain yang tugas jaga. Singkat kata kemudian saya sudah sudah berada dalam bis menuju Yogyakarta . Lupa nama bisnya. Tetapi masih ingat karcisnya jurusan Yogya, Solo, Karangpandan. Waktu menunjukkan jam satu siang hari. Hawa panas tak terasa lagi. Tertutup  hati yang berdesir membara. Rasa melayang  akan ketemu dia. Gadis manis dari balik pintu. Ingin menatap wajahnya yang redup. Senyumnya yang lepas menghanyutkan. Seandainya bisa menggapainya. Membelainya. Memeluknya. Aaaaah lamunan melayang kemana mana. "Bausasran mas. Bausasran. Turun cepat" Tiba tiba si kenek berteriak parau. Nggak tahu mengapa dia harus berteriak menghabiskan suaranya. Mengeringkan pita suaranya. Tak perlu sebenarnya. Kenek malang itu mungkin juga nggak tahu kenapa harus berteriak. Bagian dari kebiasaan saja. "Pimpinan partai boleh teriak. Pejabat bisa pidato lantang. Mengapa saya nggak boleh teriak. Saya ini  penguasa nomor dua dalam bis tua ini". Mungkin saja kenek itu berpikir demikian, melihat saya nggak senang dengan teriakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bergegas turun dari bis tua yang suaranya mengaum karena mesin yang  memanas.. Waktu menunjukkan jam dua kurang. Panas sedikit berkurang.  Naik becak ke jalan Tanjung, dua puluh lima rupiah. Tak ada tawar menawar. Mau jumpa gadis idaman, pantang tawar  menawar dengan pak becak. Saya ini mahasiswa. Tas berisi beberapa catatan dan pakaian dalam saya gantungkan di pundak. Pohon jambu di rumah pondokan MUR nampak hijau rimbun. Teringat beberapa minggu lalu, kami selalu duduk di bawah pohon itu berdua setiap akhir pekan. Hanya berbisik dan bercerita ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah nak,  MUR belum pulang sejak pagi. Katanya kuliah sampai sore. Ngebut mau ujian" . Ibu kost yang sabar dan baik hati menyambutku ramah. "Ditunggu di dalam saja Nak". "Terima kasih Bu, saya tunggu di luar saja". Kecewa sekali rasanya. Bukan salah dia, bukan salah saya. Keadaanlah yang menyebabkan. Tak bisa kontak tilpun sebelumnya. Saya menunggu di kerindangan pohon itu. Di bangku kayu di mana kami berdua selalu duduk berdampingan di akhir pekan dalam bulan bulan terakhir.. Pikiran saya melayang membayangkannya. Jika dia datang akan kubelai tangannya. Jika dia tersenyum, akan saya sentuh pipinya. Duduk sendirian di bawah pohon jambu. Angin semilir ringan. Rasa katuk kadang datang menyelinap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat nampak di kejauhan. Seorang gadis muncul dari persimpangan jalan. Berjalan pelan memakai payung warna merah merona. Matahari condong ke Barat. Angin bertiup pelan. Rambutnya berderai  terterpa angin.  Rok panjangnya  ikut melambai berirama. Dengan langkah langkah ringan. Debu  pasir ikut terbang menari bersama angin. Yogya memang berdebu di musim kering. Debu berpasir dari Gunung Merapi.  Wajah ayu dibawah payung merah itu. Mungkin dia sudah melihat kalau saya menunggunya. Senyumnya lepas memukau. Saya  berdiri memandangnya terpana dari balik pagar. Di bawah pohon jambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusambut tas kuliahnya, saya letakkan di bangku. Sejenak tak sempat berucap apa apa. "Hai". "Sudah lama KI ? Maaf ya saya kuliah sampai siang. Pulang sama Mica tadi".  Tak mampu  berkata, saya tertegun memandang wajahnya.  Cantik mempesona. Pipinya memerah tertimpa panas. Indah bagai rembulan purnama.  Beberapa saat saya hanya memandangnya. Tak sanggup membelai tangannya. Tak mampu menyentuh pipinya. Wajahnya  begitu  bersih penuh pesona. Bagai rembulan. Rembulan di siang hari. Dalam panas mata hari. Bulan pakai payung. Betapa bahagianya jika saya diberi kesempatan  menemani  dalam perjalanan perjalanan di panas siang hari.  Dalam kesejukan  kesejukan malam yang indah. Dalam taburan bulan purnama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah lamunan sekilas tiga puluh lima tahun lalu selalu saja datang. Menyampaikan salam. Mengantarkan senyuman. Senyum yang abadi dalam kenangan. Bulan pakai payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber Community 10 Sept 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2572986354938781421?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2572986354938781421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2572986354938781421' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2572986354938781421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2572986354938781421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/03/bulan-pakai-payung.html' title='Bulan Pakai Payung'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VFU9ZGgLP0w/TYyGxEvTHWI/AAAAAAAAAJw/t54g16mVpx4/s72-c/DSC02306.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3727967483557425105</id><published>2011-01-22T23:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T23:12:49.207-08:00</updated><title type='text'>Sekda</title><content type='html'>“Nama saya Dawud, ndoro”.  Jawabnya begitu lugu dan pasrah. Pak Dawud tak tahu persis siapa yang berdiri gagah didepannya. Tinggi besar dan berpakaian safari dengan topi  warna biru. Pak lurah yang begitu dihormati di desa, kok sampai mencium tangan. Percakapan singkat ini terjadi di pasar Ngampin di pertengahan  tahun enampuluhan. Pak Dawud adalah petugas kebersihan yang setiap pagi selalu disiplin membersihkan sampah di pasar. Pekerjaan yang diwariskan oleh bapaknya sejak  awal kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “ Saya ini Sekda pak Dawud. Sampeyan yang kebagian tugas membersihkan pasar ini  ya? ”.  Pak Dawud semakin keder, tak tahu apa dan siapa itu Sekda. Dia juga tak paham apa itu Sekretaris Daerah. Pasti lebih tinggi dari Bupati. Pas pak Bupati datang dulu,  pak Lurah tidak sampai mencium tangan, ini kok  begitu serius mencium tangan Sekda. Rasa kedernya pelahan berubah menjadi takut, dia tadi lihat pak Sekda menyepak keranjang warung mak Mak’i yang berjualan pecel semanggi. Geram sebenarnya dia, tadi pagi keranjang itu sudah dikosongkan. Tetapi tak bisa marah begitu saja dia. Pagi2 tadi dia sudah dapat sarapan pecel semanggi sama lonthong yang terbungkus daun bambu itu. Gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Kulo ndoro, ndherek duka “. Diambilnya keranjang sampah yang disepak pak Sekda tadi. Tak berani dia menatap wajah  pak Sekda. Ditegur lurah saja rasanya sudah terkencing kencing, apalagi ini narendro gung binathoro kabupaten. Pak Sekda rupanya belum mau melepasnya. Menanyakan apa isi keranjang yang dijinjing di tangan kiri. Pak Dawud menjelaskan, dia  juga membawa  jambu kluthuk  merah, hasil dari halaman rumahnya di Lonjong. Pak Sekda merogoh saku dan memberikan beberapa lembar uang  ke tangannya. “Saya bawa saja untuk oleh oleh pak Dawud”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dawud mengucapkan terima kasih lirih, tak berani dia menghitung uang tadi. Pak Sekda kemudian minta diantar ke sumur yang menjadi kamar mandi  umum di sebelah barat pasar. Buang air. Sumur tempatnya mbah Amat Bakri. Tak banyak yang dibicarakan kecuali petuah agar pak Dawud kerja dengan baik. “ Sing temen le nyambut gawe. Sing resikan pak Dawud”. Sampai dirumah siang harinya, pak Dawud begitu terkejut. Lembaran uang yang diberikan oleh pak Sekda tadi banyak sekali. Sepuluh rupiah. Biasanya untuk jambu sekeranjang kecil itu hanya bisa membawa pulang uang seringgit. Itupun kalau laku.  Kunjungan Sekda membawa berkah hari itu buat pak Dawud dan keluarganya.  Dia membayangkan Sekda pasti priyayi ngaluhur gung binathoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak saya dengan pak Dawud sangat terbatas. Orangnya sangat lugu dan pendiam. Dia punya anak satu waktu, Trisno  namanya. Adik kelas beberapa tahun di bawah saya di Sekolah Rakyat Ngampin. Umur pak Dawud waktu itu sudah mendekati enampuluh,  sudah mulai renta. Istrinya kelihatannya masih jauh lebih muda, mungkin sekitar tiga puluhan. Cerita tentang pak Dawud lebih lanjut saya peroleh ketika dia sering bertandang dan ngobrol dengan tetangga sebelah kebun kami, mbah Sem. Mbah Sem berdua juga sudah renta. Mereka berdua dan pak Dawud adalah jemaah gereja yang  taat.  Anak anak  Mbah Sem, semua bekerja di sektor formal, guru, pemerintah daerah,  perawat dan sebagainya. Mbah Sem adalah tokoh panutan dalam membesarkan anak, bagi pak Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore saat saya main di tempat mBah Sem, saya mendengar percakapan mereka. Pak Dawud memberi  tahu jika istrinya hamil lagi. Mbah Sem komentarnya ‘Wah isih ampuh sampeyan”. Pak Dawud kemudian cerita panjang lebar jika anaknya kelak tidak akan kerja di pasar lagi. Dia ingin anak anaknya menjadi orang, nayoko projo. Jangan hanya jadi tukang sampah pasar. Ingatannya selalu melayang ke idolanya, bapak Sekda. Malam Jum’at sebelumnya, mbah Dawud tirakat di jaratan, kuburan tua Kyai Pojok di Ngampin. Dia mendapat wangsit jika anaknya kelak pasti laki laki dan akan diberi nama Sekda Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benaknya jika anaknya kelak diberi nama Sekda pasti akan diberi kekuatan mukjijat luar biasa. Jika bayi bayi umumnya hanya mampu menggerakkan kaki bergolek ke kiri dan ke kanan di tempat tidur, bayi Sekda pasti sudah mampu menyepak keranjang. Jika bayi bayi umumnya akan ngompol di tempat tidur, bayi Sekda pasti curah air kencingnya bisa menyemprot berpuluh meter. Bisa mengganggu tetangga jika tidak hati hati. Jika bayi umumnya malam malam menangis, bayi Sekda pasti bisa terbahak bahak. Bahkan jika bayi umumnya  makan bubur halus, bayi Sekda, pasti sudah lahap memakan jambu kluthuk merah, seperti yang dibeli pak Sekda. Bayangannya tentang Sekda begitu membubung. Kebahagiaan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  mendengar nasehat mbah Sem. Terima saja apa adanya. Nggak usah dengar wangsit macam macam. Tetapi idola seorang Sekda tak pernah lepas dari impian pak Dawud.  Narendro gung binathoro, manggalaning projo. Dia benar benar ingin anak anaknya keluar dari lingkaran kemiskinan. Impian alamiah banyak orang. Namun di jaman itu impian impian itu sering dihujat sebagai perjuangan kelas yang diharamkan di jaman Orde baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun. Masa berganti masa. Saya tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Lima puluh tahun telah berlalu. Anak bungsu pak Dawud tidak diberi nama Sekda, tetapi Yunus. Hari ini ketika saya ingat kisah itu, saya mencari tahu di mana Yunus dan kakaknya Trisno. Saya tertegun ketika diberi tahu adik saya di Ambarawa, jika Yunus sudah meninggal  bertahun lalu. Dia meninggal dalam usia muda di umur sekitar tiga puluhan. Yang lebih masygul, dia  bekerja sebagai buruh mengangkat barang, mengangkat hasil bumi. Impian pak Dawud tak pernah tercapai sampai akhir hayat dan sampai anak yang diharapkan meninggal.  Kami tidak tahu Trisno bekerja di mana. Moga moga bisa memenuhi keinginan bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hiruk pikuk dunia politik masa kini, saya tertegun membaca berita korupsi yang banyak melibatkan aparat dan pimpinan pemerintahan. Di mata orang kecil seperti pak Dawud, para pejabat pemerintahan layaknya seperti dewa idola tanpa cacat. Percaya sepenuhnya tanpa reserve. Kisah tragis ini hanyalah catatan kecil agar beliau beliau tidak menyunat bantuan untuk orang miskin. Subsidi beras untuk orang miskin (raskin) kok ya ada yang  tega menilep. Ingatlah orang orang seperti pak Dawud yang begitu membayangkan tugas mulia sang Sekda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3727967483557425105?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3727967483557425105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3727967483557425105' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3727967483557425105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3727967483557425105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/01/sekda.html' title='Sekda'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4275707564833184922</id><published>2011-01-22T14:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T14:14:35.373-08:00</updated><title type='text'>Demo wudo</title><content type='html'>Musim kering tahun enam puluh enam. Malam Jum’at  yang cerah. Langit bertabur bintang. Kami bertiga, bersama Diono dan Raden Mas Martalin menghadap seorang tokoh spiritual  di kampung Kemlayan, Solo. Kami masih duduk di kelas satu SMA. Santo Josef. Solo dalam kondisi tak aman waktu itu. Bentrok antar warga selalu terjadi di jalan jalan, dengan korban tidak sedikit. Kami tak ikut kelompok mana, tetapi pernah beberapa kali terjebak di antara dua kelompok yang bertikai. Di pasar Widuran, di muka kebon binatang Sriwedari, dan terakhir di alun alun Utara. Hanya sepele, karena kami tak dapat menjawab yel yel mereka, hampir  saja dipukuli ramai ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pemuda yang kemudian ambil jalan pintas. Mencari ilmu kebal. Gemblengan. Kami berempat, dengan Ho,  minggu sebelumnya telah menghadap Eyang ini. Singkat kata mohon kekuatan luar dalam, menghadapi segala rintangan di jalan. Syaratnya gampang. Diberi mantera yang ditulis dalam secarik kertas, lalu puasa mutih selama tiga hari tiga malam. Artinya hanya makan nasi putih, sepiring kecil sehari sekali, tanpa lauk, tanpa garam.  Juga hanya boleh minum air putih. Hari pertama mutih, Ho langsung keok. Pas pelajaran olah raga dia berhenti. Kami antar pulang ke rumah. Mami dan kakak kakaknya marah marah. Jangan ikut ikutan Ki pakai gemblengan. Padahal yang punya ide awal ya si Ho sama Martalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami mendengarkan petuah dari Eyang. Samar samar masih ingat petuahnya. Anakmas ini para satria muda, harus berpegang pada tuntunan jiwa yang teguh. Jangan seperti pemuda jalanan suka kelahi beramai ramai.  Nggak begitu konsentrasi saya waktu itu. Hanya mendengarkan dengan sabar semua petuah saktinya. Umur Eyang mungkin pertengahan tujuh puluhan, masih jelas kata katanya. Hanya agak renta,  kalau ke belakang harus di tuntun salah seorang pembantu yang berfungsi sebagai punakawan. Ada beberapa anak muda yang hadir bersama waktu itu. Kami bertiga mungkin yang paling muda. Saya mulai gelisah, takut pulang kemalaman. Janjinya sesudah selesai mutih tiga hari kami akan segera di beri wasiat kekebalan tubuh. Ini kok malah cerita tentang satria muda, satria piningit, wahyu ketiban ndaru segala. Satria dari mana ? Saya saja masih kesulitan menyesuaikan tinggal di kota sejak pindah dari desa di Ambarawa. Saya hanya terdiam mendengar petuah petuah beliau. Manut saja, satria sokur, enggak ya nggak apa apa, sing penting slamet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jam sembilan belum juga selesai. Malah petuahnya agak melebar.  Tengah malam nanti kami diajak tirakatan kungkum di Bengawan Solo. Tapa wuda. Jangan takut anakmas. Pasti sampeyan akan mendapat mukjizat. Minggu kemarin, saya tirakat wudo dan kungkum di bengawan ditemui seorang bidadari sangat cantik. Kami bergembira ria dalam taman yang indah sekali. Makanan begitu berlimpah ruah di sana. Saya lihat Martalin, begitu terpukau dan antusias. Wah sendika saya ikut Eyang nanti. Sementara Diono, kelihatan bimbang, menengok ke saya. Dengan lirih sekali, saya mohon maaf, saya harus pulang sebelum jam malam. Waktu itu jam malam mulai jam sepuluh. Jangan ragu anakmas, tak ada yang bisa melihat sampeyan. Saya mulai bergeming, syaratnya minggu lalu hanya mutih 3 hari, kok sekarang ditambah tirakatan kungkum wudo di bengawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat ragu ceritanya tentang pertemuan dengan bidadari. Bidadari mana pilih lelaki yang nuwun sewu sudah renta, buang air kecil pun harus dibantu sang punakawan ? Jamane jaman edan, bidadari pun pasti akan pilih yang masih jos membara, sokur kalau punya kekuasaan, paling tidak Sekda, Bupati atau anggota DPR. Bidadari tak akan tertarik sama lurah atau carik. Mereka belum tingkatnya mendapat wahyu kahyangan.  Bidadari kan dulunya juga dari manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keraguan saya, Eyang akhirnya mengijinkan saya undur diri duluan.  Saya dan Diono diberi minum air putih yang telah diberi mantera. Tidak lupa diberi jimat yang harus selalu saya pakai. Martalin tinggal dan akan mengikuti tapa wudo di bengawan. Katanya singkat, sampeyan berdua belum dapat wahyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih empat puluh tahun berlalu. Saya bertemu dengan teman teman kelas satu SMA, lebih setahun lalu. Raden Mas Martalin, masih aktif di dunia spiritual. Menjadi guru spiritual yang andal. Dia menawarkan kalau saya mau ikut tapa wudo kungkum di bengawan, dalam rangka hari lahir Gadjah Mada. Saya menolak sopan. Wah sampeyan sampai sekarang masih jauh wahyunya Ki. Saya ini di dunia spiritual sudah jadi guru besar. Kata katanya ditujukan pada teman yang juga sama sama sekelas di SMA dulu, yang sekarang jadi guru besar di universitas di Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah tapa wudo hanya dilakukan dalam kesedihan dan keputusasaan. Seperti kisah Ratu Kalinyamat yang saya ceritakan. Beliau bertapa telanjang meratapi kematian sang suami Pangeran Hadiri (nama mudanya Toyib, atau Win Tang) yang berasal dari Aceh dan berkelana ke daratan Cina, sebelum datang ke Demak. Pangeran Hadiri wafat dikeroyok anak buah Aryo Penangsang, bupati Jipang. Ratu Kalinyamat lantas tapa wudo di bukit Donorojo, di depan pulau Mondoliko, Jepara. Kisah ini terjadi kira kira di tahun 1549. Saya pernah menginap di desa Donorojo, ke pertapaan Ratu Kalinyamat, dan ke pulau Mondoliko saat kelas 5 sekolah rakyat dulu.  Tak ada dalam legenda ulang tahun kok harus tapa wudo di bengawan. Ulang tahun itu peristiwa orang bersenang senang. Mau dapat apa kungkum telanjang di bengawan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan modern kita sering melihat masalah pertelanjangan sebagai masalah  pornografi, tetapi juga kadang kala sebagai alat protes sosial, jika semua pilihan sudah mentok. Siapa tahu dengan telanjang para penguasa berwenang bisa tergugah hatinya lalu mengambil langkah langkah perbaikan. Beberapa kali kita lihat di TV orang berdemo telanjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuat saya dan teman lama, bung Nunung, mantar kiper PSIM tahun tujuh puluhan, puny aide jika pension nanti mungkin bisa mengorganisir demo telanjang para pria pensiunan.  Kami bertemu dan main golf bersama bulan Desember kemarin. Sebagai ungkapan frustasi kok begitu gampang hukum dan aparat hukum, diperjual belikan. Tak ada kebanggaan profesi, tak ada kebanggaan sebagai  narendro  manggalaning projo, tak ada kebanggaan sebagai priyayi, bisa dibeli murah dengan uang.  Jika perlu akan kami ajak para bidadari  yang bahenol, biar meliuk liuk tanpa busana, di gedung DPR sana. Pasti para wakil rakyat itu, para aparat, dan para pemegang wewenang hukum itu, tergerak hatinya (mungkin juga burungnya) melihat demo wudo para bida dari kayangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah Eyang Kemlayan petuahkan, walau para pensiunan itu nampaknya hanya gondhal gandhul tanpa daya, tetapi jangan lupa mereka bisa mengajak para bidadari telanjang di Monas ataupun di Senayan. Jika perlu dikasih jamu susu madu telor jahe dulu (STMJ) atau pil Viagra, biar bisa berjalan tegak segagah tugu Monas. Saya yakin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ndul gondal gandhul, tunggu saja tanggal mainnya. Beberapa bidadari dan selebriti sudah menyatakan minatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4275707564833184922?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4275707564833184922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4275707564833184922' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4275707564833184922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4275707564833184922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/01/demo-wudo.html' title='Demo wudo'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2421331641556522456</id><published>2011-01-22T01:55:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T01:56:30.998-08:00</updated><title type='text'>Tapa wudo</title><content type='html'>Sabtu siang menjelang jam dua. Habis mandi saya mengenakan kimono yang jarang  sekali saya pakai.  Kimono  sutera dibeli di Hanoi beberapa tahun lalu. Tak ada alasan khusus  memakainya.          Badan nggak enak sejak beberapa hari ini, terasa gerah sekali. Rasanya pengin menanggalkan pakaian, tetapi tak bebas karena ada pembantu hari itu.  TV Al Jazeera sedang menyiarkan perdagangan ginjal di Filipina, yang sedang hangat menjadi bahan perdebatan. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Semalam ada tayangan yang memperlihatkan demo di salah satu negara Eropa Selatan yang sedang dilanda krisis keuangan. Lupa dimana. Kapoklah, negara negara ini yang selalu gembar gembor memojokkan Indonesia. Yang menarik, beberapa peserta demo laki dan wanita menanggalkan seluruh pakaiannya. Demo telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu tersiar berita di Kompas, dua orang wanita di salah satu kota di Jawa Timur,  saat eksekusi rumah tinggalnya, melakukan protes dengan menanggalkan pakaian, alias telanjang. Kasihan padahal mereka berdua sudah mempunyai cucu. Petugas polisi pamong praja tak bergeming. Eksekusi jalan terus. Tak peduli ada orang protes telanjang. Ini tugas. Masalah prinsip, rawe rawe rantas malang malang putung. Pikirnya mungkin, toh mereka nenek nenek. Tak pernah bergeming naluri lihat nenek nenek telanjang. Emangnya gua pikirin. Lain kalau yang  telanjang itu wanita muda, sokur kalau bahenol, pasti lain jadinya. Orang bisa kehilangan kendali sampai berani melanggar norma kemudian bertelanjang di muka umum pasti karena rasa keputusasaan yang begitu dalam. Frustasi mau apa lagi. Semua pilihan telah ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Jawa, dikenal luas kalau putri  Retna Kencaca, putri Sultan Tranggana di Demak pernah  bertapa telanjang  di bukit Donorojo di tahun tahun 1549. Saya pernah melihat pertapaannya di tahun 1962, di lereng yang sangat lebat dan tak terawatt waktu itu.  Beliau lebih dikenal luas dengan nama Ratu Kalinyamat. Kakaknya, Sunan Prawoto dibunuh oleh Aryo Penangsang, bupati Jipang  atas restu Sunan Kudus. Konon keris yang dipakai juga milik sunan Kudus. Bersama sang suami, Pangeran Hadiri, beliau menemui dan protes ke Sunan Kudus. Tetapi sama sekali tak dihiraukan. Bahkan dalam perjalanan pulang ke Jepara, sang suami tercinta, Pangeran Hadiri gugur dalam penghadangan oleh anak buah Aryo Penangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Kalinyamat bertapa telanjang dan bersumpah tidak akan mengenakan pakaian sebelum menginjakkan kaki di kepala Aryo Penangsang. Aryo Penangsang kemudian terbunuh oleh rekadaya Sultan Pajang Hadiwidojo ( nama mudanya Joko Tingkir). Dalam cerita saya dulu, konon menurut Dulmuji tetangga tukang cukur saya di Ngampin Ambarawa di tahun lima puluhan dulu,  Joko Tingkir itu dulunya pemuda dari Wonogiri, yang menjadi tukang cukur di Demak, kemudian  menjadi abdi dalem di keraton. Saking setianya kemudian diambil menantu oleh Sultan Trenggana. Bayangkan di abad ke enam belas seorang buruh migran, bisa jadi menantu raja Demak  dan menjadi raja di Pajang. Moga moga ada TKI yang  menjadi menantu Sultan di Malaysia, sokur bisa menggantikan jadi Sultan, siapa tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita semula tentang putri Retna Kencana atau Ratu Kalinyamat. Aryo Penangsang kemudian tewas di tangan Sutawidjaja, putra Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan Sutawidjaja memang diminta oleh Sultan Hadiwijoyo untuk membunuh Aryo Penangsang. Sutawijaya ini yang kemudian menurunkan dinasti raja raja Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertapa telanjang, apakah menunjukkan Ratu Kalinyamat seorang putri yang lemah ? Sama sekali tidak. Beliau menjadi penguasa di Jepara, dan dua kali mengirimkan bala tentara menyerang Portugis di Malaka di tahun 1550 dan 1565, walau tidak berhasil. Beliau dikenal dalam sejarah Portugis sebagai Ratu Jepara, wanita yang kaya, berkuasa dan pemberani. Silahkan baca kisah lebih lengkap di Wikipedia. Hanya karena rasa frustasi berlebihan yang membuat beliau sampai bertapa telanjang. Sunan Kudus yang dianggap tokoh panutan spiritual ternyata telah berbuat tidak adil dan berat sebelah memihak ke Aryo Penangsang.  Kehilangan kepercayaan dan rasa hormat akan tokoh panutan dan aparat juga sering melanda mayarakat modern saat ini. Tak sulit menunjukkan contohnya, termasuk nenek nenek yang protes telanjang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya melayang  ke percakapan dengan teman lama saya bung Nunung, kami sumpah dokter sama sama di tahun 75. Kami main golf bersama Desember kemarin. Dia baru saja kehilangan isteri yang sangat dicintainya beberapa hari sebelumnya. Kami terlibat percakapan ringan di padang golf Adisucipto. Tak tentu arahnya. Dia sama sama akan pension setahun lagi. Enaknya ngapa kalau pension ya? Gimana kalau bentuk kelompok nyanyi pensiunan ‘The Pensioners”? Ide yang bagus, cari teman pensiunan dokter yang suka nyanyi nggak sulit. Cari yang agak boyish, jangan yang  moralis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil lalu kami bicara tentang sepak bola dan PSSI, kebetulan dia mantan kiper andalan PSIM di tahun tujuh puluhan. Lihat kemelut sepakbola Indonesia atau PSSI, kok nggak ada yang berani tampil protes telanjang di lapangan ya? Dari pada lempar lempar batu di jalan, aman protes telanjang saat ada pertandingan akbar.  Tapi siapa yang mau gondhal gandhul telanjang di lapangan mengorbankan kehormatan pribadi ?  Paling disemprit dan diberi kartu merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat berbagai penyimpangan hukum dan kewenangan aparat di depan mata, seperti kasus penyimpangan pajak oleh Gayus, penyimpangan kewenangan aparat hukum, aparat eksekutif dan legislatif, membuat banyak orang frustasi. Apa yang bisa dilakukan untuk perbaikan negeri ini? Siapakah yang berwenang memperbaiki? Kami berkelakar, gimana kalau ramai ramai para tetua pensiunan ini protes  telanjang saja. Protes damai, tak pakai batu atau parang, hanya telanjang saja duduk duduk di muka gedung DPR sana. Mungkin mereka yang berwenang bisa sedikit tergugah nuraninya.  Ide yang bagus, perlu dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis mandi dan hanya memakai kimono ini, saya membayangkan jika harus demo telanjang di Senayan. Pasti dingin (isis) rasanya. Tak mungkin bisa menarik perhatian para penguasa dan aparat. Paling banter pada menggerutu, gondhal gandhul orang tua nggak tahu malu. Mungkin lain kalau yang protes telanjang itu, penyanyi (ndhang ndhut) yang molek, pasti semua anggota Dewan, anggota Komisi, pimpinan Mahkamah dan aparat berwenang semua, otomatis akan tergerak hatinya. Mungkin bukan cuma hatinya yang bergerak gerak. Kalau yang protes telanjang itu para pria pensiunan paling banter mereka berdendang. Walau seribu burung, gondhal gandhul menghimbauku, hatiku tetap sedingin salju. Mbah nggak usah repot, gondhal gandhul, momong cucumu  saja. Urusan negara itu urusan kami, para wakil rakyat, aparat dan penguasa. Nggak usah macam macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai, Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2421331641556522456?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2421331641556522456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2421331641556522456' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2421331641556522456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2421331641556522456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2011/01/tapa-wudo.html' title='Tapa wudo'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5489381492576925627</id><published>2010-12-25T16:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T16:17:33.060-08:00</updated><title type='text'>Cerita perjalanan anak manusia – Novita</title><content type='html'>Ceritanya keluar pelahan. Dengan terbata dia menceritakan  kisah perjalanan hidup yang  getir. Suatu sore di penghujung tahun 2010,  saya mewawancarai Novita. Umur dua puluh satu tahun. Asal dari desa Kaliangkrik Magelang.  Anak sulung dari tiga bersaudara dari satu  keluarga petani sederhana.  Meski begitu,  dia berhasil mencapai kelas dua SMA, di Salaman  dan keluar tahun 2004 tanpa sebab yang jelas. Mungkin karena alasan ekonomi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya  anak muda pada umumnya di pedesaan, Novita meninggalkan desanya dan  harus hijrah ke kota untuk  menopang hidup. Juga untuk menghidupi anak lelakinya  yang masih berumur delapan bulan, Rio. Rio ditinggalkan di desa dan diasuh oleh orang tua Novita. Pendidikan sampai kelas dua SMA ternyata tak banyak bisa membantu untuk mengangkat dirinya keluar dari cengkeraman sang nasib dan penderitaan.  Konon masih banyak gadis desa terpencil, juga di wilayah Kaliangkrik, yang tak sampai meneruskan sekolah sesudah tamat sekolah dasar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut seorang teman yang banyak berkunjung ke wilayah Kaliangkrik,  di salah satu desa terpencil di atas  bukit, hanya lima anak dari dua puluh lima anak perempuan lulus sekolah dasar, yang  meneruskan ke jenjang sekolah menengah pertama. Sebagian besar karena faktor ekonomi, tak ada uang untuk beaya pendidikan dan naik ojek ke sekolah yang berjarak beberapa kilometer dari desa. Juga karena mereka sebagian besar harus segera membantu orang tua masing masing mengerjakan pekerjaan rumah dan mengolah tanah. Anak anak ini kehilangan kesempatan pendidikan. Tak memungkinkan mereka keluar dari lingkaran kemiskinan. Pendidikan adalah salah satu pilihan untuk mengentaskan mereka keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan. Sebagian besar kemudian akan terjebak dalam perkawinan  dini dengan segala konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novita memasuki jenjang perkawinan empat tahun silam di tahun 2006 dalam usia tujuh belas tahun. Bermula dari  perkenalan singkat dengan seorang pemuda bernama Boi. Boi berasal dari Purworejo, lulusan SMA dan bekerja di bengkel motor. Mereka kenal karena pesan singkat yang katanya salah alamat masuk ke tilpun seluler Novita. Setelah berganti pesan beberapa kali, Boi datang menemui Novita di rumahnya di desa Kaliangkrik. Singkat cerita kemudian mereka saling jatuh cinta dan berpacaran beberapa lama. Setelah dua bulan  mereka memutuskan untuk naik ke jenjang perkawinan. Penuh impian indah masa depan. Orang tua Novita sebenarnya tak begitu menyetujui perkawinan mereka oleh karena  Novita saat itu usianya masih tujuh belas tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perkawinan lewat beberapa saat, iImpian impian indah mereka kandas satu persatu menghadapi kerasnya hidup. Sesudah kawin mereka  menumpang  tinggal bersama dengan orang tua Boi, yang mantan pensiunan tentara. Boi masih terus bekerja di bengkel motor.  Namun tak urung mereka masih juga menggantungkan bantuan orang tua untuk menutup kebutuhan sehari hari.  Tak bisa dipungkiri, berapa besar penghasilan seorang pegawai bengkel. Walau ada keinginan untuk berdiri sendiri tetapi kenyataan lapangan kerja tak banyak memberikan pilihan. Boi hanya mengantongi pendidikan SMA. Tak ada keterampilan dan keahlian khusus. Novita sempat mengambil kursus komputer untuk meningkatkan keterampilannya di Purworejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah berdua hijrah ke Kalimantan, Boi bekerja sebagai nelayan di Ketapang. Mereka harus menjual kendaraan milik orang tua untuk sangu. Tetapi rupanya nasib tak berpihak kepada mereka. Setelah genap empat bulan, mereka kembali ke Purworejo, kehabisan modal. Boi kembali bekerja di bengkel. Untuk kehidupan sehari hari harus tetap bergantung  bantuan orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita klasik yang sering terjadi dalam perkawinan dini. Kesulitan hidup sehari hari ternyata membawa dampak negatif terhadap kesehatan reproduksi Novi. Berturut turut mengalami keguguran dua kali semenjak perkawinan. Anak pertama terlahir sehat di tahun 2010, ketika kehidupan suami isteri  telah berubah total. Hubungan romantis yang mereka impikan telah berubah secara perlahan tanpa mereka sadari. Hubungan telah berubah tegang dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penuturan Novi. Mungkin hanya sepihak tetapi menggambarkan apa yang dia alami. Perangai sang suami ternyata berubah seratus delapan puluh derajat  semenjak perkawinan. Sering mabuk dan melakukan kekerasan fisik. Boi ternyata sangat ringan tangan dalam setiap menghadapi beda pendapat. Seolah tak mampu mengendalikan emosinya jika beradu pendapat. Banyak kali Novi menerima perlakuan kekerasan. Bahkan yang sangat membahayakan keselamatannya meskipun hanya kekeliruan atau perbedaan pendapat yang kecil saja.  Suatu saat di Ketapang, pernah disiram bensin dan sudah diancam dengan korek api yang siap disulut. Juga banyak kali, pisau ditempelkan di lehernya. Bahkan suatu saat anak dalam gendongannya pernah terkena pukulan, untung tak cedera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan ekonomi dan pekerjaan sering berdampak dalam keharmonisan rumah tangga, dan mendorong terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Setiap kekerasan berlalu, Boi selalu minta maaf dan bersumpah tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Namun kekerasan itu berulang juga dari waktu ke waktu. Akhirnya di awal tahun 2010,dengan membawa anaknya yang masih berumur beberapa bulan, Novi kembali ke rumah orang tuanya di Kaliangkrik. Namun tak mungkin dia menggantungkan diri pada oorang tuanya. Mereka hanyalah petani sederhana, dan masih harus menanggung kedua adiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun 2010 ini Novi  memutuskan untuk mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di kota melalui agen tenaga kerja. Keinginannya hanya satu, membesarkan anaknya tersayang Rio. Beberapa kali Boi menghubungi mengajaknya rujuk kembali, tetapi dia masih merasa ketakutan untuk kembali hidup bersama. Dia ingin lepas dai ikatan perkawinan itu. Namun Boi berulang kali menyatakan, tidak ingin pisah, ingin kembali bersama dan berjanji menghentikan kebiasaan buruknya. Namun Novi merasa itu hanya janji semata seperti yang sudah sudah. Semua telah berlalu. Hanya ingin menatap masa depan demi anaknya. Inilah pesan sederhananya  “ Jangan sia-siakan isteri,  agar isteri selalu dihargai, jangan dianggap pembantu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang nasib datang mendera anak manusia tanpa ampun. Hanya dia sendiri yang harus menentukan pilihan terbaik dalam hidup ini. Hidup adalah pilihan anak muda, bukan hanya nasib. Tentukan pilihan anda dan mantapkan langkah untuk menggapai pilihan itu.&lt;br /&gt;Salam damai, selamat Natal dan Tahun Baru 2011.&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5489381492576925627?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5489381492576925627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5489381492576925627' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5489381492576925627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5489381492576925627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/12/cerita-perjalanan-anak-manusia-novita.html' title='Cerita perjalanan anak manusia – Novita'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5762222162257140743</id><published>2010-11-02T07:32:00.000-07:00</published><updated>2010-11-02T07:35:51.751-07:00</updated><title type='text'>Pesan singkat</title><content type='html'>Entah berapa pesan singkat masuk ke tilpon genggam semalam. Baru sempat baca pagi pagi.  Dari nomer yang sama. Tetapi tak tercatat dalam daftar kontak.  Isinya  pesan yang hampir sama. Pengin ketemu. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Ingin menjelaskan masalah yang sedang dihadapi.  Dia akan pindah ke propinsi. Kembali bersama orang tuanya. Ungkapan kalimatnya tidak terlalu asing. Samar samar saya ingat beberapa rangkaian peristiwa sebelumnya.  Saya kenal dia beberapa bulan lalu di Manila Doctor Hospital, saat periksa kesehatan. Namanya Jennifer, tak tahu nama belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu katanya sedang menunggu bapaknya yang menderita infeksi berat. Diagnosis dokter menderita sepsis, atau infeksi dalam sirkulasi darah.  Bapaknya menderita sakit gula yang berat. Faktor resiko untuk sepsis. Pengobatan harus dengan antibiotika massif. Jennifer cerita jika tidak punya uang sama sekali untuk beli obat yang  harganya mahal. Tak punya jaminan asuransi. Beaya perawatan dan obat obatan harus dibayar sendiri. Ciri pelayanan kesehatan di Asia Tenggara. Jaminan asuransi terbatas. Semua harus dibayar langsung oleh pasien. Ada studi yang pernah dilakukan di enam negara di Asia Tenggara yang menunjukkan bahwa beaya perawatan medis yang harus dibayar pasien kelompok ekonomi lemah sering membuat mereka  terpuruk di bawah garis kemiskinan. Kelompok ekonomi lemah  ini sering harus menjual harta atau modal kerja, seperti ternak dan tanah, untuk menutup beaya perawatan jika salah satu anggota keluarga jatuh sakit berat dan perlu perawatan rumah sakit. Tanpa jaminan asuransi publik, maka upaya mengatasi beaya kesehatan katastrofik ini bagi yang tidak mampu adalah  dari sumbangan dan dana sukarela masyarakat. Sering kita lihat di media masa di Indonesia.  Tidak ada jeleknya, hanya upaya ini tak akan bisa mengganti kebutuhan sistem jaminan kesehatan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali cerita tentang Jennifer. Beberapa teman kemudian ramai ramai memberikan bantuan uang Peso untuk beli antibiotika. Saya tak pernah megikutinya secara khusus. Hanya beberapa hari kemudian dia mengirim pesan jika bapaknya sudah boleh pulang. Kami tak pernah bertemu secara khusus. Kadangkala saja  bertemu dirumah sakit tersebut secara tak sengaja. Dia cerita jika bapaknya tak mungkin bekerja lagi,  seorang ahli ahli listrik  freelance. Beberapa kali sejak saat itu bapaknya sering keluar masuk rumah sakit. Beberapa bulan kemudian saat bertemu di kafetaria di depan kantor saya, dia cerita jika bapak ibunya sudah pulang ke propinsi. Jennifer bekerja di salah satu call centre di Makati. Sebulan lalu ketemu di kafetaria rumah sakit lagi. Katanya dia harus operasi  tumor kandungan. Sudah tertunda beberapa minggu karena masih menunggu bantuan dari PSCO,  suatu lembaga  yang  menyalurkan bantuan sosial bagi orang2 yang membutuhkan. Beaya operasi  25000 Peso, bantuan yang turun 18 000. Saya dan beberapa teman urunan menutup kekurangannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu lalu, tiba tiba saya terima teks agak aneh. Dari seseorang yang memperkenalkan diri bernama Mylene. Katanya teman Jennifer. Mylene dan pacarnya pagi itu mengunjungi Jennifer  di apartemennya di Pasig dan mendapatkan dia tidak sadarkan diri,  panas tinggi. Kemudian dibawa ke rumah sakit De Lapaz di Kamuning, Queson City. Menurut dokter dia menderita sepsis karena operasi yang dijalani beberapa minggu sebelumnya. Kondisinya kritis. Butuh transfusi dan obat obat mahal, tetapi tak ada uang sama sekali. Mereka  sangat mengharapkan pertolongan oleh karena butuh uang untuk beli antibiotika. Semula tak begitu ambil pusing oleh karena pesan pesan seperti ini sering diterima oleh teman teman kantor juga. Tetapi berkali kali pesan singkat masuk, dengan pesan yang hampir sama. Minta bantuan untuk beli obat. Bahkan dia memberi nomer rekening. Saya masih makan malam dengan Ananda di rumah makan Jakarta. Dia kepala bagian personalia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba tiba tilpon genggam saya berdering, seseorang bernama Mylene bicara dari  seberang sana. Kali ini member tahu kalau Jennifer kritis dan butuh transfusi. Ananda menganjurkan agar saya dan dia bersedia menyumbang darah. Tetapi dari ujung sana, Mylene mengatakan kalau sudah ada donor, tetapi uangnya tinggal 700 peso. Dia tak lupa mengirim nomer rekening. Katanya rekening Jennifer. Saya beri tahu tak mungkin transfer oleh karena week end. Internet banking saya tidak aktif. Kenapa harus kami yang di kontak? Apakah dia tak punya saudara?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu pagi saya bangun siang. Bangun sudah hampir jam sebelas. Ada janji makan siang dengan seorang teman. Kami makan siang di hotel Pan Pacific, ada rumah makan Jepang. Sambil ngobrol ke sana kemari. Tak berlama lama oleh karena sore itu pengin nonton TV, hari terakhir Ryde’s Cup, pertandingan golf antar grup Eropa dan Amerika. Teman saya harus berangkat sore nanti ke Phnom Penh.  Tiba tiba ada pesan singkat masuk jika Jennifer dalam keadaan kritis. Saudara saudaranya sudah kumpul datang dari propinsi. Pesannya saya forward ke Ananda. Pesan singkat ke dua mengatakan bahwa Jennifer dirawat di De La Paz hospital, Kamuning, Quezon city. Juga minta dengan iba agar saya transfer beberapa ribu Peso ke rekening tersebut. Ananda kemudiaan menyarankan untuk langsung saja ke rumah sakit. Tetapi saya tetap bertanya tanya, mengapa kami ? Kita tak punya hubungan apa apa. Ananda bersedia pergi bersama asal saya yang nyopir. Itu masalahnya. Saya tak hapal daerah itu. Satpam yang biasanya nyopir untuk saya sedang giliran jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami naik taksi. Tak begitu penuh jalanan, namun butuh waktu sampai 1 jam ke Kamuning. Putar putar daerah itu. Tak ada yang namanya De La Paz hospital itu. Kami tanyakan kembali ke Mylene, dimana rumah sakitnya? Jawabannya aneh. Tak usah datang ok ada masalah. Kirim saja uangnya lewat rekening. Suaranya begitu parau dan iba. Ananda punya fasilitas internet banking. Dia menganjurkan agar kirim saja lewat ATM. Akhirnya kami putuskan untuk kirim Peso lewat dari rekening Ananda. Moga moga bisa menolong kalau benar benar diperlukan. Kemudian kami kembali naik taksi ke daerah Malate. Kami sama sama tinggal di kota lama Malate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang tiba tiba tilpon berdering. Dari nomer tak dikenal. Dari seberang dia mengingatkan dari Jennifer. Dia bilang tilpon genggamnya hilang dicuri orang sejak malam tadi. Apakah ada yang menghubungi anda dengan tilpon saya, tanyanya.  Iya temanmu Mylene bilang kamu kritis dan minta transfer uang untuk beli obat. Kami telah transfer ke nomer rekeningmu. Dia sayup sayup bilang, bukan saya yang minta itu. Orang yang mencuri tilpon itu yang telah menghubungi kamu. &lt;br /&gt;Kami tak bisa mengerti lugas. Siapa yang menipu minta uang ditransfer? Jennifer, Mylene dan pacarnya, atau yang mencuri tilpon genggam itu. Kami tak tahu. Mungkin memang bagian dari kelompok yang terorganisir rapi. Saya kirim pesan singkat. Tolong jangan hubungi saya lagi. Yang bikin saya jengkel bukan kehilkangan uang itu. Tetapi kehilangan waktu beberapa jam tak dapat menikmati hari terakhir Ryder’s Cup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan pesan singkat itu tetap saja datang. Ingin menjelaskan duduk perkaranya. Entah benar entah tidak, entah ada masalah entah tidak, saya tak butuh penjelasan. Siapa yang berpura pura, siapa yang menipu, saya juga tak peduli lagi. Saya ini bukan laki laki  jalang dari kumpulannya yang terbuang. Hanya meradang kehilangan uang. Untuk golf Minggu paginya. Untung Minggu pagi ada typhoon. Hujan deras mendera. Tak mungkin main golf. Hanya istirahat di kamar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja kagetan, aja gumunan, kabeh wis ana dalane.Eling lan waspada.  Semua sudah ada jalannya. Mungkin hari itu memang saya harus ketipu.&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5762222162257140743?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5762222162257140743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5762222162257140743' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5762222162257140743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5762222162257140743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/11/pesan-singkat.html' title='Pesan singkat'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-8991279735253914065</id><published>2010-09-06T07:47:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T07:50:57.088-07:00</updated><title type='text'>Gereh teri</title><content type='html'>Sore itu saya pulang agak awal. Menjelang jam lima sudah memasuki  halaman  apartemen di Malate. Hiasan warna warni mulai nampak sepanjang jalan. Menjelang akhir bulan September. Kebiasaan di Filipina, orang mulai pesta Natal sejak bulan September. Saat saya mau belok, masuk ruang parkir, tiba tiba Mr. Jack, diplomat  asal Panama, keluar dan menghentikan mobil saya. “Sorry guy, we are having party. Can not enter the parking”. Orangnya ramah, perawakan tinggi besar. Tetapi saya tak kenal dekat. Juga tak tahu nama lengkapnya. Hanya kenal kenal anjing, kalau ketemu saling menyapa  “hi hi”. Anjing kalau  ketemu teman di jalan hanya saling menggonggong singkat “hug hug”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ruangan parkir di lantai dasar akan dipakai pesta. Mr. Jack tinggal di lantai dasar persis di muka ruang parkir. Bersama seorang temannya yang juga diplomat asal Panama. Banyak wanita muda dengan pakaian pesta berkumpul di depan unitnya. Ada  sekitar selusin. Saya nggak tahu berapa banyak orang yang diundang, kok sampai ruang parkir seluas hampir dua ratus meter persegi mesti ditutup. Kalau hanya selusin saja kan bisa kursi diatur di muka unit  seperti biasanya. Kebiasaan Mr. Jack setiap Jumat petang selalu menerima banyak tamu. Gadis gadis belia. Ini kalau pas sang nyonya pulang ke Panama. Hidupnya nampak selalu penuh warna dan ceria, terutama di akhir pekan. Apa lagi jika sendirian tanpa nyonya, hidup seolah begitu bebas dan merdeka. Tanpa tekanan, tanpa pengawasan, kapan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari unit apartemen saya di lantai satu, saya bisa ikut mendengarkan musik musik Amerika Latin mengalun ringan. Kadang kadang kedengaran tawa ceria wanita wanita belia itu, lepas berderai tanpa beban. Pesta yang mengasyikkan rupanya. Irama tango, busanova, reggae, samba berganti ganti. Lumayan  bisa ikut menikmati dari kamar. Sekali sekali terdengar selingan  jeritan jeritan manja. Hanya ada beberapa gelintir pria di bawah sana. Saya bisa melihatnya jelas dari jendela di ruang dapur. Termasuk Mr. Jack yang selalu mengangguk anggukkan kepala. Dia memang masih muda, umurnya mungkin pertengahan empat puluhan. Anggukan kepalanya ritmis teratur mengikuti musik. Seperti tarian burung derkuku di sarang perawan. Beberapa wanita muda itu berganti ganti menyandarkan tubuh dan membelai belai badan Mr Jack yang kekar. Mungkin burungnya ikut mengangguk angguk ketika wanita wanita itu ada yang duduk di pangkuan. Mujur tak dapat ditolak, rejeki tak dapat diingkari. Nasib orang lain lain, tak bisa semuanya seperti Mr. Jack. Edaaaan ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh malam irama musik yang mengalun lembut mulai berganti. Semakin mendera menghentak hentak dengan keras. Bumi semakin panas.  Jeritan dan tawa riang saling berganti di antara suara musik yang menggelegar.  Mulai agak mengganggu suara suara musik itu. Saya tak tahu bagaimana dengan penghuni apartemen yang lain. Sebagian tadi saya lihat keluar. Mungkin ada acara akhir pekan, atau menghindari kebisingan pesta itu. Jam setengah sebelas saya turun menemui satpam. Menyerahkan kunci mobil, minta tolong agar mobil bisa dimasukkan setelah pesta usai. Salah satu satpam, Hendri, yang usianya sudah menjelang enampuluh, nampak asyik duduk di ruang parkir sambil mengangguk angguk. Dia kecipratan minuman karena saya lihat  pegang bir San Miguel di tangannya. Saya bilang ke satpam kalau saya mau tidur. Penghuni penghuni lain mungkin juga mau istirahat. Kalau bisa musiknya di rendahkan sedikit. Dia hanya mengangguk angguk mengikuti musik. Sementara sebagian wanita itu dengan sigapnya menari mengikuti irama musik  yang menghentak panas. Pesta memanas  bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung tertidur karena capai. Jam setengah dua pagi saya terbangun karena suara musik yang masih keras membahana.   Jeritan jeritan manja dan suara musik keras memekakkan telinga. Saya tilpon satpam agar suara musik bisa dikecilkan. Tak ada perubahan. Suara musik dan jeritan jeritan manja jalan terus. Rawe rawe rantas malang malang putung. Yeng penting hepi hepi terus. Jam dua saya merasa lapar. Buka kulkas ternyata hampir kosong. Tak ada apa apa, kecuali ikan kering kecil kecil dalam bungkus plastik. Biasanya saya pakai untuk masak sayur terong kesukaan saya. Saya selalu bilang sama Nyi untuk tidak menggoreng ikan kering di apartemen. Baunya menganggu tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba saja ide itu hadir. Tak ada keinginan lagi untuk makan malam. Tetapi memanfaatkan ikan kering (teri) itu untuk menetralisir suara suara musik yang mengganggu. Tanpa pikir panjang saya mulai menyiapkan strategi. Jendela kaca di dapur saya buka sedikit biar angin bisa keluar masuk. Kemudian saya ambil dua genggam teri dan saya goreng dengan api yang tidak terlalu panas. Biar bisa tahan lama dan mengeluarkan bau sedap. Mulanya tak ada reaksi apa apa, biasa saja. Tetapi sepuluh menit kemudian, suara musik mereda. Senyap sejenak. Mereka saling bicara dalam bahasa Tagalog dan Inggris. Mungkin mempertanyakan asal bau.  Saya matikan kompor gas beberapa saat kemudian. Bau itu rupanya telah menyebar ke seluruh penjuru ruangan di lantai bawah. Jam setengah tiga saya tidur kembali. Suara musik telah mereda. Sebagian tamu pesta pulang meninggalkan arena. Mungkin karena tak tahan bau ikan kering itu. Tak peduli saya. Hanya kedengaran beberapa orang masih ngobrol di bawah. Tetapi tak ada lagi suara yang mengganggu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dua belas siang harinya saya turun. Mau berangkat golf. Ketemu Mr. Jack  yang sedang  membersihkan sisa sisa pesta di depan unitnya dibantu Hendri si satpam. Saya menyapa ringan. “Hi guy, enjoyed the party last nite?”. Dia hanya tersenyum kecut. Mungkin tahu saya yang menggoreng teri itu. Tak peduli, tak saya pikirkan. Peristiwa itu sudah berlalu beberapa tahun silam. Saya dan Nyi selalu menghindari menggoreng ikan asin di apartemen. Bisa diprotes penghuni lain, terutama orang Kaukasia yang tak kenal ikan asin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan kemarin saya ingat peristiwa pesta itu karena insiden kecil berkaitan dengan ikan asin lagi. Malam Sabtu saya makan di rumah makan Jepang, dan makan yaki saba, ikan mackerel yang digoreng gurih sekali. Esoknya saya coba cari di supermarket. Pengin nyoba bikin sendiri di rumah. Ketemu ikan yang hampir sejenis.  Hari Sabtu siang saya suruh Feli, pembantu untuk menggoreng ikan itu. Hanya sesudah itu dia juga menggoreng ikan kering, nggak tahu ikan apa. Yang jelas bukan teri. Baunya khas walau tak setajam bau ikan asin pada umumnya saat di goreng. Dia saya suruh membuka semua jendela agar bau cepat hilang. Saya masuk kamar dan tertidur sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam lima terbangun karena suara agak gaduh di koridor depan unit saya. Rupanya Cynthia tetangga saya sedang sibuk menyemprot koridor dengan refresher dan bicara dengan pembantunya dalam bahasa Tagalog. Feli,  pembantu saya sudah pulang. Pengin keluar, say hallo dan sorry ke Cynthia, saya urungkan. Mau ngomong apa? Bau ikan asin digoreng memang kadang kadang saja muncul di apartemen itu. Entah dari unit yang mana. Seolah ada giliran berganti ganti masak ikan asin. Buat orang Asia Tenggara, mungkin susah melepaskan diri dari ikan asin. Ibarat krisis politik apapun yang melanda salah satu negeri di Asia Tenggara, asal orang masih bisa makan ikan asin, krisis itu tak akan berkepanjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Jack diplomat Panama itu pasti tahu bagaimana orang Filipina dan Asia Tenggara mencintai ikan asin. Dia waktu itu sudah bertahun tahun dinas di Manila. Dia juga tak protes ketika saya sengaja menggoreng teri saat dia pesta. Tetapi mungkin tahu memang kalau saya menggoreng teri untuk memberi isyarat agar jangan gaduh menjelang fajar pagi. Saya sebenarnya tak tega melakukannya saat itu.  Itulah pilihan diplomasi terakhir dari pada bolak balik protes lewat satpam. Habis pesta dengan suara bergemuruh kok sampai menjelang fajar pagi. Apa boleh buat. Mr. Jack kemudian pindah tugas di perwakilan Panama di US. Terbebas dari beban tekanan bau ikan asin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingat peristiwa itu saya hanya bisa berandai andai minta maaf. Sori sori Jack. Hepi hepi kok tak pakai  basa basi. Tak gorengke gereh teri. &lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-8991279735253914065?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/8991279735253914065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=8991279735253914065' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8991279735253914065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8991279735253914065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/09/gereh-teri.html' title='Gereh teri'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2826673230753133540</id><published>2010-08-22T20:09:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T20:11:35.651-07:00</updated><title type='text'>Penghargaan</title><content type='html'>Hati berdesir ketika nama saya dipanggil. Tak tahu mengapa.  Dengan tenang saya maju ke podium. Saya memakai setelan jas coklat dengan leher tertutup, seperti model jas para pemimpin Asia selatan.  Acara penerimaan penghargaan pegawai di kantor saya di Manila bulan April 2010 lalu.  Saya telah menyelesaikan masa kerja sepuluh tahun. Siang itu acara mulai jam dua siang. Walau hawa di luar panas menyengat,aula itu terasa sejuk. Banyak teman dan staf lain yang menerima penghargaansiang itu. Bahkan ada yang sudah menjalankan tugas selama tiga puluh lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang mungkin hanya peristiwa biasa saja. Acara formalitas kantor.  Tetapi bagi saya banyak  yang terasa khusus. Ada alasan mengapa terasa khusus. Ketika pimpinan menyalami hangat, hati saya kembali berdesir. "Terima kasih apa yang telah anda lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Sangat berarti bagi organisasi, bagi program yang anda pegang,dan bagi mereka  yang membutuhkan uluran tangan kita". Saya tak bisa menjawab, suara saya hilang dalam lamunan masa lalu. Teringat masa silam ketika saya masih bekerja di lembaga pendidikaan tinggi di Indonesia. Bentuk penghargaannya  memang hanya berupa pin dan vulpen dengan  symbol organisasi. Tetapi kata kata lugas yang diucapkan pimpinan begitu berarti bagi saya. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya,  saat evaluasi  program,  dia sangat puas dan  berterima kasih  dengan perkembangan program yang saya pegang selama sepuluh tahun terakhir. Telah berkembang berlipat ganda dalam jangkauan kegiatan dan harga berbagai kegiatan proyek.  Saya tak pernah mengharapkan pujian samasekali sejak awal. Tetapi pengakuan tulus itu membuat saya merasa jerih payah saya dihargai.  Baik dalam melayani negara anggota atau menggalang dana dan kerja sama dengan organisasi2 lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya melayang sewaktu masih di tanah air. Begitu beda nuansa dan kenyataannya. Belum pernah sekalipun saya menerima penghargaan dan pengakuan seperti ini. Meski telah bekerja selama seperempat abad dan membawa pusat studi yang saya pegang tampil di dunia global.  Yang lebih menyakitkan undangan dari kantor pemerintah daerah untuk menerima penghargaan pegawai,  tidak pernah disampaikan ke saya. Sengaja dibekukan di kantor tempat saya mengajar. Saat  upacara di kantor Gubernur, menurut teman dekat yang menghadiri upacara, nama saya dipanggil  saat itu. Periistiwa itu berulang sampai dua kali, saat masa kerja lima belas tahun dan dua puluh tahun. Undangan itu sengaja tak disampaikan ke saya.  Memang saya tak pernah mengharapkan penghargaan. Tetapi yang menyakitkan ada upaya merampas sesuatu yang layak saya terima. Sengaja undangan tidak disampaikan  agar saya tidak hadir dalam upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan pangkat saya juga tidak pernah diproses selama enam belas tahun tanpa pemberitahuan apa apa. Walau saya mencoba menerima semuanya dengan sabar,  akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan lembaga yang saya cintai. Setelah bekerja selama dua puluh lima tahun. Ah secara tak sadar saya juga butuh pengakuan dan penghargaan atas usaha dan jerih payah saya.  Manusiawi . Saya juga menyadari kalau secara profesi, saya dibesarkan dalam lembaga tersebut.Tak perlu dan tak ada gunanya menghujat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1979, masih ingat ketika akan naik  pangkat dari 3 A ke 3B, jerih payah saya menyelenggarakan pertemuan profesi se Asia Pasifik secara sukses, tak bisa dimasukkan sebagai salah satu poin untuk kesetiaan pegawai untuk syarat kenaikan pangkat. Walau saya menyelenggarakannya untuk lembaga dimana saya bekerja. Sebagai ganti saya diminta ikut jadi panitia dies, seksi konsumsi,mengatur minuman dan makanan kecil saat upacara dies. Perasaan saya tertusuk waktu itu. Tetapi mau apa ? Orang berkuasa menelaah dan menerapkan peraturan.  Menyelenggarakan pertemuan ilmiah internasional tingkat Asia Pasifik, tak diakui sebagai salah satu poin untuk naik pangkat. Tetapi jadi anggota seksi konsumsi acara dies yang sangat internal, justru diakui sebagai salah satu poin naik pangkat. Masih ingat saat itu saya harus ikut menata dan mengawasi minuman dan makanan kecil saat isitirahat acara dies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati  saya berontak. Tetapi tak bisa apa apa. Terima saja apa adanya. Aja kagetan,aja gumunan, dalane pancen lagi semono. Jangan kaget, jangan heran, jalannya memang baru segitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2826673230753133540?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2826673230753133540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2826673230753133540' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2826673230753133540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2826673230753133540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/08/penghargaan.html' title='Penghargaan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4138248681115647004</id><published>2010-07-25T03:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-25T03:23:03.216-07:00</updated><title type='text'>It is boiling my friend - suara dari balik tirai besi</title><content type='html'>Hampir tengah malam ketika pesawat  Biman Bangladesh Arline yang saya tumpangi mendarat di bandara Zia International Airport, Dhaka.   Pertengahan delapan puluhan, lupa bulan dan tanggalnya.   Jelas bukan  musim panas. Hawa terasa sejuk merasuk badan meski saya memakai jaket kulit. Juga  topi laken kesukaan saya.  Topi laken selalu saya pakai saat bepergian.  Hanya kesukaan semata mata. Saya baru sadar saat keluar dari imigrasi kalau  lupa membawa scarf. Ini sebenarnya lebih penting. Padahal di Yogya  saya selalu memakai scarf tipis warna biru atau kuning. Terutama saat memberi kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah lewat imigrasi dan pabean, saya bergegas keluar ke ruang penjemputan. Tak ada janji untuk dijemput. Pesan teleks yang saya terima di Yogya dari Jonathan, teman satu misi yang datang dari Washington, memberitahu agar  saya langsung menghubungi counter hotel Sheraton. Ada pelayanan antar jemput. Tetapi agak terkejut  ketika mengetahui tarip hotelnya,  seratus tujuh puluh lima dolar semalam.  Mahal untuk ukuran saat itu. Urung pesan hotel. Mau tukar dolar ke taka dulu. Beberapa counter tukar uang bersaing menawarkan jasanya. Saya menuju yang paling ujung.  Diminta mengisi formulir dan tanda tangan. Kertasnya  kumal seperti kertas buram. Saya hitung uang taka cepat cepat. Mau naik taksi ke kota cari hotel yang sedang taripnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar di ruang  penjemputan, suasana terasa sesak dan  hiruk pikuk. Banyak yang menawarkan taksi. Terkesan semrawut. Tiba tiba seseorang memanggil nama saya dari antara kerumunan orang. Terlihat Jonathan dengan kaos warna hijau melambaikan tangan. “Hi Ki”.  Perawakannya yang tinggi dan wajah tampan seperti Pierce Brosnan, gampang sekali dikenali.  Kami berpelukan akrab.  Kami sudah kenal hampir sepuluh tahun, sering bersama dalam misi gabungan di banyak tempat, mulai dari Aceh, Padang, Kupang sampai Nepal. “Hi Jono, happy to meet you here”.  Jono panggilan akrabnya, bilang kalau tinggal di  Dhaka Midtown hotel. Saya sudah dipesankan kamar di sana. Kami  menuju taksi, yang dibawa Jono dari hotel. Begitu mobil meninggalkan bandara, baru saya sadar kalau pulpen Parker saya, hadiah ulang tahun,  ketinggalan saat tukar uang  tadi. Tetapi malas mau turun lagi. Rasanya lega terbebas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di hotel sudah hampir jam satu pagi. Di daerah Gulshan. Kamarnya lumayan bagus. Saya bersebelahan dengan Jono di lantai 2. Tak sempat bicara banyak dengan dia. Terlalu capai. Dia datang pagi harinya. Katanya sudah ketemu James, anggota misi yang lain yang tinggal di Dhaka. James juga warga negara Amerika. Setahun terakhir tinggal di Dhaka, penanggung jawab proyek. Jono dan James bekerja untuk lembaga yang sama. Kami datang di Bangladesh untuk melakukan penilaian kesiapan menjadi anggota International Network for Rational Use of Drugs yang bersama sama kami bentuk.  Masih ingat dulu kami bertiga  membicarakan pertama kali usulannya saat makan malam di Korean Dragon Jakarta setahun  sebelumnya. Jejaring internasional itu diresmikan setahun kemudian di Yogya, beranggotakan kelompok dari 4 negara di Asia dan 4 negara di Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun pagi agak terperanjat saat membuka jendela. Burung gagak banya sekali di halaman dengan suara gaduh. Tak takut sama orang burung burung ini. Di Jawa sudah banyak punah karena pestisida. Kalau adapun jika berkicau dianggap pertanda akan ada orang meninggal. Jika kicauan gagak ini benar pertanda kematian, pasti sudah habis penduduk Dhaka ini, karena begitu banyak burung gagak yang berkicau gaduh sepanjang hari. Saya sama Jono makan pagi dikafe di lantai dasar. Banyak tamu, sebagian orang  asing. Sempat kenalan dengan seorang tamu pria yang kamarnya satu lantai dengan kami.  John, orang Inggris, seorang insinyur yang sedang menangani proyek jalan di tepi kota Dhaka. Mantan dosen politeknik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai bicara dengan Jono mengenai misi kami di Dhaka. Jono dan James sudah  merencanakan siapa siapa yang akan ditemui dalam misi ini. Kami menyepakati lembaga lembaga mana dan siapa siapa yang akan ditemui, untuk membahas rencana pembentukan jejaring internasional tadi. Ada seorang tokoh senior Bangladesh, seorang national professor, yang namanya kondang dan sangat berpengaruh di Bangladesh dan di tingkat internasional saat itu. Profesor Nurul Islam. Kami sepakat akan menemuinya walau mungkin dia tak banyak punya waktu dengan inisiatif ini. Keterlibatannya akan sangat berpengaruh di kemudian hari. Kebetulan saya pernah bertemu dengan dia saat di NewCastle di tahun 1982. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah sarapan kami bertemu dengan James yang datang ke hotel. Rencana rinci misi selama di Dhaka semuanya pasti. Setelah misi di Dhaka, disepakati Jono terus ke Pakistan, saya dan James  ke Nepal, diteruskan ke Indonesia. Jono nampaknya ingin menghindari menjalani misi bersama dengan James. Walau bekerja dalam organisasi yang sama, dua pribadi yang kontras. Jono pekerja ulet, berbahasa  halus dan diplomatis. James agak angin anginan dan semau gue. Seorang pekerja lapangan yang handal. Kalimat kalimatnya selalu  terbumbui dengan kata kata yang bisa menusuk lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama seharian mengunjungi berbagai lembaga baik sendiri sendiri atau berkelompok. Ada pengalaman yang lucu ketika saya berkunjung ke salah satu lembaga penelitian di Universitas Dhaka. Guru besar yang saya temui, nampak gelisah saat bertemu saya. Katanya pada saat yang sama dia punya janji menerima misi dari Washington. Saya jelaskan bahwa saya mewakili misi itu.  Ketika membaca kartu nama saya, dia balik terperanjat. “Are you  Ki? I do not expect you are still this young” Beberapa kali kami saling komunikasi lewat surat dan tilpon. Belum ada email saat itu.  Kami bedua satu profesi, farmakologi, dan sama sama mendapatkan gelar doktor dari UK.   Saya berkesempatan melihat lihat fasilitas risetnya dan diskusi dengan beberapa peneliti yang sedang melakukan program doktor dibawah bimbingannya. Tahun tahun kemudian kami bersahabat dekat dengan professor Chaudhury. Beberapa tahun kemudian dia menjadi presiden universitas Dhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami memutuskan makan malam di hotel saja. Saya Jono dan John, insinyur dari Inggris itu. Mau keluar malas. Hawa dingin. Hotel di daerah Gulshan, jauh dari pusat perbelanjaan. Sebagian besar yang makan malam juga rombongan ekspat yang sedang melakukan misi di Bangladesh. Tak sengaja berkenalan dengan tiga orang tamu, dua pria dan satu wanita. Mereka insinyur2 dari Moskow yang sedang mengerjakan proyek  waduk. Nggak tahu waduk apa. Tak sempat cerita banyak. Bahasa Inggris mereka sangat terbatas. Satu orang bicara patah patah. Pria yang lain kelihatannya suka bicara, tetapi tak menguasai bahasa Inggris. Wanitanya nampak pendiam walau tatap matanya terkesan tajam. Tak bicara bahasa Inggris. Dia berambut blonde, kulit mukanya begitu putih hampir memucat. Begitu cantik tetapi agak pucat,  saya bayangkan seperti Putri Salju. John orang Inggris itu nampak antusias mau ngobrol sama mereka. Jono yang selalu kalem tak begitu antusias. Tetapi saya melihat wanita cantik ini nampaknya selalu mencuri pandang  wajah Jono, yang memang tampan seperti bintang film. Kami hanya ngobrol sebentar. Saya dan Jono akan bicara tentang hasil kunjungan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh selesai menyimpulkan hasil diskusi hari itu, saya masuk kamar. Di langit langit ada baling baling atau kitiran besar. Bunyinya tak keras tetapi konsisten seperti mesin. Saya merebahkan diri di atas tempat tidur beralaskan kain katun putih. Tidur tidur ayam.  Tiba tiba secara tak sadar saya menjerit keras sekali. Mimpi buruk. Seolah ada helikopter mendarat  dengan orang orang berwajah seram bersenjata lengkap mau membunuh saya. Rupanya  suara kitiran angin itu yang membuat saya mimpi buruk. Pintu kemudian diketok keras dari luar. Ternyata penjaga hotel dan Jono berdiri dimuka pintu. “Are you OK?”. “Sorry I am having a nightmare”. Nampak tamu tamu dari Moskow juga kelihatan di luar. Mereka belum tidur, masih duduk duduk ngobrol di ruang duduk sebelah kamar saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir jam sebelas saya masih membaca dokumen dokumen yang saya bawa ketika tiba tiba listrik mati. Gelap gulita. Hening sekali. Hanya terdengar suara dengkur dari kamar John, sang insinyur itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh dalam bahasa Rusia. Nggak tahu Putri Salju itu berkata kata lantang, hampir berteriak. Mungkin memanggil petugas hotel. Saya keluar dengan lampu lilin. Petugas hotel belum juga nampak. Rupanya ada aliran listril yang nggak benar  di hotel itu karena bangunan2 sebelah masih terang benderang. Petugas hotel datang beberapa saat kemudian. Mencoba mencari sekering di lantai itu. Ada di sudut ruang duduk. Suara ketukan keras mencoba membuka kotak sekering membangunkan John dan Jono. Mereka ikut datang ke kamar duduk.  Saya dan petugas hotel mencoba membuka dan memperbaiki sekering yang anjlog itu. Tak lama kemudian lampu menyala kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spasibo. Thanks”. Sang Puteri Salju nampak lega mengucapkan terima kasih. Mereka sejenak berbicara dalam bahasa Rusia. Kemudian salah satu pria mengungkapkannya dalam bahasa Inggris. Mereka ingin mengundang minum wodka malam itu. John insinyur dan mantan dosen politeknik itu dengan antusias mengiyakan. Dia kembali ke kamar ambil wiskhy. Saya menatap Jono, dia agak ragu. Sekedar sopan santun kami bergabung  di ruang duduk itu. Jono mengenakan kaos panjang dengan kerah tinggi. Nampak atletis tubuhnya. Tidak seperti ke dua pria Rusia dan Inggris yang nampak gendut. Saya lupa nama mereka satu per satu. Jika tak salah ingat si wanita bernama Valentina. Mengingatkan nama astronot wanita pertama Uni Soviet Valentina Tereskhova di akhir tahun lima puluhan. Jelas  astronot itu tak secantik Valentina si Puteri Salju ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga tamu dari Moskow itu dan John begitu antusias ngobrol sambil minum wodka. Dengan sopan saya bilang kalau tak biasa minum. Saya minum juice yang saya beli sore tadi. Juga buah jeruk  yang saya beli di pasar saya keluarkan. Seperti pesta kecil kecilan. Mereka mengeluarkan caviar. Pembicaraan mereka terutama mengenai perubahan yang sedang terjadi di Uni Soviet. Tentang glasnost dan perestroika. Begitu berapi api salah satu pria itu bercerita dengan gerakan gerakan tubuh yang lucu. Perubahan besar akan terjadi sesaat lagi di Uni Soviet. Tak akan ada lagi Uni Soviet. “It is boiling my friend”. Berkali kali dia bilang, it is boiling, sambil kedua tangannya dibulatkan di depan dada dan tubuhnya berputar ke arah kiri. It is boiling. Kata kata itu yang saya ingat sampai sekarang. Kadang kadang terdengar seperti it is bowling. John nampak begitu terlarut dengan obrolan mereka. Di akhir kata it is boiling, selalu diikuti derai tawa mereka berempat. Nggak tahu apa yang diketawakan. Saya ikut tertawa karena seperti mendengar it is bowling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jono nampak tenang. Hanya minum sedikit. Saya tahu perilaku dia. Tak pernah mau bercanda urakan gaya bohemian. Juga tak sedikitpun memberikan reaksi walau Svetlana mencoba menarik perhatiannya berkali kali. Jono pria puritan. Istrinya Tina,  jelita seperti bintang pemain film the Devil Wears Prada. Lewat tengah malam ketiga pria itu dan Svetlana sudah setengah mabuk. Jono nampak tidak tenang, pengin mundur. Ketika Svetllana duduk mepet ke arah Jono dan menawarkan wodka, Jono menghindar “ I am crashed”. Dia pamit masuk kamar. Svetlana beralih bersandar dan mendesak saya mencicipi wodka. Saya mencoba menolak halus. Tetapi akhirnya minum juga walau hanya seteguk. Setiap minum alkohol kepala saya rasanya berputar putar, tak dapat konsentrasi. Itu yang saya rasakan saat itu. Tak banyak bisa mengikuti pembicaraan dan gelak tawa mereka lagi. Masih terdengar juga. It is boiling. It is bowling. Sementara saya lihat John nampak asyik benar bicara dengan Svetlana, jarak bicara begitu dekat. Lewat jam satu malam, perut saya rasa nggak enak, mual. Ada alasan pamit. “My stomach is boiling”. Dari dalam kamar saya masih mendengar gelak dan tawa mereka. Obrolannya sudah tak karuan, kadang Inggris, kadang Rusia, sering campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya saya dan Jono makan pagi di kafe. Dia bilang agar menghindari acara tak terencana dan obrolan tak karuan semalam. John bergabung kemudian. Saya berkelakar, awas agen agen Uni Soviet sering menjebak dengan wanita. Dengan enaknya si John yang usianya sudah lewat setengah abad itu menjawab.  Itu yang saya tunggu, sampai jam dua pagi kok jebakan itu tak pernah dipasang.  Saya dan Jono masih umur pertengahan tiga puluhan. Setiap kali pergi jauh yang kami ingat hanya anak sama isteri. Mana sempat mau mikir orang lain. Si John, ini orang sudah mau pension, malah menggebu cari perangkap. Edan, mungkin puber kedua. Saat ini kadang saya berpikir dengan sedikit kecewa, kok dulu nggak memanfaatkan kesempatan itu ya. Kapan lagi, kesempatan tak akan datang dua kali. Mungkin juga John berpikir begitu saat itu. Sudah lewat lebih  dua puluh tahun. Tak guna disesali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok malamnya kami bertiga, Jono, James dan saya ada acara makan malam di American club. Club ini bersebelahan dengan kedutaan Uni Soviet. Juga di daerah Gulshan atau Dalmonde. Kami bertemu ketiga tamu dari Moskow dan John di lantai bawah. Lebih baik pergi sendiri sendiri. Salah salah bisa dapat kesulitan nanti kalau kelihatan menyolok beramai ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa sudah lewat lebih dua puluh tahun. Yang paling saya ingat hanya ungkapan ‘It is boiling my friend”. Pesan singkat dari balik tirai besi.&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4138248681115647004?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4138248681115647004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4138248681115647004' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4138248681115647004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4138248681115647004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/07/it-is-boiling-my-friend-suara-dari.html' title='It is boiling my friend - suara dari balik tirai besi'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2091149647054210483</id><published>2010-07-06T05:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T05:55:05.893-07:00</updated><title type='text'>Jarum jahit</title><content type='html'>Jarum jahit selalu berpasangan dengan benang. Tak bisa berfungsi sendirian. Bekerja kompak dalam tim menjalankan fungsi jahit menjahit. Benang jahit tanpa jarum, mungkin hanya bermanfaat untuk menerbangkan layang layang. Atau kadang kadang untuk membersihkan sela sela gigi. Saya selalu dekat dengan benang maupun jarum jahit sejak kecil. Paling tidak sewaktu menaikkan layang layang. Atau jika pakaian robek. Pakaian masih mahal saat itu. Jika ada yang sobek  selalu dijahit sana sini. Perkenalan yang  akrab dengan jarum jahit dan benang  di masa kecil di Ambarawa. Mereka selalu tersedia di laci, menunggu dengan setia saat dibutuhkan kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh satu tahun lalu. Tepatnya Januari 1969. Malam malam saya gelisah mencari jarum dan benang jahit. Tak ada persediaan di laci, karena saya baru saja pindah ke Yogya dari Solo. Tinggal di pondokan di Gerjen. Hari hari itu sedang menjalani perploncoan di kompleks Ngasem, yang terkenal sadis. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ibu kost sudah tidur sejak jam sembilan tadi. Tak pantas membangunkan orang hanya mau pinjam jarum dan benang. Dua kancing baju saya lepas. Baru ketahuan malam itu. Tak tahu bagaimana tadi tukang cuci mencucinya sampai kancing baju bercerai berai lepas semua. Pas diseterika mestinya dia tahu kalau ada kancing baju yang lepas. Mungkin tidak tahu. Tetapi hal yang mustahil. Pasti tahu tetapi pura pura tidak tahu. Didiamkan saja. Nyatanya, kancingnya ditaruh diatas baju yang terlipat rapi. Pembantu tua ini suka berpura pura bloon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya putuskan untuk mencari jarum dan benang malam itu juga. Naik sepeda kearah selatan menelusuri  jalan ke Taman Sari. Semua toko sudah tutup. Orang Yogya waktu itu memang suka tidur awal. Hanya ada tukang jual bakmi dan ronde di perempatan. Masih ada beberapa pembeli duduk duduk, makan bakmi atau minum ronde. Beberapa tukang becak masih asyik ngobrol sambil merokok di tepi perempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah ada jarum dan benang  jahit?” saya bertanya datar dan sopan. Tak ada jawaban. Empat pria yang sedang minum ronde melihat saya sambil senyum, tetapi tak berucap sama sekali. Wanita muda, mungkin isteri penjual ronde itu, tertawa agak genit. Juga tak menyahut sepatah katapun. “Maaf, apakah punya jarum dan benang jahit ?’ Saya mengulangi pertanyaan sambil menunduk memberi  salam. Kesan saya waktu itu orang Yogya kalau disapa tanpa memberi hormat, biasanya acuh dan tak akan mau menjawab. Ingat waktu menjemput teman plonco, Winarni, calon mahasiswi farmasi, dua hari sebelumnya.  Saya bertanya ke ibu kost yang sudah sepuh, dan memanggilnya simbah. Dia malah mlengos dan acuh. Tetapi sewaktu saya sapa “ Nuwun sewu Eyang”, reaksinya berbeda sama sekali. Sangat hangat. “ We la, ana apa cah bagus?”.  Hanya dengan sedikit mengubah kata kata, sudah dialem “cah bagus”. Edan ah. Tak ada ruginya mengganti kata kata. Di Ambarawa, yang namanya eyang itu ya simbah, titik.  Sama saja. Biasanya usia lanjut dan giginya ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dengan menunduk memberi salam. Mengulangi pertanyaan dengan kata kata lebih halus, ‘Nuwun sewu, kagungan jarum kaliyan benang jahit?’. Saya harapkan penjual ronde, atau sang isteri pasti akan menjawab dengan enak. Diluar dugaan, wanita muda itu terkekeh genit. “Mahasiswa gek diplonco mau awan, kok bengi2 wis gluthukan golek jarum. Sing arep dijahit sapa ya ?” Mahasiswa batu diplonco tadi siang, sudah cari jarum. Mau menjahit siapa ya?. Seorang pengunjung nyelethuk. “Yu cah enom saiki senengane dha jahit jahitan. Jaman edan.”Anak muda sukanya jahit menjahit sekarang. Serentak mereka ketawa. Tak tahu apa yang diketawakan. Ada gurauan menjurus ke masalah seronok. Konotasi seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak saya hiraukan. Saya ngeloyor pergi. Saya jengkel sekali. Kalau tak punya, tinggal menjawab tidak punya. Kok malah melempar gurauan seronok. Saya kayuh  sepeda  kembali kearah utara. Jam setengah dua belas, kembali ke pondokan. Tak dapat jarum maupun benang jahit. Tertidur pulas dan tak membayangkan apa lagi melakukan kegiatan jahit menjahit. Esok paginya saya berangkat plonco dengan baju sedikit terbuka. Tanpa dua kancing baju. Tak ada pengaruh apa apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu, 20 Juni 2010. Beberapa hari lalu. Saya bersama Nyi di Hanoi. Ada beberapa acara resmi yang saya harus ikut serta mewakili organisasi. Konperensi pertama, Lower Mekong Initiative Conference, hari Kamis dan Jumat minggu lalu, berjalan  lancar. Diselenggarakan oleh departemen luar negeri Amerika dan pemerintah Viet Nam. Presentasi dan negosiasi berjalan lancar dengan delegasi negara2 Mekong dalam mengatasi penyebaran penyakit infeksi. Minggu esok masih ada berbagai agenda dan pertemuan antara organisasi saya dengan berbagai lembaga pemerintah Viet Nam.  Tetapi semalam baru sadar kalau baju baju saya bersih tinggal yang kerahnya sesak. Susah untuk pakai dasi. Saya tak senang pakai dasi dengan kerah menganga  karena kancing teratas nggak bisa dikancingkan.  Baju2 ini saya beli sesudah tidak ada keharusan pakai dasi di kantor beberapa tahun lalu. Suhu ruang dipasang 26 derajat, tetapi tak harus pakai dasi. Untuk membantu mengurangi emisi hidrokarbon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada persediaan jarum dan benang jahit di hotel seperti biasanya hotel berbintang. Saya juga lama nggak bawa persediaan saat bepergian. Jam sebelas siang saya pergi dengan Nyi ke Vincom Mall, mall terbesar di Hanoi. Lumayan walau tak sebesar mall mall di Manila. Bagus, bersih dan tertata rapi. Hampir semua barang bermerek tersedia di sana. Kami naik turun dari lantai satu sampai empat, sama sekali tak menemukan jarum dan benang. Juga tidak di supermarketnya. Malah beli beli barang yang tadinya tak terencana sama sekali. Bikin repot menjinjing tas belanja ke sana kemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruang mall memang terasa sejuk karena AC. Tetapi hawa musim panas diluar begitu membakar. Sampai 40 derajad Celcius. Hari Sabtu kemarin kami jalan jalan berkunjung ke musoleum dan museum kediaman Ho Chi Min, hawa panas tak tertahankan. Nyi tak tahan, hampir saja kolaps. Isirahat beberapa lama dibawah naungan pepohonan di halaman. Tetapi panas begitu mendera. Keluar dari halaman museum langsung panggil taksi balik ke hotel. Waktu berangkat hanya bayar 25 000 dong. Pulangnya karena tahu Nyi tak sehat, dia minta 250 000 dong. Sama saja di mana mana, manusia selalu memanfaatkan kelemahan. Kami yang lemah dan butuh saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah makan siang kami keluar dari mall. Naik Hanoi taxi, yang katanya direkomendasi tak akan menipu,  menuju Hanggai street dekat danau di tengah kota. Kompleks pertokoan dan tempat tujuan belanja. Berjalan keluar masuk toko cari jarum dan benang jahit. Hampir sejam kami berjalan dalam hawa yang begitu panas. Tanpa hasil. Terasa capai sekali, apalagi dengan bawaan belanjaan yang kami beli dari mall tadi.  Kalau sudah begini baru berpikir ulang mengapa tak minta jarum sama petugas hotel saja. Mestinya mereka pasti punya persediaan di hotel. Setiap kali bertanya, selalu harus bersusah payah dengan bahasa isyarat menggambarkan jarum dan benang jahit. Hanya gelengan kepala acuh yang kami dapatkan. Orang Viet Nam memang jarang senyum. Tak seperti petugas penjaga  toko di Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus asa dalam kelelahan kami panggil taksi. Maunya kembali ke hotel. Sopir taksi pura pura tak tahu lokasi hotel. Putar putar di sekitar kompleks pertokoan Hanggai. Kami biarkan saja. Sambil lihat lihat kompleks pertokoan tradisional Hanoi. Tiba tiba saya melihat beberapa toko berderet dengan gulungan gulungan besar benang. Sopir saya minta berhenti.  Dengan bahasa isyarat saya minta benang dan jarum jahit. Pemilik toko memberikan satu gulungan besar benang dan satu kotak jarum jahit, isinya mungkin ribuan. Tak akan habis seumur hidup. Saya minta gulungan kecil dan beberapa jarum. Agak lama menunggu. Seorang pria usia lanjut beranjak ke belakang dan kembali dengan gulungan kecil benang warna putih dan bungkusan kecil jarum jahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ketemu yang saya cari. Tertulis harga 10000 dong. Si penjual, pria muda itu minta 25 000. Tak ada gunanya tawar menawar. Masuk mobil kembali kami langsung ke hotel. Masuk ruang dingin. Lepas dari siksaan hawa panas dan keletihan. Masih untung ini naik taksi. Saya bayangkan kalau naik sepeda seperti empat puluh tahun lalu, mau jadi apa? Rum jarum. Sempat menyiksa pasangan usia lanjut seperti saya dan Nyi selama beberapa jam.&lt;br /&gt;Salam hangat dari Hanoi&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2091149647054210483?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2091149647054210483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2091149647054210483' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2091149647054210483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2091149647054210483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/07/jarum-jahit.html' title='Jarum jahit'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2590938908641622579</id><published>2010-06-11T18:43:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T18:45:04.884-07:00</updated><title type='text'>Cekikikan di keremangan pagi</title><content type='html'>Masih remang remang ketika kami meninggalkan rumah pagi itu. Anak anak masih tidur lelap. Mereka masih duduk di sekolah dasar. Hari Minggu biasa bangun siang.  Tahun 1983 waktu itu. Kami baru beberapa bulan pulang dari Inggris. Lupa bulan dan tanggalnya.  Sesudah Nyi sembayang pagi, kami berdua jalan jalan. Hanya kebiasaan saja . Olah raga ringan pagi hari. Jalan jalan menyusuri jalan kampung di sekitar perumahan. Masih sepi waktu itu. Kebun tebu terhampar di sekitar kompleks perumahan Condongcatur Yogyakarta. Masih rimbun dan gelap. Sebentar lagi mungkin  tiba musim tebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak malas sebenarnya pagi itu. Rasa kantuk belum hilang benar. Minggu lalu saat jalan pagi ada anak anak muda yang lepas begadang malam hari, meneriaki kami. “Sok berlagak kaya, jalan jalan pagi”. Panas hati mendengar ucapan kampungan itu. Mau jalan pagi mau enggak, mau berlagak mau enggak, bukan urusan mereka kan ? Jika anak anak  itu mau mengurusi urusan mereka sendiri, saya yakin mereka tidak akan menganggur dan bergerombol semalam suntuk hampir tiap hari. Tak ada untungnya bereaksi. Tak perlu terpancing ucapan tak beradab itu. Apa lagi saya bersama Nyi saat itu. Rambut Nyi  jadi agak kribo sepulang dari Inggris.  Mungkin karena perubahan kelembaban. Masih nampak seksi. Anak anak muda itu kurang ajar bersuit suit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan menelusuri jalan jalan kecil di antara kerimbunan pohon tebu. Awal musim hujan saat itu. Jalan tanah berpasir menjadi kering dan padat. Tak berdebu seperti di musim kering. Bagi yang tinggal di Yogya, musim hujan selalu lebih nyaman. Jalan tak berdebu. Kebun dan pepohonan nampak hijau subur. Jika pas tidak turun hujan, dan cuaca tidak terik, di tepian kota selalu terasa indah dan romantis. Aliran air di gorong gorong tepi jalan menimbulkan suara gemericik halus. Datanglah ke Yogya dan jalan jalan di pedesaan sekitar Yogya. Ada rasa damai menyelinap di sana.  Pagi itu matahari belum muncul, hawa sejuk pagi hari, jalan jalan di sela sela kebun tebu, memang terasa damai dan romantis. Jika sendirian mungkin lamunan bisa melayang ke mana mana. Saya sama Nyi. Tak sempat melamun kemana mana. Hanya berjalan berdua. Kadang kadang berpegangan tangan. Sambil bicara pelan. Mana yang perlu saja. Kami jarang bicara intens. Kecuali jika membicarakan anak anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tikungan sebelah tenggara kebun tebu kami bermaksud belok masuk salah satu jalan kecil menembus kebun tebu menuju perkampungan. Tiba tiba ada suara berisik. Ada tawa kecil bernada manja.  Selang seling antara suara sengal napas, bisikan  lembut dan cekikikan manja. Saya pikir ada pejalan pagi datang dari arah berlawanan. Kira kira sepuluh meter di depan kami, saya lihat pasangan pria dan wanita sedang asyik berpangkuan di atas sepeda motor. Bermadu kasih secara intens. Berangkulan dan berciuman hangat. Saya mencoba tidak kaget dan tidak terperanjat. Aja kagetan lan aja gumunan. Di Inggris dulu, biasa lihat laki perempuan bermain cinta di muka umum. Yang saya heran, hari pagi gini, cium ciuman apa sudah sikatan sama cuci muka ? Orang yang sekedar  ingin jalan pagi biasanya malas cuci muka. Nggak tahu mereka yang jalan jalan pagi sambil mau bermadu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahan Nyi untuk berhenti. Ingin belok ambil jalan lain. Tetapi dia rupanya ingin mengamati adegan erotik  itu. Sudah mulai terang saat itu. Postur dan wajah mereka bisa terkenali tanpa teropong. “Itu tetangga satu kompleks kita. Suaminya bu Kinari”. Ujarnya penuh tanda tanya, seperti tak percaya akan pemandangan mengasyikkan itu. Saya tarik tangannya untuk menyingkir. Tetapi rupanya dia benar benar ingin memastikan siapa mereka. Kira kira tiga menit, pengamatan selesai. Hampir pasti itu suami ibu Kinari, tetangga di kompleks. Tetapi siapa wanita sintal naik motor warna hitam, dengan pakaian olah raga jambon itu ? Tak tahulah. Siapapun dia saya tak mau tahu. Bukan urusan dan bukan masalah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin bertiup pelan. Matahari pagi mulai menyorot langit. Angin sepoi di luar, angin lembut di dalam bersatu dalam jiwa.  Paling tidak saat itu. Di ujung jalan sepi itu. Sepasang pria dan wanita asyik bermadu kasih di  antara kerimbunan pohon tebu. Dalam perjalanan pulang saya ingatkan Nyi untuk tetap tutup mulut. Kasihan ibu Kinari yang begitu pendiam. Kebetulan suami isteri bersifat pendiam. Paling tidak jika tidak bersama si pengendara motor hitam itu, pak Kinari selalu  pendiam. Tetapi di jalan sepi apalagi diantara gemerisik daun tebu, sifat pendiamnya kok berubah total. Sergap sampai lumat. Edaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan pulang ke rumah. Hanya berjarak 500 meter dari rumah kami. Nyi masih saja bertanya tanya. Saya ingatkan, jangan diungkit ungkit. Bisa kuwalat, ketularan. Kutukan. Ingat petuah Wo Sura Jaeni, sewaktu saya kecil dulu, saat bersama dia mengintip pasangan pria dan wanita yang bukan suami isteri, mandi bersama di sebelah barat kebun kami di Ambarawa. “Tutup mulut, jangan cerita sama siapapun. Bisa kuwalat, ketularan nanti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya heran sampai kini, berciuman hangat lumat sepagi itu sama pacar gelap, apa bekalnya?. Makan permen pagi hari, bisa sakit perut. Tanpa permen mungkin rasanya seperti saling sembur hawa mulut mematikan. Seperti semburan  ular kobra. Bah ini bukan masalah sembur menyembur. Tak tahulah. Ini masalah berciuman dan bercinta denga pacar gelap di keremangan pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai. Jangan suka mengintip orang bermadu kasih dengan pacar gelap. Bisa kuwalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2590938908641622579?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2590938908641622579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2590938908641622579' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2590938908641622579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2590938908641622579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/06/cekikikan-di-keremangan-pagi.html' title='Cekikikan di keremangan pagi'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-8594620967485036485</id><published>2010-06-04T16:00:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T16:02:03.186-07:00</updated><title type='text'>Jangan berlagak pilon</title><content type='html'>Wajahnya  tenang dan terkesan serius. Setiap langkah nampaknya dipertimbangkan dengan hati hati.  Kata katanya keluar satu per satu dengan lancar dan jelas. Selesai membaca surat dari Rektor dia bertanya.  “Anda baru saja lulus dokter  dari Yogya? Mengapa tidak ingin ke Puskesmas ?. Pertanyaan ini ditujukan ke saya yang kebetulan duduk  paling kanan.  Kami bertiga, dengan Noko dan Faisal, sama sama menghadap  Kepala Biro Personalia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Drs. Suparmanto MA. Tahun 1976, lupa bulan dan tanggalnya. Semalam naik kereta dari Yogya, pagi harinya sampai di Jakarta, langsung ketempat mertua Faisal dulu untuk mandi dan ganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tergagap, saya menjawab “ Saya ingin menjadi peneliti dan dosen”. Mungkin jawabannya tidak terlalu pas. “Bukankah sesudah selesai wajib kerja di Puskesmas, juga bisa jadi peneliti dan dosen?”. Pertanyaannya membalik tajam. “Bukannya saya tak ingin tugas di Puskesmas, Bapak. Tetapi saya tak siap menjalani wajib kerja lewat INPRES.  Saya tak pernah memperoleh beasiswa atau ikatan dinas pemerintah”.  Saya  utarakan lebih lanjut kalau begitu lulus, saya sudah langsung  melamar sebagai dokter Puskesmas di Susukan, Suruh, kabupaten Semarang. Tetapi tak ada lowongan pegawai negeri di Pemerintah Daerah. Satu satunya cara untuk bekerja di Puskesmas hanya lewat program INPRES di Departemen Kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sejak lulus tahun 1975 itu, saya bertugas sebagaai asisten di UGM, di Fakultas Kedokteran, dan mulai melakukan penelitian. Belum diangkat sebagai pegawai negeri atau dosen tetap. Masih honorer.  Ada tawaran dari yayasan  Rockefeller  untuk program doktor di luar negeri. Kebetulan waktu itu saya sudah mulai berkomunikasi dengan beberapa lembaga yang memberikan program doktor seperti Karolinska Institute di Swedia, dan Univ. Newcastle Upon Tyne di Inggris. Konsultasi untuk memilih topik penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kami menemui Biro Personalia Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan berbekal surat Rektor, adalah untuk meminta rekomendasi ke Departemen Kesehatan agar diberikan surat ijin dokter (SID).  SID hanya dikeluarkan kalau dokter baru sudah menjadi pegawai negeri atau bertugas di Puskesmas. Surat ini diperlukan untuk mengurus ijin praktek di daerah. Tanpa SID tak bisa praktek mandiri sebagai dokter.  Surat pengangkatan sebagai pegawai negeri entah kapan akan turun. Berarti nggak bisa praktek dan nggak ada emasukan uang, padahal kami bertiga sudah berkeluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noko dan Faisal juga menghadapi pertanyaan serupa. Mereka punya alasan masing masing.  Noko ingin bertugas mendalami kedokteran forensik, dan Faisal bertugas di bagian radiologi.   Tak lebih lima belas menit kami diminta menunggu diluar. Surat yang akan dikirim ke Departemen Kesehatan langsung diproses.  Ruangan tunggu nampak bersih dan lengang. Tak sampai satu jam semua sudah siap. Lancar tanpa birokrasi berbelit. Kepala biro bisa menerima alasan kami masing masing. “Keputusan ada di tangan Departemen Kesehatan, bukan di kami” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ringan langkah ini ketika kami  menuju kantor Departemen Kesehatan di jalan Prapatan 10. Dengan surat resmi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, ditanda tangani oleh kepala Biro Personalia, Drs. Suparmanto MA. Sesampai di Prapatan, kami langsung ke Biro Kepegawaian. Ruangan terletak di sebelah kanan pintu utama. Agak telihat suram dan sesak. Kami menunggu hampir satu jam untuk menghadap Kepala Biro Kepegawaian, Dr. Brahim. Jam dua belas lewat sedikit kami memasuki ruangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangnya nampak serius. Rambutnya lebat agak memanjang ke samping kiri dan kanan, tak sampai gondrong. Kumisnya hitam lebat berbentuk persegi. Nampak berwibawa benar. Namun kami tak bergetar sama sekali. Sama sama dokter pasti sikapnya akan lebih ramah. Dokter harus dianggap saudara, menurut sumpah asli Hippocrates. Dia membaca file surat yang ditanda tangani oleh Drs. Suparmanto MA. Beberapa menit dia membaca surat surat itu. Terakhir dia angkat surat itu ke atas, menerawang jendela. Mungkin sekedar meyakinkan isi suratnya. Dahinya berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba suaranya keluar menggeram “Hmmmmmmm”. Sambil menghentakkan tapak tangannya ke atas meja. Suaranya lantang “ Drs. Suparmanto MA ! Berlagak pilon dia”. Saya lihat Noko dan Faisal terhenyak. Wajahnya berubah kecut. Sementara saya terheran heran. Saya nggak tahu artinya apa “Berlagak pilon”. Saya masih sempat bertanya “Maksudnya apa Dok?”. “ Sampeyan tahu apa? Baru minggu kemarin, saya sama Drs. Suparmanto MA itu, dipanggil DPR, ditanya tentang penempatan dokter baru. Dia bilang kalau P &amp; K tidak membuat kebijaksanaan menahan dokter2 yang baru lulus di perguruan tinggi. Baru lewat beberapa hari, kok dia kirim surat rekomendasi seperti ini”. Dengan geram dia angkat surat itu tinggi tinggi. Ini pertanda jelek. Lebih baik mundur teratur dari pada runyam. Dalam strategi militer dibenarkan untuk mundur sementara sambil mengatur siasat untuk memukul balik. Tactically withdraw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maaf dok, saya tidak tahu itu. Juga tak tahu ada kesepakatan dua menteri tentang dokter baru”. “ Sampeyan tahu apa?. Bilang sama Drs. Suparmanto MA mu itu ya. Jangan berlagak pilon”. “ Terima kasih dok. Kami mohon pamit”. Saya tetap berkata dengan sopan walau agak terkejut dengan nada tingginya. Sementara Noko sama Faisal wajahnya nampak muram. Tak mau berpamitan sekalipun. “ Wis disratang kok matur nuwun. Ora patut” Noko menggumam. Sudah digonggong kok masih terima kasih. Tak patutlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah satu kami masuk rumah makan di ujung jalan, di samping gedung Departemen Kesehatan. Faisal diam terpekur. Noko masih menggerutu berkepanjangan. “ Kok ora ana bledeg ya ?”.  Kok nggak ada petir ya ?. Saya juga kecewa, sudah jauh jauh dari  Yogya. Tak ada hasil. Yang menghunjam dalam pikiran saya waktu itu apa makna ‘berlagak pilon’?. Ini pasti bahasa prokem yang baru. Tak terbiasa dengan istilah itu. Juga tak terbiasa menggunakannya sampai sekarang. Mungkin bahasa Jakarte.  Saya bayangkan pak Suparmanto yang tenang itu, saya yakin dia memutuskan menanda tangani surat itu dengan penuh perhitungan. Bukan asal tanda tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami pulang ke Yogya. Kembali bekerja sebagai asisten honorer sampai beslit pegawai negeri turun setahun kemudian di tahun 1977. Tahun 1978  dan 1979 saya masih sibuk riset di laboratorum. Tahun 1978 sebenarnya semua sudah siap tinggal berangkat program doktor. Saya minta mundur oleh karena masih harus menjadi sekretaris eksekutif konggres Asia dan Pasifik Barat di Yogya menjelang pertengahan 1979. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun kemudian, di awal sembilan puluhan saya sempat bertemu Dr. Brahim kembali. Saya sudah menyelesaikan program doktor lama sebelum itu di tahun 1983. Kami bertiga dengan dokter Uton Rafei, Regional Director, pejabat tertinggi WHO wilayah Asia Tenggara, makan malam berempat bersama Nyi, di rumah makan Sintawang jalan Magelang, Yogya. Dr. Brahim minta pesan cakar ayam. Saya berbisik “Yang benar pak Brahim, dengan pejabat tinggi WHO, kok mau pesan cakar ayam”. Jawabnya juga diluar dugaan saya “ Mas, sampeyan jangan berlagak pilon. Yang kita cari di sini ya cakar ayam ini”. Sambil bergurau saya ingatkan peristiwa “Jangan berlagak pilon” di tahun 1976 itu. Dia sudah lupa rupanya. Kami tertawa lebar membicarakan  peristiwa itu. “Saya hanya menjalankan keputusan bersama. Nothing is negotiable”. Dokter Uton menyahut ringan, mungkin menyindir “ Apa bahasa Inggrisnya berlagak pilon ya?”.  “Tak penting terjemahan bahasa Inggris. Yang penting pesan tersampaikan”. Mungkin karena bahasa Inggris dokter Brahim agak kurang lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini mereka berdua telah lama pension. Saya menghargai beliau berdua sebagai senior dan pejabat yang telah banyak berjasa. Tetapi saya tetap saja pilon sampai kini, tak biasa menggunakan kata kata “berlagak pilon”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai. Jangan berlagak pilon Bung.&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-8594620967485036485?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/8594620967485036485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=8594620967485036485' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8594620967485036485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8594620967485036485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/06/jangan-berlagak-pilon.html' title='Jangan berlagak pilon'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3600289453183286411</id><published>2010-05-27T05:14:00.000-07:00</published><updated>2010-05-27T05:15:07.300-07:00</updated><title type='text'>Mangkuyudan - cerita yang tersisa</title><content type='html'>Matahari condong ke Barat. Sore yang cerah. Angin bertiup lembut di antara dedaunan di halaman. Saya sedang jaga di rumah sakit Mangkuyudan Yogyakarta. Rumah sakit khusus kandungan dan kebidanan. Di pertengahan tahun 1974. Setelah mandi saya ke bangsal. Semua tenang. Tak ada pasien gawat. Juga bayi bayi yang baru lahir, nampak sehat semua. Mereka tidur di samping ibunda masing masing. Damai dan bahagia adanya. Kamar kamar pasien tertata rapi dan bersih. Dinding dan kordin jendela berwarna kuning muda. Seperti janur kuning, daun kelapa muda. Saya benar benar menikmati tugas ko asistensi di rumah sakit ini. Terasa sangat disiplin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada seorang pasien paska operasi yang menderita demam ringan. Tak serius. Terapi langsung bisa diberikan sesuai pedoman. Kebetulan Enny adalah ko asisten yang menangani pasien itu. Tetapi sejak jam empat tadi dia berada di ruang tamu depan. Tunangannya selalu datang menengok tiap sore. Mungkin langkah pengamanan. Dia tahu kalau saya dan Enny pernah punya hubungan istimewa lima tahun lalu saat di tingkat satu. Cerita masa silam. Telah berlalu. Tak bergetar lagi hati ini mengingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai melihat pasien di bangsal, saya duduk duduk di ruang jaga. Ruangan besar dan bersih, dengan jendela kaca menghadap ke halaman belakang. Ada beberapa meja kerja di sana. Membaca buku teks wajib. Lupa judulnya. Waktu menunjukkan jam setengah enam, ketika Enny memasuki ruangan. “Pasien paska operasinya tadi demam ringan. Sudah diberi antipiretik, tertulis di status”. Tak menyahut sama sekali. Enny langsung ke bangsal. Mungkin melihat pasien yang saya maksudkan. Pikiran saya sedang terpaku di salah satu bab yang ditulis oleh seorang ahli Indonesia. Pofessor Hanifa Wignyosastro. Saya terkagum kagum. Seorang ahli Indonesia, menjadi author di buku teks internasional, yang menjadi bacaan wajib bagi para calon dokter dan calon spesialis di berbagai bagian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Enny keluar dari bangsal. Berjalan cepat melewati meja jaga. Bidan dan siswi bidan yang dinas jaga juga duduk di situ. Sambil berlalu dia menggumam jelas sekali “ Pasien-e ora panas. Koas-e sing panas”. Pasien nggak panas. Koasnya yang panas. Terhenyak saya mendengarnya. Kedua siswi bidan berucap “Kok nylekit. Nyindir ya dok”. Saya tak hiraukan. Dikiranya saya panas hati lihat dia dijenguk tunangannya ? Ah nggak terpikir lagi. Saat itu saya juga sedang berbunga bunga dengan mahasiswi AKUB. Lewat jam enam, kembali ke kamar. Saya cerita ke Woto, teman jaga, tentang kata2 Enny. “Nggak usah dipikir”. Kami kemudian makan malam di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang jam tujuh aiphone berdering keras. Tersentak kami berdua. “Pasien gawat”. Suara bidan jaga nyaring terdengar di ujung sana. Woto dengan sandal jepit dan jas putih langsung beranjak dan berlari keluar lewat aula. Ruang periksa ada di sayap timur, di seberang aula. Saya tidak suka lewat aula itu di malam hari. Gelap. Ada saja cerita aneh. Suatu saat ada ko as menjerit di ruangan itu malam malam. Katanya lihat bayangan orang berdiri di pojok. Saya berlari lewat koridor luar. Ada lampu terang di sana. Tetapi harus lewat kamar bayi. Saya pernah cerita pengalaman menakutkan di ruang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar periksa, kami dapati seorang wanita tergeletak lemah. Nampak menderita dan pucat sekali. Mungkin umur mendekati empat puluh. Dalam keadaan pre syok, setengah sadar. Saya langsung pasang infus. Pasien gawat kiriman dari Gunung Kidul. “Pasien rujukan. Ruptura uteri”. Kandungan robek. Bidan memberikan laporan. Dokter jaga, dokter Hasibuan, melakukan pemeriksaan lengkap. Menurut sang suami, pasien merasa mau melahirkan sejak siang tadi. Ditangani seorang dukun di rumah. Karena persalinan tak maju maju, sang dukun lelaki yang nota bene bukan dukun bersalin, mengira ada setan yang menghalangi jalan lahir. Dia dorong janin dengan injakan kaki. Bisa dibayangkan akibatnya. Kandungan pecah dengan perdarahan hebat. Tangan janin teraba di dinding perut. Tak ada tanda tanda kehidupan janin. “Siapkan operasi emergency”, perintah dokter Saribin Hasibuan. Prioritas adalah menyelamatkan si ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada persetujuan tertulis dari keluarga. Ada tiga orang yang mengantar di luar. Suami, dan ayah ibu pasien. Saya menemui mereka dan menjelaskan. “Tak ada jalan lain. Harus operasi”. Sang suami hanya diam. Ayah si pasien menjawab “ Kita namung ndherek. Tulung anak kulo dok”. Kami hanya ikut. Tolong anak saya. Dia nampak panik. Dia yang cerita tentang apa yang dilakukan dukun itu. Si ibu diam menangis. “Kita berdoa. Kami berusaha semaksimal mungkin”. Hati saya bergetar ketika wanita lanjut usia, ibu pasien itu terisak memegang tangan saya. Kans mungkin hanya paroh paroh. Kondisinya demikian parah. Tak mungkin tanpa tranfusi. Untung dapat darah yang cocok dari PMI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam delapan lebih sedikit persiapan operasi selesai. Operasi dipimpin dokter Hasibuan. Tenang dan teliti sekali dia memeriksa pasien dan memeriksa semua persiapan. “Keluarga sudah diberi tahu dan sudah memberikan persetujuan?”. Kembali dia bertanya sewaktu mencuci tangan. “Sudah ada persetujuan tertulis. Mereka sangat terpukul”. Dokter Hasibuan menggumam “Kita lakukan yang paling baik”. Tak mudah menutupi rasa tegang, walau berusaha tenang. Saya lihat dia berdoa singkat sebelum mulai operasi. Saya bertugas sebagai asisten dua. Operasi berjalan tenang walau menegangkan. Janin tak bisa diselamatkan. Dinding kandungan tidak cuma robek memanjang. Tetapi jaringannya rapuh dan bagian bawahnya rusak berat. Tak mungkin menghentikan perdarahan. Tak mungkin menjahit jaringan yang pinggirnya hancur itu. Diputuskan untuk mengangkat jaringan uterus. Untung pasien multi para, sudah punya anak lima. Tetapi bukan itu alasannya. Semata mata hanya untuk menyelamatkan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh operasi selesai. Berjalan lancar. Tekanan darah pasien stabil selama operasi. Pasien mendapat transfusi untuk mengganti darah yang hilang. Pasien dipindah ke ruang perawatan paska operasi. Dalam keadaan stabil. Selesai cuci tangan dan ganti pakaian, kami menyiapkan laporan lengkap. Dokter Hasibuan mendikte dan menjelaskan semua hasil pemeriksaan dan prosedur yang dilakukan. Saya mencatatnya. Semua menurut prosedur. Hanya ada satu yang aneh. Tentang hasil pemeriksaan. Dokter Hasibuan bilang “Vaginanya tidak ada yang rusak”. Saya ragu menulis dan mencoba mengingatkan. “ Kalimatnya nggak benar ini dok”. Dia tak menghiraukannya. Kami kelelahan tetapi merasa lega, operasi berhasil, ibu terselamatkan. Mission accomplished. Sebelum kembali ke kamar saya cek sekali lagi pasien. Belum sadar, tetapi tanda tanda vital bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah tujuh keeesokan harinya saya kembali ke bangsal. Tak terasa tegang lagi karena jaga malam telah lewat. Cerita tentang operasi semalam sudah tersebar. Jadwalnya tertulis di papan di depan kamar operasi. Jam delapan ketua tim operasi harus melapor dalam konperensi klinik. Tak begitu menegangkan bagi para ko as. Toh kami hanya membantu (ko asisten). Para calon dokter spesialis itu yang merasa paling tegang. Dipimpin oleh dokter Prono, kepala rumah sakit, dan wakilnya, dokter Pras. Dokter Prono orangnya tinggi besar. Nampak sabar, tetapi nada suaranya besar menggema. Jika ada yang melakukan kesalahan, baru dengar suaranya sudah terkencing kencing. Dokter Pras, bicaranya selalu lantang dan tegas. Orangnya simpatik dan tampan. Tetapi jangan tanya jika ada yang membuat kesalahan. Teman saya Purwo (alm) pernah diusir dari kamar operasi karena rambutnya tak tertutup rapat saat operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya duga, laporan operasi semalam bermasalah. Ketika dokter Hasibuan, melaporkan hasil pemeriksaan “Vaginanya tidak ada yang rusak”, dokter Pras langsung berdiri dan bertanya lantang. “Vaginanya itu satu pasien ada berapa?”. Dokter Hasibuan saya lihat gemetar dan tegang. Jauh lebih tegang dibanding saat melakukan operasi semalam. “ Vagina ya hanya satu to dok”. Dokter Pras semakin berang. “La kok sampeyan bilang vaginanya tidak ada yang rusak ?. Sampeyan belajar bahasa Indonesia di mana? “. Jika sudah begini agar selamat lebih baik diam. Jika dia menjawab, belajar bahasa Indonesia di Tarutung, tempat kelahirannya, pasti habis dia. Ada saja alasan untuk mengejar. Saya tak kuasa menahan senyum. Tiba tiba dokter Pras melihat ke arah saya sambil menggebrak meja. “Ini bukan ketoprak. Tidak ada yang lucu. Nggak usah cengengesan”. Woto menginjak kaki saya. Pikir saya, siapa yang mau main ketoprak siang siang gini. Konperensi yang menegangkan itu selesai jam setengah sepuluh. Dokter Prono, dokter Pras dan dokter2 lain memberi ucapan selamat ke tim operasi dan terima kasih atas keberhasilan operasi. Terutama ke pimpinan operasi, dokter Hasibuan. Kami semua kembali ke tugas rutin. Saya pagi itu di poli klinik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh enam tahun telah berlalu. Sore tadi saya mendatangi bekas rumah sakit Manguyudan bersama Nyi. Kedua anak kami lahir di rumah sakit ini, Wisnu dan si bungsu Moko almarhum. Bangunan itu tetap masih asri seperti dulu. Damai dan tenang. Kebetulan sore tadi habis hujan, langit mendung dan hujan rintik rintik. Terasa syahdu mengingat masa lalu. Bangunan utama sedikit berubah, tetapi tak terlalu beda. Hanya pohon kelengkeng di halaman depan sudah tidak ada. Tanah di halaman depan sudah tertutup conblock. “Saya pernah bertugas di rumah sakit ini di tahun 1974” saya memperkenalkan diri ke petugas Satpam. “Saya belum lahir pak. Bapak dokter ya?” Petugas itu ramah menyambut saya. Saya mengambil beberapa foto. Sekarang jadi kampus pendidikan D3 kebidanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Suprono, dokter Prastowo sudah tiada. Mereka tokoh senior pendidikan dokter, terutama bidang kandungan dan kebidanan. Dosen yang saya kagumi. Dibawah kepemimpinan mereka rumah sakit Mangkuyudan menjadi tempat rujukan untuk menurunkan angka kematian ibu, paling tidak untuk Yogyakarta waktu itu. Saya selalu menghormati beliau berdua. Bersama dokter Prastowo, saya kemudian ikut menjadi pengurus himpunan dokter perdamaian Indonesia. Dokter Hasibuan masih aktif sampai sekarang. Saya ketemu terakhir enam bulan lalu di bandara Adisucipto, kebetulan bersama dalam satu pesawat menuju Jakarta. Dia tak ingat insiden ‘Vaginanya tidak ada yang rusak” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bangga bisa ikut dalam tim operasi menyelamatkan seorang ibu dari Gunung Kidul itu tiga puluh enam tahun lalu. Namun itu tak cukup. Perjalanan masih sangat jauh untuk menurunkan angka kematian ibu. Angka kematian ibu di Indonesia, masih termasuk tinggi di Asia. Dokter Fadilah, mantan menteri kesehatan, yang juga pernah bertugas sebagai ko asisten di rumah sakit Mangkuyudan pernah cerita waktu ketemu di bandara Changi dua tahun lalu. “Selama lima tahun terakhir, kami berhasil menurunkan dari 400 kematian ibu per 100 000 kelahiran, menjadi 250 per seratus ribu”. Tetapi itu masih terlalu tinggi. Masih banyak daerah kantong2 kematian ibu di Indonesia. Ada 6 orang isteri teman yang saya kenal yang meninggal saat melahirkan. Lima di antara mereka adalah isteri dokter dan dekat dengan pelayanan rujukan. Bukan tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari pelayanan medis. Semua teknologi dan obat obatan tersedia dan terjangkau di masa kini. Kematian ibu harus diturunkan. At any price.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai dan sejahtera. Tulisan ini khusus saya persembahkan untuk Bung B. Haryo Prasetyo di Ottawal yang kebetulan juga lahir di Mangkuyudan, tanggal ini. Selamat ulang tahun, semoga selalu bahagia, dan menggapai cita cita masa depan. Maaf kalau ada kata yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 27 Mei 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3600289453183286411?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3600289453183286411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3600289453183286411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3600289453183286411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3600289453183286411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/05/mangkuyudan-cerita-yang-tersisa.html' title='Mangkuyudan - cerita yang tersisa'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4182193188096282899</id><published>2010-05-17T16:01:00.000-07:00</published><updated>2010-05-17T16:04:27.826-07:00</updated><title type='text'>Jeng Srie, nuwun sewu, aku ora bali</title><content type='html'>Menjelang akhir tahun 1971. Minggu sore yang cerah. Habis hujan ringan siang harinya.  Hawa sejuk menyegarkan.  Saya menunggu bis di tepi jalan, di desa Ngampin,  Ambarawa.  Harus pulang ke Yogya. Angin bertiup ringan dengan aroma bau bunga kopi yang lembut. Rasanya malas, dalam suasana yang sejuk dan damai seperti ini,   harus berangkat ke Yogya. Di kejauhan saya lihat Bapak saya duduk di halaman depan rumah,  mengamati.  Tiba tiba terdengar klakson mobil menyentak kesunyian. Bis Mustika mendekat  dari arah Timur. Bis  warna merah campur kuning  menyolok. Jurusan Semarang Yogya. Si kernet berteriak lantang. Magelang ! Yogya !. Saya melambaikan tangan. Yogya ! Bis berhenti tepat di muka pintu kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbalik melambaikan tangan ke arah Bapak  di kejauhan, sebelum beranjak mendekati bis. “ Masih ada tempat duduk?”. Malas berdiri, meskipun hanya sampai Magelang. “Masih banyak tempat. Mari naik mas”. Si kernet membalas. Dengan sigap saya loncat, masuk lewat pintu belakang. Ada beberapa tempat duduk yang masih kosong. “Maaf ya mbak”, sekedar basa basi saya minta permisi untuk duduk berdampingan dengan seorang wanita muda di barisan kursi sebelah kiri.  “ Silahkan, masih kosong”. Saya langsung duduk ketika gadis itu menyapa “ Lho sampeyan ya San ?”.&lt;br /&gt;Saya terhenyak. Hanya teman SMP yang memanggil saya dengan panggilan itu. Saya tatap wajahnya. Lupa lupa ingat. Teman waktu sekolah di Taman Siswa Ambarawa lebih lima tahun lewat. “ Srie ya?” jawab saya tergagap. Belum hilang rasa kaget saya. Dia tahu saya terkejut.  “Iya, Srie Lestari. Lupa ya?”. Saya mencoba menjelaskan dan menutupi rasa malu . “Lupa sih enggak. Hanya terkejut saja. Lama sekali kita tak pernah jumpa”. Dia mencoba menjelaskan “ Kita ketemu  terakhir kali saat  perpisahan sekolah. Pertengahan tahun 1965. Habis itu masing masing menghilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srie adalah teman  satu sekolah di Taman Siswa Ambarawa. Sesudah lulus dia meneruskan ke SMA di Salatiga atau Semarang.  Sedangkan saya ke Solo. Lulus SMA dia kuliah di Fakultas Sastra UGM , jurusan Sastra Nusantara. Saya meneruskan kuliah di kompleks Ngasem, Fakultas Kedokteran UGM. Kami asyik ngobrol dalam bis. Cerita tentang pengalaman masing masing selama enam tahun terakhir sesudah meninggalkan Ambarawa. Kami sama sama duduk di tahun ketiga di UGM. Kami cerita tentang teman teman semasa SMP dulu. Santi tak bisa melanjutkan sekolah sesudah  tamat Taman Siswa. Peristiwa 1965 sangat menghantam keluarga Santi. Bapaknya ikut hilang.  Srie tahu persis kalau saya sama Santi ada rasa istimewa dulunya. Cinta pertama, cinta monyet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srie tak banyak berubah sejak dari SMP dulu. Pembawaannya tenang dan kalem. Omongannya selalu teratur kalimat demi kalimat. Dalam bahasa Jawa yang halus.  Sore itu dia memakai terusan warna kuning lembut dengan sweeter  jambon. Kalem sekali. Cocok dengan warna kulitnya, kuning langsat. Kulitnya halus terawat. Rambutnya hitam lurus sampai ke pinggang. Ada jepitan rambut warna ungu terpasang menahan rambut yang melambai lambai   tertiup angin. Dia tak terbiasa tertawa lepas berderai, tetapi senyumnya selalu menghias wajah lembut dalam setiap ungkapan kalimat demi kalimat. Saya menikmati ceritanya. Menikmati ucapannya di antara senyuman senyuman lembut. Ketika saya berkomentar tentang warna sweeternya yang lembut cocok dengan parasnya, dia tersipu. Balik berkomentar. “Baju anda warnanya pas sekali. Kalem”. Saya ingat memakai baju ungu muda. Tetapi ada sulaman benang warna keemasan menyolok di dada jika kena lampu malam hari.  Ndesit. Minggu kemarin diolok olok teman teman pondokan, katanya baju penganten, pakai emas. Moga moga dia nggak lihat warna keemasan menyolok di dada kiri dan kanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus mengobrol sampai memasuki kota Yogya. “Saya turun di Gondolayu. Saya tinggal di Jalan Jendral Sudirman”. Dia memberikan catatan alamatnya. Saya juga baru ingat kalau saya tak lagi tinggal di Gerjen. Sudah beberapa minggu saya pindah ke jalan Pajeksan, di dekat Malioboro. Buru buru saya membalas “ Saya juga turun di Gondolayu. Saya tinggal di Pajeksan, Malioboro”. Menjelang maghrip saya antar Srie turun dari bis ke kompleks  perumahan Bank Agung. Hanya mengantar sampai pintu masuk. Kami bersalaman erat di pintu itu. Terasa dingin ketika tangan kami bersalaman. Jabat tangan ringan. Sekedar ungkapan persahabatan. Kami janji akan bertemu hari Sabtu malam. “Jika anda ada waktu luang, kita bisa bertemu Sabtu malam besok”.  Wah berarti belum ada yang ngapeli dia. Orang Jawa bilang “rindik asu digitik”. Lebih cepat dari lari anjing yang kena sabet. Cepat cepat saya menukasnya. “ Boleh Sabtu malam saya ke sini”.  Pikir saya dari pada malam Minggu sendirian di kamar, berselimut sarung. Lebih baik mengunjungi teman lama. Senyumnya yang  kalem di antara untaian kalimat kalimat halus berbahasa Jawa. Tak biasa saya jumpai di kalangan teman2 putri di kampus.  Teman putri satu kampus datang dari seluruh penjuru tanah air. Kebanyakan  bercakap dalam bahasa Indonesia. Pergaulan dan percakapan kami selalu lugas apa adanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu petang di akhir minggu saya mengunjunginya. Dia tinggal dengan bapaknya dan ke dua adiknya di kompleks perumahan. Ibunya di rumah Ambarawa. Memang mereka sekeluarga asli Ambarawa. Saya berkenalan dengan Bapaknya dan kedua adiknya. Mereka juga berbahasa halus sekali. Mungkin keluarga itu memang sudah terdidik dan terbiasa dengan pembawaan yang halus. Bercerita tentang masa lalu saat masih di Ambarawa, terutama saat bersama di Taman Siswa. Malam itu saya disiplin, pamit pulang jam sembilan malam. Srie mengantar saya sampai pintu depan. Saat bersalaman, dia bilang “ Jika ada waktu datanglah setiap akhir pekan Ki. Kita bisa ngobrol”. Saya mengiyakannya. “Pasti saya akan selalu datang”. Malam malam Minggu berikutnya saya selalu datang. Menikmati ceritanya. Gaya bicaranya yang halus teratur. Dalam bahasa Jawa dengan tata bahasa yang bersih. Di antara senyuman lembut yang indah. Seperti mendengarkan cerita roman karya Any Asmara, Kumandanging Katresnan, roman klasik berbahasa Jawa yang terbit di tahun lima puluhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat surat di antara kami saling terkirim. Juga dengan bahasa Jawa yang halus. Saya merasa dekat sekali dengannya. Merasa segan dan hormat akan kelembutan sikap dan kata katanya. Ingin selalu dekat dengannya. Mendengar kata katanya berbisik halus di antara senyuman lembut. Di satu malam yang indah. Habis hujan waktu itu. Langit terlihat kelam tanpa bintang. Kami duduk bedua di pavilion depan. Tak ada siapa siapa. Berdua berdampingan. Dia bercerita dengan tenang. Dengan senyuman indah di antara kalimat yang keluar teratur satu per satu. Saya menggenggam tangannya yang sejuk. Kami duduk berhimpitan di kursi panjang. Ada rasa kekaguman yang dalam. Rasa sayang dan hormat saya tak terkira. Pikiran dan perasaan saya mengembara ke langit sana. Tak ada keberanian, tak ada kemampuan, tak ada daya. Untuk membelai, untuk memeluk, apalagi mencium wajah lembut dan halus itu. Senyumnya tetap tersungging, meski dia nampak gelisah. Wajahnya semakin memerah cantik. Hanya rasa kagum yang platoonik membayang dalam pikiran saya. Ketika dia berujar “Kemana Ki kita menuju”. Dalam bahasa Jawa yang halus. Saya hanya mampu menjawabnya singkat “ Kita berjalan ke depan. Bersama sama entah sampai mana”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya pulang menyusur sepanjang jalan Mangkubumi dan Malioboro. Ingatan saya melayang pengalaman cinta pertama kali dengan Eny dua tahun sebelumnya. Yang dengan penuh gelora  memeluk dan mencium saya dengan tiba tiba di kegelapan di bawah pohon jambu itu.  Beda sekali. Srie selalu lembut dan kalem. Dan saya tak bernyali untuk memulainya.  Hari hari berlalu, minggu minggu berlalu, bulan bulan terlewati. Kami tetap setia bertemu di setiap akhir pekan. Entah di Yogya. Entah di Ambarawa. Pertemuan pertemuan yang asyik dengan cerita. Tutur katanya selalu membuat saya terkagum kagum luar biasa. Senyumnya selalu membuat saya terpesona. Tetapi setiap saat hanya membuat saya terpana tanpa daya. Tak ada nyali. Tak ada daya untuk bermain cinta. Ingat pengalaman berhubungan dengan Eny dua tahun lewat. Tak ada cerita jika bertemu. Tak ada ungkapan  tata bahasa pujangga. Diam seribu bahasa. Langsung sergap sampai lumat. Edaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun saya selalu mengunjungi Srie. Selalu berbincang dengan asyik dan lembut. Dia juga selalu mendengar cerita cerita saya. Tentang kuliah. Tentang losmen. Saya kebetulan tinggal di losmen. Sambil mengurusi losmen, sekalian kerja, ada tambahan uang saku dan kuliah. Tetapi tak pernah ada janji di antara kami berdua. Tidak pernah ada ungkapan cinta. Saya lupa bulannya. Saya sudah duduk di tingkat empat di tahun 1972. Beberapa minggu lagi kami akan stuy tour akhir tahun ajaran ke Bali. Suatu siang sesudah ujian saya ajak teman sekelas, asal Ambarawa, almarhum Purwo, mengunjungi Srie di Gondolayu. Seperti biasa, Purwo selalu merokok. Tetapi dia tak banyak cerita. Hanya mendengar saya berbincang dengan Srie. Gaya pebicaraan kami mungkin agak aneh di mata Purwo. Dia kebanyakan diam, tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari tempat Srie, kami makan soto. Purwo tak banyak bicara. Dia hanya komentar. “Srie gadis cantik Ki. Tapi nggak cocok buat kamu. Ada sesuatu yang aneh di antaramu”. Saya hanya menggumam kalau kami belum  kata kata yang mengikat. “Nggak usah bohong bung. Tetapi jangan diteruskan. Sama sama orang Ambarawa. Tak baik jika ada apa apa nantinya”. Hari Sabtu malam terakhir sebelum saya ke Bali, saya menemui Srie dan pamitan. Sewaktu saya akan pulang dia berpesan “ Nek kondur seka Bali, tindak rene ya”. Kalau pulang dari Bali, datang ke sini ya. Kami bersalaman erat di pintu gerbang. Kata kata itu masih teringat. Rupanya itu terakhir kali saya mengunjunginya. Di Bali, saya satu rombongan dengan EMSA teman satu klub belajar. Dia hangat dan ceria. Selalu dekat dengan saya. Purwo pernah berteriak ke kami di pantai Kuta. “Jangan lengket lengket. Nanti bisa kebablasen jatuh cinta”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pulang dari Bali, saya tak sempat mengunjungi Srie. Saya mengaguminya. Menghormatinya. Tetapi saya yakin kalau perasaan saya tidak sampai mencintainya. Dan kami selama sebelas bulan terakhir memang tak pernah menyatakan cinta. Tak pernah bermain cinta. Suatu malam di bulan Mei menjelang ulang tahun saya menerima kiriman. Ketika saya buka. Ada bahan baju warna ungu indah. Kalimat ucapan selamat ulang tahun. Dalam bahasa Jawa halus yang indah. “Kondur seka Bali kok ora tindak nang nggonku Ki. Awake dewe mlaku bareng mung tekan semene ya?” Pulang dari Bali kok tidak datang lagi. Perjalanan kita hanya sampai sekian ya ?”. Saya tak bisa membalas panjang lebar. Hanya ungkapan terima kasih tiada tara dan permintaan maaf “ Nuwun sewu Jeng Srie, aku ora isa sowan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu saya tak pernah berjumpa lagi. Hanya di akhir tahun delapan puluhan saya bertemu sepintas. Srie dengan dua orang putranya mengantar sang  suami urusan program paska sarjana di kampus. Kami hanya bersalaman tetapi tak sempat cerita panjang lebar. Dia tinggal bersama dengan keluarganya di Jawa Tengah Selatan. Saya ajak mampir di kantor saya, dia menolak dengan halus. “Saya menemani anak anak di halaman sini”.  Dia nampak berbahagia sekali  dengan kedua putra putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai dan bahagia untuk mama Srie. Maaf jika ada kata kata yang keliru. Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4182193188096282899?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4182193188096282899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4182193188096282899' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4182193188096282899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4182193188096282899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/05/jeng-srie-nuwun-sewu-aku-ora-bali.html' title='Jeng Srie, nuwun sewu, aku ora bali'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4189415245017832785</id><published>2010-05-14T22:04:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T22:20:52.483-07:00</updated><title type='text'>Apa yang kau cari Cynthia?</title><content type='html'>Hari ini pulang terlambat. Jam tujuh malam baru bisa meninggalkan kantor. Seharian ada pertemuan dari  pagi sampai sore. Tak bisa meninggalkan pertemuan walau tak langsung berkaitan dengan program saya. Lewat jam 5 baru bisa mengerjakan pekerjaan sehari hari. Jalanan tak begitu padat lagi. Saya menyusur United Nations Avenue terus ke Del Pillar. Agak memutar. Tetapi tak apa. Pengin mampir makan di Red Sea restaurant. Rumah makan Timur Tengah.  Hampir tiap akhir pekan makan disana. Biasanya bersama Nyi. Sabtu kemarin bersama tamu dari Korea. Si pelayan langsung tanya “Where is mom?”. Mungkin ragu ragu dia, saya datang dengan orang  lain. “My wife is in Oman”. Hari ini saya datang sendirian. Pertanyaannya sama juga “Where is your wife?”. “I told you she is in Oman. Give me egg plant saluna with lamb and ice tea”. Jawab saya singkat. Egg plant saluna with lamb, kesukaan saya, kesukaan Nyi, kesukaan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah sembilan baru sampai rumah. Petugas jaga Datoin,  giliran jaga malam. Dia memberi tahu kalau salah satu tutup lubang dongkrak mobil hilang. Dia memeriksanya sejenak dan kami bicara sebentar di lantai parkir. Tiba tiba terdengar langkah ringan menuruni tangga. Cynthia ternyata mau berangkat pergi. Terlalu dini, biasanya menjelang tengah malam baru berangkat. Berpakaian rok tipis setengah mini. Pakaian pesta. Agak menyolok.  Celah dadanya begitu rendah menantang. Gaun bawahnya setengah paha. Masih nampak seksi. Kulitnya halus bersih warna sawo matang.  Namun tak terkesan sudah lewat usia empat puluh. Masih menawan. Tak kelihatan letih kurang tidur seperti biasanya. Biasanya saya ketemu pagi hari. Terlihat kuyu kurang tidur karena dini hari dia baru pulang. Malam ini wajahnya nampak segar berseri dengan make up tipis. “ Hi Ki, come home late?”. “ Having a long meeting in the office”jawab saya. “No ballroom tonite KI “. “ No ballroom.  You have party ?”. Jawab saya sambil memancing. “Having a date. Life music ”. Jawabnya bisa ditebak. Dia pasti ke club Blue Moon.  Punya hubungan khusus dengan salah satu penyanyi pria di sana. Masih muda, sekitar awal tiga puluhan. Saya sering melihatnya  datang ke apartemen. Pria ganteng. Nampak maskulin dengan bangunan tubuh kokoh berotot. Tidak begitu lajim untuk pria Filipina yang selalu nampak lembut dan feminine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya. Cynthia baru saja resmi berpisah dengan suaminya Efren. Efren dapat pasangan baru. Gadis cantik umut 26 tahun. Nggak tahu apa alasannya, tetapi Efren dan pasangan barunya sering datang ke apartemen. Hanya bicara sebentar sama penjaga di lantai  bawah. Tak mungkin masuk ke apartemennya dulu. Sudah resmi pisah sama Cynthia.  Mungkin hanya pengin bikin panas  sang mantan isteri, Cynthia. Efren dan pasangan barunya sering ke karaoke di ujung jalan. Mungkin bernyanyi ria, lagu tentang cinta, tentang burung. Burung Kakak Tua, Burung Dalam Sangkar, Burung Nuri, Burung Camar. Pokoknya nyanyian burung. Nyanyian kebebasan. Kebebasan burung. Pernah menawari basa basi. “ Ki lets go karaoke”. “ Go ahead, Nyi is not around”. Mereka juga tak peduli. Ngapain saya ikut. Mereka baru in the mood. Pas panas panasnya, pasangan baru. Salah salah malah mengganggu mereka berdua atau jadi ingin meniru. Lebih baik menjaga jarak. Kalau perlu mengintip saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas  hari perpisahan mereka disahkan pengadilan, penasehat hukum Cynthia datang malam malam. Pulang pagi hari.  Biasa, konsultasi dengan penasehat hukum tak bisa cepat selesai. Bisa selesai setengah jam atau kurang, kalau kliennya wanita lanjut usia. Jika kliennya masih muda dan cantik, seperti Cynthia, apa lagi pas kesepian, konsultasi bisa berjalan semalam suntuk. Bisa dipahami, cuma susah ditiru. Alasan bisa di bikin. Menyelesaikan semua transaksi hukum. Menelaah kembali adakah kekeliruan dalam proses pengadilan. Apapun alasannya mereka juga nggak peduli. Yang penting semalam suntuk, titik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar baru Cynthia, si penyanyi tampan, hanya datang teratur sampai tiga minggu. Biasanya datang dini hari sampai tengah hari. Jarang saya bertemu kecuali di akhir pekan. Cynthia kadang kadang bertemu di lantai parkir pagi hari. Mengantar anak gadisnya turun untuk selanjutnya dijemput mobil sekolah. Seperti yang saya katakan, pagi pagi biasanya nampak kuyu dan lusuh. Hanya terbangun sebentar. Jadi kalau mau lihat  Cynhia dalam keadaan segar dan cantik ya pilih malam hari. Mungkin saat dia turun ke lantai bawah. Tetapi saya tak punya nyali. Paling kalau dengar dia buka pintu atau berjalan di koridor, saya hanya terbatuk ringan. Suaranya terdengar nyaring di  koridor “Hi KI”.  Perbedaan penampilan antara pagi dan malam ini tak sesuai dengan cerita guru saya waktu SMP di Ambarawa. Pak Ebi bilang, wanita yang benar benar cantik akan terlihat lebih anggun dan cantik saat  bangun tidur pagi hari. Tak bisa mengerti saya. Gimana kalau pas ngiler, mau kelihatan anggun dari mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tiga minggu, teman Cynthia berganti ganti. Semuanya hanya teman. Paling tidak teman kencan.  Kadang kadang anak muda, kadang kadang pria setengah baya atau lanjut usia. Tak begitu mengejutkan. Mungkin berkaitan dengan pergantian konsepsi atau pandangan pribadi. Memperluas cakrawala pertemanan dan perkencanan, menjelajah umur, dari yang muda sampai tua. Dalam dunia tinju ini masuk kelas penjelajah, cruiser. Dalam dunia asmara tak tahu namanya. Mungkin kencan lintas usia. Yang mengherankan pria pria ini tak hanya lewat tengah malam. Tetapi sering sampai pagi. Yang bikin keki, ada seorang pria usia lanjut yang kadang kadang saya lihat. Terkesan berganti pakaian sendiri saja sudah pasti kesulitan dia, tetapi ternyata masih berani juga semalam suntuk. Kalau pulang pagi kadang kadang bersamaan dengan saya turun. Magandang umaga. Selamat pagi. Jalannya tertatih di anak tangga. Saya masih lebih gesit menuruni tangga. Tetapi di tempat tidur mungkin dia sangat perkasa, bisa terbang membawa pasangannya terasa   melayang. Edaan. Jangan membandingkan, pikir saya.  Keberuntungan orang lain lain. Kadang datang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa minggu kemudian. Tamunya berganti lagi.  Selalu dalam pakaian formal. Pakai jas warna gelap, seperti seragam atau pakaian resmi. Bicaranya sopan dan gentle. Tak ada kesan urakan sama sekali. Kadang datang dan pergi diantar jemput mobil. Pria pria muda, tampan, gagah dan menarik. Tak pernah bertutur sapa langsung dengan saya. Hanya dengar kalau bicara dengan petugas jaga atau bicara dengan Cynthia di depan pintu. Suatu pagi saya bertemu salah satu dari pria itu di bawah. Good morning, sapanya sopan. Dia dijemput mobil warna putih. Sekali lagi Datoin yang buka kartu. He is a guest relation officer. Invited by Cynthia. Bukan teman kencan. Bukan client. Tetapi ternyata Cynthia yang jadi client bagi pria pria tampan itu. &lt;br /&gt;Cynthia masih muda.  Menarik dan cantik. Mau cari suami atau pasangan kohabitasi tetap kayak apa pasti tak akan susah. Tetapi pilihan orang memang bisa berbeda beda. Dia, paling tidak sementara ini, nampak menikmati kencan dengan  jasa GRO. Memang wanita kaya, bisa memilih siapa saja, kapan saja, manasuka.  Mau pilih pria yang tipe  apa, tinggal lihat gambar dan angkat tilpon. Disuruh apa saja, depan belakang, atas bawah, pasti menurut.   Tak ada pikiran buruk sama sekali. Pilihan masing masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sebelas malam. Suara mobil masuk garasi di lantai bawah. Suara Cynthia terdengar lembut sepanjang koridor. Bersama teman kencannya. Moga moga cepat dapat teman pasangan tetap yang didambakan. Apa yang kaucari ? Siapa yang kau nanti dan kau dambakan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang gumun,&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4189415245017832785?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4189415245017832785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4189415245017832785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4189415245017832785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4189415245017832785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/05/apa-yang-kau-cari-cynthia.html' title='Apa yang kau cari Cynthia?'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3302066005369847761</id><published>2010-05-07T21:22:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T21:30:18.440-07:00</updated><title type='text'>Sudah punya calon?</title><content type='html'>Jam dua siang siang di awal tahun 74. Saya selesai asisteren operasi di kamar bedah RS Bethesda, Yogyakarta. Sejak jam 11 tadi. Capai dan lapar,  buru buru ke kamar ganti. Tiba tiba Purwo masuk dan bicara keras. “ Ki ana wedokan nggoleki kono”. Ada perempuan cari kamu. Saya nggak percaya. Dia suka berolok olok dan angin anginan. Saya hanya bergumam. Tak perlu dilayani. Beberapa saat kemudian dia masuk lagi. “ Edan, dienteni wong ayu kok  jual mahal”. Dia nampak serius. Jarang dia bersikap begitu. Saya terkesiap. Tak ada janji. Tak ada agenda ketemu   teman apa lagi wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya keluar masih dengan pakaian putih.  Ada seorang gadis duduk di bangku panjang. Dia memakai terusan warna biru. Rambutnya terurai indah.  Wajahnya memerah. Nampak gelisah. Dia diantar temannya. Ingatan saya berputar cepat. Oh ya, mahasiswi  AKUB yang saya kenal beberapa waktu lalu. Belum sampai tahap serius. Masih surat suratan biasa. Belum tersirat pesan pesan romantis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ki apa kabar?”.  Dia menggenggam tangan saya dengan erat. Saya masih terkejut. “Hi Lin, kapan datang ?”. Dia nampak kikuk dan tergesa. “ Baru tadi pagi. Saya di Yogya hanya beberapa hari. Sabtu pulang lagi”. “Kenapa tergesa?” Saya bertanya sekenanya. Belum hilang rasa terkejut saya. “ Hanya mengurus ujian. Datanglah ke rumah sebelum hari Sabtu”. Saya hanya mengangguk ringan. “O iya, kenalkan teman saya Roni”. Roni teman satu kota dan satu kuliah dengan Lina. Hanya beberapa menit. Tak ada lima menit. Lina tergesa pamitan. “Datang ke rumah sebelum Sabtu ya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan menjauh sepanjang koridor rumah sakit. Saya tertegun memandangnya. Kecewa nggak bisa menahannya lebih lama. Hati saya tergetar ingat tatapan  matanya. Menembus dalam ke lubuk hati saya. Ada rasa aneh berdesir di rongga dada. Tiba tiba Purwo keluar dengan pakaian dan topi putihnya. Dia nggak tugas jaga. Pasti mau berlagak dengan pakaian itu. “ Jangan sok jual mahal sama wanita Bung. Jaman sekarang emansipasi, wanita berhak memilih”. Dia memang suka bicara. Mengenai apa saja. Selalu di atas angin.  “ Kau calon dokter Ki, sama wanita harus gentle. Jangan sok jual mahal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau nggak di counter sejak awal, pasti satu sore dia akan ceramah bagaimana harus bersikap gentle terhadap wanita.  Semalam berjam jam berceramah ke teman yang lain, Jito, tentang tata krama  berpacaran. Hanya karena Jito tak sengaja cerita sudah mengapeli gadis berbulan bulan, baru berhasil menggenggam tangan. “ Bibirmu perlu operasi plastik bung. Mungkin jaringan bokong yang ada dibibir itu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ingat apa saja yang dikatakan Purwo di koridor itu.  Pikiran saya masih tertuju ke Lina, mahasiswa AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Saya bilang ke Purwo sekenanya. “ Dia calon isteri saya. Ibu saya sudah setuju”. Purwo yang tadi bersuara lantang, mendadak terdiam. “ Sungguh? Serius?” Tanyanya tak percaya. Dia terdiam beberapa saat.  Saya tak tahu kenapa. Purwo berpenampilan menarik. Tinggi dan berpenampilan tampan. Bolak balik ganti pacar. Terakhir pacaran sama adik kelas. Anak seorang dokter  ternama. Oomnya Purwo juga dokter bedah terkemuka. Saya dengar Purwo ditinggal pacarnya. Pria yang nyamperin pacar Purwo naik mobil Fiat. Desas desus beredar keras “ Si Purwo kesrempet Fiat”. Tetapi tak urusan. Tak mungkin patah hati dia. Nilai jualnya tinggi. Kalau mau ganti pacar tiap minggu pasti bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kamar istirahat. Kami tak banyak bicara. Hanya sekali Purwo bertanya. “Kau serius itu calon istrimu”.  Saya menjawab sekenanya “Iya sudah mantap. Mau cari yang kayak apa lagi”. Hari Jumat sore saya menyempatkan ke rumah Lina di dekat bioskop Permata. Hanya bertemu sejenak. Belum terasa istimewa. Tetapi dia menggenggam tangan saya erat sekali saat saya pamit. Desir aneh merambat di rongga dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian kami co-schaap di Bagian Anak di RS Pugeran Yogya Selatan. Tak dalam satu rombongan dinas jaga dengan Purwo. Seperti biasa dia selalu vibrant dan banyak bicara. Di suatu siang saya menerima seorang  pasien anak menderita demam berdarah. Masih kelas satu SD. Kiriman dari RS Bantul. Masih ingat benar wajah anak kecil itu. Lucu dan tampan dengan senyuman khas walau wajahnya memucat. Tak menangis waktu saya pasang infuse. Wanita muda yang mendampingi nampak  tak tega. Dia meneteskan air mata melihat si pasien  terpasangi infus. “ Anda siapa zoes?”. “Saya kakaknya Dok”, jawabnya setengah menangis rintih. “Tak apa apa. Kondisinya stabil. Anda masih kuliah ? “.  Saya mulai percakapan basa basi. Wajahnya nampak kuyu seperti memendam kesedihan yang dalam. “ Saya di  Ekonomi  Bulaksumur”. Kaget saya. Berarti sama sama atau satu tahun di bawah saya. “ Jangan panggil saya Dokter. Kita mungkin teman satu angkatan”.  “ Wajah anda sedih sekali. Jangan khawatir adiknya segera sembuh”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu kalau  satu angkatan, kami larut dalam pembicaraan yang akrab. Dia memanggil nama saya. Saya memanggil namanya Lili. Wajahnya cantik sekali. Perawakannya semampai seperti peragawati, Okky Asokawati. Baru sadar  saya jika pernah melihatnya di acara ratu kampus. Dia salah satu nominasi ratu kampus. “Lili anda pemenang ratu kampus beberapa bulan lalu?”. “ Ah hanya sekedar ikut. Runner up”. Kami terlibat dalam pembicaraan akrab. Bahkan dia cerita baru ada masalah. Baru saja putus ditinggal pergi sang pacar. Lulusan Fakultas Teknik Bulak Sumur. Batin saya, insinyur bloon, pacar secantik Lili kok ditinggal pergi. Kami terlibat sendau gurau ringan. “Ki carikan dhong kalau ada teman”. “ Wah stok pejantan, disini masih banyak. Diobral”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya saya ketemu Purwo. “Bung pasien saya kakaknya cantik sekali. Runner up ratu kampus. Katanya baru saja putus. Kosong bung”. Purwo yang biasanya begitu perkasa dan percaya diri, tak begitu antusias. Mungkin kehilangan pacar kesrempet Fiat itu membekas benar dampaknya. “Serius Bung. Kalau anda minat, nanti jam dua datang ke kamar 101. Dia pasti menunggu adiknya setelah pulang dari kampus”. &lt;br /&gt;Siang itu saya  dinas jaga. Jam setengah dua saya masih di bangsal dengan Santo, teman satu grup jaga. Hanya ada beberapa pasien yang perlu pengamatan tiap jam. Terutama pasien demam berdarah dan diare. Saya lihat Lili menunggu adiknya di kamar 101. Saya menghampirinya beberapa saat kemudian. Adiknya sudah jauh lebih baik. Makannya juga hampir normal kembali. Belum sempat ngobrol dengan Lili. Hanya bicara tentang kemajuan adiknya, ketika pintu diketok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Purwo berdiri di muka pintu. Aneh luar biasa bagi saya. Biasanya dia begitu gagah dan percaya diri. Pakai jas putih dengan kerah setengah berdiri. Tangan selalu tercekak dipinggang atau digendong dibelakang untuk meningkatkan wibawa. Kali ini dia datang tanpa pakaian seragam dokter. Wajahnya jauh dari percaya diri. Senyum kecut menghias bibir. Wagu ingah ingih. Tangannya tidak dipinggang, juga tidak di punggung. Tetapi kedua tangannya  saling tumpang di muka selangkangan. Seolah ketakutan burungnya akan hilang. Baru sekali ini saya melihat penampilannya begitu jauh dari percaya diri. Saya ingat bajunya warna kotak2 hitam  dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hi Bung selamat siang. Ada keperluan khusus?”. Saya bertanya basa basi. Dia semakin merunduk mendengar pertanyaan saya. Sementara Lili nampak kebingungan melihat sikap saya. Masih ingat benar jawabannya “ Lho katanya saya tadi disuruh ke sini?”. Ini kesempatan saya di atas angin. Biasanya saya selalu kalah atau mengalah. Di kamar pasien ini, sayalah yang punya otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Anda pengin kenalan dengan Lili kan ?. Bilang saja terus terang, nggak usah senyam senyum kayak gitu”. Lili tersipu dan tak tahu apa maksud percakapan ini. Saya juga belum sempat memberitahu kalau ada teman yang pengin kenalan. “Lili, ini teman saya namanya Purwo. Dia pengin sekali kenalan dengan anda. Saya sudah cerita ke dia siapa anda”. Mereka bersalaman malu malu. Seperti pacaran jaman Siti Nurbaya. Saya berseloroh. “Bung kalau memang berani anda bilang terus terang to the point. Jangan buang waktu”. Kami terlibat pembicaraan singkat hanya sebentar. Saya kemudian pamitan ke kamar. Tak lama kemudian, Purwo masuk menyusul. “ Ki saya ganti jaga malam ini”. “Terima kasih kalau mau jaga. Tetapi hari anda jaga sendiri saya nggak mau ganti”. Pikir saya dia yang butuh, pasti mau dia. Purwo paginya cerita kalau Lili dan dia sepakat untuk serius. Hanya bertemu sekali. Langsung sepakat ke pokok masalah. Mau berhubungan serius. Adik Lili hanya empat hari di rawat. Lili tak lagi datang ke rumah sakit. Purwo juga jarang datang tugas. Waktu ketemu dia bilang. “Saya pengin istirahat dulu. Mundur beberapa bulan lulus dokter tak apa apa. Demi Lili”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Lina kawin duluan. Sebulan sesudah lulus dokter di tahun tujuh lima. Sampai sekarang. Saya tak banyak ketemu Purwo sesudah itu, tetapi dia dan Lili kawin beberapa bulan sesudah kami. Purwo juga lulus dua bulan sesudah saya. Lili nampak begitu jelita mendampingi saat dia di sumpah. Kami tak banyak bertemu lagi. Saya bertemu Purwo di tahun 1984 setelah pulang dari Inggris. Saya mampir ke rumahnya di daerah Priok. Anaknya dua gadis gadis kecil yang jelita seperti ibunya. Lili masih main tennis waktu itu. Tak ketemu. Pertemuan saya terakhir di tahun sembilan puluh. Dia nampak tak setegar dulu. Mungkin kelelahan karena pasiennya begitu banyak. Beberapa tahun kemudian saya menerima berita mengejutkan Purwo telah tiada. Selamat jalan kawan. Damai yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis catatan ini dengan rasa heran. Di jaman itu hampir empat puluh tahun lalu, tak ada cell phone, tak ada facebook, tak ada twitter. Tetapi anak anak muda bicara lugas apa adanya kalau cari pasangan. Anda sudah punya calon? Apakah minat  hubungan serius dengan saya?.  Di jaman kemajuan teknologi komunikasi jaman sekarang,  anak muda cari pasangan, bolak balik kok hanya titip salam. Salam kenal. Salam manis. Salam sayang. Salam rindu. Kakehan salam boo. Kapan kenanya.  &lt;br /&gt;Salam hangat buat anda anda yang masih mencari pasangan. Jangan banyak basa basi. Langsung ke pokok masalah. Sudah punya calon ? Anda minat serius  dengan saya ?&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3302066005369847761?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3302066005369847761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3302066005369847761' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3302066005369847761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3302066005369847761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/05/sudah-punya-calon.html' title='Sudah punya calon?'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6275890282876489574</id><published>2010-05-01T16:02:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T16:07:07.145-07:00</updated><title type='text'>Berpisah di simpang jalan</title><content type='html'>Tak ingat lagi kapan persisnya. Di suatu sore yang cerah kira kira tiga  tahun lalu. Saya bersama Nyi mau jalan jalan ke pantai Manila.  Di ruang  parkir lantai  bawah,  sepasang penghuni baru,  menyapa ramah “Selamat sore. Apa kabar ?”. Saya menjawab spontan “Magandang  hapon. Kabar baik. Kamusta?” Mereka baru masuk beberapa hari di apartemen sebelah.  Pintunya persis bersebelahan dengan pintu saya.  Mereka tahu mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia. Temannya banyak dari Indonesia sewaktu tinggal di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan suami isteri Efren Morelos dan  Cynthia Morelos.   Mereka baru kembali dari Amerika setelah tinggal di sana lima belas tahun lebih.   Kegiatan bisnis mereka dialihkan ke Manila dan menjangkau negara sekitar Filipina, seperti Palau, Papua new Guinea dan negara2 Pasifik lainnya. Bisnis generator dan alat berat. Pasangan suami isteri yang  rukun dan serasi. Umur mereka baru di sekitar pertengahan empat puluhan. Mereka mempunyai anak tunggal, masih duduk di SMP. Sering tinggal di asrama. Bisnis berkembang  bagus. Kehidupan mereka nampak makmur dengan gaya hidup flamboyant. Khas keluarga tingkat menengah atas  Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pria Filipina, Efren orangnya kalem dan ramah. Selalu menyapa bila ketemu saya. Senyumnya tak pernah lepas. Cynthia berpenampilan menarik. Gaya berpakaiannya sehari hari cenderung casual. Yang sering saya lihat pakai celana pendek ketat dan t shirt tanpa lengan. Modis dan seksi. Kami tak berhubungan lebih dekat. Hanya kadang kadang bicara bila bertemu di lantai parkir. Yang menarik saya mobilnya. Mereka mempunyai dua mobil, satu X trail dan satunya Moris model seperti mobil Mr. Bean.  Beberapa lama kemudian saya tahu kalau Cynthia, berasal dari keluarga kaya jaman Marcos. Sesudah kejatuhan Marcos keluarganya  pindah ke Amerika. Karena menyurutnya  ekonomi di Amerika, mereka  kemudian mengalihkan bisnisnya ke Asia dan kembali ke Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegiatan usahanya, Efren harus sering bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Mungkin sampai dua minggu dalam sebulannya. Kami pernah janjian mau makan malam dan ball room sama sama. Namun  tak pernah kesampaian. Jika di Manila, Efren sering hanya tinggal di rumah saja. Semua berjalan normal. Seperti halnya pasangan pasangan tengah baya pada umumnya. Selalu rukun tak pernah terdengar  suara mereka bertengkar, apalagi menjerit histeris. Semua berjalan biasa saja. Namun kira kira satu setengah tahun lalu, ada sedikit perubahan. Kami jarang lagi berjumpa di lantai parkiran. Di akhir pekan Efren keluar sendirian biasanya sekitar jam depalan atau sembilan dan pulang sekitar tengah malam. Cynthia sebaliknya berdiam diri di rumah. Namun menjelang  tengah malam dia keluar dan kembali dini hari. Tak ada suara berisik. Hanya saat mereka keluar dan masuk  apartemen, suara pintu sangat jelas terdengar. Juga saat mereka berjalan di koridor, selalu nampak dari jendela ruang depan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terpikir perubahan itu. Hanya suatu saat Cynthia secara tak sengaja menyapa di koridor “ Do you still go for ball room Ki ?”. “ Once and a while in the week end. Not more than two hours”. Dia cerita kalau sering ke salah satu bar dengan live music  di dekat apartemen. Hanya jalan 5 menit. Tak bicara lebih lanjut. Hanya kemudian acara ke bar tidak hanya di akhir pekan. Hampir  setiap malam. Efren juga secara teratur pergi lebih awal, pulang menjelang tengah malam. Di akhir pekan dia sama sekali tak pulang ke rumah. Berbulan bulan irama berjalan dengan tenang. Tak ada suara pertengkaran antara mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat saya melihat Efren bicara serius dengan Datoin, petugas keamanan, di lantai parkir. Efren kelihatan rusuh dan murung. Tetapi tetap tersenyum menyapa saya. Bahkan sempat ngobrol sebentar.  Kami secara sambil lalu bicara mau saling pinjam mobil selama week end. Saya boleh memakai Moris kecilnya. Dia akan pakai mobil saya. Saya sih senang senang saja. Walau merk Benz, pendinginnya selalu bermasalah. Tak pernah mengenakkan untuk ke luar kota. Malamnya Datoin cerita katanya Efren ketahuan sama Cynthia kalau punya teman wanita. Seorang  gadis cantik yang tinggal di Mandaluyong. Makanya dia sering keluar petang hari. “Babaero sir”. Babaero maksudnya sugar daddy.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis pertemuan itu saya jarang sekali ketemu Efren. Dia praktis sudah pindah tempat tinggal. Kedua mobilnya ternyata tak dibawa. Milik Cynthia.  Cynthia tetap asyik menikmati live musicnya. Selalu sampai pagi. Tak ada hak saya untuk menilai mereka. Kesukaan mereka berbeda. Efren suka musik klasik. Sering sendirian menonton  konser di Cultural Centre. Sementara Cynthia suka musik keras. Waktu dan tempat tak pernah pas. Musik klasik dan music keras. Satu di Cultural Centre, satunya di bar. Satunya petang hari, satunya lewat tengah malam. Mereka menjalani perbedaan dengan tenang dan damai selama bertahun tahun. Cuma di Manila resiko jadi lain. Pria segantheng Efren, dari kelompok menengah atas, sering sendirian, dengan cepat akan menjadi daya tarik gadis belia. Datoin bilang, teman wanita Efren masih berumur 26 tahun. Seorang sekretaris. Edaaan. Keberuntungan sering datang tak terduga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, selama tiga minggu persis, Cynthia tak pernah keluar malam hari. Mengurung diri di rumah sepanjang hari.  Datoin bilang katanya mereka sedang dalam proses pengadilan untuk bercerai. Ada detektif swasta yang selalu mengawasi Cynthia di depan rumah. Tak tahu untuk apa. Mungkin di pengadilan jika salah satu pihak berhasil megajukan bukti penyelewengan, mereka akan menang dalam  pembagian harta kepemilikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika proses pengadilan selesai, beritanya menyebar di apartemen. Dari petugas keamanan. “It is all over Sir. The Morelos, officially divorced”.  Petang itu Cynthia pergi ke luar.  Tak lama seperti biasanya. Jam sepuluh malam sudah kembali. Tidak sendirian. Bersama seorang pria setengah baya. Mobilnya Benz di parkir di lantai bawah. Saya melihatnya saat turun mau ke ball room. Menjelang tengah malam saat saya pulang,  mobil itu masih terpakir di sana. Dua orang pengawal nampak sabar menunggu.  Paginya Datoin cerita, tamu Cynthia adalah penasehat hukumnya. Baru jam tiga pagi meninggalkan apartemen. Konsultasi hukum memang bisa bertahan lama. Apa lagi kalau kliennya secantik Cynthia.  Edaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pekan saya ketemu Cynthia di lantai bawah. “  How is your ball room?  You still have  your ball room Ki ?”. Saya iyakan pertanyaannya. “ That’s good but not for me”. Tak apa apa. Saya juga tak bernyali mengajaknya kok belum belum sudah bilang duluan nggak minat. Belum tahu dia siape gue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingat saat saat pertama kami berkenalan dengan keluarga Morelos, pasangan yang nampak begitu serasi dan rukun, rasanya sayang sekali melihat mereka bercerai. Namun saya  menghargai mereka. Bercerai tanpa suara. Tanpa bertempur ramai ramai. Apa lagi sampai konperesi pers segala. Efren dapat teman baru. Sekretaris yang cantik. Cynthia dapat pasangan baru. Bukan penasehat hukum yang sudah setengah baya itu. Tetapi pemain live music di bar yang selalu dikunjungi hampir tiap hari. Juga lebih muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berani memutuskan hubungan perkawinan yang sudah berjalan hampir dua puluh tahun. Bersimpang jalan. Tanpa jeritan histeris, tanpa pertengkaran hebat yang mengganggu tetangga. Tanpa gebug gebugan dan saling menjelekkan. Hanya saling mengintai  dengan detektif swasta. Berpisah di simpang jalan dengan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6275890282876489574?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6275890282876489574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6275890282876489574' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6275890282876489574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6275890282876489574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/05/berpisah-di-simpang-jalan.html' title='Berpisah di simpang jalan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6374929364339703392</id><published>2010-04-27T22:20:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T22:21:24.795-07:00</updated><title type='text'>Selingkuh mengenal warna kulit</title><content type='html'>Minggu siang benar benar terik. Terseok kelelahan saya menaiki tangga menuju apartemen di lantai dua. Duduk sejenak di anak tangga. Baru saja selesai main golf di Philippines Navy dengan beberapa teman. Kebetulan ada kawan lama berkunjung. Dennis seorang guru besar dri Harvard. Sudah kenal sejak dua puluh tahun lalu di Yogya. Dulu kami sering terlibat dalam berbagai proyek dan penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hawa panas, hati terasa dingin. Sebelum main tadi saya berseloroh sambil melepas perang urat syaraf. “When the soil is hard and the weather is friendly, I am unbeatable”. Benar benar lega, karena salah satu teman, Gregg, handicapnya banyak dibawah saya (lebih baik), dan saya belum mengalahkannya selama berbulan bulan. Hari ini saya menang dengan 2 stroke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Excuse me, sir”. Tiba tiba dua wanita ingin lewat. Satu dari mereka membawa bayi kecil lucu. Khas bayi Afrikano. Melihat seragamnya, dia seorang baby sitter. Wanita yang satunya membawa tas. Mereka berdua turun menuju lantai bawah tempat parkir. Saya berdiri dan beranjak ke atas. Hanya beberapa anak tangga. Terkejut luar biasa ketika seseorang menegur “Hi Ki. Long time no see”. Saya tergagap menjawab sekenanya. “Hi”. Rasa terkejut tak terkendali. Tak bisa bicara sewajarnya. Seolah melihat sesuatu yang mencengangkan. Melisa nama wanita muda itu. Usia nya sedikit di atas tiga puluhan. Wajahnya putih bersih. Kulitnya halus bak pualam. Suaminya seorang pensiunan warga Amerika. Mereka tinggal di apartemen di atas apartemen saya. Saya sering bertemu mereka dan say hallo setiap bertemu di lantai bawah. Tak kenal dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kecantikannya yang membuat saya terpana tanpa suara. Bukan pula kulitnya yang putih bagai pualam yang membuat saya tergagap seribu bahasa. Tetapi bayi lucu bertampang dan berkulit Afrikano itulah yang membuat saya terhenyak. Semenjak dia melahirkan kira kira enam bulan lalu, saya tak pernah berjumpa dengan pasangan itu. Hanya kadang2 terdengar tangis bayi lirih dari lantai di atas saya. Beberapa kali si Daten, petugas keamanan di bawah, yang sering saya minta nyopir mobil saya, suka bilang “ Sir, the baby of Mr. Hodge is Afrikano”. Mr. Hodge adalah suami Melisa. Orang Amerika kulit putih asli ras Kaukasoid. Bukan African American. Tak pernah saya hiraukan cerita petugas itu. Kalau diituruti tak akan ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Melisa dan Hodge nampak rukun dari luar. Walau mungkin tak terlalu serasi. Beda usia terlalu jauh. Tetapi bukan hal yang aneh. Banyak pasangan beda usia jauh. Terutama dengan wanita belia. Asal suka sama suka. Mungkin terikat dalam perkawinan. Mungkin hanya kohabitasi atau hidup bersama. Yang penting ada jaminan hukum. Di Yogya NYI juga pernah bertemu seorang wanita pengusaha kaya umur 65 tahun yang bersuamikan sambungan umur 33 tahun. Beberapa teman saya ekspat yang berusia di atas setengah abad, juga beristerikan sambungan wanita belia. Hak pribadi masing masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi lucu bertampang dan berkulit Afrikano tadi adalah bayi Melisa dan Mr. Hodge. Lo kok bisa? Tak bisa dijelaskan dengan gamblang. Setahun lalu saya ingat sewaktu Mr. Hodge berlibur kembali ke negaranya, Melisa sering menerima teman. Kadang2 tinggal beberapa hari. Seorang Afrika yang tampan. Kebetulan setiap lewat unit saya di akhir pekan, saya tak sengaja sering melihatnya melewati tangga yang sama. Sekali lagi, Daten si petugas itu yang suka komentar. “Mrs. Melisa has an Afrikano friend”. “ How come ? Melissa and Mr. Hodge are good couple”. “ Pakitang tao Sir”. Nampak bagus di luar belum tentu nyata di dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu ditinggal suaminya libur selama sebulan pulang ke negara asalnya, Melisa katanya juga berlibur dengan teman Afrikano itu ke Boracay. Cerita yang beredar di kalangan petugas keamanan. Saya tak pernah terpikir waktu itu. Hanya sering melamun (ngudoroso, Jawa). “Aja kagetan. Aja gumunan. Aja dumeh. Aja meri”. Jangan kaget. Jangan terkejut. Jangan sok. Jangan iri. Semua sudah ada tempatnya masing masing. Sudah menjadi jalan dan keberuntungan masing masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelahiran bayinya, baik Mr. Hodge maupun Melisa jarang nampak keluar. Apa lagi bersama. Nggak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Siang kemarin pertemuan saya yang pertama sejak kira kira enam bulan lalu dengan Melisa. Sesudah duduk sebentar minum air dingin di ruangan, barulah saya bisa menarik benang merah cerita cerita yang saya dengar sayup sayup dari petugas keamanan Daten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya melayang ke belakang. Sewaktu kuliah genetika di tingkat satu di tahun 69. Dosen favorit genetika bertampang simpatik dan ngganteng. Saat memberr kuliah, dia menceritakan satu kasus yang dilaporkan di tahun enam puluhan di Amerika. Ada sepasang bayi kembar dari pasangan kulit putih. Bayi yang satu benar2 asli ras Kaukasoid (kulit putih). Tetapi yang satunya masuk ras Negroid (kulit hitam). Dan wanita itu mengaku dalam wawancara kalau dia memang berselingkuh dengan seorang Afrikano. Bukan hal yang sulit dijelaskan secara genetika dan secara biologis.Kembar dizygotik dengan dua telor. Masing masing dibuahi oleh sel sperma yang asalnya berlainan. Mungkin agak sukar dimengerti saja. Yang saya herankan kok ya bisa bisanya ngepaskan gitu. Antara masuknya sel spermatozoa sang suami sama sang PIL (pria idaman lain). Edaaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahu apa yang akan terjadi dengan pasangan Melisa dan Hodge. Urusan mereka pasti mereka mampu mengambil jalan keluar. Yang susah kalau banyak orang ikut campur. Selama enam bulan ini mereka nampak tenang di apartemennya. Mereka pasti bisa mencari jalan terbaik. Cinta memang tak pernah mengenal perbedaan umur maupun warna kulit. Hanya perselingkuhan saja jika tak hati hati bisa terpengaruh perbedaan warna kulit bo. Tak ada maksud untuk menghujat siapapun dalam tulisan ini. Hanya ungkapan keterpanaan semata mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai. Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh lan aja merinan.&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6374929364339703392?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6374929364339703392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6374929364339703392' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6374929364339703392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6374929364339703392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/04/selingkuh-mengenal-warna-kulit.html' title='Selingkuh mengenal warna kulit'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-7562164255143349771</id><published>2010-04-24T01:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T01:19:39.002-07:00</updated><title type='text'>Wewangian Arab</title><content type='html'>Bulan April di Muscat. Hawa musim panas membakar di siang hari. Seharian saya di rumah sama cucu. NYI sering ikut keluar. Antar jemput Laras, cucu sulung. Dia masih di play group. Saya banyak bermalasan di rumah.  Hanya kadang ikut  jalan jalan di sore hari. Hawa lebih sejuk dengan angin bertiup sepoi. Sore itu kami berenam ke  pantai di Mutrah, 20 km dari rumah. Bersih dan teratur. Kami menuju pasar tradisional. Sangat tertata rapi dan bersih. Muscat sangat siap menyambut turis. Dalam kampung dengan gang2 sempit, berderet segala macam toko. Menjual apa saja, mulai perhiasan emas, karpet, kerajinan, dan lain lain. Orang Oman juga sangat ramah dan membantu terhadap pengunjung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Swiss Arabia. Nama salah satu toko wewangian, menarik perhatian saya. Sejak mendarat di bandara Muscat, saya mencium bau wangi yang kuat. Nyi bilang kalau pria Arab biasanya selalu rajin pakai wewangian. Penjaga toko nampaknya orang India. Setiap ditanya selalu mengiyakan dengan menggelengkan kepala. “Do you have a real traditional Arab perfume?”“ Yes Sir. I have plenty. Natural Arabian essential oil”. Minyak essensial adalah minyak aromatic dari tanaman atau bunga bungaan. Biasanya dibuat dengan proses destilasi. Bedanya dengan parfum modern yang biasa kita pakai, wewangian minyak essensial ini masih asli,  tidak tercampur alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ This perfume is perfectly suitable for man. It also attracts ladies. Beautiful ladies only”. Bicaranya meyakinkan sekali. NYI menggumam “ Gombal, nek tuku cepet wae tuku”.  Saya pilih satu. Baunya lembut menghanyutkan. Lupa dari bunga apa. Tawar menawar sebentar, 100 cc hanya dua puluh enam dolar. Dikasih bonus tiga botol kecil wewangian a 15 cc, dalam kotak kecil yang menarik. “Beli sekalian untuk oleh oleh” NYI menyarankan. Ragu ragu saya. Oleh oleh kok minyak wangi. Terlalu pribadi. Sore itu hanya duduk duduk dipantai. Menikmati angin laut.  Akhirnya makan malam di rumah makan Turki. Sempat lihat babut (karpet)  sutera dari Esfahan Iran. Indah sekali. Koleksi saya hanya dari Tibet sama Kashmir. Pengin tambah koleksi sutera. Perlu survei dulu karena mahal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu tertidur pulas. Pagi pagi dikejutkan dengan teriakan Laras  “Ki sama NYI kok tidur melulu sih”. Jam 730, biasanya Nyi ikut ngantar dia ke sekolah. Nyi selalu bangun pagi. Jam lima terus solat. Kali ini ketiduran sampai siang. Saya pikir karena capai semalam jalan jalan. Atau masih jetlag. Pikiran saya melenceng. Jangan jangan karena wewangian Arab itu. Semalam saya coba sebelum tidur. Siapa tahu bisa mimpi indah. Edaaaan. Siang itu saya bilang. Pengin ke Mutrah lagi. Lihat babut sutera itu. Tetapi sebenarnya juga pengin beli wewangian itu lagi untuk oleh oleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang tiga hari kami kembali ke Mutrah. NYI akan dihadiahi anak saya Wisnu sama Indri. Mereka ke toko emas yang berjajar di lorong lorong sempit. Tetapi sangat teratur. Emas Arab katanya lebih bagus. Tak tahulah. Saya tak paham. Saya mampir ke toko Swiss Arabia. Penjaganya kali ini bukan pria India itu. Seorang wanita Oman. Masih muda. “ Can I have the same traditional Arabic perfume ? The one that attracts ladies”. Dengan tenang dia menjawab. “Certainly Sir. Not only ladies, but also bull, camel and goat”. Mungkin menyindir, mungkin bercanda. Tak usah dipikirin. Saya pilih minyak jasmine. Bisa untuk pria dan wanita.  Beli beberapa botol kecil untuk oleh oleh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu pulang ke Manila tak berani saya bawa botol botol parfum itu di tentengan. Resiko. Saya pernah lihat orang Indonesia pulang dri Timur Tengah, parfumnya disita di Changi. Hanya 100 cc yang boleh di bawa. Saya masukkan bagasi bersama babut sutera Persia itu. Koleksi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu berikutnya, hari  Senin di kantor Manila.   Nara, kolega baru ahli bahan alam, yang ketemu pertama kali. Dia dari Asia Tengah, didikan Jerman. Suaminya seorang geolog didikan Rusia. Strong personality. Sewaktu saya kasih minyak itu dia lantas cerita panjang lebar. Sejak diketemukannya  teknologi destilasi untuk ekstraksi minyak aromatik bunga bungaan,  kemudian manusia memakai minyak wewangian untuk parfum, perselingkuhan dan penyelewengan merebak dalam kehidupan manusia.. Katanya instink manusia terhadap pheromone alami jadi buyar. Pheromone adalah senyawa biologis endogen yang dikeluarkan dalam bentuk bau yang khas, berkaitan dengan hubungan sosial, terutama hubungan cinta pria dan wanita. Pasangan pasangan akan saling terikat dalam hubungan cinta yang langgeng karena sensasi bau yang khas yang keluar dari masing masing anggota pasangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pheromone hanya dikeluarkan dalam hubungan dalam satu spesies. Jadi tak mungkin pria yang memakai minyak essensial Arab itu juga akan menarik onta, kambing atau sapi. Sendiri sendiri pheromonnya. Amatilah sebelum kuda, kambing, lembu atau anjing itu bercinta, si jantan akan mengendus endus hidung dan mulutnya di daerah kemaluan pasangan wanitanya. Sebenarnya dia ingin mencari bau pheromone alamiah dari pasangannya. Jika bau itu tak terdeteksi, mungkin hubungan seksual  bisa batal atau tak mencapai intensitas puncak. Juga jangan berang  jika pasangan pria anda nyungir nyungir hidungnya saat mau bercinta. Dia sebenarnya sedang mencari bau pheromone alamiah anda. Mendeteksinya dan membedakannya dari berbagai bau parfum yang anda kenakan. Mungkin pertanda kesetiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teknologi destilasi manusia menemukan minyak essensial bunga bungaan. Dipakai sepanjang jaman sebagai wewangian dalam tata pergaulan sehari hari. Implikasinya tak tersadari.  Kemampuan instink untuk membau pheromone alamiah pasangan cinta jadi kabur. Karena begitu banyak bau yang membanjiri kehidupan manusia. Entah namanya parfum, entah pheromone sintetik komersial. Perselingkuhan dan penyelewengan meraja lela. Spesias spesies lain, seperti burung dara, kuda, onta mungkin tak ada istilah perselingkuhan. Tak ada kemampuan memanipulasi bau pheromone alamiah. Jangan ganti ganti parfum atau wewangian. Pasangan anda bisa bingung atau pura pura bingung. Kalau bercinta terus nyungir nyungir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take it easy. Hanya lamunan maya. Salam damai.&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-7562164255143349771?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/7562164255143349771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=7562164255143349771' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/7562164255143349771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/7562164255143349771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/04/wewangian-arab.html' title='Wewangian Arab'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2710931605160872804</id><published>2010-04-21T13:13:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T13:15:09.424-07:00</updated><title type='text'>Nama saya Richie</title><content type='html'>“You must be excited to go home, kuya”. Sapanya ramah ketika kami sama sama  boarding di bandara DOHA. Hari Sabtu minggu lalu. Dalam perjalanan menuju Manila dengan maskapai Qatar Airways.  “My name is Richie. Richie Alvares”. Sapanya lebih lanjut.  Campur antara Tagalog dan Inggris. Kuya adalah sebutan untuk kakak. “Would you speak in English, please. My Tagalog is very limited”. Saya membalas ringan. “ I am sorry, I thought you are Filipino”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menata begasi dia terus bercerita dengan ceria. Kontraknya di DOHA habis, harus pulang dulu ke Filipina. Nanti akan balik lagi dengan sponsor baru. Tak sempat bertanya kerjanya di mana. Juga tak berniat bercerita banyak. Rasanya masih capai menunggu di bandara selama lebih tujuh jam. Tak ada fasilitas eksekutif. Perjalanan pribadi, maunya irid. Kemudian wanita muda tadi terlibat pembicaraan hangat dengan penumpang disampingnya. Seorang pria Filipina dan satunya seorang Iran yeng berwajah seperti Farah Diba (isteri almarhum Syah Iran). Saya duduk di barisan kursi di seberang mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat belum take off juga. Saya lihat wanita muda itu saling tukar alamat dengan penumpang2 sebelahnya. Tak ada yang istimewa. Tiba tiba dia bilang ke saya “ Hi kuya, here is my contact number. Can I have yours?. I may need your help”.  Dia menyodorkan kertas tissue dengan nama dan nomer hand phone. Dan minta saya menulis nomer tilpon saya di kertas tissue. Ball point saya kebetulan nggak bagus untuk kertas tissue. Tanpa pikir panjang saya berikan kartu nama saya. Kartu nama resmi dengan alamat kantor dan nomer tilpon.  Baru kemudian terpikir kalau hal itu tak pernah dibenarkan oleh kantor karena alasan keamanan. Namun tak saya pusingkan. Saya toh tak ada maksud apa apa. Dan saya juga banyak kenalan di Manila. Mau ketipu dari mana? Saya pernah kecopetan saja di Geneva,  Beijing dan Los Angeles. Belum pernah di Manila setelah 11 tahun di sana. Tak ada jeleknya kalau bisa menolong, pikir saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggunya saya beberapa kali terima teksnya. Hanya courtesy message. Saya balas dengan ringan. Mulanya biasa saja. Tetapi hari Senin, mulai aneh pesan pesannya. Pengin ketemu. Saya bilang saya sibuk selama hari kerja. Week end ada waktu di hari Sabtu. Saya biasa makan siang di Pan Pacific hotel karena Nyi tidak di rumah. Dia tinggal di Oman beberapa minggu. “I would be happy to have lunch with you this Saturday. Your Iranian friend is most welcome”. Siapa tahu si Farah Diba mau ikut. Bisa foto sama sama, pasang di FB. Edaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin tak ada cerita apa apa yang istimewa. Banyak pesan masuk. Banyak tilpun masuk. Sebagian besar urusan kerjaan. Satu dua dari NYI. “Nek ballroom pasangane ganti ganti lo. Aja wong siji terus terusan”. Pesan rutin, saya iyakan selalu. Tadi malam mulai terima teks aneh aneh dari Richie. Butuh ketemu sekali malam itu. Ada masalah besar. Pikir saya, saya juga tak lepas dari masalah. Tak saya perhatikan pesan pesan itu. Hanya sesekali saya balas ringan dan sopan. Jam tiga pagi tiba tiba saya dikejutkan suara tilpon. Saya lompat setengah mati, saya pikir tilpun dri Nyi. Mata masih kabur tak bisa lihat nomernya. Di seberang sana suara wanita. Suara Richie. Parau dan nggak karuan. Dia mabuk. “I need your help please. I am in Malate. I need some money”. Saya juga tinggal di Malate. Saya katakan, jangan tilpun saya malam malam gini. Teksnya masih beberapa kali datang sampai jam 5 pagi. Tak saya layani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi saya datang di kantor dengan rasa  kantuk. Saya serahkan nomer tipon Richie ke  sekretaris saya. Please take care and advise her not to disturb me. Sekretaris saya bilang katanya Richie marah sewaktu dibilang jangan tilpon lagi. “Don’t bother, everybody has her/his own reason to be upset”. Saya juga tak peduli. Maksud saya baik. Saya percaya dan menghormati dia walau hanya bicara sesaat. Dia yang tidak menghargai nilai persahabatan. Saya selalu menghormati nilai persahabatan. Tak pernah saya menyalah gunakan persahabatan untuk kepentingan macam macam. Good bye Richie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2710931605160872804?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2710931605160872804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2710931605160872804' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2710931605160872804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2710931605160872804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/04/nama-saya-richie.html' title='Nama saya Richie'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-8570308733664564070</id><published>2010-04-17T03:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-17T03:15:54.483-07:00</updated><title type='text'>Cerita lewat dunia maya</title><content type='html'>Terasa ada sesuatu sesuatu yang hilang. Sejak beberapa bulan terakhir tak sempat lagi menulis dan bercerita di dunia maya. Hanya karena kesibukan semata. Mungkin juga karena jenuh dalam keheningan yang  dalam.  Tanpa sapaan, tanpa ungkapan. Hanya lamunan yang  melanglang.  Mencoba lagi untuk menulis ketika ada teman maya yang menanyakan kelanjutan cerita yang belum selesai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa bersalah yang menyelinap. Seperti beberapa tahun lalu ketika tak mampu lagi meneruskan tulisan “ Cerita dari balik rembulan”.  Cerita tentang kisah perjalanan yang selalu saya sampaikan ketika pulang. Ketika anak anak masih kecil. Ketika Moko masih ada di antara kami. Saya selalu menikmati matanya yang berbinar mendengarkan cerita cerita saya. Ketika dia pergi, saya ingin merangkai kembali cerita cerita itu. Dengan harapan moga moga dia akan mendengarnya dari balik  rembulan.  Saya berjanji untuk menulisnya kembali cerita cerita itu. Tetapi ketika tak ada kemampuan lagi untuk merangkainya, untuk menulisnya, ada rasa bersalah yang mendera. Tak bisa memenuhi janji  itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbulan bulan terhenti meneruskan cerita perjalanan cinta dua manusia, Bramantyo dan Pipit Rosalina, saya merasa bersalah kepada pasangan  yang sebagian besar kisah hidupnya telah mengilhami cerita itu. Pasangan itu juga sudah pergi selamanya.  Saya bersalah tak mencurahkan kisah cinta mereka yang langgeng dalam cerita saya “ Kasih Menyusur Waktu”. Saya tak bergeming ketika seseorang memberikan komentar cerita cinta itu berbau picisan.  Saya tidak peduli. Mengungkapkan kisah sepasang anak manusia menyusuri perjalanan kasih mereka  yang abadi , bukanlah hanya monopoli seorang  sastrawan. Saya bukanlah  siapa siapa. Bukan sastrawan yang ingin dipuja. Saya hanya  seorang manusia yang ingin mengungkapkan cerita tentang perjalanan hidup. Perjalanan Bramantyo dan Pipit Rosalina, yang tokoh tokoh aslinya telah tiada. Dan saya merasa lebih bersalah ketika terhenti. Ketika tak mampu lagi meneruskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merasa bersalah terhadap mereka yang telah  berbaik hati dan meluangkan waktu membaca cerita saya. Seolah meninggalkan mereka dengan tanda tanya.  Tentang kelanjutan kisah itu. Hari hari ini saya mencoba lagi untuk merangkai kata. Untuk meneruskan cerita. Untuk menyapa mereka. Meskipun hanya lewat dunia maya. Dunia tak berbatas. Tak bertepi.  Keberadaan manusia hanyalah partikel  yang teramat kecil dalam jagad raya.  Mungkin hanya dengan cerita cerita itu orang akan ingat  akan keberadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai dari Muscat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-8570308733664564070?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/8570308733664564070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=8570308733664564070' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8570308733664564070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/8570308733664564070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/04/cerita-lewat-dunia-maya.html' title='Cerita lewat dunia maya'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5120404530118201551</id><published>2010-04-16T23:25:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T23:28:04.726-07:00</updated><title type='text'>Kami mau ke Larnaca</title><content type='html'>Jam menunjukkan pukul  tiga sore. Anak muda itu nampak sibuk di note booknya. Perawakannya tinggi, tegap. Dia berdiri di samping saya di ruang internet bandara Doha. Saya pikir orang Filipina. Tak sempat bicara. Sibuk dengan komputer masing masing. Sejenak kemudian seorang temannya mendekat. Mereka bicara berbisik. Bukan bahasa Tagalog. Saya tak bisa menduga duga. Tiba tiba salah satu terbatuk ringan.&lt;br /&gt;"Wah masih bathok". Saya tersadar mereka dari Indonesia, persisnya dari Bali. Orang Bali biasanya tak bisa bilang batuk, tetapi bathok.&lt;br /&gt;" Wah sampeyan dari Bali Bung".&lt;br /&gt;"Iya pak kami berdua dari Bali".&lt;br /&gt;"Mau pulang ke Denpasar?".&lt;br /&gt;"Kami akan ke Larnaca"&lt;br /&gt;"Di mana itu?" Saya tak ingat secara langsung nama kota Larnaca di mana.&lt;br /&gt;"Di Siprus. Sejak pagi tadi sudah nunggu. Connecting flight nanti jam empat tiga puluh lewat Libanon".&lt;br /&gt;" Mengapa lewat Lebanon? Suasananya tak bisa di prediksi".&lt;br /&gt;" Kami menerima tiket yang sudah diatur agen".&lt;br /&gt;" Tugas di mana bung?"&lt;br /&gt;" Kami kerja di kapal pak".&lt;br /&gt;' Selamat jalan. Semoga sukses selalu ya. Hati hati lewat Lebanon".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya sempat bicara tak lebih tiga menit. Tak sempat berkenalan. Tetapi dalam hati saya memuji semangat ke dua anak muda itu. Mungkin mereka meninggalkan anak istri demi masa depan mereka. Hidup memang perjuangan.  Ingatan saya melayang 30 tahun lalu. Di bandara Paya Lebar, Singapura, seorang Bapak usia di atas enam puluhan bertanya kemana saya pergi. Saya sedang dalam perjalanan ke Newcastle (UK). Hidup memang perjalanan panjang meniti impian.&lt;br /&gt;Selamat jalan anak muda. Semoga impian anda tercapai kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doha, 16 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5120404530118201551?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5120404530118201551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5120404530118201551' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5120404530118201551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5120404530118201551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/04/kami-mau-ke-larnaca.html' title='Kami mau ke Larnaca'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5297874987402941957</id><published>2010-01-29T23:34:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T23:38:11.589-08:00</updated><title type='text'>Angin lembut pagi hari - Mengenang Wasito</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S2PhivHQNTI/AAAAAAAAAJY/0x31H2ha--M/s1600-h/DSC00315.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S2PhivHQNTI/AAAAAAAAAJY/0x31H2ha--M/s200/DSC00315.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432433562417640754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Ceast19%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Ceast19%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Ceast19%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;ZH-CN&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:宋体; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari Sabtu menjelang petang di pertengahan tahun 1963. Saya pulang naik sepeda dari Ambarawa. Lupa urusan apa, mungkin pulang les sore hari. Kira kira jam lima sore. Sinar marahari mulai meredup. Angin bertiup ringan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hawa sejuk terasa segar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak banyak pencemaran kala itu. Sepanjang kiri dan kanan jalan masih rindang oleh naungan pohon pohon besar, pohon asam atau mahoni. Belum banyak rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebun kebun di tepi jalan masih rapat dengan pepohonan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Desa saya Ngampin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya berjarak kurang lebih tiga kilometer dari sekolah Taman Siswa di Ambarawa. Kala itu saya masih duduk di kelas satu SMP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya bersiul pelan ketika menuruni tanjakan di muka kerkop sebelum menanjak kembali memasuki desa Garung. Angin semakin terasa sejuk menerpa. Di sebelah kanan jalan terlihat hamparan teras indah persawahan di tanah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;miring desa Sumber.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tiba tiba di ujung jalan sebelum menanjak kembali saya melihat seseorang naik sepeda menurun dari arah berlawanan. Kami berpapasan di turunan jalan yang agak menikung. Dia juga bersiul ringan dengan wajah yang ceria. Tiba tiba pemuda itu melambaikan tangannya dengan ramah “ Haiiii”. Wajah yang saya sangat kenal. Mas Wasito, dua tahun di atas saya. Baru saja lulus dari SMP Pangudi Luhur siang. Dia tetangga dekat saya. Bapaknya adalah guru saya di sekolah rakyat, pak Darmowigoto.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya pikir dia telah berangkat pindah ke Solo meneruskan SMAnya. Ternyata belum berangkat. Berpakaian celana panjang warna hitam dan baju lengan pendek warna jambon ringan. Saya selalu mengagumi cara berpakaiannya yang selalu rapih dengan warna warna yang serasi. Sesuai selera dan imaginasi anak muda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mas Wasito orangnya ramah suka tersenyum. Wajahnya tampan dan lembut. Kami sering berolok olok kalau wajahnya tampan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;priyayi. Banyak teman sepermainan yang wajahnya bagus(tampan)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi tampan ndeso. Yang parah kalau wajahnya tidak tampan tetapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga ndeso. Maklum ini olok olokan kami teman teman sepermainan yang sama sama anak desa. Orangnya sabar tak pernah terlibat dalam keributan sama sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kadang kadang saya merasa iri oleh karena dia masih bisa sering menikmati jalan jalan dengan sepeda di sore hari di Ambarawa. Dengan baju dan celana panjang bagus. Di kelas satu SMP saya belum punya celana panjang. Sore hari lebih banyak bekerja entah mengurus pemerahan susu atau menarik uang langganan susu. Saya tak pernah ikut mengantar susu. Ada loper susu khusus namanya Reso Darman, yang kalau naik sepeda lambatnya tak karuan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sehari hari saya lebih dekat bergaul dengan Sunu, adik Wasito. Dia satu kelas dibawah saya di sekoah rakyat. Kami teman sepermainan. Dia yang cerita kalau Wasito akan meneruskan SMA di Solo, tinggal bersama kakaknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sunu sekelas dengan adik saya Gondo. Mereka berteman akrab sejak sekolah rakyat. Masih sering bertemu sampai sekarang. Sunu sekarang tinggal di Solo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Esok harinya, Minggu pagi. Udara cerah. Belum masanya musim kering yang panas. Tetapi sudah lewat musim hujan. Langit selalu nampak biru tanpa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersaput awan. Di selatan nampak sepasang gunung, terlihat kelam, Gadjah Mungkur dan Telomoyo. Saya sedang berada di kebun depan di samping gereja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari kejauhan saya melihat orang orang berjalan keluar selepas kebaktian gereja di pagi hari. Anjing anjing saya selalu melolong panjang ketika mendengar dentang lonceng gereja tua itu. Entah pagi entah sore. Pagi itu juga sama, anjing anjing saya melolong berkepanjangan. Saya melihat mas Wasito diantara orang yang pulang meninggalkan gereja. Dia tidak melihat saya oleh karena saya terlindung dibalik pepohonan yang rapat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selang beberapa lama kemudian, saya masih di kebun itu. Memangkas ranting ranting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muda yang tumbuh di batang pohon kopi Arabica. Di kebun itu memang hanya ditanami kopi jenis Arabica. Di kebun belakang dan sebelah Barat rumah, ditanami kopi jenis Robusta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penghasilan kopi dan pemerahan susu adalam sumber utama penghasilan keluarga saat itu. Tiba tiba saja terdengar orang berteriak menjerit dari rumah seberang gereja. Mungkin Kamto. “Ada orang jatuh. Tolooong”. Saya bergegas lari menyeberang halaman gereja. Banyak orang berlarian ke arah seberang selatan jalan. Saya lihat Kamto dan adik saya Gondo, ikut berlarian ke arah selatan. Ternyata semua berlari ke arah rumah mas Wasito. “Siapa yang jatuh?”. Saya merasa takut sekali. Gemetar tubuh saya. “Mas Wasito jatuh dari pohon kelapa itu”. Sepertinya Kamto yang berteiak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya melihat ibundanya menangis panik. Tubuh Wasito terbaring diam di dipan di ruang tengah. Banyak orang berkumpul di sana. Semuanya panik. Rencana mas Wasito akan berangkat ke Solo hari itu. Dia mencoba memetik kelapa untuk oleh oleh. Ibundanya sudah mengingatkan, nggak usah memanjat pohon kelapa. Mungkin dia berpikir waktu itu, hanya itu yang bisa dibawa untuk oleh oleh. Adalah kebanggaan anak anak desa jika membawa oleh oleh hasil kebun, saat menengok saudara yang tinggal di kota.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itu juga yang sering kami lakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diputuskan untuk segera membawa Wasito, yang masih dalam keadaan tidak sadar ke RSU di Ambarawa. Saya tidak ikut mengantar. Hanya kabarnya di RSU Ambarawa, mereka &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diminta terus saja ke rumah sakit CBZ (sekarang RS Karyadi) di Semarang. Sore itu kami mendengar kalau mas Wasito tidak tertolong jiwanya. Dia meninggal dalam usia sangat muda, mungkin enam belas tahun. Jatuh dari pohon kelapa di halaman sendiri. Hanya beberapa jam sebelum berangkat ke Solo untuk meneruskan sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Esok harinya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saya ikut mengantar jasadnya ke pemakaman. Di bukit Penggung. Saya melihat Sunu begitu terpukul, menangis berkepanjangan. Ibundanya berkali kali pingsan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya merenung membayangkan wajahnya yang tampan dan sabar. Saya ingat lambaian tangannya yang hangat dua hari sebelumnya. Lambaian tangan yang tak akan pernah saya lupakan. Angin bertiup lembut mengantar kepergiannya. Dia di makamkan di dekat makam keluarga saya. Hanya berjarak puluhan meter.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selamat jalan mas Wasito, semoga cita citamu terbawa dalam perjalanan kekal di alam sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bulan Desember 2009, saya mengunjungi makan anak saya tersayang Moko di bukit Penggung. Selalu saya sempatkan jika saya pulang ke Ambarawa. Saya berjanji untuk selalu menengoknya sampai perjalanan waktu berakhir. Setelah berdoa di makam Moko, makam ibu dan bapak saya, serta makam kakak saya mbak Ti (pernah saya ceritakan di KOKI), makam sanak saudara yang lain, tiba tiba timbul keinginan menjenguk makam Wasito. Dia berbaring tenang disamping makam ayah bundanya. Dalam keheningan di bawah pohon kamboja. Teringat jelas wajahnya yang ceria dan lambaian tangannya yang hangat menyapa saya hampir lima puluh tahun lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya membayangkan wajahnya yang lembut dan tampan dan pakaiannya dengan kombinasi warna yang pas. Saya meneteskan air mata. Moga moga dia selalu bahagia dan ceria di alam sana. Dengan wajahnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lembut dan tampan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Moga moga bisa bertemu anak saya tersayang Moko. Anak anak muda yang terenggut cita citaya karena Sang Kala yang datang menjemput terlalu awal.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salam damai&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5297874987402941957?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5297874987402941957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5297874987402941957' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5297874987402941957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5297874987402941957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/01/angin-lembut-pagi-hari-mengenang-wasito.html' title='Angin lembut pagi hari - Mengenang Wasito'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S2PhivHQNTI/AAAAAAAAAJY/0x31H2ha--M/s72-c/DSC00315.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4936160040770432406</id><published>2010-01-26T19:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T20:05:10.936-08:00</updated><title type='text'>Saat bersanding</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1-7WHd3tyI/AAAAAAAAAJQ/jCA7tkCttS0/s1600-h/Dec75.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431265664267958050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 160px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1-7WHd3tyI/AAAAAAAAAJQ/jCA7tkCttS0/s200/Dec75.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jarak itu hanya sekitar dua ratus meter. Sama sekali tidak jauh, hanya harus menyeberang jalan raya Pekalongan Kajen. Namun terasa seolah jauh sekali. Pengin cepat sampai dan selesai semuanya. Saya berjalan pelan. Gelisah dan tak bisa tenang. Di kiri kanan saya, kakak sepupu, mas Harto dan kakak ipar mas Munir, berjalan menggamit lengan saya. Sementara irama gamelan terdengar gempita kadang diselingi musik padang pasir. Kombinasi yang janggal buat telinga saya yang tinggal di Solo dan Yogya ber tahun tahun. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketika lewat pasar di ujung jalan, orang di pasar ramai menonton arakan saya. Rasanya seperti pesakitan. Ada yang berteriak “ Heee ngantene isih bocah raaa”. Edan, bocah ora bocah urusannya apa ? Burung burung saya sendiri kok repot, pikir saya. Mas Harto berbisik agar saya memperlihatkan wajah ceria, tidak merengut. “Ora usah mbesengut, dongane diapalke”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari itu tanggal 30 Desember 1975. Saya menjalani acara perkawinan di Pekajangan, Pekalongan, di tempat orang tua Nyi. Semalam tiba dari Ambarawa diantar rombongan keluarga dekat. Bapak dan ibu saya tidak bisa ikut. Bapak sedang dalam status tahanan, tetapi dapat ijin untuk menghadiri. Ibu saya menangis ketika saya pamitan kemarin siang. Saya masih ingat kakak saya membawa mobil sport klasiknya, Ford Mustang, dari Bandung. Mobil kesayangan itu dibawa dari Amerika bebera tahun lalu. Bapak saya bersama kakak sulung sekeluarga tinggal di hotel di Pekalongan. Menurut adat kebiasaan Jawa, orang tua pengantin pria tak biasanya menghadiri acara akad nikah. Hanya hadir saat pesta sesudah acara akad nikah selesai. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara sebagian besar rombongan pulang ke Ambarawa semalam, dan datang kembali ke Pekajangan pagi itu untuk upacara. Mas Harto tinggal menemani saya di Pekajangan. Kami ditempatkan di rumah kakak Nyi. Dia menemani saya sampai larut, menghapal doa dalam bahasa Arab untuk acara akad nikah pagi harinya. ‘Diapalke sing genah, aja nganti kleru’, ujarnya berulang kali. Saya tahu dia penganut agama Katolik yang setia, tetapi tak merasa terganggu melihat saya menghapal doa itu. Tidak bisa tidur enak semalam. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kira kira jam tujuh, setelah mandi, mau mulai ganti pakaian. Saya baru sadar kalau baju yang saya bawa dari Yogya keliru, ukurannya kekecilan dan ada cacat di samping kiri. Padahal saya tak punya serep baju yang warna putih. Adanya warna biru. Saya pikir tak apa apa, warna biru warna bagus. Tetapi dukun nganten bersikeras saya harus pakai baju putih. Terpaksa pagi pagi saya dengan mas Harto boncengan naik skuter Kongo, cari baju warna putih di pasar Kajen. Tak banyak pilihan, tetapi saya dapat baju warna putih. Tak begitu halus jahitannya. Tak apalah. Tetapi pagi tiu saya panik nggak karuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kira kira jam sembilan, saya mulai dihias. Harusnya tak ada masalah, tinggal ikut sang perias saja. Tetapi belum hilang rasa panik, saya masih dibuat jengkel oleh sang tukang rias, Mukmin. Di bebet bagian depan dengan menyolok sekali tertulis kata Mukmin. Semua pakaian pengantin yang akan saya kenakan bertulisan Mukmin, menyolok sekali. Saya bertanya apakah ada pakaian lain, dia menjawab tidak ada. Walau nama saya bukan Mukmin, saya kenakan pakaian itu dengan kesal. Kemudian ketika wajah saya selesai di kasih bedak dan gincu, saya bersikeras agar dihapus atau dikurangi setipis mungkin. Merias pengantin kok kayak merias badut. Nyi mestinya tahu selera saya, perias konyol ini tak pas dengan saya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan saya dengan Nyi terakhir hampir dua minggu sebelumnya. Tak banyak bisa membicarakan rencana acara perkawinan secara rinci. Hanya menjalani pemeriksaan dan prosedur administratif di kantor urusan agama waktu itu. Kemarin sore saya melihatnya sejenak saat rombongan kami datang. Saya tak bisa menemuninya. Hanya melihat dia keluar menemui rombongan kami sebentar. Konon dalam adat Jawa, calon pengantin perempuan dan pria tak boleh bertemu sebelum nikah. Calon pengantin wanita harus dipingit. Supaya tidak kena angin. Itu maunya, tetapi jaman sekarang mana tahan? Kakak ipar saya, mbak Wati almarhum mendesak ingin lihat Nyi. Saya melihat sepintas, Nyi nampak kurang tidur. Melempar senyum dari jauh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan keluarga saya dengan keluarga Nyi semalam berjalan lancar. Sehabis acara formalitas saling memperkenalkan dan menyerahkan tanda mata peningset kami makan bersama. Begitu selesai acara makan, kedua bulik saya, Bulik Mus dan Bulik Parman almarhum, seperti biasa langsung merokok, Gudang Garam. Mereka wanita wanita kuat yang sangat berpengaruh dan dekat dalam hidup saya sejak kecil. Alpha female dalam keluarga. Nampak gembira sekali mengantar ponakan nikah. Esok harinya mereka berdua akan menggandeng saya dalam upacara nikah. “Wah nuntun pelen ya Ki”, canda bu Parman seperti biasa. Ketika saya ke belakang ikut sholat maggrib, saya dengar bapak mertua bilang sama ibu mertua “ Wah wedok wedok kok dha ngrokok ya”? Tak biasa wanita merokok di lingkungan keluarga Nyi. Saya pura pura tak mendengar. Bisa apa saya?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika arakan penganten sampai di rumah NYI, saya langsung menjalani akad nikah di pavillion. Bapak mertua duduk di muka saya di samping pengulu. Sempat bertanya sebelum acara mulai “Wis apal dongane ?”. Saya mengiyakan ringan, tetapi rasa panik masih membayangi. Acara ijab kabul berlangsung lancar. Saya lihat mas Harto nampak tegang ketika saya mengucapkan ijab. Mungkin takut kalau saya tidak hapal kata katanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya digandeng kedua bulik saya ke acara adat pernikahan. Sementara menunggu calon penganten wanita keluar, bulik Mus berbisik bertanya “ Wis diwenehi suruh”? Dia menanyakan apakah saya sudah memegang daun sirih untuk acara saling lempar dengan pengantin wanita. Saya menggeleng pelan. Ternyata gulungan kecil daun sirih itu dibawa Bulik Parman. Dia cepat cepat mengeluarkannya dari dalam tas dan menyelipkan ke tangan saya. Ternyata yang diberikan bukan gulungan daun sirih, tetapi rokok keretek. Saya terkejut dan menoleh ke arahnya. Menyadari kekeliruannya, dia berbisik menggerutu “Asem, malah keliru rokok”. Cepat cepat merogoh tasnya kembali dan menyelipkan daun sirih itu ke tangan saya. Saya tak tahu apakah ada yang melihat insiden kecil itu. Bu lik Mus pun tidak tahu. Jika tahu pasti adiknya akan kena damprat kemudian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak ada acara menginjak telor dan membasuh kaki penganten pria oleh penganten wanita. Terasa lebih mengarah ke persamaan gender, lebih demokratis dan sederhana. Setelah saling melempar sirih, saya menyalami tangan Nyi. Dia mencium tangan saya dan saya mencium keningnya. Kami berjalan bergandengan ke pelaminan. Sementara kepala mulai terasa nyeri berdenyut sebelah kiri. Saya khawatir jika migrain saya kumat. Cuma nggak ada rasa mual dan gejala kunang2 seperti biasanya. Saya sadar kemudian, jikaa blangkon yang saya pakai ukurannya terlalu kecil, terlalu ketat. Duduk di pelaminan pun rasanya pengin acara cepat berlalu dan bebas dari cengekraman blangkon yang sangat ketat, serta bebet yang bertuliskan Mukmin itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Melihat saya duduk gelisah adik saya Ari berulang kali mendekat dan berbisik agar saya memperbaiki posisi duduk. Bulik Parman sekali membisiki saya ‘Sing anteng le lungguh, aja kaya sapi pelen”. Duduk tenang, jangan seperti sapi jantan. Gurauan ini hanya bisa dimengerti oleh mereka yang terbiasa dengan peternakan sapi. Sapi jantan selalu liar dan sukar dikendalikan saat menjelang dikawinkan. Nyi juga tidak tahu. Saya mengeluh pelan ke NYI kalau kepala saya terasa sangat nyeri karena blangkon kekecilan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya datang ketika saya telah duduk bersanding di pelaminan. Acara berjalan lancar. Ada beberapa pidato singkat wakil keluarga. Dengan berbagai nasehat. Saya tak banyak bisa mencermatinya. Nyeri kepala berdenyut itu menguras daya konsentrasi saya. Tak apa. Isinya hapal. Kurang lebih isinya sama. Agar selalu rukun seperti mimi dan mintuna. Harus saling menghargai. Tak boleh ringan tangan ringan kaki. Harus setia pasangan, jangan selingkuh, jangan kawin lagi, jangan ma lima (main, madon, madat, maling, lupa apa satunya). Batin saya, nggiiiiiiiiiiiiiih. Manut dan terima saja, apa susahnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di jaman itu acara perkawinan belum biasa dengan resepsi berdiri. Selalu resepsi duduk, seperti yang umum terjadi di Solo, dengan beberapa pidato wejangan untuk mempelai berdua. Seperti pidato pengarahan dalam acara seminar, lokakarya atau semiloka, gabungan antara seminar dan lokakarya. Saya ingat ada seorang tokoh partai (Golkar) setempat di tetangga desa di Ambarawa. Lupa namanya. Dia selalu ceramah memberikan pengarahan di rapat rapat ranting partai. Juga gemar memberikan ceramah di acara pernikahan. Karena beken kegiatannya di lingkungan partai, dia bahkan kabarnya sempat sampai menghadap presiden ke Cendana. Dalam acara pesta pernikahan tetangga saya di Ambarawa, dia menawarkan diri untuk memberikan ceramah pengantin. Ceramah nasehat perkawinannya sangat singkat to the point, suami isteri harus rukun. Yang panjang dan bikin lapar dan ngantuk, ceritanya panjang lebar saat menghadap ke Cendana. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Acara perkawinan saya untungnya tidak didominasi pidato nasehat dan pengarahan. Berjalan singkat, sederhana, apa adanya. Mungkin jika sampai mengalami seperti tetangga saya di Ambarawa itu, saya akan menggalang persatuan para calon penganten, untuk bersatu melawan kesewenang wenangan para penceramah perkawinan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lewat lohor acara sudah selesai. Lancar. Setelah rombongan keluarga pamit, saya cepat cepat masuk kamar mencopot blangkon dan seragam pengantin itu. Hampir tiga jam tersiksa blangkon dan pakaian pengantin. Sekali ini saja cukup. Tak ingin sekalipun mengulanginya. Enough is enough. Saya tertidur pulas di kamar. Nyi masih ngobrol di luar. Sore hari terbangun ketika dia memeluk dan mencium saya. Dia tersenyum. Senyum yang abadi dalam kenangan saya. Itu yang saya paling ingat selamanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Salam damai dan salam khusus untuk para jomblo dan penganten baru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4936160040770432406?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4936160040770432406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4936160040770432406' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4936160040770432406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4936160040770432406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/01/saat-bersanding.html' title='Saat bersanding'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1-7WHd3tyI/AAAAAAAAAJQ/jCA7tkCttS0/s72-c/Dec75.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3117035421736408818</id><published>2010-01-13T22:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-15T01:27:42.082-08:00</updated><title type='text'>Setelah lewat empat puluh tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1A0uTPFX5I/AAAAAAAAAJI/2SsC54b_taA/s1600-h/Usia+lanjut.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426895521023614866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1A0uTPFX5I/AAAAAAAAAJI/2SsC54b_taA/s200/Usia+lanjut.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Matahari telah condong ke Barat. Kira kira menjelang jam empat sore. Angin bertiup lembut menerpa tubuh tubuh yang sedang berpacu naik sepeda. Kami dalam perjalanan pulang dari Banyudono ke Solo. Hanya bertiga, Diono, Martalin dan saya. Siang tadi sesudah usai sekolah, kami bersepeda, main ke tempat Sigit di Banyudono, teman sebangku, di kelas 1 C SMA St Josef. Sejak berangkat saya selalu ketinggalan di belakang dengan sepeda torpedo tua itu. Sementara Sigit pakai sepeda dengan versneilling, Diono dan Martalin pakai sepeda jengki, yang lebih ringan di kayuh. Napas saya tersengal dan jarak di depan rasanya begitu jauh. Lewat Kartosuro, Diono dan Martalin nampak semakin kecil karena jarak yang semakin jauh. Pacuan memang belum selesai. Tetapi saya pasrah. Apa yang bisa dinikmati dengan adu cepat pakai sepeda tua ini? Menang juga tak akan kesohor. Ada harga yang harus dibayar. Tak bisa menikmati panorama sawah yang menghijau sepanjang jalan. Tak menikmati belaian angin yang meniup lembut. Saya memperlambat sepeda. Biar lambat asal selamat, gunung lari tak kan kukejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Solo, rumah kami berjauhan. Saya tinggal di Badran, kota Barat. Diono di Penularan dan Martalin di Kusumodilagan. Menjelang masuk Solo, ternyata Diono dan Martalin berhenti, menunggu di bawah pohon flamboyan. Martalin segera berteriak &lt;strong&gt;" Sampeyan kurang kuat kemauannya Ki. Daya juang rendah. Perlu disuwuk". &lt;/strong&gt;Saya hanya menjawab kalau sepeda saya memang berat, bukan dirancang untuk balapan. Sebelumnya sepeda ini dipakai untuk mengantar susu ke pelanggan pelanggan kami di Ambarawa. Saya masih ingat betul, tukang antar susu kami yang telah lanjut usia, namanya Reso Darman, selalu mengayuh sepeda begitu pelan, sambil ngantuk. Saya juga tidak tahu arti apa itu disuwuk. Martalin memang tekun sekali mempelajari ilmu ilmu kejawen. Dia cocok sekali ngobrol dengan ayah saya di Ambarawa perihal kebatinan. Menjelang petang kami meneruskan perjalanan ke arah Solo. Lewat stasiun Purwosari, saya belok kiri masuk ke kampung Badran, sementara Diono dan Martalin meneruskan perjalanan lewat jalan Slamet Riyadi ke arah Timur. Mereka tetap saja bersendau gurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lama itu terjadi menjelang akhir 1965. Empat puluh lima tahun lalu. Di tahun tahun antara 1965 – 1966, kami sering bersepeda menelusuri desa2 di sekitar Solo. Beberapa minggu lalu, hari Sabtu tanggal 2 Januari 2010, saya menuju Solo. Terakhir ke Solo dua tahun lalu menemui Lembayung. Kali ini saya sendirian mengendarai mobil anak saya. Saya bilang ke NYI, ini pertemuan mantan teman sekelas di SMA dulu. Saya telah janji dengan Diono beberapa hari sebelumnya. Dia tahu nomer tilpon saya dari kakak saya yang tinggal di Ambarawa. Dia mencari saya di rumah orang tua saya di Ambarawa hampir dua tahun lalu. Namun kontak baru berhasil sebulan kemarin lewat pesan singkat. Menjelang masuk Delanggu, dia tilpon saya sampai mana? Saya keliru bilang kalau sudah masuk Kartosuro. &lt;strong&gt;"Saya akan tunggu di depan Universitas Muhamadiyah, di halte seberang jalan"&lt;/strong&gt;. Ternyata saya keliru, ketika masuk Kartosuro, kembali Diono memanggil lewat tilpon genggam &lt;strong&gt;"Kok lama Ki, sampai mana&lt;/strong&gt;". Saya jawab sekenanya, &lt;strong&gt;"Sori baru masuk Kartosuro. Telat, kaline banjir".&lt;/strong&gt; Nggak ada sungai di Kartosuro. Mana ada banjir. Sampai di muka gerbang UMS, saya berhenti di lampu merah. Saya hubungi tilpon genggamnya, &lt;strong&gt;"Kau dimana? Saya berhenti sebelum lampu merah?".&lt;/strong&gt; Ternyata dia menunggu di halte sesudah lampu merah. Dari kejauhan nampak sesosok pria, melambai dan berjalan ke arah saya. Penampilan dan cara jalannya masih seperti dulu. Sambil membuka pintu mobil dia menggerutu "&lt;strong&gt; Martalin wingi wis janji nek arep ketemu kok malah minggat. Tilpune di titipke bojone. Gathel".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;Anda tak banyak berubah Bung setelah empat puluh tahun. Gimana baik baik?"&lt;br /&gt;" Edan Ki, kau gemuk sekali sekarang. Jadi boss ya?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kami mulai berbincang. Pokok pembicaraan awal, siapa istrimu, berapa anakmu dan cucumu. Masih seperti dulu, umpatan gaya Solonya selalu aneh buat saya. Sewaktu saya pertama datang ke Solo di tahun 1965, selalu dibuat heran dengan umpatan. Di Ambarawa, umpatan yang sering saya dengar adalah nama binatang, entah itu anjing, babi hutan, atau kotoran binatang seperti tai kucing atau mbelek lincung (tahi ayam). Di Solo , yang sering nama organ manusia, seperti gamblis (rambut sekitar dubur), mata, githok (tengkuk), gundhul (kepala), cocot (mulut). Gathel saya nggak tahu persis artinya, mungkin kaki. Orang Solo lebih manusiawi, lebih banyak menyebut organ manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengendarai mobil, kami terlibat dalam percakapan asyik, cerita mengenai riwayat masing masing. Tak semuanya cerita gembira. Isterinya meninggal lima belas tahun lalu ketika ketiga anaknya masih kecil.. Dia harus mengurus anak anaknya sendirian. Uang tabungan habis untuk menutup ongkos pengobatan isterinya. Sekarang ketiga anaknya sudah berkeluarga dan mandiri. Kami juga terdiam ketika saya cerita tentang anak saya bungsu yang telah meninggal. Sambil menyetir mobil saya mencoba mengalihkan pembicaraan. "&lt;strong&gt;Ingat kita pernah istirahat disini menjelang akhir 1965 ? Dimana pohon flamboyan yang dulu itu ?".&lt;/strong&gt; Dia menjawab datar, &lt;strong&gt;"Mana saya ingat" Mungkin sekitar sini".&lt;/strong&gt; Lokasi tak penting. Makna kenangan lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martalin tak berada di rumah, kami putuskan untuk mencari Sigit yang katanya mengajar di UNS. Diono belum tahu rumahnya, tetapi katanya di kompleks perumahan dekat SMA St Josef. Kami berusaha mencarinya. Pelan kami menyusuri jalan beraspal di sekitar perumahan itu. Dia bertanya di salah satu toko. "&lt;strong&gt; Dalemipun mas Sigit ingkang pundi pak ?&lt;/strong&gt; (Rumahnya mas Sigit yang mana?). Yang ditanya malah balik bertanya &lt;strong&gt;" Menapa profesor doktor Sigit ?".&lt;/strong&gt; Diono terhenyak, tak siap dengan pertanyaan itu dan balik bertanya ke saya. &lt;strong&gt;" Profesor doktor Ki?.&lt;/strong&gt; Saya cepat cepat mengiyakan. Mungkin secara tak sadar ingatannya masih ke masa lalu. Dia selalu menyebut mas jika main ke tempat Sigit, biar bapak ibunya senang. Bapaknya Sigit dulu kepala sekolah. Selalu hangat menyapa kami jika main menemui Sigit. "&lt;strong&gt;Nomeripun tigang dasa sekawan",&lt;/strong&gt; kami diberitahu pemilik toko tadi jika nomer rumahnya tiga puluh empat. Masuk jalan sempit dalam kompleks perumahan, cari nomer 34 kok nggak ada. Yang ada nomer 36. Rumah2 sebelahnya tanpa nomer. Saya menunggu di ujung jalan, sementara Diono meneliti nomer rumah satu per satu bolak balik. Akhirnya saya lihat dari kejauhan dia memencet bel, rumah besar tanpa nomer itu. Sejenak dia berbicara dengan penghuni rumah, saya tidak bisa melihat lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Betul rumahnya Sigit. Kelihatannya tiga rumah dirombak jadi satu".&lt;br /&gt;" Siapa yang kau ajak bicara ?"&lt;br /&gt;" Mungkin isterinya. Sigit baru rapat senat. Cantik istrinya".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diono kemudian menghubungi Dibyo, juga teman sekelas semasa kelas satu dulu, Kami menuju rumahnya di jalan Bayangkara. Bertemu Dibyo, perasaan saya bercampur sedih. Kesehatannya tampak sudah menurun. &lt;strong&gt;"Hi Ki lama nggak jumpa ya&lt;/strong&gt;". Sapaannya juga persis seperti dulu jika saya ke rumahnya. "&lt;strong&gt;Ah hanya empat puluh lima tahun&lt;/strong&gt;". Kami bermaksud hanya mampir sebentar karena kondisinya masih kurang sehat. Tetapi Dibyo mendesak supaya kami duduk ngobrol. &lt;strong&gt;" Kapan lagi ada kesempatan&lt;/strong&gt;". Betul juga, mungkin tak banyak lagi kesempatan bertemu. Dibyo putra kepala polisi wilayah Surakarta waktu itu. Rumahnya selalu jadi tempat kumpul kami. Orangnya pendiam halus, tidak suka berkoar seperti kami. Sekarang isterinya mengajar di UNS, putra putrinya tiga. Sudah mandiri semua. Dia belum punya cucu, sudah pensiun dari PERTAMINA. Kami ngobrol ke sana kemari dan masih mencoba kontak teman teman lain, Martalin, Sigit, Prasodjo dan Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit yang datang beberapa saat kemudian. Penampilannya masih gagah dan tampan, seperti bintang film tahun lima puluhan, Bambang Irawan. Empat puluh lima tahun lalu belum nampak gagahnya, kecil kurus. Dulu Diono sering bilang "Baguse bagus ndeso". Sekarang nampak masih muda dan sehat di umur menjelang enam puluh. Setiap hari rutin jogging. " Curu saya sudah tujuh. Anak saya empat". Dia kawin saat masih sarjana muda. Isterinya sekarang sudah pensiun dari PEMDA. Saya berseloroh tentang rumah Sigit dan mengingatkan lagu yang dinyanyikan Mus Mulyadi. "&lt;strong&gt;Omah gedong magrong magrong jejer telu. Kapan to ndhuk bocah ayu ? Kowe gelem karo aku".&lt;/strong&gt; Sigit paling alim di antara kami. Tak bisa diajak bergurau menyinggung masalah yang saru, dulu selalu bilang "Saru ah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasodjo adalah teman dari kelas lain dulu, tetapi sering kumpul di rumah Dibyo. Sekarang menjadi dokter ahli radiologi. Dosen di UNS seperti Sigit. Masih bertugas di rumah sakit ketika dihubungi, datang ngobrol beberapa saat. Pertemuan saya terakhir dengan Pras di tahun 1974 sewaktu kepaniteraan klinik di rumah sakit Jebres. Dia juga masih gagah dan belum nampak tua. Orangnya gampang bergaul, ramah, tak pernah macam macam. Senyumnya selalu tersungging sejak muda dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu kami makan siang di rumah makan Mbak Lies, khusus salad Solo. Ramainya nggak ketulungan. Harus antre. Martalin dan Nugroho kemudian datang menyusul. Pras harus kembali ke klinik, tak bisa ikut. Kembali ngobrol rame. Martalin juga masih seperti dulu, selalu absurd dengan masalah supra natural. "&lt;strong&gt;Jangan tanya mengenai ruwatan ke saya. Tingkatan saya sudah jauh dari sekedar urusan ruwatan"&lt;/strong&gt;. Dia cerita punya banyak pengikut. Hari hari ini sangat sibuk. Ada acara tirakatan memperingati hari lahir maha patih Gadjah Mada. Pikir saya, sokur kalau sekarang masih ada yang memperingatinya. Karena dalam cerita, sesudah perang Bubat, Gadjah Mada diasingkan oleh kerajaan. Makamnyapun tak diketahui di mana. Saya sekelas dengan Nugroho mulai kelas satu sampai lulus di tahun 1968. Pembawaannya selalu halus. Sekarang masih bekerja di bidang batik. Beberapa tahun bekerja di bank. Anak2nya juga sudah selesai semuanya. Kami bicara tentang makanan khas Pekalongan, ketika tahu isteri saya asal Pekalongan. Dia pernah dinas di Pekalongan beberapa tahun. &lt;strong&gt;"Saya harus datang khusus ke Pekalongan jika kangen masakan2 khas sana".&lt;/strong&gt; Banyak jenis masakan Pekalongan yang memang tak dijumpai di kota lain. "&lt;strong&gt; Waktu pengantin baru dulu, pertama kali makan sayur daun kecombrang masakan isteri, kok seperti ada rasa kemasukan kecoak. Sekarang selalu ketagihan",&lt;/strong&gt; saya berseloroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis makan siang, saya kembali ke Yogya. Diono bersama saya oleh karena pengin tahu rumah saya. Mungkin tahun depan akan ketemu lagi. Waktu berjalan terus. Persabatan tak berhenti. Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Sampai akhir perjalanan waktu. Tak oerlu berpacu lagi. Pacuan sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3117035421736408818?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3117035421736408818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3117035421736408818' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3117035421736408818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3117035421736408818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/01/setelah-lewat-empat-puluh-tahun.html' title='Setelah lewat empat puluh tahun'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/S1A0uTPFX5I/AAAAAAAAAJI/2SsC54b_taA/s72-c/Usia+lanjut.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5505818918758886982</id><published>2010-01-09T00:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T00:03:05.789-08:00</updated><title type='text'>Hilang bersama angin</title><content type='html'>Suatu sore di musim  kering  tahun 1966. Saya sedang liburan di desa Ngampin Ambarawa. Tak ingat lagi liburan apa. Hanya beberapa hari. Sejak pertengahan tahun kemarin saya sebenarnya telah hijrah  ke Solo, tinggal  bersama  kakak saya, di Badran kota barat. Meneruskan sekolah di SMA St. Josef.  Siang itu saya duduk di pendopo depan. Menikmati tiupan angin yang memberikan rasa sejuk di siang hari yang gerah.  Gunung Gadjah Mungkur dan Telomoyo terlihat  biru kelam di kejauhan dalam sorot matahari yang cerah menyengat. Di kebun depan saya melihat paklik saya, pak Wir, sedang mengumpulkan kayu bakar di bawah pohon sawo. Dia adalah suami  Bu Lik Mus, adik bapak saya. Sudah beberapa bulan pak Wir pensiun dari pegawai Dinas Penerangan Rakyat di kecamatan Jambu.  Tiba tiba saja Bapak saya memanggil pak Wir untuk datang ke pendopo. Hal yang biasa,  mereka terbiasa ngobrol. Hubungan mereka akrab. Pak Wir sering datang ke rumah hanya sekedar ngobrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau Ki. Lagi libur? Sudah krasan di Solo?" Pak Wir menyapa saya singkat.&lt;br /&gt;" Liburan beberapa hari"&lt;br /&gt;" Belajar yang baik. Hati hati putri Solo ayu ayu. Nggak usah macam macam".&lt;br /&gt;" Sekolah saya muridnya semua laki laki".&lt;br /&gt;Pak Wir ketawa. Nggak tahu apa yang diketawakan. Dia hanya menggumam pelan " "Murid kok pelen (laki2) kabeh". Saya tidak merasa perlu menjelaskan mengenai sekolah saya. Tetapi saya bangga  belajar di St. Josef, walau bukan sekolah negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wir kemudian terlibat obrolan panjang dengan ayah saya. Saya hanya duduk di kursi di sudut ruangan. Tak begitu mengikuti pembicaraan mereka. Pembicaraan kadang ringan diselingi tawa, kadang2 berubah serius pelan. Situasi politik saat itu sedang tak menentu. Kadang mencekam karena pembersihan orang orang yang dicurigai pengikut arau simpatisan komunis. Jaman memang sedang tidak aman. Harus pandai pandai menjaga dan menempatkan diri. Agar tidak dicurigai oleh penguasa atau militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembicaraan beralih serius, mau tidak mau saya ikut mendengarkan. Pak Wir mengeluh, pemerintah setempat berencana membuat saluran air dari sendang di Ngampin Kulon, yang membelah persawahan miliknya. Dia sangat keberatan dengan rencana itu dan mengajukan alternatif untuk membelokkan saluran tersebut di tepi sawah. Jika toh harus melewati sawahnya dia bersikeras minta ganti rugi. Beberapa kelompok petani  mendukung dan berdiri di belakang  Pak Wir.  Bapak saya mengingatkan agar berhati hati.  Melawan penguasa sangat riskan..  Apa lagi jika ada petani petani kelompok kiri yang ikut mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengikuti permasalahan tersebut secara intens. Kami masing masing terpaku dengan masalah masing masing. Saya lebih terpaku dengan masalah uang langganan susu  salah satu instansi pemerintah, rumah sakit umum, telah beberapa bulan tak dibayar. Jelas ini sangat berpengaruh bagi kami. Saya sempat datang sendiri menemui petugas rumah sakit. Jawabannya selalu sama, kuitansi belum bisa dibayarkan. Tak ada uang di kas. Ini masalah serius oleh karena kami harus tetap membeli pakan sapi dan membayar pekerja. Ada paling tidak dua puluh sapi perah waktu itu. Kemudian ternyata sapi sapi itu harus dijual satu persatu. Sekedar menutup ongkos pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian setelah pertemuan singkat dengan pak Wir,  saya kembali ke Solo. Masih merasakan sedih melihat situasi keuangan yang bersandar pada usaha pemerahan susu. Hasil pertanian seperti kapuk, kopi, kelapa hanya secara insidental memasukkan uang. Saya tidak menyangka kemudian jika pertemuan sore itu dengan pak Wir adalah pertemuan kami yang terakhir. Beberapa minggu kemudian saya terima surat dari adik saya, mengabarkan jika pak Wir ditahan saat wajib lapor dan  tidak pernah kembali, tidak tahu berada di mana.  Saya ingat pembicaraan pak Wir dengan bapak saya. Jaman tidak menentu, jangan cari masalah. Yang penting selamat. Ingat cerita bapak saya yang mengatakan bahwa pak Wir juga menolak diajak masuk menjadi anggota satu partai, yang dekat dengan penguasa. Petugas penerangan katanya harus netral, tak berpihak pada siapapun, walau dia sebenarnya telah pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian saya kembali ke Ambarawa di akhir pekan. Saya menyempatkan diri menemui Bu Lik Mus, menanyakan kabar tentang pak Wir. Dia menangis sedih penuh emosi. Pak Wir diharuskan wajib lapor ke kawedanan. Beberapa kali datang dan lapor diri sesuai perintah. Suatu pagi saat  hujan lebat dan angin, pak Wir tetap berangkat untuk lapor. Walau diingatkan untuk istirahat di rumah saja. Dia hanya berkilah, jaman sedang tidak menentu, jika tidak taat lapor dikira melawan, bisa bahaya.  Tetapi sampai malam dan keesokan harinya pak Wir tidak pernah kembali. Bu Lik Mus mencoba mencari informasi ke sana kemari, dan tidak pernah mendapatkan kejelasan suaminya di bawa ke mana. Yang jelas pak Wir diciduk, dituduh menjadi anggota bayangan partai komunis. Tak ada penjelasan, tak ada kesempatan pembelaan.  Seolah hilang bersama angin deras hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Lik Mus selalu terbawa emosi menceritakan kehilangan pak Wir. Dia geram betul dengan aparat pemerintahan yang tega mengorbankan suaminya dan menyerahkan ke pihak penguasa  militer. Kesedihan itu masih ditambah, putranya yang bertugas di Kupang Timor, tak pernah ada beritanya. Tak pernah ada surat. Beberapa kali disurati tak pernah datang jawabannya. Tiga tahun kemudian, ketika putranya datang, barulah jelas masalahnya. Surat surat dari putranya juga tak pernah disampaikan. Sengaja selalu ditahan di kantor pemerintahan setempat   Komunikasi antara Bu Lik Mus dengan putranya diputus dengan sengaja selama tiga tahun. Kupang Timor dan Ambarawa, bukan jarak yang dekat dimana orang bisa bepergian dengan gampang waktu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1967, saat kakak sulung saya pulang dari Amerika, dia liburan di  Ngampin Ambarawa. Banyak tetangga yang  bertandang  menemui. Biasalah kehidupan di desa yang masih guyup, dan mereka juga ingin mendengar cerita tentang negeri impian Amerika. Saya masih ingat salah satu tetangga yang  bertandang adalah almarhum Hari, tokoh pemuda setempat. Dia bangga sekali menceritakan kisahnya membersihkan barisan komunis dan antek anteknya. Juga kedekatannya dengan aparat, apalagi dengan militer. Saya mengkaitkan kisahnya dengan cerita Bu Lik Mus tentang persekongkolan aparat setempat yang menciduk pak Wir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah itu semakin jelas. Perseteruan dengan aparat pemerintahan setempat, menolak sawahnya terbelah dua oleh saluran air, dukungan kelompok petani yang dicurigai beraliran kiri,  protes protesnya tentang bengkok sawah desa, membawa pak Wir ke  kegelapan yang panjang tak terkira. Dia memang tak pernah kembali. Keluarga juga tak tahu, di mana kuburnya. Yang jelas hanya diciduk sesudah lapor wajib. Tahun tahun berlalu. Tak pernah ada berita dan kejelasan. Bu Lik Mus selalu  menanti. Di usia lanjut dia selalu menitikkan air mata jika disinggung tentang pak Wir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu lalu, hari Kamis tanggal  30 Desember 2009, saya  bersama Nyi datang ke Ambarawa, mengantar Bulik Mus ke tempat peristirahatan yang terakhir.. Meninggal malam sebelumnya  dalam usia lanjut. Tiga hari sebelumnya kami sempat menjenguk ke rumah sakit. Dia masih jelas berbicara dengan Nyi. Siang itu berbaring lemah Bulik Mus masih mencium Nyi, ketika kami pamit. Saya mengantar sampai ke pemakaman di Bukit Penggung. Makamnya sendirian, tak bersanding dengan makam suaminya pak Wir. Dekat makam kakaknya (ibunda Kresno yang pernah saya ceritakan) dan bapak ibunya. Bu Lik Mus pergi dengan tenang di usia lanjut. Namun masih membawa pertanyaan sedih dimana suami yang dicintainya, yang berpamitan di pagi hari saat hujan deras itu. Namun tak pernah kembali lagi seolah hilang bersama angin. Penantian sia sia sampai akhir hayatnya. Kami semua melepas kepergiannya dengan doa semoga diberi kedamaian di alam sana. Saya sempat bicara dengan putranya, adik sepupu saya, mengingat kisah pak Wir yang telah lama hilang mendahului.. Moga moga pak Wir dan Bulik Mus bertemu dan berkumpul kembali di alam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah semacam pasti banyak dialami oleh keluarga2 yang kehilangan anggota keluarganya. Noda hitam dalam perjalanan bangsa yang tercatat di panggung sejarah dunia. Dalih apapun yang digunakan tak akan pernah bisa diterima oleh akal peradaban manusia modern, pembunuhan karena beda keyakinan politik. Apapun dalihnya. Kejahatan terhadap kemanusiaan yang ditutupi dan dibenarkan oleh kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5505818918758886982?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5505818918758886982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5505818918758886982' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5505818918758886982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5505818918758886982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2010/01/hilang-bersama-angin.html' title='Hilang bersama angin'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2027206966250919962</id><published>2009-11-08T15:59:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T16:01:21.102-08:00</updated><title type='text'>Sandiwara penegakan hukum</title><content type='html'>Wajahnya tak memberikan kesan wibawa sama sekali. Sebatang rokok terpasang di sudut mulut, bergerak gerak setiap dia bicara. Pria itu terus saja bicara dengan gaya menggurui. Seolah kami bertiga hanyalah manusia manusia kecil tak berdaya. Paling tidak di hadapannya. Matanya kadang berputar menyapu ruangan. jarang menatap kami langsung. Wajahnya bulat. Berbadan kekar, sedikit agak gemuk. Tinggi di atas rata rata. Menjelang akhir 1975, kami bertiga, kakak ipar saya dan paklik saya, kebetulan keduanya bernama sama, Subroto, sedang berada di kejaksaan Ambarawa. Lupa nama dan jabatan sang penegak hukum itu. Mungkin Kasipidus. Kepala Seksi Pidana Khusus. Ada urusan. Ayah saya sudah lebih dua bulan mendekam dalam tahanan. Tanpa berkas tuduhan apapun.&lt;br /&gt;" Saya ini abdi negara. Di sumpah untuk melindungi masyarakat. Saya benar benar merasa kasihan melihat bapak sampeyan. Saya pengin urusan ini cepat diselesaikan."&lt;br /&gt;" Kami juga pengin urusan ini segera selesai ", paklik saya menyahut.&lt;br /&gt;" Bapak saya pesan kalau dia ingin berkasnya segera ke pengadilan dan disidangkan". Saya menyela pembicaraan.&lt;br /&gt;" Lha ini cara anak muda menyelesaikan masalah. Sok pahlawan. Pengadilan dianggap barang entheng. Sampeyan terlibat dalam organisapi mahasiwa ya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya ditujukan ke saya. Saya masih ingat persis beberapa kali dia memplesetkan kata organisapi dengan gaya yang sangat sinis. Pertanyaannya tendensius. Seolah organisasi mahasiswa ini barang haram. Saya masih menunggu sumpah dokter waktu itu. Semua ujian sudah selesai.&lt;br /&gt;" Jika anda percaya sama saya, urusan ini lebih baik diselesaikan di luar pengadilan", sambung sang penegak hukum.&lt;br /&gt;" Apa maksud pak jaksa ?". Paklik saya mencoba bertanya.&lt;br /&gt;" Jangan berlagak pilon. Saya akan berkoordinasi dengan kepolisian dan pengadilan dalam menangani kasus ini. Kasusnya akan kami deponir. Tetapi terus terang saja, saya perlu cash agar mereka mereka mau menutup kasus ini. Jaman sudah gila. Aparat hukum pada doyan duwit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya orang ini sudah begitu terlatih menggiring orang untuk mau menyelesaikan masalah dengan jalan damai. Omongannya selalu sok bersih, seolah dia bertugas membersihkan sistem yang rusak. Padahal dia juga yang berperan kotor dan ikut merusak sistem itu. Bayangkan saja berita akhir akhir ini, seorang petinggi penegak hukum, ketahuan sedang masturbasi dengan seorang caddy wanita muda di kamar hotel. Apa yang dia bilang ke suami siri sang wanita saat ketahuan ? "Saya ini sedang mengemban misi memperbaiki negara yang sudah bobrok". Gila memperbaiki negara kok dengan masturbasi dengan caddy wanita di kamar hotel, Kembali ke cerita semula. Sang jaksa kemudian dengan sedikit senyum menyebutkan angka jumlah uang yang diperlukan. Saya lupa persisnya. Jika tak keliru sekitar dua setengah juta rupiah.&lt;br /&gt;"Jangan dinilai dari segi jumlahnya. Pandanglah dari inisiatif baik dibelakangnya. Saya bermaksud menolong bapak sampeyan. Jika tak bersedia tidak apa apa. Saya perlu memberi sesuatu kepada mereka yang doyan duwit itu". Sekali lagi dia melempar tanggung jawab perilaku jelek itu ke pihak lain. Kepolisian dan pengadilan. Padahal setali tiga uang. Orang Jawa bilang rase sama kuwuk, sama saja suka mencuri ayam.&lt;br /&gt;" Apakah ada jaminan jika uang kami serahkan Bapak saya akan dikeluarkan?, kakak ipar saya bertanya.&lt;br /&gt;"Jangan menantang ya. Kata kata saya tadi keluar dari mulut seorang penegak hukum. Bisa saja Bapak sampeyan saya jerat dengan tuduhan subversi. Tak ada batas waktu penahanan. Saya pernah menjebloskan orang dengan hukuman 15 tahun karena subversi di Jawa Timur dulu. Ati ati sampeyan ngomong".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasannya ketus dengan nada mengancam. Sang jaksa begitu tersinggung dengan pertanyaan kakak ipar saya.. Mungkin dalam benaknya tidak layak pertanyaan itu diajukan ke sang penegak hukum. Apapun yang dikatakan sang jaksa ya bersifat mengikat secara hukum. Sapda pendhito ratu. Kami bertiga minta diri keluar ruangan. Akan berpikir dan berbicara dulu. Di luar saya melihat para pegawai duduk bergerombol di ruang depan. Ruang terbuka menghadap halaman dan jalan raya. Kepala kejaksaan juga berdiri disana, merokok. Tak tahu apa yang diperhatikan di sana. Suasana itu memberikan kesan kuat akan etos kerja yang buruk. Mereka semua berseragam abu abu. Tiba tiba seseorang mendekati saya dan mengajak salaman.&lt;br /&gt;' Ingat saya Ki?&lt;br /&gt;' Dim, gimana kabarnya ? Anda kerja di sini sekarang?&lt;br /&gt;Dia teman saya sewaktu SMP dulu. Juga murid bapak saya.&lt;br /&gt;" Ki terus terang saya pengin bicara. Kasihan bapakmu. Diselesaikan saja di luar pengadilan. Tadi kan sudah ketemu pak Kasipidus ?. Berat kalau masuk kasus subversi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak begitu minat untuk bicara lebih banyak. Saya dan kakak ipar saya langsung pulang. Paklik saya kembali ke tempat tugasnya di Lembaga Pemasyarakatan Ambarawa Malam itu kami janji akan bertemu di rumah. Membicarakan tawaran sang jaksa tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, kira kira sepuluh minggu sebelumnya, rumah kami digerebeg polisi. Bapak saya suka kumpul kumpul sama banyak orang, terutama mereka yang mengikuti aliran kebatinan. Lima belas tahun sebelumnya dia ikut masuk salah satu aliran kebatinan yang bernama Manunggal, yang dipimpin oleh Romo Herucakra di Banyumas. Banyak sekali pengikutnya waktu itu. Saya hanya sempat melihat pagelaran wayang kulit di Wedhi Klaten tahun 1965, dengan dalang terkenal yang juga penulis kondang sastra Jawa. Jika tak salah satu karangannya adalah Api di Bukit Menoreh.. Ternyata banyak pengikut dari kalangan atas, termasuk kalangan Chinese business . Salah satu murid senior perguruan kebatinan ini seorang Jerman yang desersi dari tentara Belanda waktu perang kemerdekaan dan telah masuk WNI. Namanya Hoebers. Dia sering nginap di rumah kami ber minggu minggu. Saya benar2 kagum akan kemampuan bahasanya. Dia menguasai 33 bahasa. Juga ahli matematika. Saya tidak mengikuti aliran tersebut. Hanya dengar cerita dari Bapak saya. Di awal tahun tujuh puluhan aliran ini dilarang pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut aliran Manunggal yang tinggal di sekitar Ambarawa sering kumpul kumpul di rumah pada hari hari tertentu, kalau nggak salah Selasa Kliwon. Terutama setelah Romo Herucokro meninggal. Lupa kapan persisnya. Saya sering mengingatkan ayah saya oleh karena setiap pulang ke Ambarawa sering banyak orang kumpul di rumah. Umur ayah saya waktu itu pertengahan enam puluhan, pensiunan. Banyak orang kumpul mungkin juga hiburan buatnya. Apalagi jika diskusi mengenai aliran yang dipercayai bersama. Pada saat penggeledahan ketemu beberapa materi cetak perguruan manunggal dan beberapa kopi majalah Echte Warheid. Majalah ini aslinya terbit di USA. Saya minta kopi bahasa Belanda nya untuk bahan bacaan Bapak saya. Tak ada kaitannya dengan subversi. Diterbitkan oleh salah satu sekte agama di Amerika. Hanya karena berbahasa Belanda dan gratis, maka saya minta majalah itu dikirm rutin ke alamat Bapak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya di tahan di kepolisian Ambarawa kira kira dua minggu, kemudian dipindah di Salatiga beberapa minggu, sebelum akhirnya dialihkan ke penjara tua di Ambarawa. Saya sempat menemuinya beberapa kali saat di Ambarawa dan Salatiga. Sekali bersama Nyi. Masih pacaran tetapi sudah tahap serius. Kami baru akan kawin bulan Desember nanti. Bapak saya tetap berkeras hati merasa tidak menyalahi aturan apa pun. Dia minta agar berkas pemeriksaan segera diajukan ke pengadilan. Di jaman Belanda memang pernah mendekam di Nusakambangan karena ikut gerakan bawah tanah melawan pemerintah Belanda di tahun empat puluhan. Jadi ditahan polisi dia tak merasa kecil hati sama sekali. Saat di tahan di kepolisian, walau tempatnya sangat sederhana, dia tak banyak mengalami masalah. Banyak bekas muridnya yang selalu menengoknya. Saya begitu khawatir saat itu oleh karena kami sedang berencana akan menikah. Memang akhirnya saat pernikahan kami, bapak mendapat ijin khusus untuk menghadiri. Diberi libur dari tahanan selama 3 hari. Ikut ke Pekalongan menyaksikan acara nikah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya sesudah menghadap sang jaksa tadi, kami bicara di rumah dengan kakak kakak saya dan paklik. Akhirnya disepakati saja untuk memenuhi permintaan sang jaksa. Dua setengah juta rupiah. Saya lupa siapa yang menyerahkan ke kejaksaan. Kakak ipar saya atau paklik saya. Ternyata benar, walaupun uang sudah diserahkan, sampai lebih seminggu Bapak belum juga dibebaskan. Kemudian kakak ipar saya menemui lagi sang jaksa tadi. Saya tidak ikut oleh karena sudah mulai bertugas sebagai asisten. Ternyata sang jaksa masih minta komisi lagi. Minta tambahan untuk dia. Satu juta rupiah. Saat uang komisi itu diserahkan dengan tenang katanya dia berkata " Orang kan bisanya cuma tolong menolong. Take and give".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu kisah hitam pengalaman saya berhadapan dengan penegak hukum. Bapak saya sebagai pihak yang dituduh waktu itu. Di tahun 1997, ada pengalaman getir yang lain. Anak saya Moko meninggal karena ditabrak mobil yang dikendarai secara sangat sembrono. Kami sebagai pihak korban. Tetapi saat persidangan di pengadilan, juga harus mengeluarkan uang untuk jaksa dan hakim agar si penabrak masuk penjara. Penabrak itu memang akhirnya di vonis 11 bulan, tetapi nggak tahu berapa lama dia mendekam di dalam. Semua toh bisa tawar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika saat ini ada rame rame antar elit penegak hukum di atas sana, saya tidak kaget dan tidak gumun. Orang Jawa bilang, rase sama kuwuk sama sama suka mencuri ayam. Hanya ingat cerita saat Indonesia krisis pejantan sapi, maka waktu itu cepat2 pemerintah mengimpor sapi pemacek dari Australia. Krisis sapi teratasi. Kalau krisis hukum apa ya bisa impor ? Apanya yang mau diimpor? Yang penting aja gumunan, aja kagetan. Kita semua melihat sandiwara besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2027206966250919962?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2027206966250919962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2027206966250919962' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2027206966250919962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2027206966250919962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/11/sandiwara-penegakan-hukum.html' title='Sandiwara penegakan hukum'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6326975546034629487</id><published>2009-11-02T18:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T18:30:01.436-08:00</updated><title type='text'>Siapakah aku ini</title><content type='html'>Hidup adalah perjalanan panjang. Menempuh arah dan menuju tujuan masing masing. Dalam perjalanan panjang itu  pasti bertemu banyak orang. Dengan segala corak dan tujuan hidup masing.  Juga bertemu banyak teman. Teman sesaat atau  selamanya.. Juga teman hidup yang dicintai. Yang menemani perjalanan sampai waktu berakhir.  Bertemu dengan banyak corak manusia, pertanyaan kadang menerpa. Siapakah mereka? Apa yang mereka lakukan. Siapakah  aku? Apa yang saya tuju dalam hidup ini? Pertanyaan yang sering datang bersama lamunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan sederhana ini datang ke benak saya , pertama setelah membaca sajak Chairil Anwar , di tahun 1964. Setelah pelajaran bahasa Indonesia. Mungkin tak lengkap. Hanya ingat sepatah sepatah " Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya yang terbuang. Tak perlu sedu sedan itu. Biar peluru menembus kulitku. Aku tak kan  peduli. Berlari Berlari, hingga hilang pedih peri" Saya tak tahu persis apa yang emosi dan pikiran Chairil dibalik puisi itu. Nampak begitu bergelora. Membara penuh semangat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim bunga di tahun 1964. Bunga kopi, bunga mawar semerbak di kebun kami. Hanya beberapa minggu setelah kami menerima pelajaran tentang puisi Chairil Anwar tadi.  Di hari Minggu itu kami siswa siswi Taman Siswa  jalan jalan  ke Gunung Kendali Sodo, di sebelah Timur Laut kota. Bahasa sekarang mungkin outbond. Dulu waktu sekolah dasar,  istilahnya gerak jalan.  Berjalan kaki sepanjang  kurang lebbih tujuh kilometer. Dari desa kami total mungkin 12 kilometer. Dipimpin guru olah raga, namanya pak Beny. Badannya kuat, suka cerita, kadang sampai membual. Katanya pernah dikeroyok perampok lima orang. Satu persatu KO kena ketupat Bangka Hulu. Perjalanan mengasyikkan. Tak terasa lelah walau jalan mendaki sepanjang perbukitan,setelah melewati desa Doplang. Hawa belum panas benar. Awal musim hujan. Udara Ambarawa masih sejuk kala itu. Pak Beny selalu cerita ke sana kemari. Kadang2 teriak memberi semangat sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di puncak Gunung Kendalisodo kira kira hampir jam sebelas siang. Dari puncak bukit itu terlihat pemandangan lembah terhampar luas. Lembah Ambarawa di sebelah Barat, dan dataran rendah menuju Semarang ke arah Timur Laut. Begitu menakjubkan. Asri dan damai sekali waktu itu. Saya merasa begitu kecil berdiri di puncak bukit itu. Kami hanya duduk duduk dibawah pohon pohon rindang.Kadang kadang nyanyi bersama. Lupa lagu apa saja yang kami nyanyikan saat itu. Satu yang tak terlupakan. Lagu indah Taman Siswa kami kumandangkan di atas bukit . "Taman Siswa perguruanku. Hiduplahmu semerdekanya.  Taman Siswa jantung hatiku. Bersinarlah semulianya. Dari Barat sampai ke Timur. Pulau pulau Indonesia. Nama kamu sangatlah masyhur. Diliputi merah danputih". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis nyanyi nyanyi hanya duduk duduk menggerombol. Masing masing asyik ngobrol dan makan bingkisan makanan dengan kelompok masing masing.  Pak Beny cerita di kelilingi siswi siswi putri. Hanya seorang siswa laki laki yang ikut dalam kelompok pak Beny, namanya Kadar si kacamata. Dia takut jauh jauh. Tebing begitu tinggi dan terjal.  Takut kalau terpeleset. Saya lihat Santi dan mbak Marni di seberang lereng bukit. Santi nampak begitu menawan. Dengan baju hijau muda. Pipinya memerah terkena panas mata hari. Kadang2 dia terpekik ceria. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tiba tiba saja saya ingat puisi Chairil Anwar itu. Aku. Pertanyaan menerpa ringan di antara lamunan menikmati pemandangan alam yang menakjubkan. Siapakah aku ini?  Apa yang akan saya gapai dalam hidup ini? Lamunan saya melayang di antara langit dan awan. Menelusur lembah dan bukit yang begitu indah. Pemandangan lembah yang begitu indah terhampar luas di bawah sana.  Saya ingin terbang  menembus cakrawala itu. Menembus langit itu. Bersama awan. Bersama Santi, kalau bisa. Dengan baju hijau muda dan syal warna lembut. Dia sering memakai syal warna kuning lembut. Untuk mengusir hawa dingin pagi hari waktu itu. Syal itu pasti akan melambai lambai di langit jika dia terbang. Terbang di langit tak bertepi. Dalam lamunan tak berbatas.  Edaaan ah. Lamunan keterlaluan.  Tetapi melamun sih bisa saja. Tak ada larangan untuk melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah aku ? Apa yang saya gapai? Saya ingin pergi ke luar dari lembah indah itu. Belajar dan berjuang ke masa depan. Saya ingin belajar di luar sana. Di balik cakrawala. Di seberang dunia. Di luar Indonesia.  Ingatan saya melayang ke kakak saya tertua yang saat itu sedang tugas belajar di West Lafayette, USA. Moga moga saya bisa  seperti dia. Namanya Hadiwaratama. Lulus ITB tahun 1963, terus tugas belajar ke Amerika.&lt;br /&gt;Sekarang sudah pensiun dari ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan saya untuk pergi begitu bergelora. Bercampur lamunan lamunan indah..  Hidup memang begitu keras saat itu. Saya harus bangun setiap pagi jam empat. Memerah susu. Kemudian jam enam pagi sudah harus berangkat sekolah jalan kaki.  Pulang sekolah juga harus mengurus sapi sapi itu kembali. Masih ada banyak binatang piaraan yang lain, kambing, kuda, ayam dan burung. Meskipun ada pekerja, tetapi kami bersaudara selalu harus terjun mengawasi. Kami punya perusahaan pemerahan susu di desa. Tak pernah memelihara kerbau. Nggak tahu kesan terhadap kerbau selalu negatip. Di antara kerasnya hidup sehari hari, hanya lamunan itulah pelarian yang indah dan mengasyikkan. Dengan pertanyaan, siapakah aku dan apa yang ingin saya gapai dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, pertanyaan serupa juga sering hinggap di benak saat kuliah di fakultas Kedokteran, di Mangkubumen Yogyakarta. Kebetulan seorang guru besar yang kami banggakan juga suka cerita. Kadang membual. Ceritanya selalu dimulai dengan kata kata "Saya ini". Setiap pulang dari luar negeri selalu cerita. "Saya ini minggu kemarin ke Hawai. Ada konperensi". Pernah saya ceritakan, adik kelas saya Narko pernah disuruh keluar dari kelas. Baru sang guru besar  mulai bicara "Saya ini", Narko teriak dari belakang "Si Gembala Sapi". Berang benar guru besar itu. "Keluar kamu, anak kampung. Sana pergi ke Sentolo saja". Kesulitan kesulitan semasa kuliah selalu menghantui. Tetapi mendengar cerita sang guru besar tadi, selalu membesarkan hati. Siapakah aku ini? Apa yang akan saya gapai dalam hidup ini?  Kami selalu terpukau mendengar ceritanya. Walau beberapa mungkin sedikit membual. Tetapi itulah yang memompa semangat saya. Mencari apa yangakan saya gapai dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun delapan puluh saya mendapat kesempatan tugas belajar di Newcastle, UK dengan beaya Rockefeller Foundation. Menyelesaikan program doktor. Kembali ke Indonesia tahun 1983, dan bertugas sebagai dosen. Merambat dari bawah. Beberapa kali saya sempat berbincang dengan sang guru besar senior tadi. Gaya bicaranya tak pernah berubah. Selalu menggugah semangat anak  muda untuk berpacu ke depan. Di akhir tahun delapan puluhan, saya masih ingat pembicaraan terakhir ketika beliau dirawat di rumah sakit. Beberapa minggu sebelum meninggal. "Ki saya sudah tua.  Pengin istirahat dan hidup tenang. Saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan dalam hidup ini. Saya merasa tenang jika orang mengingatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  menjadi dosen senior, terutama saat terlibat dalam program doktor, saya banyak belajar tentang pertanyaan Siapakah aku ini?. Apa yang saya tuju dalam hidup ini ? Tak jarang mereka mereka yang diberi kewenangan akademis begitu besar untuk menentukan lulus atau tidaknya seorang calon, begitu terbuai dengan ungkapan Siapakah Aku ? Ini lho aku yang berkewenangan besar. Menentukan nasib anda. Menentukan lulus atau tidak. Menentukan perjalanan karier anda di masa depan. Jika ada calon yang menjawab keliru dalam ujian lisan, tidak hanya disanggah, kalau perlu di cerca sampai terjatuh terbirit birit. Mungkin manusiawi. Orang kadang kadang begitu mengagumi diri sendiri. Siapa aku ini?&lt;br /&gt;Sampai almarhum Gepeng almarhum, tokoh komedi Srimulat itu, terkenal dengan kata sindiran "Untung Ada Saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kewenangan dan kekuasaan  luar biasa orang gampang  terlupa "Siapakah aku ini"?. Banyak contoh di sekitar kita. Ada anggota DPR lupa, siapa dia. Harusnya menggodok undang undang kok malah buat foto mesum. Memangnya bintang film porno?. Guru yang seharusnya mendidik dan melindungi muridnya kok malah  mencabuli siswi yang masih di bawah umur. Lupa siapa sebenarnya dia. Ada pejabat publik yang top di Republik ini, lupa diri siapa dia,   malah  colek mencolek dengan caddy cantik di kamar hotel. Edan ya memang enak sih colek mencolek. Apalagi kalau bukan sama nyonya. Nyolek isteri sendiri kadang kadang malah bisa digampar pakai bantal. Jangan ganggu orang tidur. Siapa salah mencolek caddy. Alasan sih bisa dibuat. Operasi intelijen. Intelijen kok malah nyoleki wanita caddy. Enak dhong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah aku ini ? Dalam masa masa tua ini, jika pertanyaan itu datang dalam lamunan, saya hanya menjawab pasrah. Sederhana sekali. Saya bukan  siapa siapa. Hanya pelanglang dunia maya. Menjelajah dunia tak bertepi, tak berbatas. Menembus langit melanglang dunia. Menyapa siapa saja yang bertemu dalam perjalanan maya itu. Mungkin meninggalkan catatan kecil. Asal terbaca oleh mereka yang berkelana. Jika masih ada waktu  suatu saat mungkin membuat catatan tentang sesuatu. Tentang makna hidup dan perjalanan hidup. Tentang cinta dan kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6326975546034629487?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6326975546034629487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6326975546034629487' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6326975546034629487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6326975546034629487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/11/siapakah-aku-ini.html' title='Siapakah aku ini'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5967449329587800712</id><published>2009-08-29T08:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:22:36.433-07:00</updated><title type='text'>Sepatu dari kulit rusa</title><content type='html'>Sepatu dari kulit rusa – bulan madu sampai mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik lagu Sepatu Dari Kulit Rusa terdengar mengalun indah. Malam yang hening. Lupa kapan persis tahunnya. Mungkin tahun tujuh puluh.. Juga nama pasangan suami isteri yang menyanyikannya. Minggu malam itu, ada acara latihan musik di rumah pak Darwis Brahim almarhum di kampung Suronatan, Yogyakarta. Saya mondok di rumah pak Darwis sejak tahun 1969 sampai 1972.  Keponakan beliau, pasangan muda suami isteri  itu menyanyikan lagu dengan kompak dan rukun. Perasaan saya hanyut terbawa oleh  lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kubelikan sepatumu&lt;br /&gt;Dari kulit rusa&lt;br /&gt;Kunyanyikan lagu untukmu&lt;br /&gt;Lagu tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak hapal sepenuhnya lirik lagu itu. Hanya di akhir lagu ada pesan mendalam "Bulan madi sampai mati". Lagu itu begitu indah dan membawa pesan yang dalam. Pesan tentang cinta yang langgeng sampai mati. Saya terkesima malam itu karena lagu itu dan pasangan  rukun yang menyanyikannya. Sang isteri berparas anggun, seorang pengusaha batik yang ulet, melambangkan ciri wanita Yogya dan Solo yang suka bekerja keras. Sang suami berwajah menarik dan gantheng,  pengusaha hotel dan biro perjalanan Natrabu. Dia suka memakai baju merah dan berpakaian necis. Saya selalu merasa iri dan kagum.  Wanita Yogya dan Solo selalu memanjakan  dan begitu memperhatikan (care) sang suami, kesan saya waktu itu. .. Itu juga yang saya lihat dari pasangan yang menyanyi malam itu. Kami kebetulan bertetangga dekat. Almarhum pak Darwis yang saya pondoki, adalah  ketua Rukun Kampung di Suronatan, dan juga ketua kelompok orkes keronsong di sana. Putra pertamanya, mas Bursman, jadi pengusaha di Jakarta dan penah beristerikan penyanyi  kondang Ivo Nila Krisna. Kabarnya dia juga suka menyanyi, tetapi belum pernah saya melihat mas Bursman menyanyi. Tak pernah luntur dari ingatan saya pesan dari lagu itu. Bulan madu sampai mati. Walaupun  pengalaman pacaran  dengan gadis Solo atau Yogya selalu berakhir kandas tanpa kata kata. Hanya hilang menguap begitu  gampang di langit. Sublimasi semata. Pernah saya ceritakan di Koki Kompas.. Tetap saja ada kenangan yang indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya mencoba membuka buku harian lama. Ada pesan  menarik tertanggal dua puluh tujuh Mei 1972. EMSA, gadis Solo  menulis di bukur harian tersebut. Kami berpacaran selama kurang lebih dua tahun waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ki sayang ,&lt;br /&gt;22 tahun telah datang padamu&lt;br /&gt;Dan kau miliki penuh&lt;br /&gt;Tapi aku tak pernah tahu apa apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ketika datang 27 Mei 1972&lt;br /&gt;Sepenuhnya aku akan mengerti&lt;br /&gt;Tentang hari ini.&lt;br /&gt;Karena hari ini adalah harimu&lt;br /&gt;Karena aku menyayangimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila seseorang menyayangimu,&lt;br /&gt;Maka ia akan menyayangi seluruh hari harimu&lt;br /&gt;Setiap damba dan cita citamu&lt;br /&gt;Segala kehidupanmu&lt;br /&gt;Dan semua yang ada padamu.&lt;br /&gt;Kemudian ia akan berdoa kepada Tuhan untuk kebahagianmu.&lt;br /&gt;Kasih dan sayangmu EMSA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Tak sedalam pesan dari lagu Sepatu  Dari kulit Rusa. Tetapi saya mendapat kesan pesan cinta yang dalam, yang romantis, walau akhirnya kandas. Tak ada yang perlu disesali. Perjalanan memang selalu tak terduga. NYI juga membaca buku harian ini kemudian ketika kami sudah bersuami isteri. Tak ada pengaruh sama sekali. Pesan mendalam Sepatu dari Kulit Rusa lebih dominan bagi kami, bulan madu sampai mati. Pesan cinta selalu didominasi oleh perasaan, oleh romantisme. Jarang  tercampur dengan rasa napsu dan seksualitas. Bandingkan dengan pesan pesan yang dikirim oleh Gubernur Sanford kepada kekasih gelapnya (WIL), wanita Argentina itu. Dalam tayangan TV, jika tidak salah ada ungkapan yang menyatakan " keindahan lekuk liku tubuh dan dua buah gunung di tubuhmu".  Sulit mengatakan ungkapan tersebut karena rasa  cinta dan romantisme semata. Ada napsu, ada seksualitas disana. Lebih pas untuk hubungan WIL dan PIL. Mungkin bukan semata karena cinta yang menggebu. Hati hati jika terima syair syair dari kekasih yang penuh napsu dan seksualitas lho. Jangan jangan malah berakhir PIL atau WIL. Indahnya  PIL dan WIL lebih banyak di sisi napsu dan seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juni 2009. Saya bersama NYI ke Washington DC. Tidak khusus bulan madu.. Hanya pengin jalan jalan setelah lima belas tahun tak menginjak tanah Amerika. Kami tinggal di satu hotel di Pensylvania Avenue. Saya menghadiri pertemuan sejak jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Berhari hari NYI mengeluh tak bisa menemukan mall. Mau beli tas di sana. Tak bisa menemukan tempat belanja yang pas katanya. Paling gampang mestinya pergi ke mall. Tetapi berkali kali putar putar down town Washington, tak juga menemukan mall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di hari ke empat, saya pulang pertemuan lewat kampus George Washington University, ada papan penunjuk  ke arah National Mall. Sampai hotel cepat cepat saya memberitahu NYI, ada mall dekat sini, hanya setengah jam jalan. Kami bergegas ganti pakaian dan turun ke jalan. Resepsionis hotel memberi tahu kalau mall itu buka dua puluh empat jam. Kami berjalan bergegas sesuai arah petunjuk. Beberapa kali bertanya penjalan kaki, selalu ditunjuk ke taman besar dengan hutan lebat di tengah kota. Merasa bloon benar, ternyata memang National Mall bukan shopping mall yang saya bayangkan. Kelelahan kami duduk di tepi jalan. Selang dua puluh menit ada taksi yang mau berhenti. Ketika saya minta diantar ke shopping mall terdekat, bukan National Mall, dia malah tertawa terkekeh mengerti kekeliruan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami diantar ke Pentagon City mall. Tak terlalu besar dibanding dengan Mall of  Asia di Manila. Tetapi lumayan banyak ragam toko di sana. Moga moga cepat selesai belanja, doa saya. Di Manila kami juga jarang belanja di mall sama sama. Mengantar isteri belanja perlu kesabaran khusus. Setelah berputar putar, akhirnya NYI beli pasangan tas, sepatu dan kaca mata. Satu merk. Tak tahu saya apa istimewanya. Saya hampir tidak pernah beli barang bermerk. Sepuluh tahun terakhir selalu sepatu buatan lokal Filipina, yang juga nampak modis. Saya hanya beli topi saja, untuk kenangan. . NYI nampak riang sekali. Dalam perjalanan pulang ke hotel saya lebih banyak berdiam diri. Masih dongkol pengalaman lari lari cari National Mall tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat lagu Sepatu dari Kulit Rusa. Dalam taksi saya  lantunkan lagu indah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kubelikan sepatumu&lt;br /&gt;Dari kulit kerbau,&lt;br /&gt;Kunyanyian lagu untukmu&lt;br /&gt;Lagu tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak seindah lamunan dalam Sepatu dari Kulit Rusa. Apalagi telah kesasar sasar lari lari ke National Mall, taman belukar di tengah kota Washington. Juga tidak beli sepatu dari kulit rusa. Mungkin kulit lembu, atau bahkan kulit kerbau atau kambing. Tetapi moga moga pesan akhir lagu itu tetap  terhayati, bulan madu sampai mati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi (Manila)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5967449329587800712?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5967449329587800712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5967449329587800712' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5967449329587800712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5967449329587800712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/08/sepatu-dari-kulit-rusa.html' title='Sepatu dari kulit rusa'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4561485462651092687</id><published>2009-06-24T06:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-24T06:09:35.276-07:00</updated><title type='text'>Taruna itu bernama Prabowo</title><content type='html'>Ada catatan dalam buku harian saya, hari Senin tanggal  6 September  1971. Tentang kunjungan kami, rombongan mahasiswa kedokteran UGM, ke  markas pendidikan akademi militer di Magelang, sehari sebelumnya. Ketika membaca baris baris dalam catatan lama tersebut, ingatan saya melanglang ke masa lalu.  Namun  lebih didominasi oleh  pertemuan dan wawancara saya  dengan jendral Sarwo Eddhie. Khususnya tentang penembakan pesawat yang ditumpanginya di bandara Wamena beberapa bukan sebelumnya sewaktu masih  menjadi panglima Komando Daerah Militer di Irian Barat, oleh Gerakan Papua Merdeka.  Pembicaraan berlanjut sekitar gerakan separatis di  Irian dan perilaku para pejabat republik di propinsi ujung timur itu. Saya masih duduk di tingkat tiga Fakultas Kedokteran, dan pemimpin redaksi majalah mahasiswa Hygieia almarhum. Tiga puluh delapan tahun telah berlalu. Buku harian saya kebetulan kena embargo NYI karena didalamnya ternyata banyak tertulis kisah  romantis jaman dulu, yang juga sudah saya pernah ceritakan di Koki. Khususnya dengan Eny dan Emsa. Cinta monyet, cinta masa lalu, modal permen karet, sana sini lengket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang mungkin perlu diceritakan dari peristiwa kunjungan itu. Pertemuan singkat dan perkenalan saya dengan seorang taruna. Prabowo Subianto Djojohadikusumo.  Sementara teman teman lain waktu itu sudah terlibat dengan berbagai acara pertandingan olah raga, sepuluh mahasiswa diterima oleh Gubernur AKABRI bersama staff teras di ruang pertemuan gubernur. Beberapa taruna juga mewakili rekan rekan mereka.  Dalam acara pembukaan kami semua diperkenalkan, juga tuan rumah. Salah seorang taruna yang diperkenalkan oleh jendral Sarwo Edhie waktu itu adalah Sermadatar Prabowo. "Taruna yang duduk di ujung itu adalah putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo". Sermadatar artinya Sersan Mayor Darat Taruna. Saya lihat Bung Prabowo senyum malu malu di deretan kursi seberang. Diskusi dengan jendral Sawo Eddhie kemudian berkisar tentang penyimpangan2 di Irian barat, dan peristiwa kekerasan yang menimpa mahasiswa oleh taruna akademi militer baik di Yogya maupun di Bandung. Tewasnya Rene Louis Conrad di Bandung  menjadi topik tanya jawab menyolok. "Tragedi dan kemunduran dalam pembinaan generasi muda para calon pemimpin bangsa", itu salah satu ungkapan yang saya ingat dari beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dengan para taruna berjakan agak kaku. Ketika seorang teman saya berucap " Anda anda di Akademi Militer menikmati fasilitas pendidikan yang begini mewah dan gratis. Kami kami hanya mendapatkan fasilitas belajar pas pasa, dan harus membayar mahal". Jawabannya dari taruna paling senior agak klise " Di manapun di dunia, pendidikan militer selalu gratis. Di ksatrian ini, kami ditempa menjadi  pembela negara".  Kekakuan suasana masih terasa dengan taruna, walaupun kunjungan itu sebenarnya ditujukan untuk mempererat hubungan mahasiswa dan taruna militer. Peristiwa pembunuhan Renne Louis Conrad mahasiswa ITB oleh taruna Akademii Kepolisian di Bandung setahun sebelumnya, dan pengeroyokan mahasiswa tehnik UGM oleh taruna Akademi Angkatan Udara di Yogya, masih ingat dalam ingatan kami. Ketika saya mencoba menyindir istilah ksatrian yang mereka sebut, teman sebelah saya menginjak kaki saya memberi tanda untuk tidak melanjutkan debat yang tak perlu. Batin saya, siapa yang bilang kalau para taruna itu ksatria, dan markas mereka ksatrian. Edan narsis benar. Ksatria di manapun nggak suka main keroyokan. Lantas kami kami para mahasiswa  ini dianggap  apa? Dianggap sudra apa? Sorry meck, tak adaitu dalam kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Sermadatar Prabowo. Dia lebih banyak diam dan tak banyak diskusi. Hanya salah satu temannya mengatakan bahwa dia menguasai empat bahasa. Sesudah pertemuan kami sempat bicara singkat. Basa basi. Bahasa Indonesianya masih kaku, nggak lancar. Mungkin karena lama tinggal di luar negeri. Dalam perjalanan ke ruang makan kami lebih banyak ditunjukkan berbagai ruang dan fasilitas pendidikan yang mereka miliki. Selanjutnya tak ada kontak lanjutan di antara kami. Masing masing tenggelam dalam perjalan karier yang panjang. Jelas dia kemudian sering muncul dalam berita nasional, apalagi sejak menjadi menantu RI satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak tak langsung dengan Bung Prabowo terjadi di awal tahun sembilan puluhan. Berkaitan dengan  forum diskusi mahasiswa Timor Timur pro adan anti integrasi. Salah satu tokoh mahasiswa pro integrasi adalah mahasiswa kedokteran waktu itu, Ossie Mario Soares. Bapaknya adalah tokoh pendiri partai Apodeti, yang dieksekusi oleh kelompok Fretilin di tahun 1975. Beliau adalah kakak mantan Gubernur Abilio Soares . Ossie selalu dekat dengan Bung Prabowo dalam upaya diskusi  antara kelompok pro dan kontra integrasi. Saya terlibat beberapa kali dalam pertemuan dan seminar mereka di Yogya. Kami hanya saling titip salam. Tak pernah bertemu langsung. Saya berharap dapat bertemu dengan Bung Prabowo, dalam salah satu pertemuan seminar dan dalam satu acara pertemuan mahasiswa Timtim dengan  Sultan. Bung Prabowo berhalangan datang dan hanya  titip salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira kira dua tahun lalu. Ada friendster Bung Prabowo. Agak ragu apakah ini betul beliau atau bukan. Banyak pemujanya di friendster itu. Beberapa kali dalam komunikasi lewat friendster, saya selalu mengakhirinya dengan kalimat " Asli lho". Hanya sekedar jaga jaga, kalau bukan Bung Prabowo beneran. Bahasanya selalu lugas dan santun. Tidak berapi api sama sekali. Kemudian lama friendster itu tidak aktif. Mungkin karena kesibukan dunia politiknya. Apa lagi sekarang menjadi Cawapres. Kita semua tak tahu persis kansnya. Tergantung para pemilih. Mungkin ada sedikit keraguan dalam hati para pemilih dalam pemilu tahun ini. Terutama berkaitan dengan tuduhan keterkaitannya dengan peristiwa orang hilang, dan kedekatannya dengan kelompok agama  garis keras.  Moga moga di pemilu tahun 2014, semua keraguan bisa diatasi. Masih ada waktu untuk menjelaskan. Jika peristiwa peristiwa itu bisa dijelaskan secara gamblang, mungkin publik yang memuja beliau dan masih ragu ragu, akan mendukungnya sepenuh hati. Saya bukan siapa siapa. Mendukung atau tidak, tak akan ada maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya ungkapkan di sini hanyalah salas satu sisi makna kehidupan.  Hidup adalah perjalanan panjang, suatu pengembaraan tiada henti. Dalam perjalanan itu kita bertemu banyak orang. Saling menyapa, saling memberi salam. Mungkin akan berjalan bersama. Mungkin akan berpisah. Dan suatu saat, entah berapa tahun lagi akan bertemu dan memberi salam kembali. Dunia maya memberi sarana dan makna begitu dalam, agar manusia bisa saling menyapa dan memberi salam dalam perjalanan dan pengembaraan panjang itu. Tiga puluh delapan tahun lalu, taruna itu bernama Prabowo. Sekarang adalah Cawapres Prabowo. Kami bertemu kembali lewat dunia maya. Tetapi saya bukan siapa siapa. Saya ini hanyalah si gembala sapi. Ki Ageng Similikithi. Salam bung Prabowo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4561485462651092687?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4561485462651092687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4561485462651092687' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4561485462651092687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4561485462651092687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/06/taruna-itu-bernama-prabowo.html' title='Taruna itu bernama Prabowo'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-2894720873626189207</id><published>2009-04-18T02:45:00.001-07:00</published><updated>2009-04-18T02:45:56.044-07:00</updated><title type='text'>Mas saya pamit</title><content type='html'>Peristiwa itu telah berlalu empat puluh tahun. Peristiwa yang tak terlupakan selama hidup. Yang telah mengubah perjalanan hidupnya. Heru masih kuliah di tahun ketiga Fakultas Kedokteran. di kompleks Mangkubumen, Yogyakarta. Jam setengah empat sore hari. Dia berjalan pulang ke rumah kost di Nagan. Letih dan lesu sesudah menyelesaikan asistensi praktikum anatomi. Bau formalin bercampur dengan mayat terawetkan sudah biasa baginya. Namun sore ini membuatnya merasa pusing. Hatinya gundah. Dia sudah hampir sembilan  bulan ini tidak pulang  mengunjungi orang tuanya. Tak jauh sebenarnya. Hanya makan waktu barang  tiga jam dengan bis. Rumah orang tuanya di Sragen. Tetapi dia malas pulang karena sakit hati dengan  bapaknya. Dia dimarahi saat pulang terakhir liburan tahun lalu. Pulang kemalaman ngobrol sama teman teman SMAnya. Tak sepucuk suratpun dilayangkan ke orang tuanya sesudah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi dia mimpi makan bersama bapak ibunya dan adik laki lakinya Kelik. Dalam mimpinya dia  asyik sekali ngobrol  sama bapak ibu dan adiknya. Kangen sekali dan pengin pulang rasanya. Tetapi jika ingat saat dimarahi ayahnya, dia masih  merasa sakit.  Hatinya terlalu tinggi untuk melupakan.. Heru selalu berpendirian kuat. Dia merasa belum pernah gagal.  Dia ingin menunjukkan kalau dia kuat. Bisa mandiri sampai lulus dokter nanti. Melewati pasar Ngasem, jalan ke Selatan. Mampir di tempat teman akrabnya, Dadi di Ngadisuryan. Dia sering tidur di sana karena belajar bersama. Demikian juga Dadi sering tidur di tempat kostnya. Dadi  baru duduk di depan kamar kost ketika dia datang. Dibawah kerindangan pohon jambu. Halaman luas dengan pohon pohon rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di, hati saya kok nggak tenang ya. Semalam mimpi makan makan sama bapak ibu dan adik saya".&lt;br /&gt;"Pulanglah kamu. Berbulan bulan nggak pulang. Tak ada enaknya marah sama orang tua dibawa terus. Maksudnya  bapakmu kan nggak jelek".&lt;br /&gt;'Rasanya kok masih salah tingkah saya. Adik saya Kelik bolak balik tulis surat ke saya. Saya pikir pikir coba minggu depan. Agak longgar".&lt;br /&gt;"Lebih cepat lebih baik.  Nggak usah pura pura sibuk. Asisten anatomi kerjanya kan sama mayat, ngapain  sibuk terus.".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru ngobrol dengan Dadi tanpa pembicaraan serius. Menjelang maghrib dia pulang. Pelan pelan berjalan ke Barat melewati rumah sakit Mangkuwilayan. Di halaman belakang rumah pondokan ada kebun yang tak terlalu luas. Berbatasan dengan selokan kecil dengan air gemericik. Kamarnya di muka kebun itu.  Ada beberapa pohon rindang di halaman itu. Juga beberapa bunga melati yang sedang mekar bunganya. Dia selalu ikut memelihara bunga bunga itu. Dia siram setiap sore. Ada sekuntum bunga yang nampak indah menarik perhatiannya. Dia siram bunga itu dengan  tembor air. Tanpa berpikir panjang dia petik sekuntum bunga yang indah. Harum semerbak. Ada kerinduan yang mendalam dalam hatinya. Ingin rasanya memberikan bunga itu untuk ibunya yang sangat dia sayangi. Tiba tiba seseorang menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunga itu indah sekali mas. Kasian kenapa mesti dipetik?".&lt;br /&gt;Heru terkejut luar biasa. Dia sudah akrab dengan suara itu. Adiknya Kelik yang baru duduk dikelas tiga SMA, tiba tiba saja muncul dari arah kegelapan di bawah kerimbunan pohon sawo kecik.&lt;br /&gt;"Kelik, kapan kau datang?. Kok tak memberi kabar dulu? Untung saya di rumah".&lt;br /&gt;"Baru saja datang, jalan dari standplat THR. Saya sudah menulismu beberapa kali. Tak ada balasan. Bahkan  surat terakhir saya kirim tiga hari lalu".&lt;br /&gt;"Bagaimana bapak ibu di rumah?. Baik baik?"&lt;br /&gt;"Bapak ibu sangat menunggumu mas. Bapak agak tidak sehat. Selalu menanyakanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan manja Kelik memeluk erat kakaknya. Memang kebiasaan Kelik selalu manja dengan kakaknya. Selisih umur mereka hanya tiga tahun. Hubungan mereka  begitu akrab. Keduanya sangat dekat dengan ibunya.&lt;br /&gt;"Kau dingin sekali Lik. Bajumu basah dengan peluh".&lt;br /&gt;"Nggak mas Ru. Saya tadi sempat turun di selokan itu. Dingin airnya".&lt;br /&gt;"Mari masuk dan ganti pakaian di dalam".&lt;br /&gt;"Lama kau nggak pulang. Apa nggak kangen sama ibu, sama saya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru menghidupkan lampu listrik. Hanya dua puluh lima watt. Tak begitu terang. Tetapi Heru  bisa melihat baju adiknya yang kotor karena debu. Baju putih dengan celana abu abu. Seragam SMA. Mungkin dia pulang sekolah langsung naik bis.&lt;br /&gt; "Pakaianmu kotor sekali Lik. Mandi dulu ya. Ini ganti pakai baju saya. Saya mau shalat dulu. Kamar mandi di samping sana".&lt;br /&gt;" Iya mas. Jangan lupa  pulang  nanti ya mas. Di tunggu bapak ibu  lo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru terus sholat dengan khusuk. Sehabis sholat dia masih melakukan beberapa doa mohon ketenangan. Sambil menunggu Kelik. Selesai mandi Kelik duduk di depan kamar. Baju putih celana putih bersih. Wajahnya nampak  nggantheng penuh senyum. Kelik memang punya wajah menarik, smiling face dengan gigi gigi indah. Rambutnya hitam kelam berombak. Hanya wajahnya agak sedikit pucat. Mungkin masih capai.&lt;br /&gt;Heru beranjak ke arah dapur. Kelik duduk di kursi dengan tangan terlipat di depan kamar. Warna harum menerpa ruangan saat Heru melewati tempat duduk Kelik. Dia akan menyiapkan makan malam mereka berdua.&lt;br /&gt;" Lho kok pakai baju putih. Tadi baju yang saya berikan warna abu abu kalau nggak salah".&lt;br /&gt;"Tak apa apa mas. Saya bawa pakaian sendiri. Malam ini saya tidur mana enaknya ya mas?. Agak bingung saya. Bapak ibu kasihan di rumah"&lt;br /&gt;"Jangan semaunya. Tidur di sini saja. Saya siapkan makan malam".&lt;br /&gt;"Saya kangen masakanmu mas. Nasi goreng sama telur".&lt;br /&gt;" Saya  siapkan  nasi goreng. Tunggu sebentar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Heru masak, Kelik hanya berdiam diri dan tenang sekali di depan kamar. Hanya seperempat jam nasi goreng sudah siap. Dia berikan satu piring untuk Kelik.&lt;br /&gt;"Silahkan kalau kurang masih ada sebagian di wajan. Di dapur sana".&lt;br /&gt;"Terima kasih mas Heru. Saya selalu merindukan masakanmu. Kau selalu memperhatikan ku, menyayangiku.".&lt;br /&gt;"Nggak usah ngomong macam macam. Tambah saja lagi kalau kurang itu di dapur".&lt;br /&gt;"Saya ingin  menikmati nasi goreng masakanmu bersama sama dengan bapak ibu juga. Pulang ya mas, cepat cepat saja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah  isya ketika mereka selesai makan. Heru cepat cepat ambil wudhlu dan melakukan sholat  isya. Saat selesai sholat tiba tiba Kelik pamitan. Kalimatnya agak aneh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aaah saya  pamit Mas. Kau sayang benar sama aku.. Tolong  datanglah temani bapak ibu ya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Heru sempat beranjak dari shalatnya, Kelik telah beranjak pergi dan menghilang di kegelapan. Heru hanya sempat mengumpat " Anak ini kok selalu angin anginan  sejak kecil". Heru termangu sendirian. Dia tahu benar watak adiknya yang tak pernah mau dicegah jira sudah punya keinginan. Nanti toh Kelik pasti pulang, pikirnya. Mungkin malam malam. Dia tiduran di kamar  sambil mendengarkan irama radio. Lagu indah Rahmat Kartolo, Pusara Cintaku, mengalun lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah sembilan  terdengar  ketokan di pintu. Paklik dan buliknya  diantar oleh bapak kost telah berdiri di muka kamar. Heru terkejut setengah mati. Ada apa?. Buliknya langsung memeluk "Nak mari pulang ke Sragen malam ini. Bapak ibu menunggu".&lt;br /&gt;Pakliknya juga segera memeluk sambil menangis pelan " Tabah ya nak. Mari saya temani  pulang ke Sragen". Sebelum sempat Heru menenangkan diri. Pakliknya memberi tahu lebih lanjut.&lt;br /&gt;"Heru harap tabah kamu ya nak. Adikmu Kelik telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Bapak ibumu menunggu".&lt;br /&gt;Heru menjerit tanpa disadari" Apa yang terjadi. Kami baru saja makan bersama Paklik".&lt;br /&gt;"Jam  empat tadi adikmu pulang  sekolah, mengalami kecelakaan nak. Sudah takdir, dia langsung menghadap Yang Maha Kuasa. Kuatkan hatimu ya, dia telah damai di sana".&lt;br /&gt;" Dia  baru saja saya buatkan nasi goreng. Makan sama sama saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru menangis meraung raung. Baju warna abu abu yang disediakan untuk Kelik masih utuh di atas kursi. Juga satu  piring isi nasi goreng itu masih utuh di atas meja. Hanya satu piring yang kosong.  Bersama  beberapa kerabat dekat mereka bersama naik mobil ke Sragen malam itu juga. Heru hanya bisa meratap sepanjang jalan. "Kelik, saya selalu menyayangimu. Saya sangat merindukanmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam mereka sampai rumah di Sragen. Heru memeluk ibu dan bapaknya. "Kelik selalu menanyakanmu Ru. Doakan adikmu, dia telah pergi" Ibunya meratap pilu. Bapaknya  nampak  semakin tua wajahnya. " Adikmu bolak balik mengajak saya  menengokmu ke Yogya, Ru. Tetapi saya sering tak sehat. Doakan adikmu ya. Dia telah pergi".&lt;br /&gt;"Sore tadi saya seolah bertemu dia. Datang di tempas kos saya. Kami makan nasi goreng sama sama"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru hanya bisa menangis menjerit jerit. Dia peluk tubuh adiknya yang dingin membeku. Dia ciumi wajahnya yang selalu tersenyum itu. "Kelik, saya selalu menyayangimu. Merindukanmu. Sepanjang  hidupmu".&lt;br /&gt;Malam itu Kelik tidur disamping jasad adiknya. Dia mimpi berlari lari bersama Kelik.. Seperti saat mereka masih anak anak. Diantara bunga bunga indah. Kelik memberikan sekuntum melati itu kepadanya. Heru merasa begitu bahagia. Ternyata Kelik berlari semakin jauh. Semakin jauh akhirnya menghilang  di balik awan. Heru hanya bisa meratap ketika bangun dari mimpi. Dia ciumi wajah adiknya yang beku. Esok harinya, dia mengantar Kelik ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Perjalanannya bersama  Kelik yang terakhir. Selamat jalan adikku, saya selalu menyayangimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru kembali menekuni kegiatan akademik di Yogya beberapa minggu kemudian. Kesedihan itu tak pernah hilang dari sanubarinya. Kesedihan ternyata datang silih berganti. Bapaknya meninggal beberapa bulan kemudian karena asma. Saat Heru menengoknya di rumah sakit sebelum meninggal, dia meninggalkan pesan singkat." Anakku, temani ibumu ya. Saya merasa capai sekali. Saya ingin istirahat. Saya ingin menemani adikmu. Belum puas rasanya menemani hidupnya yang singkat itu. Saya ingin memeluknya. Saya ingin tidur disampingnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini Heru masih sering termenung. " Hidup memang sekedar menunda kekalahan. Tetapi kekalahan itu datang begitu tiba tiba. Tak terelakkan lagi. Semoga kau damai di sana adikku. Saya selalu menyayangimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-2894720873626189207?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/2894720873626189207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=2894720873626189207' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2894720873626189207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/2894720873626189207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/04/mas-saya-pamit.html' title='Mas saya pamit'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3290230427794171840</id><published>2009-04-11T19:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T19:15:50.125-07:00</updated><title type='text'>Megatruh</title><content type='html'>Kisah ini terjadi di awal tahun delapan puluhan. Sudah lewat jam delapan malam ketika Toro memasuki kota Solo. Sendirian dia mengemudikan mobil  dari Semarang. Sengaja  tak mengajak sopir  karena ingin mampir ke tempat kakak dan buliknya di Sambeng.. Hujan rintik rintik membasahi kota Solo. Terasa sepi dan damai. Memasuki kota Solo pikirannya berubah. Tak jadi nginap di tempat kakaknya. Dia merasa begitu capek. Jika tidur di tempat kakaknya pasti tak segera bisa istirahat. Ngobrol sampai malam.. Padahal besok dia harus menghadiri pembukaan penataran jam delatan pagi. Penataran untuk para pejabat dinas transmigrasi. Toro menjabat  salah satu ketua bidang di kantor transmigrasi propinsi di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Purwosari pelan pelan menelusuri jalan Slamet Riyadi yang asri. Mencari hotel yang enak untuk istirahat malam itu. Sesudah melewati Sriwedari, belok ke kiri. Ada hotel tua di kiri jalan. Nampak megah walaupun bangunannya sudah nampak tua. Halamannya luas dengan berbagai pohon yang rindang di depan. Bangunan utama terletak di tengah, sedangkan di sebelah kiri dan  kanan  ada bangunan samping memanjang ke belakang dengan kamar berjejer. Toro membelokkan mobil memasuki halaman hotel. Langsung ke petugas resepsionis di bangunan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat malam Bapak. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita muda, petugas resepsionis menyapa dengan ramah..&lt;br /&gt;" Masih ada kamar single untuk malam ini.?'.&lt;br /&gt;" Mohon maaf pak, semua kamar di depan dan samping  penuh semua. Sudah dipesan. Banyak pertemuan dinas minggu ini"&lt;br /&gt;" Satu kamar saja masak nggak ada sih Mbak?"&lt;br /&gt;Seorang petugas lanjut usia membisikkan sesuatu ke  resepsionis wanita tadi.. Wanita itu nampak terhenyak sesaat.&lt;br /&gt;"Jika bapak mau, ada pavillion di belakang. Terdiri dari dua kamar. Biasanya tak ada tamu yang berminat, kecuali keluarga di akhir pekan"&lt;br /&gt;"Nggak apa apa. Malam ini saja. Satu kamar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toro cepat menyelesaikan administrasi, mengisi formular untuk check in. Lelaki  usia lanjut memberitahu lebih baik mobil di parkir di halaman belakang sekalian. Hujan gerimis di luar. Toro memindahkan mobil ke halaman belakang. Ada pavillion tua yang nampak kokoh dan berwibawa. Halaman luas dengan dua pohon kenanga di samping kiri dan kanan. Dia memparkir mobilnya di sudut halaman. Bau bunga kenanga menusuk lembut. Sementara suara binatang malam dan kelelawar selang seling di antara bunyi tetesan air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria usia lanjut itu  membantunya menurunkan  tas beserta beberapa map berisi dokumen bahan penataran besok pagi. Dia juga belum memastikan dimana tempat lokakarya besok. Tak apalah besok pagi pagi dia akan menyiapkan setelah bangun tidur. Kebiasaannya jika menghadiri penataran di manapun, dia baru menyiapkan bahan bahannya semalam sebelumnya. Tak sempat mempersiapkan jauh jauh hari. Kegiatan sehari hari begitu menghabiskan waktunya.&lt;br /&gt;"Silahkan  masuk Den Mas. Kamarnya agak sederhana"&lt;br /&gt;"Terima kasih pak. Bagus pavillionnya. Antik sekali. Bapak namanya siapa".&lt;br /&gt;"Nama saya pak Landung . Saya sudah kerja di hotel ini lebih empat puluh tahun. Sejak jaman Republik. Jika butuh apa apa, silahkan panggil saya. Apakah Denmas asli Solo?"&lt;br /&gt;"Orang tua saya asli Solo pak. Masa kecil saya sampai SR kelas lima di kota ini. Saya sekolah di SR Keputran"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan pavillion itu terdiri dari dua kamar dan satu serambi depan. Dia ambil satu kamar yang terletak di samping. Ada sepasang kursi tua yang artistik dan satu meja di dalam serambi. Diterangi samar samar oleh  lampu listrik dalam  lampu ukiran antik. Toro segera merebahkan diri di kasur dengan seprei putih bersih. Baunya harum lembut. Dia kecapean setelah semalaman kurang tidur karena ada acara nganten salah satu temannya di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup sayup dia mendengar lolong anjing di kejauhan. Menambah sepi suasana malam yang sejuk. Suara tetesan air hujan di atap seng berdetak teratur.  Toro selalu menyukai lolongan anjing malam hari. Masa kecilnya akrab dengan suara lolongan anjing. Orang tuanya banyak memelihara anjing sewaktu dinas di Ambarawa. Tiba tiba terdengar suara lembut wanita menyanyikan lagu macapat Jawa  Megatruh. Dia tergagap. Lagu itu telah dia dengar sejak kecil. Ibunya dan neneknya senang melantunkan lagu Megatruh menjelang tidur. Dia selalu mengeluh dan protes. Dia tak pernah menikmati irama lagu itu. Lagu tentang kesedihan. Lagu tentang kematian.  Perjalanan sukma saat meninggalkan badan. Dalam filsafat Jawa ada berjenis macapat  yang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak kelahiran (mijil) sampai  kematian (megatruh)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di serambi depan  Toro tersentak melihat seorang wanita cantik dan anggun duduk di  kursi. Berpakaian gaya bangsawan dengan kain parangrusak dan kebaya warna merah. Di rambutnta tersisip bunga kenanga dan melati. Elegan dan cantik sekali. Hanya wajahnya sedikit pucat. Tersirat kesedihan yang mendalam.  Wajahnya nampak gelisah seolah menunggu seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apakah ibu sedang menunggu seseorang?"&lt;br /&gt;" Terima kasih dimas. Nama saya Rianti, Raden Ajeng Rianti . Saya menunggu kedatangan Kangmas Bei Donopati. Sebentar lagi dia akan datang menjemputku. Biasanya kangmas selalu datang jam jam segini Dimas. Panjenengan siapa?"&lt;br /&gt;"Saya dari Semarang. Nama saya Suryantoro. Tetapi masa kecil saya di kota ini"&lt;br /&gt;" Apakah Dimas asli Solo. Wajahmu menampakkan kearifan bangsawan Solo?"&lt;br /&gt;" Orang tua saya dari Solo. Dari Brontokusuman. Mengapa ibu menunggu pak Bei malam malam begini?&lt;br /&gt;" Kangmas selalu datang menjemputku jalan jalan. Lewat tengah malam kami kembali ke sini. Pavillion ini langganan kami berdua Dimas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diminta, wanita itu mulai bercerita. Kadang kadang diselingi dengan lirih lantunan megatruh. Toro hanya terpukau mendengar.  Terbawa dalam emosi kesedihan irama itu.&lt;br /&gt;"Saya asli dari Pracimantoro.  Bertemu dengan Kangmas Bei karena dikenalkan paklik saya yang tinggal di Solo. Sejak itu kangmas selalu datang ke rumah saya. Biasanya akan menginap sampai beberapa malam"&lt;br /&gt;"Apakah ibu jatuh cinta dengan beliau?"&lt;br /&gt;"Iya kami terlibat dalam hubungan cinta yang dalam. Tak ada lelaki lain dalam hidup saya kecuali Kangmas Bei. Dia perkasa dan tampan sekali. Saya mengikuti Kangmas ke Solo dan tinggal di desa Sumber. Orangtua saya mengijinkan saya diambil dan diperisteri Kangmas. Setiap pekan beliau datang ke tempat saya atau kami bertemu di pavillion ini".&lt;br /&gt;"Ibu adalah isteri dari pak Bei Donopati?"&lt;br /&gt;"Kami saling mencintai. Hidupku hanya untuk beliau. Tetapi perkawinan itu tak juga datang. Saya hanya dari desa. Orang tua saya petani miskin di sana Dimas".&lt;br /&gt;"Mengapa tak diperisteri? Mengapa ibu bersedia menjadi teman  setia tanpa ikatan?"&lt;br /&gt;" Dimas, sampeyan anak muda, belum tahu hakekat cinta dan pengorbanan. Buatku cinta adalah pengorbanan. Saya mendapatkan segalanya dari kangmas. Kehormatan, harta, kepuasan fisik. Apalagi yang saya harapkan. Perkawinan  hanyalah status semata".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toro merasa percakapan terlalu jauh. Dia mencoba menahan diri untuk bertanya lebih lanjut. Tetapi dia terbawa dan terhanyut dalam percakapan yang mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkawinan adalah tanda keterikatan cinta dua manusia ibu. Bukan cuma status".&lt;br /&gt;"Sampeyan hanya berteori dari buku Dimas. Kangmas Bei mengorbankan segalanya. Di luar  dia  disembah sembah orang. Ibarat orang menyembah dan mencium kakinya. Di dalam kamar ini, beliau tunduk dalam pelukan saya. Menyembah saya. Mencium alat kewanitaan saya. Saya bebas duduk telanjang dalam pangkuannya. Alat prianya menari nari lembut dalam rongga wanita saya. Dia tergolek pasrah terlentang menikmati pergulatan yang indah. Bukankah itu kenikmatan hidup dan kehormatan?. Namur saya begitu sedih dan kecewa ketika beliau resmi kawin sama seorang putri bangsawan. Meskipun katanya beliau tak mencintainya. Hanya saya yang dicintai.".&lt;br /&gt;"Ibu, hidup adalah kehormatan dan kebahagiaan. Bukan sekedar nikmat. Apa yang ibu cari dan harapkan dari beliau. Lihatlah ke luar sana. Lihatlah ke depan. Tak ada gunanya menyia nyiakan diri sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba saja wanita itu berubah marah sekali. Matanya memancarkan kebencian dan kemarahan yang dalam. Dia berdiri bertolak pinggang. Kondenya lepas, dan rambut indahnya terurai sampai ke pinggul. Jari jarinya menunjuk lurus ke muka Toro. Kata katanya tak jelas keluar dari mulutnya yang tak lagi nampak indah. Berbusa karena kemarahan yang sangat. Bahkan  seolah wanita itu  akan mencakar mukanya. Suara lolong anjing kembali menggema. Toro menjerit keras, dan terbangun dari impian yang mengerikan. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hatinya masih berdebar keras, ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Pak Landung, pegawai hotel usia lanjaut tadi datang mengantar minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Denmas mimpi buruk rupanya. Anda menjerit keras sekali. Saya bawa teh hangat untuk anda".&lt;br /&gt;"Saya bermimpi buruk sekali pak Landung. Seolah ada  wanita cantik yang begitu marah sama saya  dan mengusir saya"&lt;br /&gt;" Silahkan tidur kembali Denmas. Saya akan tidur di serambi nanti menemani anda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya Toro minta sarapan diantar ke kemarnya. Pak Landung melayani dengan ramah. Dia sempat cerita secara singkat.. Pavillion ini dulu adalah langganan seorang bangsawan terkenal di kota Solo dengan pacarnya. Wanita itu berasal dari selatan Surakarta. . Ketika bangsawan itu akhirnya kawin dengan wanita lain, wanita itu agak terganggu jiwanya dan sering datang sendirian dan menyanyikan lagu sedih megatruh di serambi ini. Dia selalu membawa anjing kesayangannya. Dia akhirnya bunuh diri  minum DDT dan meninggal di kamar sebelah. Anjingnya rupanya juga dikasih minum DDT. Ikut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Denmas Bei, nanti masih tidur di sini?"&lt;br /&gt;"Pak Landung, jangan sekali sekali panggil saya pak Bei. Nama saya Toro. Insinyur Suryantoro. Saya tak ada kaitannya dengan pak Bei".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toro sempat tipon isterinya di Semarang. Cerita tentang mimpinya. Isterinya menjawab ringan, mau ditemani nggak mau. "Saya juga pengin ke Solo sebenarnya. Baik baik ya pah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toro berpikir ketika meninggalkan halaman  hotel. Moga moga ibu Rianti, atau Raden Ajeng Rianti, hidup damai di alam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3290230427794171840?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3290230427794171840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3290230427794171840' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3290230427794171840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3290230427794171840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/04/megatruh.html' title='Megatruh'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4014652704462961305</id><published>2009-03-14T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-14T08:05:57.499-07:00</updated><title type='text'>Mengapa kau tinggalkan aku nak?</title><content type='html'>Langit memerah di ufuk barat. Menjelang magrib, suatu hari di tahun 1963. Hari mulai gelap.  Saya bergegas menuruni jalan setapak di perbukitan Wajah lelaki itu nampak kuyu. Pandangan matanya menatap lurus ke arah langit Sulamin menyandarkan tubuhnya di pohon kelapa di samping rumpun bambu. Saya melihatnya lesu di tepi jurang itu. Hanya sekedar bergumam saat mata kami bertatapan. Hati saya was was. Berjalan sendirian di jalan setapak di antara rumpun bambu yang rimbun dan gelap. Kegelapan malam mulai membayangi dinding perbukitan. Hanya ada dua rumah di ujung desa itu. Rumah Lamin berdampingan dengan rumah emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja turun dari Kali Guwo, di perbukitan di belakang pekarangan kami. Hanya berjarak kurang dari satu kilometer. Tetapi harus melewati jalan setapak dan jurang terjal yang gelap karena tumbuhan liar dan rumpun bambu.  Baru terasa takut saat pulang menembus rerumpunan bambu itu. Tadi sengaja pergi sendirian untuk mencek aliran air dari sumber di tepi Kali Guwo. Seperti biasanya di sore hari air diperlukan untuk membersihkan sapi sapi perah kami di kandang. Ada lebih dua puluh ekor. Selalu saja ada  yang mengganggu menghentikan aliran air lewat sakuran bambu milik kami. Dengan tergesa saya naik ke atas bukit. Kecurigaan saya benar. Aliran air ternyata dibiarkan mengalir di pancuran di dekat rumah Lamin. Tak tahu siapa yang melakukannya. Tetapi penghuni sekitar daerah itu tahu kalau waktu sore seperti itu mereka tak seharusnya mengganggu aliran air kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada minat menyapa Lamin yang bersandar lemah di pohon itu. Beberapa minggu sebelumnya saya terlibat debat tak enak dengannya. Kucing kembang telon yang saya sayangi beranak dan pindah ke rumahnya. Waktu itu saya datang ke rumahnya dengan Kamto, salah satu teman main saya. Saya minta secara baik baik agar kucing bisa saya bawa kembali. Saya kalah debat. Dengan enak dia menjawab "Biarkan kucing sampeyan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Mau tinggal di sini, mau di rumah sampeyan, mau di mana saja, itu hak dia semata mata. Dia lebih bahagia di sini walau kami orang miskin". " Hati saya panas betul mendengar jawabannya yang ketus.  Mau mengajak duel jelas kalah. Saya baru berumur 13 tahun. Kamto 11 tahun. Ukuran tubuh kami tak sebesar anak anak sekarang. Lamin berbadan tegap. Baru beberapa tahun jadi pengantin. Masih ganas luar dalam. Kami mundur teratur. Saya dengar Kamto bergumam " Muga muga samber bledhek". Malamnya ayah saya mendamprat " Goblok, karo Lamin, mengkeret".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya saya kembali  ke rumah Lamin. Dengan Kamto sama Jumadi. Masing masing bawa tongkat. Alasan selalu saja ada bawa tongkat karena harus melewati jurang yang gelap. Anjing saya hilang satu di jurang ini, diterkam ular puspa kajang (phyton) yang banyak hidup di situ. Saya membawa tongkat galih asem yang katanya bertuah. Waktu kami tanyakan kembali tentang kucing itu, Lamin menjawab ringan " Wah kucing sampeyan sudah pindah. Nggak tahu ke mana. Dia ingin bebas di dunia ini". Sementara isteri Lamin, dengan tubuh montok  hanya terbungkus kain sampai dada,  duduk di pangkuan suaminya dengan mesra. Dia memandang sinis kami bertiga. '"Sampeyan cah bagus bagus  kok senengange kucing. Apa ra duwe kanca prawan?". Bah ini menusuk lagi. Kami belum kenal perempuan. Tak pernah membayangkan perempuan. Kamto bayangannya selalu tentang koboi naik kuda. Saya selalu membayangkan  astronot  Rusia Yuri Gagarin. Tak tertarik membayangkan perawan.  Ternyata waktu dewasa Kamto jadi kusir dokar. tak jauh dri bayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kucing minggat ke rumah Lamin, maupun pertemuan saya di tepi jurang cepat tersapu hiruk pikuk peristiwa sehari hari. Beberapa bulan kemudian saya mendengar kabar mengejutkan. Lamin tewas gantung diri di kamar belakang. Persis di kamar di mana kucing kembang telon saya beranak dan bersembunyi. Kami bertiga tak berani mendatangi rumahnya atau berjalan sendirian di  jalan setapak itu. Lamin bersama isterinya tinggal bersebelahan rumah dengan emaknya. Mereka mengandalkan hidup sehari hari dari hasil pertanian pekarangan rumah mereka. Ayah Lamin konon sudah lama meninggal. Kakek Lamin rumahnya berjarak kurang dari seratus meter ke arah bawah. Seorang lelaki tua yang hampir jompo tetapi punya isteri semok yang masih muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Lamin, daerah  di tepi bukit itu semakin sepi. Tak banyak orang lewat sana. Lebih baik memutar lewat jalan berbatu di dalam kampung meski lebih jauh. Tersebar berita beberapa orang masih sering melihat Lamin tersandar di pohon kelapa di samping jurang itu. Saya tak lagi berani berjalan sendirian lewat jalan setapak mengecek aliran air. Selalu berdua atau bertiga. Beberapa minggu sesudah kematian Lamin, kami lewat jalan setapak itu. Kami mendengar  rintihan emak Lamin menyayat hati " Min, kok tega kowe ninggal aku le. Mbok aku tak melu wae". Hati saya bergetar mendengar rintihan itu. Tetapi tak punya nyali untuk mampir dan menghiburnya. Lamin memang anak satu satu nya. Anak kesayangannya. Kami semua tidak tahu mengapa dia mengakhiri hidupnya dengan tragis. Tak bisa bibayangkan kesedihan mak Lamin kehilangan anak yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, tak sampai empat puluh hari setelah kematian anaknya, mak Lamin ditemukan gantung diri di kamar yang sama di mana Lamin gantung diri. Peristiwa gantung diri Lamin dan emaknya menjadi berita dan kegelisahan besar seluruh  desa. Tak bisa berbuat apa selain berdoa dan kenduri. Belum habis kegelisahan tentang peristiwa tragis itu, embah Lamin meninggal mendadak. Ada beberapa tetangga yang curiga dia minum DDT secara sengaja.  Hanya selang kurang dari dua bulan, anak, emak dan embah meninggal secara tragis. Tragedi kemanusiaan. Beban kepedihan tak terperikan,  beruntun dari anak ke ibu dan simbah. Tiga generasi meninggal  targis dalam kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Lamin dan emaknya dibiarkan  kosong sesudah mereka meninggal. Tak ada saudara yang berani menempatinya. Isteri Lamin pulang ke rumah orang tuanya. Pekarangan di lereng bukit itu semakin rimbun karena tumbuhan liar dan rumpun bambu. Penduduk desa masih sering melihat bayangan Lamin tersandar di pohon kelapa di samping jurang itu. Atau mendengar rintihan emak Lamin menyayat hati. Terutama di waktu menjelang magrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu sudah berlalu lebih dari empat puluh tahun lalu. Tetapi ingatan saya masih segar  berjumpa Lamin di tepi jurang itu. Wajahnya yang kuyu putus asa.  Saya melihat kembali daerah itu akhir tahun 2008 kemarin. Kebetulan mendapat bagian warisan orang tua di seberang jurang berdampingan dengan pekarangan Lamin. Sekarang ada jalan aspal kampung menembus samping rumah emak Lamin. Tetapi tetap saja pekarangan di sekitar rumpun bambu di situ masih terasa terasa sangat sepi mencekam. Sampai sekarang  orang masih sering melihat bayangan Lamin di samping rumpun bambu bersandar pohon di sana. Juga rintihan mak Lamin meratapi kepergian anak yang dicintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh tahun lalu, jalan setapak  itu menghubungkan dua kampung, Ngenthak dan Lonjong, melewati pekarangan belakang kami. Semenjak Lamin dan emaknya bunuh diri, jarang orang menggunakannya lagi.  Akhir tahun kemarin saya melewati lagi jalan setapak itu. Bekas rumah Lamin dan emaknya masih jelas. Rumpun bambu itu masih saja rimbun. Tetapi saya ke sana di pagi hari. Tak ada alasan atau nyali ke sana menjelang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga moga mereka di beri kedamaian di alam sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4014652704462961305?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4014652704462961305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4014652704462961305' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4014652704462961305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4014652704462961305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/03/mengapa-kau-tinggalkan-aku-nak.html' title='Mengapa kau tinggalkan aku nak?'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-9199193227317598071</id><published>2009-02-26T07:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T07:23:28.148-08:00</updated><title type='text'>Ceritaku hanya lewat rembulan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaazWslKDSI/AAAAAAAAAIw/lBxVppKyCYs/s1600-h/DSC00315.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307126413408210210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaazWslKDSI/AAAAAAAAAIw/lBxVppKyCYs/s200/DSC00315.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mata mata indah itu begitu berbinar. Hamparan senyum ceria menghias muka muka mungil. Mereka begitu terhanyut mendengar cerita cerita ku. Cerita tentang perjalanan. Cerita tentang alam. Cerita tentang tempat tempat jauh setiap saya kembali dari perjalanan. Yang mereka belum pernah kunjungi. Setiap saya pergi, anak anak saya, terutama almarhum Moko selalu melihat peta. Meniti tempat yang saya kunjungi. Karena memang dia tak pernah bisa ikut dalam perjalanan perjalanan saya. Saya juga belum sempat memenuhi janji mengajak mereka ke tempat tempat yang pernah saya kunjungi. Ketika mereka masih kecil, Aryo, Wisnu dan Moko, saat menjelang tidur malam selalu membayangkan seolah kami terbang di atas tempat tidur. Kemudian membayangkan bersama seolah kami datang ke tampat2 yang saya kunjungi. Saling berebut menyebut melihat sesuatu yang indah dan aneh di bawah sana. Hanya perjalanan dalam khayal dan laminan. Namun penuh imaginasi akan keindahan alam semesta. Begitu membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan kembali keindahan dan kebahagiaan masa lalu ketika kami masih bersama. Ketika Moko masih dalam pelukan saya dan ibunya. Ketika melihat mata mata indah berbinar mendengar cerita cerita saya tentang alam. Tentang tempat empat yang jauh di sana. Ketika Moko pergi selamanya. Ketika anak anak, Aryo sama Wisnu dewasa, saya memimpikan kembali saat saat bahagia itu. Pulang dari perjalanan adalah kebahagiaan untuk bertemu mereka. Bercerita dan bercanda dengan mereka. Namun perjalanan pulang dari Nepal, 13 Desember 1997, adalah petaka dan kegelapan. Saya tidak menjumpai muka bahagia serta mata yang berbinar. Moko sudah terbujur dingin di pendopo rumah tua orang tua saya di Ambarawa. Perjalanan terakhir dengan petaka. Dia beristirahat di rumah abadinya. Rumah di atas bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tak ada lagi kesempatan bercerita tentang perjalanan perjalanan itu. Tak ada lagi masa masa indah bersama mereka untuk mendengar cerita saya. Saya kehilangan Moko, kehilangan masa masa indah itu. Kehilangan kesempatan untuk bercerita. Saya ingin bertahan dengan bercerita. Walau itu hanya lewat rembulan. Semoga rembulan berbaik hati menyampaikan cerita cerita indah untuk anak saya Moko. Sampaikan ceritaku untuknya yang sudah tiada. Di balik dunia. Saya ingin terus bercerita. Untuk bertahan sampai di akhir perjalanan waktu. Salam damai.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-9199193227317598071?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/9199193227317598071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=9199193227317598071' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/9199193227317598071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/9199193227317598071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/02/ceritaku-hanya-lewat-rembulan.html' title='Ceritaku hanya lewat rembulan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaazWslKDSI/AAAAAAAAAIw/lBxVppKyCYs/s72-c/DSC00315.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6173389321906032280</id><published>2009-02-23T06:13:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T23:47:03.485-08:00</updated><title type='text'>Angrek lila</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaKv_EunUyI/AAAAAAAAAIo/E8vGaxylcj4/s1600-h/angrek.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305996809131741986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 104px; CURSOR: hand; HEIGHT: 78px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaKv_EunUyI/AAAAAAAAAIo/E8vGaxylcj4/s200/angrek.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada angrek berbunga warna lila, di depan pintu belakang rumah saya di Yogya. Saya tak pernah memperhatikan bunga bunga itu. NYI pasti yang menggantung bunga bunga di tembok yang dilapisi batu kali. Juga tak tahu sejak kapan bunga bunga itu menghiasi dinding. Saya memang tak begitu mengagumi bunga angrek sejak dulu. Namun kali ini ada kesan lain. NYI tidak berada di rumah. Sudah beberapa minggu di Muskat, Oman. Saya pulang ke Yogya dan Ambarawa untuk menghadiri pesta perkawinan kemenakan, Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di depan komputer, perhatian saya selalu tertuju ke bunga bunga warna lila itu. Pikiran saya melayang ke NYI. Sudah terbiasa berpisah, bahkan berbulan bulan, sejak muda dulu. Selalu berjalan mulus tanpa beban yang menekan. Namun ketika melihat bunga angrek lila itu saya merasa seolah sendirian. Tanpa NYI. Ada ketakutan menyelinap. Kegelisahan seandainya terjadi apa apa, entah saya atau NYI, saya ingin bersamanya di akhir perjalanan fana ini. Angrek lila itu seolah mengingatkan umur sudah memasuki masa senja. Walau selalu berharap ingin hidup selama mungkin, manusia tak tahu apa yang mungkin terjadi sewaktu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada masalah kesehatan yang berarti. NYI sudah beberapa lama di diagnosis menderita glaukoma. Tekanan bola mata meninggi. Dalam pengobatan dan kondisi terkendali. Saya rutin menggunakan obat penurun tekanan darah. Tekanan darah meninggi tingkat ringan kadang kadang tingkat sedang. Tetapi kekhawatiran selalu menyelinap. Bunga lila itu seolah mengingatkan kembali agar selalu bersama setiap saat. Kami masih ingin pergi bersama. NYI ingin ke Washington, ke Australia. Saya pernah berjanji mengajaknya mengunjungi Kandy di Srilangka, Guilin di China. Saya pernah bercita cita ingin mengunjungi Budapest. Masih ingat pesan teman Bapak saya dulu yang menjadi duta besar di Hungaria. "Anak muda datanglah ke Budapest. Di sana orang bisa banyak belajar". Saya ingin menyempatkan mengunjungi Budapest. Juga ingin mengunjungi Iguazu, air terjun di perbatasan Brasilia dan Argentina. Tony Smith, guru besar emeritus di Newcastle Australia, cerita tentang kunjungannya ke Iguazu, sewaktu kami sama sama di Buenos Aires di tahun 1996. Tak juga tahu masih berapa lama akan kuat menempuh perjalanan perjalanan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga lila itu seolah mengingatkan saya. Jika sampai waktunya, saya ingin ditemani isteri dan anak anak saya. Saya ingin dekat di antara mereka, orang orang yang saya cintai sampai akhir hayat saya. Mungkin masih puluhan tahun ke depan. Moga moga saja. Tetapi kekhawatiran selalu datang. Dan memang saya selalu siap setiap saat jika sang Kala akan tiba. Semenjak kehilangan anak yang saya cintai, Moko, saya selalu siap untuk pergi sewaktu waktu. Saya sering tak mengerti mengapa ada orang takut mati. Apa yang perlu ditakuti. Hanya pergi ke ketiadaan. Atau kembali ke alam kelanggengan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-6173389321906032280?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/6173389321906032280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=6173389321906032280' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6173389321906032280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/6173389321906032280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/02/angrek-lila.html' title='Angrek lila'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaKv_EunUyI/AAAAAAAAAIo/E8vGaxylcj4/s72-c/angrek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-3175143003658292540</id><published>2009-01-23T21:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T21:32:58.452-08:00</updated><title type='text'>Semesra Merapi dan Merbadu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXqn9TFs4vI/AAAAAAAAAIA/MbNtVUC5fxA/s1600-h/MERAPI+merbabu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294728983465485042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXqn9TFs4vI/AAAAAAAAAIA/MbNtVUC5fxA/s200/MERAPI+merbabu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang cerah. Kami dalam perjalanan dari Yogya ke Jakarta dengan pesawat Garuda penerbangan nomer 204. Sesaat sesudah meninggalkan landasan pacu, pesawat mendaki ketinggian langit menembus awan. Terhampar luas pandangan sampai cakrawala. Tiba tiba saja pilot mengumumkan bahwa kami sedang melintasi gunung Merapi dan Merbabu. Sesaat lagi gunung Sindoro dan Sumbing. Saya melihat lewat jendela. Di sebelah kanan nampak pasangan gunung Merapi dan Merbabu. Indah kelam dalam siraman sinar matahari pagi. Begitu tenang dan sejuk. Di kejauhan, pasangan Sindoro dan Sumbing. Pasangan pasangan abadi sepanjang masa. Begitu hening, begitu indah dan damai. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Tak peduli gejolak manusia dan lingkungan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi dan Merbabu, gunung Sindoro dan Sumbing, pasangan pasangan abadi sepanjang masa. Mungkin tak selamanya hening. Dalam kurun waktu tertentu Merapi akan membara bergejolak. Kadang meletus tanpa ampun. Seolah marah tak terkendali. Merbabu, pasangan setianya, selalu saja tenang dan diam. Setia disampingnya dari masa ke masa. Mungkin sejak manusia purba Pythaecantropus erectus hidup di lembah tepian sungai dua milyard tahun lalu, pasangan Merapi dan Merbabu, maupun Sindoro dan Sumbing, telah ada di bumi Jawa. Sayang mereka belum cukup cerdas untuk membuat catatan tentang kedua gunung ini. Walau mereka telah mengenal api dan menggunakan api untuk memasak. Kesetiaan Merapi dan Merbabu digambarkan oleh Arswendo Atmowiloto di tahun tujuh puluhan dalam kisah sepasang manusia Semesra Merapi dan Merbabu yang berakhir tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami baru saja menikmati liburan akhir tahun. Pulang ke Yogya. Banyak acara keluarga. Keliling ke Semarang, ke Brebes, ke Pekalongan, dan tentunya ke desa asal saya di Ambarawa. Kadang setir sendiri, kadang dengan anak saya Aryo, kalau dia tak sibuk. Hanya sempat beberapa hari di Yogya di akhir tahun. Yang terasa istimewa karena bisa menjumpai, nyonya Dokter Djajus. Keluarga dokter Djajus adalah sabahat dekat keluarga kami lima puluh tahunan lalu. Dokter Djajus almarhum adalah idola masa kecil saya, kalau jadi dokter isterinya pasti cantik jelita, seperti nyonya dokter Djajus waktu itu. Cerita tentang beliau pernah saya singgung dalam tulisan tulisan tentang Ambarawa. Baru saya sadar saat bertemu beliau, kalau salah satu menantunya adalah kakak kelas yang telah saya kenal baik sebelumnya. Beliau adalah dokter Slamet, mantan Kepala Kantor Wilayah Kesehatan di Papua dan di Sulawei Utara. Beberapa hari kemudian saya sempat mengundang makan siang Dr Slamet dan nyonya bersama teman dekat sewaktu ngajar di UGM, Dr Rosi. Obrolan mengasyikkkan tentang masa pension. Cerita tentang nyonya dokter Djajus akan saya tulis kemudian. Tak sempat wawancara dengan beliau, asyik ngobrol sama sang menantu. Beliau masih seperti dulu, sisa kecantikannya masih jelas di usia delapan puluh lima tahun. NYI terpukau ngobrol dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun adalah ulang tahun perkawinan kami. Tak ada acara khusus. Hanya kami sempatkan mampir ke Magelang. Kota indah penuh kenangan. Kami menghabiskan masa masa pacaran di kota ini. NYI tinggal bersama keluarga kakaknya di Magelang. Sementara saya menyelesaikan tugas tugas akhir di Yogya atau di kota kota sekitar Yogya. Kami pengin melihat tempat tempat yang dulu sering kami kunjungi atau lewati. Tak banyak waktu terluang untuk mengenang kembali masa masa itu. Hanya lewat dalam perjalanan dari Semarang ke Yogya. Kami tak melewati jalan utama, tetapi membelok melewati alun alun dan menuju ke lapangan Kuwarasan. Tak sempat mencari rumah di Boton di mana NYI pernah tinggal. Ada potongan kisah yang pernah saya ceritakan di kolom kita. Di Kuwarasan pun hanya sempat melihat rumah di mana dia bersama keluarga kakaknya pernah tinggal. Sebagian besar masa pacaran kami memang sewaktu dia tinggal di Magelang. Antara tahun 1972 – 1975. Lapangan itu masih seperti dulu, bersih terpelihara. Banyak anak bermain main di sore hari. Di seberang lapangan dulu tinggal keluarga kakak sepupu saya almarhum di tahun enam puluhan. Saya pernah nginap di sana beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi pagi sekali menjelang akhir 1975 beberapa bulan menjelang lulus, saya masih ingat berjalan berdua bersama NYI menuju ke tempat pemberhentian bis dari Kuwarasan. Jalan masih sepi di pagi hari. Lupa nama jalannya. Pagi itu akan pulang ke Yogya langsung ke rumah sakit. Kepaniteraan klinik sudah hampir berakhir. Sepanjang perjalanan singkat itu kami bicara tentang kelanjutan hubungan kami. Maunya gimana, serius nggak gitu lho. Tak ingat benar apa yang kami bicarakan secara rinci. Hanya sepakat jika akan berlanjut ke pernikahan. Tak ada negosiasi. Tak ada janji. Tak ada perjanjian rekening bersama. Tak ada yang bisa dimasukkan rekening. Tak perlu pernik janji janji itu. Aku ini pejantan malang dari kumpulannya yang terbuang. Yang penting jalan terus urusan belakang. Semua bisa diatur. Modal hati sama burung. Jaman sekarang memang sudah lain. Semua harus siap dengan rencana matang jangka panjang saat menuju ambang pernikahan. Sesuatu yang positip. Tetapi jangan terlalu lama mempersiapkan. Mana tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan itu masih seperti dulu. Pohon pohon rindang sepanjang jalan. Bersih dan rapi. Magelang memang kota yang rapi. Kami lewat di akhir sore hari, kendaraan ramai lalu lalang. Tiga puluh lima tahun lalu, sepi di pagi hari. Kami sempat berpelukan dan berciuman di bawah salah satu pohon itu. Tak ada HANSIP, tak ada HANRA. HANSIP itu seperti musuh bersama orang pacaran. Sempat ambil beberapa foto kali ini. Tak saya sertakan. Hasil foto saya hanya pas pasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa perjalanan kami berdua telah lewat tiga puluh tiga tahun. Penuh warna penuh irama. Tak selamanya selalu indah seperti jaman pacaran. Hidup memang tak selamanya indah. Kadang kadang getir, kadang kadang susah, kadang kadang melambung seperti impian. Itulah irama hidup di dunia nyata. Harus siap bersama menghadapinya. Mungkin hanya dalam cerita, hidup itu bisa dibuat semua jadi indah. Mungkin khayalan sang penulis pas jatuh cinta. Perkawinan adalah perpaduan dua hati. Perpaduan dua selera. Penyesuaian dua cara hidup yang mungkin tak selalu sejalan. Satu sisi kadang ingin gaya hidup vibran penuh warna, sementara yang lain hening dan damai. Melihat pasangan setia Merapi dan Merbabu pagi itu, saya merasa seolah diingatkan. Merapi yang panas meledak ledak dan Merbabu yang hening dan sunyi. Hidup berdampingan abadi sepanjang jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah kok malah ceramah. Praktisnya, kalau punya pasangan cerewet, ada dua alternatif. Pakailah alat penutup telinga. Sekarang banyak dijual seperti yang dipakai kalau tilpun lewat internet. Atau pasangannya diminta pakai masker penutup muka, biar suaranya nggak meledak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amit amit, salam damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-3175143003658292540?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/3175143003658292540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=3175143003658292540' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3175143003658292540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/3175143003658292540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2009/01/semesra-merapi-dan-merbadu.html' title='Semesra Merapi dan Merbadu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXqn9TFs4vI/AAAAAAAAAIA/MbNtVUC5fxA/s72-c/MERAPI+merbabu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-5402234459207632813</id><published>2008-12-27T03:57:00.001-08:00</published><updated>2008-12-31T20:31:51.104-08:00</updated><title type='text'>Mencari menantu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVYYYBkvqHI/AAAAAAAAAHc/_IjkGdQ2Vbw/s1600-h/roses.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284438013784336498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVYYYBkvqHI/AAAAAAAAAHc/_IjkGdQ2Vbw/s200/roses.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan tahun sembilan puluhan saya ketemu dengan seorang teman dan kerabat dekat. Dia guru besar di salah satu lembaga pendidikan tinggi ternama di Indonesia. Juga seorang akademisi ulung. Hampir tiap bulan ke luar negeri, memberikan kuliah atau ceramah ilmiah. Saya bertemu waktu itu di i Los Angeles, dalam perjalanan pulang ke Indonesia dengan pesawat Garuda. Tak ada yang aneh. Semua biasa saja. Kami ngobrol akrab seperti biasanya. Perhatian saya tertuju ke barang bawaannya. Dia membeli tongkat pemukul baseball. Bagus sekali. Tak habis pikir saya. Dia tak suka olah raga. Sewaktu kecil kalau main kasti di sekolah, kalau dikejar lawan yang membawa bola, dia malah nggak mau lari. Hanya menutup muka dan kepalanya takut kalau di kayang dengan bola kasti itu. Dia menghindar menjawab ketika saya tanya " kok beli tongkat baseball?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru besar tadi punya dua anak gadis yang menginjak remaja. Yang nomer satu sangat cerdas, sudah duduk di universitas. Index prestasing selalu dapat A sejak semester satu. Waktu itu dia sudah duduk di semester empat. Adiknya masih duduk di SMA waktu itu. Juga termasuk pelajar pandai dan aktif. Keduanya mempunyai tingkat intelektualitas tinggi seperti bapaknya. Apalagi selalu digembleng oleh sang ayah agar selalu rajin menekuni mata pelajaran.. Anak yang pertama kuliah di ekonomi. Begitu ketatnya sang ayah mendisiplinkan, jika akhir pekan kedua gadis itu akan keluar selalu diantar oleh ayah ibunya. Tak pernah dilepas sendirian. Apalagi sama cowok, meskipun itu teman sekuliah. Bapaknya begitu disiplin dan posesif sama kedua putrinya. Kadang dalam gurauan, dia sering berujar soal disiplin ini. " Iya kalau ketemu kawan yang baik dan disiplin. Kalau temannya seperti KI ini kan gawat. Bablas nanti" Gila orang ini, dikiranya apa saya ini. Nggak pernah melarikan anak orang saya jaman muda dulu. Tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang2 beberapa teman cowok ada yang ingin bertandang ke rumah mereka di akhir pekan karena sang gadis memang belum pacaran. Tetapi semuanya padha ngacir dan mundur teratur. Sang Bapak selalu disiplin mengawasi. Mulai jam enam sore sudah siap pakai sarung, duduk di ruang depan, minum teh sambil baca koran. Itu semua masih normal normal saja. Yang nggak normal, tongkat baseballnya selalu diletakkan di samping meja. Keponakan saya yang kebetulan memberanikan diri mau menyambangi sang gadis di akhir pekan ikut mundur teratur. "Ngeri oom. Bapaknya selalu siap dengan tongkat baseballnya di kamar tamu. Belum tentu dapat nggaet, resiko kepala pecah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya walaupun si gadis begitu cantik dan menarik untuk diapeli, siapa berani datang? Lebih baik cari anak pondokan, mungkin standard nggak kualitas prima, tetapi nggak ada yang ngawasi. Kalau jadi pacar tetap, dipermak sedikit dengan make up juga bisa cantik. Jarang anak pondokan nampak anggun, kecuali kalau sudah punya pacar tetap. Tak perlu kecil hati. Kemajuan kosmetikologi sangat pesat. Wanita itu cantiknya wantek (nggak gampang luntur) kalau tetap nampak cantik saat bangun tidur. Atau tetap nampak anggun walau ngrokoti jagung bakar yang besar besar, dan harus buka mulut lebar lebar. Kalau cantiknya hanya pas pesta, sorry meck, belum tentu sustainable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang akhir tahun ini, saya ketemu lagi sama teman kerabay saya tadi di bandara Sukarno Hatta. Kembali kami terlibat dalam pembicaraan yang akrab. "Ki rambutmu memutih semua, sudah punya cucu berapa?" Sapanya selalu sambil berkelakar.&lt;br /&gt;"Saya sudah punya cucu empat. Aryo anaknya dua, Wisnu juga dua. Rambut putih, punya cucu itu sudah jadi wise old man Bung. Berapa cucumu?" Tanpa tendensi apa apa, saya menanyakan apakah dia sudah punya cucu. Saya merasa kecewa mengajukan pertanyaan tersebut setelah mendengar jawabannya.&lt;br /&gt;"Saya belum mantu. Pengin sih pengin momong cucu. Tapi anak anak kok masih tenang tenang saja. Nggak bisa mendesak desak saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cerita jika kedua anak gadisnya sudah bekerja. Kariernya menanjak lancar. Dua duanya eksekutif muda masa kini. Tetapi yang membuat was was orang tuanya kok belum ada gejala serius membina hubungan asmara dengan pria. "Saya sudah mau pension, pengin punya cucu juga. Ada calon enggak Ki. Ponakanmu ada yang masih nganggur? Saya menjawab sambil bergurau "Ponakan ponakan saya begitu lulus langsung padha kawin. Selalu disuruh minum jamu sama ibunya. Susu madu telor sama jahe, biar agak agresip. Beberapa teman anak saya sih masih ada yang prei walau sudah mapan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman anak saya sering datang ke rumah, sejak masih mahasiswa. Sekarang usaha swasta di bidang teknologi informasi. Kliennya tersebar di seluruh Indonesia. Businesnya nampak berkembang pesat di era desentralisasi. Dia mengembangkan software computer untuk instansi2 pemerintah kabupaten. Hobinya koleksi mobil antik. Suka keliling Indonesia, demi pekerjaan dan hobi. "Punya hobi mahal gitu, apa enak dinikmati sendiri Mas" tanya saya bergurau. "Wah susah Oom, belum dapat juga sudah cari di mana mana. Carikan dhong Oom". Edan anak ini, punya hobi mahal gitu kok nggak bisa cari isteri. Jaman saya dulu cuma modal sepedha onthel saja masih berani bersaing. Ini anak, tampangnya gantheng, wajahnya tampan, kayak Tora Sudira. Cuma agak pemalu saja. Mana ada calon mertua nggak tergiur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya tilpon teman saya sang professor tadi. " Hei Bung, saya ada pejantan ampuh. Nggantheng, sederhana, sangat mapan. Hobi koleksi mobil antik. Dari keluarga tradisional, well reputed" . Dia nggak komentar apa apa. Esok malamnya, tilpon ke saya. "Tolong dikirim fotonya lewat email". Wah dari pada ikut pusing, saya minta email sang gadis, saya berikan alamat email si pria. Biar padha kontak sendiri. Jaman sudah gampang. Kalau malu bicara dan ketemu langsung, kenapa nggak lewat email saja? Jauh lebih mudah dibanding jaman saya dulu. Kalau malu ketemu, harus tulis surat. Salah salah jatuh ke orang lain. Nggak mau terlibat langsung saya dalam negosiasi perkenalan. Malah bikin pengin, bisa diamuk NYI. Moga moga mereka saling cocok. Gitu aja kok repot ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam untuk anak anak muda. Mohon maaf tak ada maksud melecehkan siapapun. Gaya omongan dan gurauan saya dengan teman kerabat tadi sudah sejak muda dulu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ki Ageng Similikithi &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://community.kompas.com/read/artikel/1938"&gt;http://community.kompas.com/read/artikel/1938&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-5402234459207632813?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/5402234459207632813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=5402234459207632813' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5402234459207632813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/5402234459207632813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/12/mencari-menantu.html' title='Mencari menantu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVYYYBkvqHI/AAAAAAAAAHc/_IjkGdQ2Vbw/s72-c/roses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-297933339393900739</id><published>2008-12-24T23:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T00:38:05.012-08:00</updated><title type='text'>Ah pura pura tidak kenal</title><content type='html'>Ini cerita dari pertengahan sembilan puluhan. Sore sore saya bersama NYI dan anak saya almarhum Moko, mau beli sesuatu di mall Malioboro. Kami naik lift dari ruang parkir. Ada beberapa pengunjung yang bersama dalam lift. Saya tak begitu memperhatikan. Tiba tiba saja saya menyadari kalau satu di antara yang berada di lift adalah teman sejawat, Mr. X, yang pernah duduk bersama bertahun tahun dalam salah satu komisi di kampus. Saya menyapanya dengan ramah dan hangat. Saya ajak dia bersalaman. Agak terkejut melihat reaksinya. Dingin seolah belum pernah kenal. Saya tak memikirkannya. It is not a big deal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemudian NYI cerita setelah keluar dari lift, kalau Mr. X sudah melihat saya sejak kami masuk lift. Dia tak menyapa, hanya menatap sepintas, walau kami telah kenal baik bertahun tahun. Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan ke Jakarta, kami bertemu tak sengaja di bandara. Dia menjawab sapaan saya dengan dingin seolah belum kenal. Dan kemudian menghindar menemui temannya yang lain. Mr.X memang sudah beberapa tahun berdomisili di Jakarta. Pejabat tinggi di pemerintahan, dekat dengan RI 1. Tak mungkin dia tak mengenal saya oleh karena kami bekerja bersama selama bertahun tahun. Tetapi nggak tahulah, mungkin jabatan barunya di Jakarta membuatnya lupa koleganya. Atau dipikirnya saya akan meminta fasilitas ini itu. Tak ada dalam kamus saya boo. Tak pernah terpikir memanfaatkan teman dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tahun delapan puluhan. Di stasiun Ambarawa, saya bersama anak anak di hari Minggu melihat lokomotif pensiunan. Saya melihat seorang kolega muda, asisten ahli di rumah sakit pendidikan, Mr Y. Kebetulan beberapa minggu sebelumnya datang ke kantor saya, konsultasi penelitian. Saya sediakan waktu khusus ok kebetulan saya juga memberikan mata kuliah itu. Saya sapa dengan ramah ok saya pikir dia baru saja konsultasi sama saya. Anehnya dia seolah nggak kenal sama sekali. "Anda siapa ya? Kenal saya di mana?" jawabannya mengejutkan. Agak tersipu saya ok pertemuan di muka umum. Anak anak saya pada bilang " Bapak sok akrab sih". Beberapa hari kemudian, sekretaris saya memberitahu kalau Mr. Y yang dulu konsultasi barusan lulus pendidikan spesialisnya. Cepat benar berubah, hanya beberapa minggu ganti predikat sudah seolah "lupa". Begitu berbeda sewaktu dia datang minta konsultasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelupaan memang kadang datang menghinggapi tanpa kita sadari. Tak selamanya kita akan ingat siapa siapa yang pernah kita jumpai sebelumnya. Ini alamiah belaka. Saya juga sering kelupaan. Terutama mereka yang sudah lama nggak ketemu. Biasanya sikap kita menjadi agak kikuk jika tak bisa mengingat siapa yang menyapa kita. Rasanya malu karena kita kehilangan daya ingat. Juga ada rasa bersalah seolah kita menganggap remeh orang yang sebenarnya kenal sama kita. Kadang untuk menutup rasa kikuk kita berusaha mengalihkan pokok bicara seolah kita kenal betul. Dua tahun lalu dalam sebuah negosiasi antar negara, salah seorang pimpinan delegasi dari Butan menyapa dengan ramah " Ki how are you. Long time no see". Saya agak terkejut, sama sekali lupa siapa dia dan saya belum tahu kalau dia ketua delegasi dari Butan. Mencoba menutupu rasa kikuk saya menjawab sekenanya " Yes the last time we met, a few years ago in Delhi". Lebih terkejut lagi sewaktu dia menjawab spontan " Ki, we are getting old. We met in Yogya, 15 years ago. I am Sonam from Bhutan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sadar saya dia adalah kenalan lama yang datang ke Yogya 15 tahun lalu. Jelas saya masih ingat benar. Saya selalu menyampaikan salam lewat kolega2 juniornya jika ketemu dalam forum internasional. Lima belas tahun berlalu, banyak perubahan baik fisik maupun profesi. Lima belas tahun lalu, dia masih muda, sangat tampan seperti aktor Bollywood. Sekarang dengan cambang lebat, muka berwibawa, dia menjadi menteri di pemerintahannya. "I must apologize for not recognizing you. You look great, my friend". Saya terang terangan minta maaf. Model cambangnya banyak merubah konstelasi roman mukanya. Cambangnya sangat bagus, seperti cambang Burisrawa gandrung dalam cerita wayang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kelupaan yang bersifat alamiah fisiologis, banyak kebiasaan kelupaan atau pura pura lupa karena faktor jabatan dan martabat. Kadang orang lupa karena jabatan baru yang dipegangnya, atau karena kekayaan yang diraihnya. Tidak otomatis sebagai syarat untuk kenaikan pangkat. Tak semua orang akan berperilaku demikian. Hanya yang saya pengin tahu secara kualitatif, bagaimana rasa dibalik pura pura lupa tidak kenal itu ya? Jika kita kebetulan lupa sama orang yang pernah kita kenal yang menyapa kita, rasanya kok kikuk dan merasa bersalah. Tetapi bagaimana rasanya mereka yang pura pura tidak kenal teman karena jabatan barunya. Nggak tahulah. Tak bisa saya menjelaskannya. Hanya pesan singkat "Aja kagetan. Aja gumunan. Aja dumeh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam aja dumeh&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://community.kompas.com/read/artikel/1926"&gt;http://community.kompas.com/read/artikel/1926&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-297933339393900739?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/297933339393900739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=297933339393900739' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/297933339393900739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/297933339393900739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/12/ah-pura-pura-tidak-kenal.html' title='Ah pura pura tidak kenal'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4210471203563763903</id><published>2008-12-13T12:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T12:43:17.015-08:00</updated><title type='text'>Nunggak semi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUQePV7fJxI/AAAAAAAAAG8/jipZsCPfF6A/s1600-h/rosewood.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279377912118585106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 139px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUQePV7fJxI/AAAAAAAAAG8/jipZsCPfF6A/s200/rosewood.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mas Parto begitu gundah ketika isterinya memberi tahu bahwa anak lelaki satu satunya, Supardi kok ikut main band di sekolah. Nama lengkapnya Suparto, pekerjaannya sejak muda jadi sopir. Sopir bis jarak jauh, Wonogiri Lampung. Profesi ini sudah digeluti lebih dari dua puluh lima tahun. Sejak dia belum kawin. Dia meneruskan profesi orang tuanya almarhum yang juga sopir, supir truk gandeng. Bagi Mas Parto menjadi sopir bis bukan sekedar mata pencaharian. Tetapi profesi yang sangat dibanggakannya. Mendapat kepercayaan umum, mengantar orang yang bepergian ke tujuan dengan aman dan selamat. Juga ada kepercayaan diri yang besar, merasa menjadi raja di jalan. Bisnya besar keren, warna merah kuning sangat meriah. Lain dengan sopir truk, profesinya sering terkait dengan warung remang remang sepanjang jalan. Menjadi sopir bis sudah merupakan loncatan profesi antar generasi dibanding dengan ayahnya yang hanya sopir truk gandeng, yang kalau naik tanjakan sering mesinnya ngos ngosan setengah mati. Dia mencoba memendam rasa gundah. Memang pembawaannya agak pendiam. Sopir bis jarak jauh pantang cengengesan seperti sopir truk atau angkot. Namun dia tambah rusuh ketika mendengar Supardi mau mewakili sekolah dalam perlombaan band sekotamadya. Edan. Ini bukan main main lagi. Harus ada tindakan. Memang sejak dua tahun ini anaknya, Supardi selalu tekun belajar musik dan ikut main band. Dulu sih mulanya hanya sering membantu angkut angkut kalau orkes keroncong di kampungnya naik panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita band sekolah Supardi dapat juara satu. Supardi jadi bintang karena dia pemain melodi. Kadang ikut nyanyi. Dalam acara final pak walikota ikut menyaksikan. Bahkan ikut foto dengan band sekolah Supardi ketika mereka menang. Begitu gembira Supardi cepat cepat pulang memberi tahu bapak ibunya. Ini peristiwa istimewa. Bayangannya dia akan bisa rekaman. Namanya nanti tenar masuk TV entah KISS, entah Kasak Kusuk, apalah. Yang ptning nggak masuk berita kriminal Waspadalah. Bahkan dia pikir nama Supardi nggak begitu afdol sebagai pemain band masa kini. Dia akan ganti dengan nama baru Sarminto Tahalele. Keren boo. Dengan riang dia lapor bapaknya kalau barusan menang perlombaan band. Berapi api dia ceritakan kalau dia akan menekuni musik supaya tenar bisa masuk TV. Juga minta ijin dan doa restu mengganti nama nantinya jadi Tahalele. Mas Parto geram mendengar cerita anaknya dan membentak keras. "Main band negklekmu bejat. Kita ini turun temurun profesinya sopir. Mbahmu sopir truk. Aku sopir bis. Tak bisa kau melanggar garis profesi keluarga. Junjunglah martabat keluarga. Nunggak semi. Apa lagi ganti nama, laknat itu. Bukan jamannya lagi". Supardi lemas dan kecewa berat. Tak menyangka jika ayahnya tak akan menyetujui pikirannya. Namun tak berani dia membantah. Tak mampu dia membayangkan jadi sopir ketika angan angannya terbang dirubung fans gadis gadis cantik, foto foto, diwawancarai TV. Oooh sopir paling paling bisanya cubit cubitan sama penumpang genit. Gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita diatas sekedar ilustrasi betapa orang tua banyak yang mendambakan anaknya nunggak semi profesi orang tua. Kalau bapaknya jadi Gubernur, anaknya ya jadi gubernur. Bapaknya jadi anggota DPR, anaknya ya harus jadi anggota DPR. Bapaknya Presiden, anaknya minimal harus jadi Wapres. Bapaknya Kabag (Kepala Bagian), anaknya harus jadi Kabid ( Kepala Bidang). Banyak contoh. Bahkan kadang dengan segala cara. "Dengan segala cara" ini yang sering merugikan. Bukan cuma sang anak, tetapi juga masyarakat umum. Orang tua memang selalu harus mendorong anak punya masa depan gemilang, tetapi tak harus selalu dengan nunggak semi. Biarlah nunggak semi itu berjalan alamiah seperti pohon sonokeling yang rimbun. Nggak perlu dipaksakan, apa lagi dengan segala cara &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4210471203563763903?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4210471203563763903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4210471203563763903' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4210471203563763903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4210471203563763903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/12/nunggak-semi.html' title='Nunggak semi'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUQePV7fJxI/AAAAAAAAAG8/jipZsCPfF6A/s72-c/rosewood.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-4184088952494202984</id><published>2008-12-05T08:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T08:35:50.380-08:00</updated><title type='text'>Kampus pedesaan masuk urutan dunia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STlYGvFtbVI/AAAAAAAAAGM/-Vj3X0AW-Jo/s1600-h/UGM-front.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276345311184121170" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 137px; CURSOR: hand; HEIGHT: 112px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STlYGvFtbVI/AAAAAAAAAGM/-Vj3X0AW-Jo/s200/UGM-front.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sewaktu membaca publikasi survei "The Times Higher Education – World Universities Rankings", saya terkesima bangga. Untuk bidang biologi dan kedokteran, Universitas Gadjah Mada menduduki urutan ke 106 di dunia. Bahkan di tahun 2006, pernah menduduki peringkat ke 72. Untuk tahun 2008 yang masuk peringkat dibawah seratus dari Asia tidak banyak, hanya beberapa universitas ternama di China, Jepang, Korea, India, dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat peringkat 106 dunia tetap merupakan urutan terhormat. Apalagi dalam suasana krisis berkepanjangan seperti saat ini, masyarakat global masih menganggap UGM sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bisa dipercaya, bidang kedoteran dan biologi. Apalagi jika diingat sejarah berdirinya pendidikan tinggi kedokteran &amp;amp; biologi di Universitas Gadjah Mada, kita bisa berbangga dengan pencapaian ini. Enam puluh tahun lebih sesudah dirintis dan didirikan oleh Prof. Dr. Sardjito. Mulai dengan Perguruan Tinggi Kedokteran Klaten. Sebearnya bukan di Klatennya. Tetapi di salah satu desa di selatan kota Klaten, dimana laboratorium Mikrobiologinya menyumbang produksi vaksin untuk Republik semasa di blockade Belanda. Karya karya penelitian bidang mikrobiologi Prof. Dr. Sardjito dikenal dalam dunia internasional waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang pernah mengalami pendidikan di tahun tahun awal perkembangan, tak bisa membayangkan kalau nantinya lembaga pendidikan tinggi kedokteran ini akan masuk dalam urutan dunia. Sarana pendidikan dan penelitian begitu sederhana. Di tahun tujuh puluhan tempatnya masih nebeng di kompleks Mangkubumen. Sedikit demi sedikit pindah ke Sekip, Bulaksumur di akhir tujuh puluhan. Saya hanya bisa terharu membayangkan bagaimana lembaga pendidikan dengan sarana yang begitu sederhana bisa berkembang masuk dalam urutan dunia. Saya masih ingat di akhir tahun tujuh puluhan, sewaktu mengirim salah satu naskah penelitian di majalah Tropical and Geographical Medicines di negeri Belanda, di dalam surat balasan redaksi ada tulisan tangan, sebagian dengan kata kata Indonesia campur Jawa, yang mengatakan senang sekali menerima naskah dari Gadjah Mada. Beliau adalah Prof. Dr. Kloke, alumnus UGM, disertasi doktor tahun 1950 (?) di Yogya dengan penelitian mengenai frambusia di Tjawas (Klaten?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya rasa haru dan bangga yang saya rasakan sesaat membaca publikasi Times tadi. Sepuluh tahun lalu ketika meninggalkan kampus, ada rasa kecewa dalam hati. Enam belas tahun tidak pernah naik pangkat. Namun kekecewaan itu hanya berlangsung sesaat. Rasanya apa yang saya lakukan semasa jadi tenaga pengajar di sana selama 23 tahun tak bisa dibandingkan dengan jasa dan kerja keras para perintis lembaga pendidikan kedokteran ini di masa lalu. Saya juga berbangga bisa ikut menyumbangkan Pusat Studi Farmakologi Klinik di sana jadi WHO Collaborating Centre dan masuk dunia global waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu ketemu di Yogya bulan lalu dengan dekan Fakultas Kedokteran, Prof Dr. Hardyanto, kami bicara2 singkat tentang kemajuan2 di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Salam dan selamat untu para pimpinan, pengajar, alumni dan mahasiswa. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-4184088952494202984?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/4184088952494202984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=4184088952494202984' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4184088952494202984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/4184088952494202984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/12/kampus-pedesaan-masuk-urutan-dunia.html' title='Kampus pedesaan masuk urutan dunia'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STlYGvFtbVI/AAAAAAAAAGM/-Vj3X0AW-Jo/s72-c/UGM-front.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-1482640546798206442</id><published>2008-11-22T09:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T05:34:12.065-08:00</updated><title type='text'>John Travolta (Grease, 1978)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SShDls7ZM-I/AAAAAAAAAFg/6JNVBbQ2K0M/s1600-h/Grease_ver2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271537678831662050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 131px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SShDls7ZM-I/AAAAAAAAAFg/6JNVBbQ2K0M/s200/Grease_ver2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a class="image" title="Grease ver2.jpg" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Grease_ver2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;John Travolta adalah lambang budaya kotemporer antara tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan. Kharismanya dalam dunia musik dan film menggema di kalangan anak muda di seantero jagad. Saya tak banyak mengikuti gegap gempita musik John Travolta waktu itu. Hanya suatu saat di tahun 1977, dalam acara TV, Bambang Gentholet dari grup Srimulat bergaya seperti John Travolta. Ditanya lawan mainnya waktu itu "Bagaimana kabar di luar negeri mas John Travolta?". Jawabannya kocak " Wah kabarnya rame. Rame rame potong padi". Sesudah itu tak banyak terpapar dengan musik atau film film John Travolta. Terlalu "agitating" buat saya yang menggemari musik musik lembut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua minggu lalu ada kejutan tak terduga. Terkena undian mewakili Divisi kami untuk ikut dalam perlombaan video klip dengan tema musik tahun tujuh puluhan. Dalam rangka acara tutup tahun. Saya harus memperagakan, gaya dan tarian John Travolta dalam film Grease, bersama Olivia Newton Jone. Edan kalau suruh yang lain seperti Rock n Roll, masih lumayan paham. Boss saya dapat pilihan Saturday Night Fever. Dia menunjukkan kualitasnya generasi muda tahun tujuh puluhan. Saya terpaksa harus melihat videonya berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan  main  kami  memang ukuran besar pembom B29 and B25. Saya beratnya 90 kg, dia beratnya hampir 70 kg. Rambut putih saya harus di spray supaya bisa berdiri kaku. Pakai jaket kulit dengan kerah berdiri. Hanya berlangsung beberapa menit. Saya mulai dengan teriak "Sandy". Nggak hapal terusnya. Termasuk copot jaket, putar putar sebentar lalu dilempar ke udara. Kemudian bersama Olivia B25, memperagakan gerakan gerakan pasangan John Travolta dan Olivia Newton Jone asli.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah ini perlombaan yang ke berapa kalinya. Beberapa tahun lalu saya sempat ikut menari Asereje. Pertandingan antar delegasi dalam pertemuan antar Menteri Kesehatan di Asia Pasifik Barat. Gegap gempita. Lumayan menang.  Setelah tak banyak ikut acara acara ginian, kecuali ball room pribadi.  Sayang staf muda kebanyakan nggak berminat acara acara beginian. Orang2 yang menjelang pension seperti saya pun masih harus ikut berlomba. Sekedar ikut meramaikan. Tut Wuri Handayani bo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam sama NYI nonton pergelaran musik ABBA. Sebagian besar penonton umur setengah baya. Selama pertunjukan mereka semuanya terbawa asyik menari bersama musik ABBA. Termasuk NYI. Saya hanya diam terpukau dengan lagu2nya yang dinamis dan mengentak. The Dancing Queen, Fernando, Super Trouper, Mama Mia dll.  Suasana begitu tertib, asyik dan enak dinikmati. Agak beda dengan suasana nonton bioskop di gedung bioskop Garuda atau Madjoe di Ambarawa tahun enampuluhan. Saya mesti sangu oncor dari batang bambu waktu itu. Selain untuk obor kalau pulang, juga untuk alat pertahanan diri jika rebutan kursi, walau karcisnya telah ada nomer kursi masing masing. Jika lampu mulai mati waktu itu (pertanda film akan mulai), riuh sorak sorai penonton, suit suit. Kadang ada yang nglempar sarung ke udara. Terutama penonton di kelas 3 yang selalu riuh. Makanya kelas ini sering dikatakan kelas kambing, karena sepanjang pertunjukan film selalu ramai bersuara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik dan gerakan tari adalah irama jiwa. Sekedar ingin lepas dari beban masalah sehari hari. Irama jiwa mejelang perjalanan menuju ke ufuk Barat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ki Ageng Similikithi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a class="image" title="Grease ver2.jpg" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Grease_ver2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-1482640546798206442?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/1482640546798206442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=1482640546798206442' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/1482640546798206442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/1482640546798206442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/11/john-travolta-grease-1978.html' title='John Travolta (Grease, 1978)'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SShDls7ZM-I/AAAAAAAAAFg/6JNVBbQ2K0M/s72-c/Grease_ver2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-885938043922784681</id><published>2008-10-31T16:50:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T16:54:37.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan peristiwa'/><title type='text'>Namaku Rosa</title><content type='html'>Di penghujung tahun 1970. Bram dalam perjalanan dari Yogya ke Bandung. Naik bis  malam Bandung Express. Nama lengkapnya Bramantyo. Raden Mas Bramantyo Kusumo. Suara bis terdengar  mengerang melewati tanjakan bukit  Plelen, sesudah lewat Weleri. Belum tua benar sebenarnya bis itu. Tetapi selalu saja mengerang setiap mendaki tanjakan. Seolah keletihan. Seperti dirinya. Letih menatap karier yang tak juga  nampak ujungnya.  Sebentar lagi dia lulus.  Jurusan Hubungan Internasional di kampus Pagelaran. Kampus Univeritas Gadjah Mada yang numpang di pendopo keraton Yogyakarta. Dia sudah selesai tahun ke empat. Belum punya arah mau ke mana. Kegiatan mahasiswa diluar kampus yang begitu hiruk pikuk tak juga memberi arah jelas baginya. Kadang2 merasa takut, mau kemana masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama dia tak mengunjungi pakdhenya di Bandung.  Beliau sekeluarga tinggal di Bandung setelah pension. Pensiunan duta besar RI di Hongaria, pakde Dewanto. Ingin petuah dari pakdenya yang kaya pengalaman. Dia selalu takjub mendengar petuah petuah pakdenya sejak kecil. &lt;strong&gt;"Datanglah ke Budapest anak muda. Kamu bisa banyak belajar di sana".&lt;/strong&gt; Ayah dan ibunya selalu berharap dia akan menjadi pejabat tinggi pemerintahan. Ayahnya  adalah petinggi di kantor pemerintahan Kepatihan. Bram putra semata wayang. Ibunya begitu sayang dan lembut padanya. Seperti halnya wanita2 ningrat Jawa, anggun dan berwibawa. Bram sering membayangkan punya pasangan hidup yang sabar dan anggun seperti ibunya. Ibunya  juga wanita ningrat, keluarga  berdarah biru. Kakek moyangnya adalah salah satu tokoh dalam  perang Diponegoro seabad yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang masuk Pekalongan bis berhenti di rumah makan. Penumpang sebelahnya, seorang wanita muda, menggeliat berdiri. Mungkin kecapaian duduk.  &lt;strong&gt;"Enak bisa turun sebentar",&lt;/strong&gt; katanya ramah. Terkesima Bram menerima sapaan mendadak itu. Sejak berangkat dari Yogya dia diam seribu bahasa. Tak ambil pusing siapa yang duduk di sebelahnya. Pikirannya melayang kemana mana. &lt;strong&gt;"Saya Bram. Bramantyo",&lt;/strong&gt; Bram cepat memperkenalkan diri.   &lt;strong&gt;"Namaku Rosa. Pipit Rosalina".&lt;/strong&gt; Turun dari bis,  mereka berdua duduk semeja menikmati makan malam. Bram pesan makanan kesukaannya, nasi rawon. Dulu tak banyak nasi rawon di Jawa Tengah. Ini masakan asli Jawa Timur atau Madura yang telah masuk kasanah makanan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa teman bicara yang mengasyikkan. Suaranya segar dan merdu. Cerita banyak tentang dirinya. Tentang usahanya. Tak banyak tentang keluarganya. "Saya juga kuliah dulu. Fakultas Ekonomi sampai tahun kedua. Putus dua tahun lalu". Rosa tinggal di Bandung. Di daerah Sangkuriang. Dia pengusaha pakaian. Sering bolak balik ke Yogya karena usahanya. Selesai makan, bis berangkat kembali. Jam telah menunjukkan lewat jam sepuluh malam. Angin malam dingin mulai terasa menusuk. &lt;strong&gt;"Bagaimana saya harus memanggil? Tante Rosa? Kak Rosa"&lt;/strong&gt; Bram agak kikuk memanggil nama Rosa secara langsung. "Panggil saya Rosa. Lebih enak dan akrab khan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sempat meneruskan obrolan sepanjang perjalanan. Bram memang tak banyak bisa cerita. Pembawaannya pendiam dan serius. Dia tak bisa berbasa basi, walau konon  jadi tokoh mahasiswa di kampusnya. Ah tokoh kan hanya selama perploncoan saja.  Tokoh dari mana? Banyak orang kadang suka menokohkan diri sendiri. Kadang lingkunganlah yang memitoskan seseorang. Bram tak suka itu. Dia merasa bukan tokoh bukan apa. Persetan dengan segala mitos tokoh mahasiswa itu.   Berhadapan dengan Rosa, dia merasa hangat, ingin cerita banyak. Tentang Yogya. Tentang universitas. Tentang keraton. Tak berani tentang impian impiannya. Rosa banyak bercerita tentang Bandung yang indah. Tentang anak anak Bandung yang suka dansa. Tentang bunga bunga. Seolah mereka sudah lama berteman. Baru dua jam berlalu semenjak berhenti makan di rumah makan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang angin malam masuk lewat lubang di jendela. Rambut panjang Rosa melambai terterpa angin menyentuh muka Bram. Bau harum melati kadang menyapu  ringan. Dia mulai berpikir. Rosa berpenampilan menarik, tingggi semampai, berkulit bersih. Giginya putih berseri, tersusun rapi diantara bibir yang seksi. Mulut indah itu selalu menyungging senyum ramah. Senyum yang menawan. "Bram. Gila kamu. Baru kenal dua jam lalu, pikiranmu jangan kemana mana ". Dia coba mengingatkan dirinya. Ini pikiran gila. Godaan setan. Wajah teman wanitanya, Reni di Yogya kadang datang sekilas. Belum pacaran, hanya kadang suka ngobrol semata. Reni juga cantik dan menarik.Dia calon dokter. Ibu Bram selalu memuji Reni luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Rosa ini lain rasanya. Ada semangat, ada kekuatan luar biasa dibalik rona cantik dan ramah itu. Dia tadi begitu berapi api cerita tentang usahanya. Tentang kesukaaannya. Tentang bunga bunganya. Dia sekarang tertidur tenang  di sebelahnya. Tenang dan damai. Sementara bau melati kadang menyentuh ringan. Tak sadar kepala Rosa bersandar di pundak Bram. Aaah rasanya pengin Bram memeluknya, menjaganya agar tak terantuk. Biarpun bis  berkelok ke sana kemari mengikuti jalan yang tak pernah lurus. Bram  bertanya dalam hati mengapa para arsitek jalan raya selalu merancang jalan berkelok kelok. Mengapa tak dibuat lurus saja. Semuanya jadi gampang langsung ke tujuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis masih saja mengerang setiap mendaki tanjakan. Menjelang fajar bis memasuki dataran tinggi Bandung. Rosa terbangun. &lt;strong&gt;"Anda tak tidur?"&lt;/strong&gt; tanyanya. "&lt;strong&gt;Saya tak biasa tidur dalam perjalanan"&lt;/strong&gt;. Bram memang tak bisa tidur setiap naik bis malam atau kereta. Pikirannya selalu melayang ke luar jendela, merayapi kegelapan malam. Dia selalu menikmati lamunannya. Tak sadar Rosa masih saja bersandar di pundak Bram. Dia sudah terjaga. Bram menawarkan permen lembut kesukaannya. Mereka kadang meneruskan omongan omongan ringan. Rosa menggeliat ringan ketika tangan Bram membetulkan posisi agar tubuhnya tak terjatuh. Tangan kanan Bram telah melingkari leher Rosa. Aman, tak perlu takut terantuk, walau bis oleng ke kiri atau ke kanan. Napas napas mereka terdengar teratur berirama diantara bau melati. Tak sadar jari jemari mereka telah saling menggenggam. Saling membelai dan meremas. Jari jemari mereka bermain lembut di antara desiran angin malam dan rintihan mesin itu. Tak ada yang bicara. Tak ada yang tertawa. Hanya kadang napas mendesah ringan. Dunia milik mereka berdua. Bis Bandung Express seolah menjadi tumpangan mereka mengarungi malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan lamunan Bram yang menerawang jauh di kegelapan malam, telah kembali ke bumi. Ke wanita cantik bernama Rosa yang bersandar disampingnya. Tangannya memeluk teguh seolah tak akan melepas Rosa darinya. Seolah ingin wanita ini aman dalam pelukannya. Sementara jari jemari mereka menari nari bersama irama napas yang kadang berdesah berkepanjangan. Saling meremas dan bergerak bersama  ke daerah rahasia yang memberikan sensasi luar biasa. Jantung berdesir indah. Tak berdetak tanpa aturan. Hanya berdesir  bersama lamunan. Jari jemari Bram terus menari menyusur daerah rahasia  di paha Rosa yang indah itu. Paha yang begitu lembut dan halus seperti pualam. Kadang Rosa menggeliat  dengan desah napas ringan. Sementara kayalan dan impian  membubung tinggi bersama tarian jari jemari Bram. Rasa damai  melayang bersama desiran jantung yang membawa rasa bahagia yang dalam. Ketika rasa itu semakin membubung, terasa kejang dan nikmat luar biasa. Kedamaian dan kebahagiaan yang dalam. Aaaaah, tarikan napas eskprirasi Rosa terdengar memanjang, dan dia  mendarat ke bumi kembali. Ke pelukan Bram teman baru yang dikenal beberapa jam lalu. Rosa seolah menemukan kedamaian dan kebahagiaan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Bram tetap saja melingkari tubuh Rosa. Seolah berkata " Anda dalam pelukan saya. Dalam lindungan saya. Istirahatlah sayang". Rosa tertidur kembali. Bram terlelap sebentar menjelang masuk Bandung. Bis telah sampai di pemberhentian. Mereka terbangun ketika suara penumpang mulai ramai. &lt;strong&gt;" Maafkan  apa yang terjadi&lt;/strong&gt;" kata Bram merasa bersalah. &lt;strong&gt;" Tak perlu maaf.  Kita lakukan bersama sesadarnya".&lt;/strong&gt; Bram mencoba menukas kembali "Kita lupakan semuanya ya. Maaf sekali lagi". Rosa tak menghiraukan. Dia memberikan kartu namanya. "&lt;strong&gt;Datanglah ke rumah sebelum pulang ke Yogya".&lt;/strong&gt;   Semua penumpang turun, diantar ke alamat masing masing. Adik Rosa telah menunggu dan menjemputnya pergi. Rosa menghilang dalam keheningan kabut pagi. Bramantyo tertegun seperti habis mimpi. Dia baca berkali kali kartu nama indah itu. "Pipit Rosalina" . Nama yang indah. Penuh gairah dan pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman. Sepotong kisah dalam bis malam ini sudah puluhan tahun berlalu. Saya tak sampai hati memberi judul naskah ini "Sex di bis malam". Bukan sex sesaat. Bukan one nite stand. Bukan impian semusim. Sepotong kisah ini adalah awal cerita cinta yang berlangsung puluhan tahun. Saya akan coba bercerita. Tentang Bram dan Rosa. Tentang banyak tokoh. Banyak peristiwa terukir dalam cerita ini. Cerita tentang cinta antara dua anak manusia. Bukan hanya dalam impian dan lamunan. Hidup memang bukan semata impian sesaat. Bukan nikmat sesaat. Untuk orang yang bercinta , hidup adalah perjalanan bersama. Mengarungi dunia mendaki impian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam cinta dan selamat bercinta anak muda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-885938043922784681?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/885938043922784681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=885938043922784681' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/885938043922784681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/885938043922784681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/10/namaku-rosa.html' title='Namaku Rosa'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-36644432568331121</id><published>2008-10-26T07:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T07:11:16.591-07:00</updated><title type='text'>Mbak NDHUNG</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SQR5_0z7JMI/AAAAAAAAAFY/3kMbE3PxoSo/s1600-h/iFadilah+Supari.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261464402090730690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 99px; CURSOR: hand; HEIGHT: 137px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SQR5_0z7JMI/AAAAAAAAAFY/3kMbE3PxoSo/s200/iFadilah+Supari.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1972. Sore hari, saya naik sepeda lewat jalan Ngabean Yogyakarta. Mau berangkat kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka. Dekat daerah Kota Baru di Utara. Jalan sepi, bersih, tak berdebu. Pelan pelan saya mengayuh sepeda torpedo tua. Di muka kantor pemerintahan kota madya, tiba tiba saya menatap dua sejoli yang saya kenal benar. Mbak Ndhung sama pacarnya mas Pari naik becak dari arah berlawanan. Dia teman akrab Emsa, pacar saya (belum tetap) waktu itu. Mas Pari, saya tahu mahasiswa teknik. Mereka ke arah Barat. Ketika dekat, saya melambaikan tangan, memberi salam. Mbak Ndhung mengangkat tangannya. Saya pikir akan membalas lambaian tangan saya. Ternyata malah nyablek paha sang pacar. Kemudian menutup muka dengan kedua belah tangannya. Dia menangis nampaknya. Niat saya mengikuti mereka saya urungkan. Biasa orang kalau dirundung cinta pasti tengkar. Ujung ujungnya sang gadis akan menangis. Walaupun sebenarnya nggak ingin menangis. Seolah sudah menjadi bagian resmi ritual jatuh cinta. Kalau nggak pakai nangis rasanya nggak mendalam cintanya. Ungkapan "Gemes aku" layak jadi ungkapan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya saya bilang ke Emsa, kalau saya ketemu mbak Ndhung. Dikasih salam kok malah menutup muka. Sedang menangis. Jawabnya juga enteng " Biasa panas panasnya pacaran. Sok pengin nangis. Gemes ". Kami tak berdiskusi lebih lanjut tentang peristiwa menutup muka itu. Waktu tersita untuk kuliah dan untuk acara kami berdua. Kami di tingkat empat waktu itu. Saya juga sibuk mengurusi majalah mahasiswa Hygieia. Hubungan saya dengan Emsa kandas di akhir tahun 1972. Kisah menyakitkan. Tak ada yang menangis. Apa lagi nyablek campur gemes. It is not in my vocabulary. Semua berlalu dengan tenang. Tak perlu sedu sedan itu. Tak perlu cablek menyablek itu. Saya ini orang pondokan yang terbuang. Emsa ternyata kawin sama mantan pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis sangat jarang ketemu mbak Ndhung. Sampai lulus dokter jarang bertemu dengannya. Kedekatan kami waktu itu karena dia teman akrab Emsa. Hubungan saya putus dengan Emsa. Nggak ada kesempatan ketemu mBak Ndhung. Waktu berjalan terus. Kadang saya membaca berita tentangnya. Pernah membaca dia mendapat penghargaan Asian Young Investigator Award penyakit jantung di tahun delapan puluhan karena penelitiannya tentang minyak ikan lemuru. Di pertengahan 90an pernah mengunjungi pusat studi yang saya pimpin di Yogya. Sekedar tukar pengalaman. Dia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian RS Harapan Kita, jabatan bergensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh enam tahun kemudian. Tahun 2008 kami bertemu secara tak sengaja di bandara Changi. Mbak Ndung alias Prof DR Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI yang terkenal energetik dan dinamis. Saya dalam perjalanan dari Yogya dengan NYI sehabis lebaran. NYI memberi isyarat, ada Menkes di ruang eksekutif itu. Berdua Dr Fadilah bersama dengan Dr Husniah, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI. Mereka dalam perjalanan pulang menghadiri pertemuan antar menteri kesehatan negara negara ASEAN. Kaget ketika saya sapa secara formal. Kami kemudian terlibat pembicaraan ramai. "Ki dulu setahun dibawah saya. Pacarnya teman akrab saya" ujarnya ke NYI. Nyi hanya bisa tersenyum. Dia sudah lama paham kisah saya dengan Emsa. Tak lama pertemuan tak sengaja itu. Mungkin tak ada setengah jam. Saya cerita baru saja menghadiri lokakarya yang kami sponsori di Yogya tentang Improving Medicines Supply in Decentralized Environment. Juga saya ungkapkan keberhasilan Sleman dalam desentralisasi kesehatan. Investasi dari anggaran belanja pemerintah untuk sektor kesehatan sampai 8 – 10 % (angka nasional tak mencapai 3 %, angka ideal internasional sebaiknya lebih dari 5 %) . Angka kematian anak dan ibu bisa ditekan rendah, angka harapan hidup meningkat sampai 76 tahun (wanita). Tak kalah dengan negara negara makmur di dunia. Dia cerita tentang tantangan desentralisasi di daerah2 lain. Keterikatan (commitment) pemerintah daerah untuk kesehatan masih harus digenjot. Namun angka kematian ibu telah ditekan turun selama tahun tahun terakhir. Pemerintah akan mengupayakan maksimal agar angka kematian ibu bisa ditekan lebih rendah lagi. Indonesia masih masuk tinggi di Asia untuk angka kematian ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan beralih. Saya ingatkan peristiwa di jalan Ngabean itu. Dia masih ingat. "Saya kok nggak ingat ketemu kamu Ki. Tapi Emsa cerita sama saya". Gimana mau tahu wong sedang pacaran. "Mas Pari masih tetap langsing seperti dulu. Kamu kok gemuk sekali Ki". Saya berseloroh ringan " Jangan jangan beliau makan hati ya". "Wah opo iyo yo. Sing jelas kan luwih sehat ?" Berat badan saya memang lebih 90 kg kini. Dulu sewaktu masih lajang hanya 50 – 55 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas protokol mengingatkan kalau harus ke ruang keberangkatan. Pesawat boarding. Kami berpisah. Tiga puluh enam tahun semenjak saya ketemu dia menutup muka di dalam becak itu, saya belum sempat mengatakan kepadanya. Pertemuan tak sengaja. Hanya beberapa menit. Tetapi saya masih sempat mengingatkan peristiwa papasan saya dengan dia di jalan Ngabean itu. Kini dia menjabat Menteri Kesehatan. Energetik dan dinamis. Banyak mengkritik negara negara adidaya dalam menguasai sumberdaya kesehatan, terutama vaksin dan obat obatan. Juga mengkritik peran organisasi dimana saya bertugas. Bukunya banyak disitir dan diterjemahkan di dunia internasional (&lt;a href="http://www.goodreads.com/author/show/1414329.DR_Dr_Siti_Fadilah_Supari_Sp_Jp_K_"&gt;http://www.goodreads.com/author/show/1414329.DR_Dr_Siti_Fadilah_Supari_Sp_Jp_K_&lt;/a&gt;) . Suaranya lantang berapi api dalam forum forum resmi maupun di televisi. Kekhawatiran saya kalau dia sedang pas berapi api itu, akan nyablek lawan bicaranya. Boleh nyablek sih, asal sama pacar atau suami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan untuk anak anak muda yang bercinta. Boleh nyablek pacar. Boleh nangis. Boleh menutup muka. Boleh gemes. Tetapi jangan sekali sekali nylentik sang burung. Bisa kuwalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai untuk Mbak Ndhung. Untuk kokiers dan anak anak muda yang bercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Similikithi &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8785986088373484191-36644432568331121?l=saworo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saworo.blogspot.com/feeds/36644432568331121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8785986088373484191&amp;postID=36644432568331121' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/36644432568331121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8785986088373484191/posts/default/36644432568331121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saworo.blogspot.com/2008/10/mbak-ndhung.html' title='Mbak NDHUNG'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SQR5_0z7JMI/AAAAAAAAAFY/3kMbE3PxoSo/s72-c/iFadilah+Supari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8785986088373484191.post-6919960441493843761</id><published>2008-10-25T05:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-25T05:55:42.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan peristiwa'/><title type='text'>Pelukan dua hati</title><content type='html'>Pertengahan tahun 1974. Saya masih tugas di rumah sakit bersalin Mangkubumen. Rumah sakit kecil dengan kira2 30 tempat tidur, di sebelah kompleks Mangkubumen. Bersih dan tenang.  Jam dua siang selesai tugas pagi. Kami berdua tugas jaga, dengan Santo. Kamar ko ass  di ruang belakang yang sunyi. Hari itu suasana  tenang. Tak ada operasi. Tak ada gawat darurat.  Tiba tiba saja pengin ketemu MUR. Kebetulan Toni mau mengganti saya tugas jaga sore itu. Hanya sampai jam 700 petang. Dia ada janji sama calon bini. Saya janjikan dia untuk  menterjemahkan artikel yang ditugaskan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ringan saya bergegas naik becak ke Benteng Kulon. Hanya beberapa ratus meter dari Mangkubumen. Mencegat bis jurusan Magelang di jalan Wahid Hasyim. MUR beberapa minggu ini tinggal bersama kakaknya di Magelang.  Di kampung Boton.  Hubungan sudah serius. Pacar tetap. Surat menyurat mengalir lancar. Dengan alamat  penerima yang sama, MUR. Sekali dua kadang kadang ada surat ke penerima yang berbeda. Tetapi itu hanya surat biasa, tanpa ikatan emosi. Tak apa, toh belum terikat resmi dengannya. Kesepakatan hati semata mata, belum ada ikatan legal.  Bis Mustika jurusan Semarang Yogya lancar melaju. Kadang2 balapan menaikkan penumpang sepanjang jalan. Masuk kota Magelang denga
